
Esok harinya aku mulai membantu kios susu segar adikku yang baru buka perdana. Karena letaknya tidak jauh dari kantorku, jadi sepulang kerja aku langsung menuju ke sana.
Mas Fadil masih mengurus masalah bisnis sarung tangan. Masalah itu masih aku sembunyikan dari keluargaku. Karena pasti nanti mereka menyalahkan Mas Fadil bisnis mengundang resiko yang besar seperti itu.
Apalagi keluargaku masih trauma terhadap covid. Pasti mereka tidak akan mengizinkan Mas Fadil berangkat ke Jakarta. Karena sepupuku di Jakarta juga baru mendapat kabar kalau dia sekeluarga terkena covid dan saat ini sedang isolasi di rumah.
Aku berusaha seceria mungkin agar adikku Arif tidak curiga. Padahal seharian ini aku bekerja dengan tidak tenang. Menunggu kabar dari Mas Fadil tentang masalah bisnisnya.
"Sus*nya sudah di beli Habib?" tanyaku pada adik sepupu yang menjaga kios susu segar Arif.
"Sudah Kak tadi pagi Habib langsung beli ke tempat pemerahan sus*" jawab Habib.
"Rame ya di sini" ujarku melihat lokasi tempat adikku berjualan.
"Iya Kak, semoga pembelinya banyak" sambut Habib.
"Aamiin.. " sambutku.
Selain menjual sus* segar, Habib juga menjual roti panggang, dan masakan yang terbuat dari indomi*. Baik mie goreng ataupun mie rebus.
Letak lokasi kios dekat dengan lampu merah jalanan kota. Sore hari sangat ramai sekali dilalui orang- orang yang pulang dari kantor.
Bahkan sering sekali macet karena ramainya orang yang berlalu lalang. Membuat semangat untuk berjualan jadi tinggi.
"Bismillah.. kita buka ya Bib. Kalau kakak libur, InsyaAllah Kakak akan bantu2 di sini" ujarku pada Habib.
"Syukurlah Kakak bisa. Habib gak pede Kak jualan sendiri. Maklum belum berpengalaman" sambut Habib.
"Ya gak apa Bib yang penting mau belajar. Lama kelamaan kan nanti akan terbiasa dan bisa melayani permintaan pelanggan" jawabku.
Kami mulai memanaskan sus* segar, menyusun barang - barang dan membersihkan kursi dan meja. Hingga sampai maghrib belum ada yang singgah untuk membeli.
"Kok gak ada yang beli ya padahal ramai sekali jalanan?" tanya Habib.
"Apa tulisan sus* segarnya gak kelihatan Bib?" tanyaku.
"Bentar ya Kak biar aku majukan lagi banner nya ke depan" jawab Habib
Sampai maghrib belum juga ada pembeli. Setelah shalat maghrib aku dan Habib makan malam. Tadi Habib bawa bekal dari rumah dan dia membaginya untukku.
Tak lama anak tetangga sebelah kios kamu yang membuka usaha tukang pangkas datang untuk membeli roti panggang.
"Gak mau coba minumannya dek?" tanyaku menawarkan.
"Sus* apa ya Mbak? Sus* bubuk ya?" tanya anak itu penasaran.
"Bukan sus* asli yang diperah dari sus*" jawabku.
"Apa gak amis ya?" tanyanya.
__ADS_1
"Nggak dek karena sus*nya kan segar dan kami olah dengan baik. Coba deh beli biar tau rasanya" bujukku.
"Boleh deh Mbak, sus*nya satu ya" pintanya
"Mau rasa apa? itu ada variannya?" tanyaku.
"Mmm... coklat aja deh" jawabnya setelah berpikir sesaat.
"Tunggu sebentar ya dek" sambutku.
Habib langsung membuat sus* seperti yang sudah diajarkan Arif. Sedangkan aku membantunya memasak roti panggang pakai keju, ceres dan sus*.
Tak lama kemudian pesanan selesai dan si anak pulang ke kios orang tuanya.
"Arif kapan datang?" tanyaku pada Habib.
"Setelah pulang praktek Kak" jawab Habib.
Arif memang bekerja di salah satu klinik jantung di kotaku. Dia berencana untuk mengambil spesial jantung tapi karena pandemi rencananya sekolah ditunda terlebih dahulu sampai kondisi lebih baik.
Sekitar jam delapan malam Arif sampai ke kios sus* segar.
"Kakak sudah lama di sini?" tanya Arif.
"Pulang kerja langsung ke sini" jawabku.
"Nanti pulangnya bagaimana?" tanyanya lagi. Karena jarak rumahku jauh dari sini dan juga rumah Arif.
"Kalian sudah makan?" tanya Arif.
"Sudah, tadi kami makan bekal yang Habib bawa dari rumah" jawabku.
"Bib sabar ya... kita masih cari pelanggan nanti kalau sudah banyak pelanggan Mas akan kasih kamu bonus" ucap Arif.
"Santai aja Mas, aku kan cuma mau belajar aja di sini. Hitung - hitung cari pengalaman buka usaha" balas Habib.
Tak lama kemudian Mas Fadil datang dengan motornya.
"Dari mana Mas?" tanya Arif.
"Ada kerjaan dikit sama teman Rif" jawab Mas Fadil.
"Udah banyak yang beli?" tanya Mas Fadil pada kami.
"Baru satu pembelinya padahal tempatnya ramai" jawabku.
"Sepertinya tempat ini agak susah untuk orang singgah Rif. Karena dekat dengan lampu merah jadi berhenti sebentar bisa jadi macet. Tempat ini daerah perkantoran kalau malam sepi. Kalau jualan sus* segar seperti ini coba di tempat yang kawasan padat penduduk" ujar Mas Fadil.
Benar juga pendapat Mas Fadil. Kalau melihat usaha orang dia kok bisa ya tapi usaha sendiri malah gatot. Pikirku.
__ADS_1
"Iya juga ya Mas. Tapi gak apa - apa deh, baru juga satu hari bukanya. Biasa itu cari pelanggan. Nanti kalau pelanggan udah dapat pasti akan datang dari mana aja" sambut Arif.
"Daftarin ke aplikasi ojek dek biar semakin banyak peminatnya" pesanku.
"Iya Kak sedang dipelajari gimana caranya" jawab Arif.
Sampai jam sepuluh malam pembeli tidak juga bertambah.
"Kami pulang duluan ya Rif, rumah kami jauh. Kasihan juga anak - anak cuma bertiga aja di rumah sama Lia" ujarku.
"Iya Kak, bawain untuk anak - anak kak susunya. Lagian sus* segar begini kurang enak kalau di simpan di kulkas. Gak segar lagi" ujar Arif.
"Untung tadi belinya cuma sedikit ya. Kalau gak rugi banyak hari ini" sahutku.
"Emang udah diperhitungkan Kak. Kan masih hari pertama" sambut Arif.
Aku membawa tiga bungkus sus* segar dengan berbagai rasa untuk anak - anak di rumah. Kami berpamitan dengan Arif dan Habib kemudian pulang menuju rumah.
"Ayah udah makan?" tanyaku.
"Makan malam belum. Tadi siang makannya telat jadi saat makan malam masih kenyang. Beli nasi goreng Bun" pinta Mas Fadil.
"Oh ya sudah nanti singgah aja di warung nasi goreng langganan kita" sambutku.
Mas Fadil menghentikan motor di tempat penjual nasi goreng langganan kami. Aku memesan tiga bungkus nasi goreng untuk kami makan bersama anak - anak.
Kalau tidak ada Lia di rumah biasanya dia bungkus aja cukup. Aku kongsi dengan Shifa sedangkan Mas Fadil makan bareng Rayyan.
Saat menunggu nasi goreng masak aku dan Mas Fadil duduk di warung nasi goreng. Sebenarnya sejak tadi aku sudah tidak sabar ingin menanyakan masalah kemarin kepadanya.
"Gimana Yah masalah sarung tangan? Jadi berangkat ke Jakarta?" tanyaku hati - hati. Didalam hati aku terus berdoa semoga saja tidak jadi ya Allah...
Mas Fadil tampak menarik nafas panjang.
"Pihak Jakarta mempunyai pelanggan di Kota A" jawab Mas Fadil.
"Ha terus?" tanyaku langsung.
Kota A sangat dekat dengan kota kami, paling hanya dua jam perjalanan.
"Mereka menyarankan untuk menjual ke langganan dari Kota A tapi harganya dibawah harga beli kami kemarin. Setelah di hitung - hitung oleh teman ayah kalau barang di kembaliin potong ongkos kirim dan biaya ayah di sana yang mereka tanggung ruginya tidak jauh beda dan tidak ada resiko lain. Akhirnya setelah pembicaraan yang sangat alot tadi, teman ayah mau menjual barangnya ke langganan yang dari Kota A tersebut" ungkap Mas Fadil.
"Alhamdulillah... jadi ayah gak jadi kan berangkat ke Jakarta?" tanyaku meyakinkan.
"Nggak jadi Bun" jawab Mas Fadil.
"Alhamdulillah ya Allah, KAU mendengar doaku" ucapku lega.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG