
Setelah kepulangan nasabah tadi aku langsung menemui pimpinan cabangku untuk melaporkan permasalahan yang sangat penting saat ini.
Bismillah ya Allah.. Niat aku tulus untuk membantu Ibu itu. Sementara niat Ibu itu juga suci untuk datang ke rumahMU ya Allah.. doa ku dalam hati.
Setelah mendengar penjelasan dariku Pimpinan Cabang segera membuat laporan tentang klaim nasabah tadi. Pimpinan Cabang memberikan penekanan pada suratnya bahwa masalah ini memang sangat penting sekali.
Setelah selesai baru aku ungkapkan keingianku besok.
"Pak maaf, benar - benar maaf. Besok saya izin setengah hari lagi ya Pak. Besok jadwal saya ke dokter" ungkap ku.
"Oh gak apa - apa Mbak Anggi asalkan Mbak Anggi titipkan pekerjaan Mbak Anggi sama Mbak Tyas. Yang penting kantor tidak kosong nanti susah urusannya Mbak Anggi. Apalagi saat - saat seperti ini banyak nasabah yang komplain" jawab Pak Bambang.
"Baik Pak, terimakasih" sambutku.
"Yang penting Mbak Anggi cepat sembuh ya" jawab Pak Bambang.
"Aamiin... " balasku.
Sepulang kerja aku langsung pulang ke rumah karena mertuaku sudah berpesan hari ini mereka akan takziah ke rumah saudara.
Seperti biasa kalau hari cerah dan aku bisa sampai rumah dengan cepat aku akan membawa anak - anakku jalan - jalan sekitar daerah tempat tinggalku.
Aku membawa dua buah hatiku membeli es dawet yang terkenal di dekat komplek. Mereka tampak sangat senang sekali.
Senyum dan sinar mata yang mengungkapkan bahw mereka sangat senang saat ini. Membuat hatiku menghangat.
Lagi - lagi kebahagiaan bukan hanya dari barang - barang mewah. Kini aku banyak belajar tentang bagaimana meraih sebuah kebahagiaan.
Hatiku tersentil dari sikap kedua buah hatiku. Hanya sesederhana hana ini kebahagiaan anak kecil. Mereka tidak mengerti semahal apa es dawet ini yang penting mereka suka dan mereka bahagia.
Tidak seperti orang dewasa yang terlalu banyak pemikiran - pemikiran yang memberatkan hati. Membuat hati sempit dan mengeras.
Dulu saat aku kecil aku ingin sekali cepat dewasa. Karena kalau aku dewasa aku akan bebas menjadi apa saja. Itu yang aku pikirkan dulu.
Pemikiran yang sangat sederhana dan singkat. Aku ingin menjadi seorang dokter, itulah cita - citaku dulu. Tapi ternyata tak semudah impianku. Aku harus belajar dengan giat dan ternyata tak semua impian bisa jadi kenyataan.
Setelah aku dewasa baru aku sadar bahwa tak sesederhana itu kehidupan ini. Atau mungkin pemikiran orang dewasa yang begitu ribet. Sehingg masalah yang simple menjadi berbelit seperti benang kusut.
Aku kembali menatap wajah kedua buah hatiku.
Nikmatilah Nak masa kecil kalian yang indah. Maaf aku mungkin tidak bisa menjadi Bunda yang sempurna. Aku hanya seorang manusia lemah yang punya banyak kekurangan. Maaf diumur kalian sekecil ini kalian sudah melihat semua kekuranganku, kesakitan dan kesedihanku. Seharusnya dimata kalian aku adalah Ibu yang sempurna. Tangisku dalam hati.
Diam - diam aku menghapus air mata yang keluar dari sudut mataku agar tidak terlihat kedua anakku. Setelah minuman mereka habis aku mengajak mereka pulang.
"Shifa.. Rayyaan.. kita pulang yuk. Sebentar lagi adzan maghrib" ajakku.
__ADS_1
"Iya Bunda" sambut Rayyan.
"Bunda.. Bunda.. kapan - kapan kalau Bunda punya uang lagi kita minum es dawet lagi ya sama ayah" ucap Shifa.
Nyess... hatiku terasa nyeri. Ya Allah... Nak es dawet itu harganya cuma lima ribu. Setiap hari pun Bunda bisa belikan sayang.. Maafkan Bunda yang beberapa waktu belakangan ini terlalu sibuk dengan diri Bunda sendiri, sampai melupakan kalian. Tangisku dalam hati.
"Iya sayang... do'ain Ayah dan Bunda ya dapat rezeki yang banyak" sahutku.
"Ya Allah kasih Ayah dan Bunda rezeki yang banyak ya Allah biar kami bisa minum es dawet lagi" kedua anakku langsung berdoa.
Satu lagi pelajaranku hari ini dari kedua anakku. Anak - anak itu tidak tamak seperti orang dewasa. Kalau mereka butuh es dawet mintanya ya es dawet. Bukan seperti orang dewasa minta rezeki yang banyak biar buat beli rumah, mobil, jalan - jalan dan lainnya.
Aku membawa kedua anakku pulang ke rumah. Tak lama kemudian adzan maghrib berkumandang. Kami shalat berjamaah bertiga. Karena sejak dini aku membiasakan mengajak putra - putriku untuk shalat bersama.
Setelah selesai Isya baru ayahnya pulang. Aku langsung mempersiapkan makan malam dan kami pun makan malam bersama.
"Bunda besok ayah gak bisa nemani Bunda ke Dokter? Gak apa - apa kan?" tanya suamiku.
"Emang besok ayah mau kemana?" tanyaku.
"Besok ada audit Bun. Ayah gak bisa keluar" jawab suamiku.
Memang dalam satu tahun biasanya dua kali diadakan audit di kantornya.
"Oh ya sudah yah, gak apa - apa. Besok Bunda pergi sendiri aja. Setelah itu Bunda langsung ke kantor" jawabku.
Keesokan harinya aku langsung berangkat ke Rumah Sakit seperti biasanya. Di sana aku bertemu lagi dengan Pak Pramono.
"Lho Nak Anggi datang sendiri?" sapa Pak Pramono.
"Iya Pak, suami lagi ada urusan di kantornya" jawabku.
"Ooo.. sudah ambil antrian?" tanya Pak Pramono.
"Sudah Pak, Bapak sudah lama?" aku balik bertanya.
"Lumayan, mungkin sebentar lagi nama Bapak di panggil" sahut Pak Pramono.
Tepat dugaannya tak lama kemudian nama Pak Pramono dipanggil. Beliau segera berdiri.
"Bapak duluan ya Nak Anggi" ucap Pak Pramono.
"Iya Pak, silahkan" jawabku.
Sambil menunggu namaku dipanggil aku berdzikir agar aku merasa lebih tenang dan nyaman di sini sendirian. Karena biasanya selalu ditemani suami.
__ADS_1
Tak lama Pak Pramono keluar.
"Nak Anggi, maaf Bapak harus pergi. Ada keperluan lagi, jadi gak sempat ngobrol. Sampai ketemu minggu depan ya" ucap Pak Pramono.
"Iya Pak gak apa - apa. Hati - hati ya Pak" sahutku.
Pria yang ramah itu segera berlalu menuju bagian obat - obatan. Aku kembali berdzikir menunggu namaku dipanggil.
Sekitar empat puluh lima menit namaku dipanggil. Aku langsung masuk ke ruang praktek Dokter.
"Selamat pagi Bu Anggi, datang sendiri? Biasanya ditemani suami?" tanya Dokter ramah.
"Iya Dok, suami saya gak bisa ikut. Lagi banyak kerjaan di kantor" jawabku.
"Ooh begitu, baiklah... Jadi apa kabarnya seminggu ini?" dokter mulai memancing aku untuk bercerita.
"Alhamdulillah Dok, tidak pernah kumat lagi jantung berdebarnya. Tapi kalau asam lambungnya tetap, perut kembung terus rasanya" jawabku.
"Obat asam lambungnya di minum kan?" tanya dokter.
"Saya minum kok. Makan juga tidak telat" jawabku.
"Jadi apa yang terjadi selama satu minggu ini?" selidik Dokter.
"Dok saya mau tanya. Apa benar penyakit yang saya derita ini tidak akan pernah sembuh?" tanyaku.
"Siapa bilang Bu Anggi?" tanya dokter sambil tersenyum lembut.
"Teman saya, adiknya seorang perawat di luar negeri" jawabku sedih.
"Saya ingin sembuh Dok, saya gak mau anak - anak saya menyaksikan dan mengetahui bahwa Ibunya sakit. Apalagi kalau ada yang bilang jiwa saya terganggu. Saya selalu sedih melihat tatapan mereka setiap melihat penyakit saya kumat. Atau saat tanpa sebab saya marah - marah minta pengertian mereka untuk bersikap baik budi karena saya lagi sakot6" ungkapku sambil menangis.
Dokter menyentuh tangan saya dengan lembut.
"Bu Anggi... siapa bilang sakit seperti Ibu ini tidak bisa sembuh.. Ibu akan sembuh karena Ibu masih muda dan juga penyakit Ibu tidak berbahaya dan mengkhawatirkan. Ibu tidak stres berat walau memang masih tahap awal tapi masih bisa sembuh kok. Satu lagi sebisa mungkin anak - anak jangan sampai tau apa penyakit yang Ibu derita. Cukup mereka tau Ibu sakit saja tapi jangan sampai tau sakitnya apa" pesan Dokter.
"Bagitu ya Dok?" tanyaku.
"Iya... terkadang itu bisa mengganggu pertumbuhan anak. Karena anak - anak pemikirannya masih sangat sederhana jangan dikasih beban yang berat ya.. jangan paksa mereka untuk lebih cepat dewasa" nasehat dokter.
"Terimakasih Dok" jawabku.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG