Menatap Senja

Menatap Senja
38


__ADS_3

"Bunda sudah lama banget ya Bunda gak masak kue tart, emangnya gak ada yang pesan lagi ya Bunda?" tanya Rayyan.


Aku tau tujuan dia berkata seperti itu pasti mau minta dibuatin.


"Rayyan mau makan kue tart?" tanyaku.


Dengan polosnya dia mengangguk, matanya bersinar penuh pengharapan.


"Iya Bunda, adek pengen makan kue tart" ungkapnya.


Aku mengelus lembut kepala putra bungsuku. Walau saat ini keuangan memang serba sulit tapi sebenarnya kalau soal makanan kami masih bisa dibilang mewah.


Anak - anak sering aku masakin cake, pizza, roti, tart, bakso, nuget dan lainnya. Berdosa banget kalau aku merasa kesusahan. Padahal Allah masih memberi kami banyak rezeki yang berlimpah.


Kalau sambil bercanda suami sering berkata.


"Kita ini hidupnya pas - pasan Bunda. Pas anak - anak pengen minta tart Bunda bisa masakin. Pas kita butuh uang, Bunda dapat rezeki. Itulah rezeki barokah.. kita tidak pernah merasa kekurangan walau memang tidak berlebihan. Rezeki selalu datang disaat kita memang membutuhkannya" ucap suami.


Itu yang sering terngiang di kelapaku dan perkataan suamiku itu memang benar. Mungkin Allah tidak mau memberi kami sesuatu yang berlebihan agar kami tidak sombong dan melupakan Allah.


"Ya sudah sayang besok Bunda buat kue tart untuk adek ya" ucapku pada si kecil.


"Benar ya Bunda" dia memintaku berjanji.


"Iya, nanti pulang kerja Bunda belanja bahannya ya" jawabku.


Setelah selesai Ramadhan aku dan Mas Fadil memutuskan untuk tidak berjualan minuman ke kinian. Dan menyusuh Mas Fadil mencari orang untuk over sewa kios.


Selain tempatnya sangat jauh dari rumah kami, aku sudah tidak semangat untuk berjualan di sana. Karena ternyata memang tempatnya rawan banjir. Karena letak kiosnya yang lebih rendah dari kios dan ruko lainnya.


Sehingga saat hujan genangan air lari ke kios kami, walau memang surut dengan cepat. Tapi gimana mau jualan kalau sudah banjir dan sisa banjir. Kami harus kerja keras untuk membersihkan kios.


Lagi - lagi Mas Fadil ditipu teman sendiri. Itulah kelemahan Mas Fadil terlalu percaya dengan omongan teman.


Kalau sudah membahas tentang itu dia hanya berkata.

__ADS_1


"Biarlah Bunda kita tabung pahala saja. Diakhirat nanti mereka akan bayar semuanya pada kita" ucap Mas Fadil.


Aku hanya bisa mengaminkan saja. Dari pada kami bertengkar dan membuat rezeki semakin jauh dari rumah tangga kami.


Setelah pulang kerja aku singgah ke toko bahan kue. Aku membeli semua bahan - bahan untuk membuat tart. Besok adalah hari ulang tahunku. Selama menikah dengan Mas Fadil sudah tak pernah lagi dirayakan karena jarak ulang tahunku dengan Mas Fadil hanya empat hari.


Kami selalu merayakannya di hari ulang tahun Mas Fadil saja. Tapi tahun ini aku ingin merayakan di hari ulang tahunku. Tidak ada yang istimewa hanya memasak tart itupun karena permintaan anak - anak.


Keesokan harinya karena weekend aku bisa memasak basic cakenya dari pagi. Kali ini aku ingin belajar membuat tart yang bertingkat. Sekalian belajar, sekalian juga perayaan ulang tahun aku dan Mas Fadil.


Nanti tartnya akan dibagi - bagikan ke rumah mertua dan tetangga. Hatiku sangat senang sekali hati ini.


Keadaan hati sangat berpengaruh terhadap pengerjaan tart. Semua jadi tidak sulit, dengan mudah aku bisa membuat tartnya mulus dan berhasil membuat tart bertingkat.


Anak - anak bersorak senang ketika melihat tartnya sudah jadi. Mereka meminta aku untuk segera memotongnya.


"Sabar ya sayang kita tunggu Ayah pulang dulu" bujukku.


Dengan berat hati mereka mau menurutinya. Mas Fadil tadi pergi ke rumah temannya. Katanya ada bisnis baru yang sangat bagus dalam situasi pandemi seperti ini.


Sore harinya Mas Fadil pulang dan langsung aku suruh mandi mengingat kami masih sangat takut dengan virus covid.


"Bunda.. bunda.. telepon Oma di kampung donk.. Shifa mau tunjukin kue buatan Bunda" pinta Shifa.


Aku langsung meraih ponselku dan menghubungi Mama.


"Assalamu'alaikum sayang hampir aja lupa, hari ini kamu ulang tahun kan? Selamat Ulang tahun ya sayang.. semoga berkah umur dan rezekinya serta sehat selalu. Aaamiin" ucap Mamaku.


"Aaamiin.. makasih ya Ma" jawabku.


"Ini Papa mau bicara sama kamu" ujar Mama.


Mama menyerahkan ponselnya kepada Papa. Terlihat wajah Papa dari layar ponselku.


"Dari tadi pagi Papa sudah ingat, tapi maklumlah orang tua kalau sudah ada pekerjaan lain jadi lupa lagi. Selamat ulang tahun ya sayang , semoga kalian mendapatkan yang terbaik untuk masa depan kalian" ucap Papa.

__ADS_1


"Aamiin.. makasih ya Pa" jawabku.


Entah mengapa setiap melihat wajah Papa hatiku selalu lemah. Kalau Mama bilang aku itu lebih dekat sama Papa dan lebih sayang pada Papa.


Padahal aku sayang keduanya tapi memang benar. Setiap melihat wajah Papa hatiku lebih lemah. Aku tidak tau apa sebabnya. Aku merasa Papa sangat menyayangiku di balik kerasnya sikapnya. Papa adalah pria yang keras dan bijaksana. Aaah cinta pertamaku...


"Oma lihat Bunda buat Tart bertingkat" teriak Rayyan.


"Waaah cantik ya tartnya.. kok banyak banget sampai dua tingkat?" sambut Mamaku


"Kan empat hari lagi ulang tahun ayah, kata Bunda ulang tahunnya dirayain sekarang aja" jawab Shifa.


"Habis tu tartnya dimakan sendiri?" tanya Papaku.


"Ya nggak dimakan sendiri donk Opa. Dibagi ke rumah Nenek sama Kakek nanti, kata Bunda bagi - bagi ke tetangga juga" jawab Shifa.


"Nanti kalau Opa dan Oma ke sana buatin juga untuk kami ya" pinta Mamaku.


"Oke Oma" jawab kedua anak - anakku.


Telepon terputus, tak lama kemudian ponselku bergetar tanda pesan masuk. Mungkin karena aku baru saja posting kue ulang tahun banyak yang melihat.


Banyak pesan masuk untuk mengucapkan selamat padaku. Termasuk keluarga adik - adikku. Walau hanya perayaan sederhana dan doa - doa dari keluarga aku sudah sangat senang sekali.


Semoga ini menjadi kekuatan dan penambah semangat dalam kehidupan rumah tangga kami. Karena saat sekarang ini adalah titik terendah yang aku rasakan selama berumah tangga juga masa - masa sulit selama aku hidup.


Tiga puluh delapan tahun bukanlah usia yang muda. Sudah banyak yang aku jalani sepanjang usiaku ini. Terlahir sebagai anak perempuan satu - satunya dan paling besar di keluarga tidaklah membuat aku manja.


Banyak yang berpikir seperti itu tapi mereka salah, justru sedari kecil orang tuaku sudah mengajarkan aku untuk hidup mandiri.


Apalagi setelah menikah, Mas Fadil juga anak paling besar di keluarganya. Hal itu membuat aku dan Mas Fadil benar - benar menjadi tempat bertukar pikiran para adik - adik. Tempat mereka mengadu. Walau tidak bisa membantu dalam bentuk materi tapi setidaknya kami bisa membantu tenaga dan pendapat juga nasehat.


Perjalanan hidup yang menempah kami untuk hidup harus lebih dewasa dan tangguh. Bisa menjadi panutan yang baik bagi adik - adik kami. Semoga semua bisa berjalan dengan baik.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2