
"Dil kamu bisa datang ke rumah sebentar" panggil Bapak mertua.
"Ada apa Yah?" tanya Mas Fadil lewat telepon.
"Ada yang ingin Ayah bicarakan pada kamu. Ajak aja Anggi, Ayah ingin tukar fikiran dengan kalian" jawab Mas Fadil.
"Baiklah sebentar lagi kami ke sana ya Yah" sambut Mas Fadil.
Telepon terputus, Mas Fadil menghampiriku.
"Bun, barusan si Kakek telepon Ayah. Dia memanggil kita berdua" ujar Mas Fadil padaku.
"Ngapain Yah?" tanyaku.
"Gak tau, kesana yuk biar kita bisa tau apa yang ingin Kakek bicarakan pada kita" ajak Mas Fadil.
"Apa Wati ngamuk - ngamuk?" tanyaku khawatir.
"Sepertinya nggak, Kakek tadi gak ada bilang begitu. Mungkin mau cerita yang lain kali" jawab Mas Fadil.
"Duh perut Bunda udah mules" ujarku.
"Buuuun.. Bun.. gitu aja udah sakit perut" komentar Mas Fadil.
"Ayah kan tau Bunda apa penyakit Bunda" ujarku.
"Makanya coba di lawan. Belum tentu ketakutan - ketakutan yang ada di kapala Bunda itu yang terjadi. Bunda sudah kejauhan mikirnya entah kemana - mana padahal belum pasti itu yang terjadi. Sudah dari pada penasaran dan khawatir lebih baik kita kesana langsung biar jelas semuanya" ajak Mas Fadil.
"Ya sudah Yah, yuk kita ke sana" jawabku.
Aku dan Mas Fadil segera bersiap mengunci pintu rumah dan pergi menuju rumah mertuaku. Sesampainya di sana ternyata Bapak dan Ibu mertua memang sudah menunggu kami.
"Assalamu'alaikum" ucapku dan Mas Fadil saat masuk ke dalam rumah.
Aku melihat keadaan rumah tenang. Berarti Wati tidak sedang mengamuk.
"Wa'alaikumsalam" sambut Bapak dan Mamak mertua juga Tari.
"Wati gimana Mak, kok tenang?" tanyaku langsung karena penasaran.
"Lagi tidur" jawab Mamak mertua.
"Tumben udah tidur jam segini?" tanyaku.
"Seharian ini dia tidak tidur, kerjanya marah - marah menjerit dan memaki. Semua dimakinya, Mamak, Hari, Lia, Rajak dan Tari. Mamak sampai minta maaf pada tetangga karena mereka mendengar keributan di rumah kita. Untung aja mereka maklum dengan keadaan Wati" jawab Mamak mertua.
Aku menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Gak dikasih obat penenangnya?" tanya Mas Fadil.
"Yaaah jangan sering - sering dikasih itu nanti dia ketergantungan takut efek sampingnya malah berbahaya dengan kepalanya" sambutku.
"Sebenarnya kalau dia siang capek, malam begini dia tidur lebih tenang. Tapi ya itu semua harus sabar mendengarkan amukannya" ujar Tari.
"Ada apa Ayah memanggil kamu ke sini?" tanya Mas Fadil.
Aku dan Mas Fadil duduk di kursi ruang TV rumah mertuaku.
"Ayah cerita kemarin sama Bapak pemilik sekolah. Mereka menyarankan untuk meruqiyah Wati. Siapa tau kemarin saat Wati koma pikirannya kosong ada yang mengganggunya" ungkap Bapak mertua.
Mas Fadil menatapku.
"Gak masalah Yah ruqiyah kan bagus asal sesuai syariat agama" sambutku.
"Bapak pemilik sekolah punya kenalan ustadz yang mau dibawa kemari karena Ayah cerita gak mungkin membawa Wati ke sana. Ustadz nya saja yang datang ke sini. Bapak malah yang kasih uangnya untuk dikasih kepada ustadz. Katanya kasihan lihat keadaan Wati seperti ini" sambung Bapak mertua.
"Alhamdulillah masih ada orang yang peduli dan perhatian pada keluarga kita" sambutku.
"Jadi gimana?" tanya Bapak mertua pada Mas Fadil.
"Ya gak masalah Yah, kita panggil aja ustadz nya" jawab Mas Fadil.
"Kamu bisa menjemputnya? Hari ini kamu kerja gak?" tanya Bapak mertua.
"Nggak hari ini aku off mau istirahat saja di rumah" jawab Mad Fadil.
"Mana alamatnya? Apa ada nomor teleponnya biar lebih mudah aku menghubunginya?" tanya Mas Fadil.
"Ada ini kemarin dikasih Bapak sama ayah alamat dan nomor telepon Ustadz. Bapak juga kasih amplop yang nanti akan dikasih ke ustadz nya" ujar Bapak mertua sambil menyerahkan selembar kertas.
Mas Fadil mengambil dan membacanya.
"Oh tau aku alamatnya ini. Sebentar aku hubungi dulu ustadznya siapa tau dia tidak ada di rumah" ujar Mas Fadil.
Mas Fadil meraih ponselnya dan berbicara kepada utadznya. Tak lama kemudian Mas Fadil selesai berbicara dan menutup teleponnya.
"Gimana Fad?" tanya Bapak mertua.
"Ustadznya ada aku akan segera menjemputnya. Rupanya Bapak pemilik sekolah sudah cerita padanya sebelumnya" jawab Mas Fadil.
"Ya udah Yah, jemput secepatnya biar gak kemalaman selesainya" sambutku.
Mas Fadil pergi ke rumah ustadz yang akan meruqiyah Wati. Sekitar satu jam setengah Mas Fadil sudah kembali bersama seorang pria tengah baya.
"Assalamu'alaikum" ucap pria yang wajahnya terlihat sangat tenang itu
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam ustadz, silahkan masuk" sambut Bapak Mertua.
Kami menyambut ustadz di ruang tamu rumah mertua.
"Tadi saat di jalan aku sudah ceritakan semuanya Yah pada Pak Ustadz. Secara garis besar beliau sudah tau apa yang terjadi dengan Wati" ungkap Mas Fadil.
"Iya Pak Ustadz tolong bantu anak saya. Agar dia bisa lebih tenang dan tidak menjerit - jerit lagi. Semua akan kami lakukan agar dia bisa pulih. Memang kata dokter dia tidak akan bisa kembali seperti dulu tapi setidaknya lebih baik dari saat ini" ucap Bapak Mertua.
"Baik Pak akan saya coba. Dimana anak Bapak?" tanya Ustadz.
"Di kamar Ustadz, mari" jawab Bapak mertua.
Bapak mertua, Mamak mertua, Mas Fadil dan Pak Ustadz masuk ke dalam kamar, sedangkan aku, Tari, Lia dan Hari mengintip dari luar kamar.
Ustadz mulai membacakan doa - doa ruqiyah. Tiba - tiba Wati menjerit.
"Maaaak sakiiiit, tolong akuuuuuu" teriak Wati.
"Istighfar Wati, ngucap Nak" sambut Mamak mertua.
"Aaaaah panas aas" teriak Wati lagi.
Perutku mules rasanya. Memang ini bukan pertama kalinya aku melihat orang yang di ruqiyah. Dulu teman satu kosku adalah anak pesantren, dia belajar cara meruqiyah.
Dia pernah membawa teman yang ingin di ruqiyah ke kosan kami dan memintaku membantunya. Jadi hal seperti ini tidak aneh lagi bagiku.
Wati terlihat menjerit dan merasa panas. Terkadang suara yang keluar seperti bukan dia. Dia terus membrontak dan meminta tolong.
Sekitar satu jam ustadz membacakan doa - doa ruqiyah dan mengejar makhluk halus yang ikut bersandar di tubuh Wati.
"Tinggalkan jasad ini, bukan di sini tempat kamu. Jangan pernah ganggu atau datang lagi" bentak ustadz.
"Iya.. iya ampuuun aku akan pergi" rengek Wati yang kami tau itu bukan dirinya.
Tak lama kemudian Wati muntah, Mamak mertua langsung menampungnya dengan ember kecil. Wati tampak lemas dan berkeringat.
"Gimana ustadz?" tanya Mas Fadil.
"Saya sudah berusaha mengusir setan yang menempel dalam tubuhnya tapi setiap saat makhluk itu bisa kembali masuk. Ini ada beberapa aturan yang harus dilaksanakan" Ustadz memberikan selembar kertas kepada Mas Fadil.
"Suruh anak - anaknya shalat dan membaca ayat - ayat Al-Quran ini. Shalat di kamar ini agar Ibunya bisa mendengarnya. Dan kalau bisa putar murrotal setiap hari walau pun dengan volume yang kecil. Usahan untuk senantiasa membantunya shalat lima waktu walau dia dalam keadaan seperti ini. Dan ingatkan dia selalu membaca ayat - ayat Al-Quran yang masih dia ingat" pesan ustadz.
"Baik Ustadz, mari kita ke depan dan minum dulu ustadz" ajak Bapak mertua.
Beberapa menit kemudian setelah berbincang - bincang sejenak ustadz pamit dan pulang diantar kembali oleh Mas Fadil.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG