
Mas Fadil ditemani sama temannya Tari yang bernama Syahrul pergi ke kantor polisi. SIM dan STNK motor dilaporkan hilang di lokasi kejadian.
Semua berkas - berkas untuk jasa raharja sudah lengkap dan laporan polisi akan dibawa untuk dilampirkan ke Rumah Sakit juga. Kemudian juga kelengkapan untuk mengurus BPJS Ketenagakerjaan di tempat kerjanya Wati.
Setelah itu Mas Fadil kembali ke Rumah Sakit sendiri sedangkan Tari dan temannya itu pergi ke rumah kontrakan Wati membawa semua anak - anak Wati ke rumah mertuaku.
Di Rumah Sakit kami bertemu dengan teman dekatnya Wati.
"Kami sudah posting berita kecelakaan Wati ini di Faceboo* semoga ada yang melihat truk dengan flat kendaraan seperti yang kami lihat" ucap Wahyu teman Wati di pabrik.
"Terimakasih ya Yu. Saya mewakili keluarga mengucapkan terimakasih yang sebesar - besarnya kepada kalian semua. Kalian sudah membantu Wati membawanya ke Rumah Sakit" sambut Mas Fadil.
Aku duduk berdekatan dengan teman Wati yang bernama Lila yang tak lain ternyata istrinya Wahyu.
"Kasihan nasibnya Wati ya Mbak" ucap Lila.
"Iya, saya rasa dia tidak pernah bahagia. Dari pernikahan pertama dan kedua nasibnya sama selalu tersakiti. Tapi dia tidak pernah mau meninggalkan suaminya padahal sudah habis di pukul dan disiksa" sambutku.
"Iya Mbak, kami juga sudah sering nasehati Wati tapi dia bilang ini sudah nasibnya" ujar Lila.
"Keluarga kami juga sudah berulang kali menasehatinya hingga akhirnya dia menjauh dari kami. Saya saja sampai sekarang tidak tau dimana dia tinggal" ungkapku.
"Dia juga cerita Mbak kepadaku masalah keluarganya. Terkadang dia sampai nangis Mbak curhat kepada kami. Bagaimana dia berpisah dengan anak - anaknya dari pernikahan sebelumnya tapi memang dia lebih memilih suaminya Mbak ketimbang anak - anaknya" lapor Lila.
"Itulah yang membuat kami marah, demi suaminya dia rela melepaskan tanggung jawabnya sebagai seorang Ibu dari anak - anaknya. Tiga anaknya diasuh oleh mertua. Begitulah nasib anak broken home sangat sulit untuk mengasuhnya. Saya pernah mencoba mengasuh satu anaknya yang bernama Lia tapi akhirnya saya menyerah" ungkapku.
"Kemarin setelah pulang kerja sebelum keluar dari pabrik dia sempat bercerita kalau Lia meminta uang untuk membeli ponsel baru. Wati pusing harus kemana lagi mencari uang sedangkan gajian masih lama Mbak. Hutangnya sama rentenir juga ada" sambut Lila.
"Apa kamu tau untuk apa Wati meminjam uang pada rentenir?" tanyaku.
"Katanya untuk modal usaha Dana, suaminya Mbak. Dana mau buka usaha keluar kota, Wati meminjam uang dua puluh juta kepada rentenir. Gak taunya uang itu malah digunakan Dana untuk modal dia menikah lagi dengan seorang janda anak satu" jawab Lila.
"Kurang aja*, tega sekali dia. Kini tinggal Wati yang di kejar - kejar hutang. Dia enak foya - foya menghabiskan uang yang dipinjam Wati. Dasar pria brengse*" umpatku.
"Dana itu jahat banget Mbak, dia suka memukul Wati. Bahkan terakhir sebelum dia pergi, dia sempat menyucuk tangan Wati pakai pisau hingga terluka" ungkap Lila.
__ADS_1
"Astaghfirullah.. kenapa Wati gak lapor ke polisi?" tanyaku.
"Wati masih cinta sama dia Mbak" jawab Lila.
Seketika aku merasa sesak mendengar perkataan Lila.
"Itulah memang sifat Wati Lil, kalau sudah mencintai seorang pria, dia cinta mati pada pria itu, bahkan dibuat mati pun sama pria itu dia rela. Dulu Mbak sering bertanya apa iya ada manusia seperti itu. Mbak rasa mungkin hanya ada di film atau sinetron. Ternyata ada nyata dan berada di dekat Mbak, keluarga lagi" ungkapku.
"Iya Mbak, aku juga sering bilang kalau dia itu bodoh. Tapi dia hanya diam saja Mbak. Nanti bertengkar sama Dana, Dana pergi. Tapi saat Dana kembali dia tetap menerima Dana dengan tangan terbuka. Bahkan Hari pernah mengajak Mamaknya lari meninggalkan Dana tapi Wati menolak malah menyuruh Hari pergi dan tidak perlu mencampuri hidupnya" sambung Lila.
"Iya Hari juga pernah cerita seperti itu pada kami. Dengan mata berkaca - kaca Mbak tau hati Hari pasti terluka mendengar jawaban Mamaknya" sambutku.
Dadaku semakin berat.
"Bagaimana anaknya mempunyai rasa sayang kepada Mamaknya kalau Mamaknya terlalu memikirkan diri sendiri. Anak tidak pernah mendapatkan kasih sayang bahkan tidak merasa dilindungi" ucapku.
"Itulah Wati Mbak" balas Lila.
"Iya Mbak tau bagaimana kerasnya hati Wati. Bahkan dia sanggup melawan semua keluarga demi membela Dana" jawabku.
"Alhamdulillah Mbak truk yang menabrak Wati sudah ketangkap" ucap Lila senang.
"Ya.. Yang benar Lila?" tanyaku tak percaya.
"Apa maksudnya Dek, bagaimana kamu tau?" tanya Wahyu suami Lila.
"Aku melihat Faceboo* Dana. Saat ini Dana sedang berada di kantor polisi di kampung istri mudanya" jawab Lila.
"Kamu punya nomor Dana? Coba kamu hubungi dia, kalau saya yang menghubunginya dia pasti tidak mau menjawabnya" pinta Mas Fadil.
"Baik Mas akan saya coba" jawab Lila.
Lila segera mencari nomor kontak Dana dan segera menghubunginya.
"Halo Dan, apa benar berita status kamu di Faceboo*?" tanya Lila langsung.
__ADS_1
Lila segera menekan tombol loudspeaker.
"Benar saat ini aku sedang di kantor polisi" jawab Dana.
"Bagaimana ceritanya kamu bisa menemukan truk itu?" tanya Lila penasaran.
"Di sini sedang banjir sehingga terjadi macet panjang. Saat melihat status kamu tentang kecelakaan Wati aku langsung berangkat ingin pulang ke sana tapi di perjalanan aku melihat plat truk itu dan ingat kalau truk inilah yang sudah menabrak Wati. Aku tau kesalahanku pada Wati sangat banyak, mungkin dengan cara seperti ini aku bisa menebus kesalahanku. Semut juga aku lakukan demi anak - anakku" jawab Dana mantan suami Wati.
"Cih.. sekarang sok jadi pahlawan" potong Mas Fadil.
"Ssst... " aku segera menyuruh Mas Fadil diam.
"Jadi bagaimana prosesnya di kantor polisi Dan?" tanya Lila.
"Pihak kepolisian di sini hanya bisa menahan supir truk selama satu kali dua puluh empat jam. Kalau dari sana tidak ada laporan, polisi akan melepaskannya besok" jawab Dana.
"Baiklah kalau begitu Dan, kami akan segera melaporkan kejadian ini ke kantor polisi di sini. Agar mereka menghubungi polisi sana untuk menjemput si penabrak Wati" ujar Lila.
"Iya Lil, tolong kamu kasih tau keluarga Wati agar mereka bisa membuat laporan" sambung Dana.
"Baik, terimakasih ya Dan" ujar Lila.
Telepon terputus.
"Alhamdulillah Mak, Yah... supir yang membawa truk yang menabrak Wati sudah di tahan di kantor polisi kota XX. Dana yang melaporkannya. Rasanya tak percaya tapi ini nyata ya.. Allah memberikan jalan keluar yang tidak pernah kita sangka sama sekali. Bahkan polisi di sini saja sudah menyuruh kita menyerah untuk mencari si penabrak Wati" ucapku pada kedua mertuaku.
"Alhamdulillah ya Allah.. lagi - lagi ini mukjizat dari Allah" sambut mertuaku.
"Allah pasti punya rencana Mak dibalik semua musibah ini. Semoga semua berjalan lebih baik dan Wati segera sadar" ujar Mas Fadil.
"Aamiin.. " sahut kami semua.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG