Menatap Senja

Menatap Senja
68


__ADS_3

Tiga bulan berikutnya..


"Yaah cari motor yuk" ucapku pada Mas Fadil.


"Motor gimana?" tanya Mas Fadil bingung.


"Motor, seperti motor Bunda yang hilang kemarin. Tapi yang kemarin kan warna putih, kali ini Bunda pengen punya motor warna pink" jawabku.


"Mana ada Bun motor seperti itu warna pink" sambut Mas Fadil.


"Ada... Bunda pernah lihat beberapa kali" ujarku.


"Oh ya? Kok ayah gak pernah lihat ya" balas Mas Fadil.


Aku mulai membuka akun media sosial ku dan melihat aplikasi jual beli. Ku ketik pencarian motor second. Dengan merk dan harganya.


"Bunda mau beli motor baru atau... " tanya Mas Fadil.


"Second aja yah.. tapi cari yang tahun tinggi. Kalau di cari pelan - pelan insyaAllah dapat yang bagus" jawabku.


"Oh ya sudah nanti Ayah tanya - tanya sama teman Ayah" sambung Mas Fadil.


"Ini yah udah dapat... " ujarku sambil menunjukkan ponselku.


"Harganya dua belas juta lima ratus ribu rupiah Bun. Emangnya Bunda punya uang?" tanya Mas Fadil bingung.


Aku mengangguk sambil tersenyum.


"Dari mana?" tanya Mas Fadil penasaran.


"Dari novel" jawabku.


"Baru tiga bulan Bunda udah dapat uang sebanyak itu?" tanya Mas Fadil tak percaya.


Aku tersenyum dan kembali mengangguk.


"Waaaaw hebat Bun" puji Mas Fadil.


"Tolong lihatkan ya Yah.. biar Bunda hubungi penjualnya" pintaku.


"Iya nanti Ayah ajak teman yang mengerti mesin motor biar kita gak tertipu" ujar Mas Fadil.


Aku segera menghubungi si penjual yang ada di market place. Meminta alamatnya dan nomor yang bisa dihubungi.


Setelah itu kami membuat janji untuk bertemu. Esok harinya Mas Fadil bersama temannya pergi ke alamat yang diberikan oleh si penjual.


"Bun ayah sudah periksa motornya sama teman ayah. Katanya mesinnya masih bagus" lapor Mas Fadil.


"Jadi gimana Yah? Harganya gak bisa di tawar lagi?" tanyaku pada Mas Fadil.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya Ayah coba tawar" jawab Mas Fadil.


Sekitar tiga puluh menit kemudian Mas Fadil menghubungiku lagi.


"Gimana yah?" tanyaku tak sabar.


"Alhamdulillah Bun si Bapak mau kurangi harganya lima ratus ribu" jawab Mas Fadil.


"Alhamdulillah jadi gimana bayarnya Mas?" tanyaku.


"Bunda transfer aja uangnya ke rekening si Bapak nanti bukti transfer nya kirim ke Ayah ya" perintah Mas Fadil.


"Baik yah, minta nomor rekening si Bapak ya" pintaku.


"Sebentar ya, Ayah akan kirim nomornya" balas Mas Fadil.


Tak lama kemudian pesan dari Mas Fadil masuk dan aku langsung mentransfer uang ke rekening tersebut menggunakan mobile banking.


Bukti transfer aku screenshot dan kirim ke nomor Mas Fadil.


"Yah udah masuk?" tanyaku pada Mas Fadil.


"Sudah Bun, kami akan pulang membawa motornya" jawab Mas Fadil.


"Alhamdulillah gak ribet ya Yah" ujarku.


"Besok kita service motornya ya, walau kata si Bapak motornya baru di service lebih baik kalau kita service lagi sekalian kita simpan jadwal berikutnya. Agar motornya sehat terawat" sambut Mas Fadil.


Di kantor aku sudah tak sabar ingin pulang. Tadi Mas Fadil janji akan menjemputku ke kantor dengan motor yang baru saja aku beli.


Sore harinya Mas Fadil memang benar - benar menjemputku menggunakan motor baru.


"Wah masih mulus banget ya yah" ujarku ketika melihat motor baru yang tadi di beli.


"Iya Bun, yang pakai perempuan. Anak si Bapak yang tadi Ayah temui. Anaknya mau bayar uang kuliah, butuh uang. Saat pandemi gini semua usaha anjlok. Kasihan juga lihat Bapak itu" sambut Mas Fadil.


"Mudah - mudahan barokah semua. Uang yang kita beri ke si Bapak digunakan untuk membayar uang kuliah semoga bisa bermanfaat untuk sekolah anaknya. Sedangkan untuk kita semoga berjodoh dengan motor ini. Bunda sedikit trauma mengingat motor Bunda yang lama telah hilang. Ada rasa takut akan terulang kembali " ujarku khawatir.


"Doa terus kepada Allah minta yang baik - baik. Ingat semua hanya titipan dari Allah. Jika sudah tiba saatnya mau bagaimanapun juga kita menjaganya pasti dia akan lepas dari genggaman kita. Jadi sakit atau hidup susah karena harta. Semua hanya titipan Allah" pesan Mas Fadil.


"Iya yah.. bunda mengerti" balas ku.


"Yuk kita pulang" ajak Mas Fadil.


Aku dan Mas Fadil pulang ke rumah kami. Sesampainya di rumah Mas Fadil melakukan panggilan video dengan anak - anak. Mas Fadil memperlihatkan motor baru kepada anak - anak.


Merek sangat senang melihat motor baruku. Tak henti - hentinya aku bersyukur kepada Allah. Walau rasanya kehidupan kami sulit tapi perlahan - lahan semuanya kembali normal.


Kredit rumah bisa dibayar, kehidupan sehari-hari cukup dan bisa terpenuhi. Bahkan aku bisa menabung untuk membeli motor baru.

__ADS_1


Malu sekali kepada Allah jika aku tak tau bersyukur. Nikmat mana lagi yang harus di dustakan.


*****


"Mas kemarin aku ketemu sama teman. Aku cerita kalau kakak iparku berhenti kerja karena dampak covid. Aku tanya apa di kantornya ada lowongan pekerjaan? Katanya ada tapi syaratnya harus bisa menyetir mobil" ucap Rahmat saat kami sedang berkumpul di rumahnya.


"Apa lagi Fad sudah ada peluang raih langsung jangan kebanyakan mikir" sambut Papa yang juga datang ke kota.


"Tapi Fadli tidak bisa bawa mobil Pa, Mat" jawab Mas Fadil.


"Aku sudah cerita pada temanku dan dia mau kasih waktu. Mas dikasih kesempatan untuk berlajar mengemudikan mobil. Buruan Mas belajar bawa mobil. Lagian itu sangat penting sekali. Walau kalian belum pung mobil sendiri tapi kalau Mas sudah punya keahlian itu bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan" ujar Rahmat.


"Iya Mat nanti Mas akan segera belajar mengemudi" sambut Mas Fadil.


Hari ini aku hanya sendirian di rumah sedangkan Mas Fadil masih bekerja. Menjelang akhir tahun orderan banyak yang masuk.


Mas Fadil semakin semangat bekerja sebagai ojek online. Dari pagi dia sudah berangkat kerja. Sore hari ini dia berencana ingin daftar belajar mengemudi.


Uang lesnya sudah di bawa. Rencananya besok baru mulai belajar, hari ini Mas Fadil hanya daftar saja.


Tiba - tiba aku mendapat telepon dari Tari adik iparku.


"Mbak, Mas Fadil ada?" tanya Tari langsung saat aku menerima panggilannya.


"Pergi Tari, ada apa?" tanyaku.


"Mbaaaaak Wati tabrakan" lapor Tari sambil menangis.


Wati adalah mamaknya Lia, adik Mas Fadil.


"Astaghfirullah, tabrakan dimana?" tanyaku terkejut.


"Di dekat kantornya di pabrik" jawab Tari.


"Bagaimana keadaan Wati?" tanyaku


"Katanya kaki kanannya patah Mbak harus segera di operasi. Tadi teman kantornya yang menghubungiku dan kita diminta segera ke Rumah Sakit untuk meminta persetujuan operasi" jawab Tari sambil menangis.


Wati memang bisa dibilang anak yang paling nakal di antara Mas Fadil bersaudara. Menikah sebelum tamat SMU dan punya anak tiga, lalu bercerai. Beberapa tahun kemudian dia menikah lagi dan kini anaknya dari suami kedua ada tiga orang.


Anaknya menjadi enam orang dari dua suami. Hanya saja suaminya mempunyai sifat yang sama tidak mau bekerja dan suka melakukan kekerasan dalam rumah tangga.


Tapi Wati sangat keras dan tidak mau mendengar ucapan orang tua. Dia seperti menjauh dari keluarga demi suaminya dan meninggalkan tiga anaknya dari suami pertamanya terdahulu kepada mertuaku.


Belakang ini aku dengar dia sudah bercerai dengan suami keduanya. Walau wataknya sangat keras bagaimanapun dia saudara Mas Fadil. Pasti Mas Fadil sangat sedih mendengar berita ini.


"Tari biar Mbak hubungi Mas Fadil ya.. kirim saja alamat Rumah Sakit tempat Wati dirawat. Biar Mas Fadil Mbak suruh langsung kesana" ucapku.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2