
Usaha laundry kami sudah hampir berjalan. Rumah depan sudah kami bayar kontrakan untuk satu tahun. Kios juga sudah kami bayar.
Rak laundry punya Tari saat kami buka kios pertama sudah kami susun di kios baru. Pamflet nama laundry juga sudah kami pasang.
Alhamdulillah satu persatu langganan baru sudah mulai berjalan.
"Mbak gak jadi beli mesin cuci nya?" tanya Tari.
"Jadi Tari, kamu ada waktu gak biar kita cari sama - sama?" tanyaku.
"Sebentar ya Mbak biar aku selesaikan dulu setrikaan ini" jawab Tari.
"Mesij cuci kamu ini muat berapa kilo pakaian Tari?" tanyaku.
"Yang ini sepuluh kilo Mbak dan yang ini empat belas kilo" jawab Tari.
"Setrika udah ada dua ya.. apa perlu di beli juga?" tanyaku.
"Gak usah dulu Mbak karyawan kita kan baru satu. Belum juga satu bulan kios buka. Mesin cuci aja Mbak. Aku juga udah mint tolong ayah pasangin jemuran untuk menjemur pakaian. Kita kan masih belum punya mesin pengering yang langsung kering" jawab Tari.
"Iya nanti kita hitung aja semua mulai bulan depan. Berapa bayar listriknya, beli detergen dan pewangi, plastik dan bahan - bahan lainnya. Kalau beberapa bulan ini Mbak belum terima hasil gak apa - apa. Mbak masih dapat gaji dan ada honor novel juga. Walau Mas Fadil udah gak kerja ojek lagi karena jagain kios gak apa - apa. Masih bisa mencukupi kehidupan kami" ungkapku.
"Iya Mbak" sambut Tari.
"Nanti kamu hitung aja penghasilan bersih kamu sebulan biasanya berapa biar kita bagi langsung untuk Tari" ujarku.
"Iya Mbak gak masalah itu" Tari bersiap - siap.
"Lis titip anak - anak dulu ya.. aku dan Mbak Anggi mau cari mesin cuci" ucap Tari kepada karyawan laundrynya.
"Iya Mbak Tari" jawab Lis.
Aku dan Tari naik motor menuju toko elektronik dan mencari mesin cuci yang cocok untuk usaha kami.
Setelah memilih dan membandingkan beberapa mesin cuci akhirnya kami memutuskan untuk membeli mesin cuci yang muat untuk ukuran pakaian empat belas kilo.
Alasannya karena mesin cuci itu bisa untuk mencuci bedcover. Kami juga mencari mesin cuci yang panjang waktu garansinya lama. Menjaga kalau terjadi kerusakan.
Setelah itu kami juga belanja detergen, pewangi, parfum dan plastik. Label nama di pakaian agar tidak tertukar juga hanger untuk menjemur pakaian.
__ADS_1
Setelah semua dapat kami langsung pulang ke rumah. Kios buka dari jam delapan pagi sampai jam lima sore. Selebihnya waktu Mas Fadil dan Tari bergantian antar pakaian pelanggan yang antar jemput.
Sorenya Mas Fadil pulang setelah menutup kios. Hari ini dapat tiga plastik besar pakaian yang akan di cuci dan setrika. Siang tadi saat makan siang Mas Fadil sudah membawa dua plastik besar pakaian.
Mesin cuci juga sudah diantar ke rumah sore ini. Kami langsung letakkan di rumah depan. Mertua sedang membantu membuat dapur kayu di belakang untuk tiga mesih cuci.
Untung usaha ini sudah kami rintis bersama Tari beberapa tahun yang lalu, kemudian dilanjutkan Tari sendiri dan sekarang kami gabung lagi. Sehingga kami sudah punya pengalaman untuk kerja lebih cepat.
"Udah jadi beli mesin cucinya?" tanya Mas Fadil.
"Udah tadi udah diletak di rumah depan. Jadi sekarang ada tiga mesin cuci" jawabku.
"Masih cukup uangnya Bun?" tanya Mas Fadil.
"Sementara tabungan habis Yah. Tapi gajian kan tinggal seminggu lagi. Honor novel juga sebentar lagi akan masuk" jawabku.
"Bunda jangan marah ya kalau Ayah gak bisa kasih uang untuk Bunda. Ayah kan jaga kios gak bisa ojek" ujar Mas Fadil.
"Ya gak marah donk Yaaah.. Ayah kan sudah kerja juga. Kita sama - sama berjuang untuk masa depan kita bersama" sambutku.
"Tapi kalau malam Ayah ojek sebentar ya Bun. Dari habis maghrib sampai jam sepuluh atau sebelas malam. Untuk cari uang minyak sama pegangan Ayah. Gak mungkin Ayah minta sama Bunda, malu lah sebagai seorang suami" pinta Mas Fadil.
"Cie.. harga diri seorang suami nih ye.. " ledekku.
"Iya donk. Anak - anak kapan datang?" tanya Mas Fadil.
"Awal bulan, nanti diantar Papa Mama" jawabku.
"Akhirnya kita bisa berkumpul lagi" sambut Mas Fadil.
"Gimana di kios Yah, nyaman?" tanyaku.
"Nyaman banget Bun, letaknya di depan pesantren dekat mesjid. Ayah shalat dzuhur dan ashar di Mesjid. Rasanya tentram banget cari rezeki sekalian lebih mendekatkan diri kepada Allah" jawab Mas Fadil.
"Kalau hasilnya nanti baik lebih baik Bunda gak kerja ya Yah.. Bunda bisa urus rumah dan memasak. Nanti kita gantian jaga kios. Ayah jemput anak - anak sekolah dan antar pakaian ke rumah para langganan" ujarku.
"Siapa yang memaksa Bunda harus kerja? Ayah gak pernah meminta Bunda kerja, malah kalau dulu penghasilan Ayah cukup untuk kita, Ayah akan meminta Bunda berhenti kerja. Tapi ternyata gak cukup" jawab Mas Fadil.
Aku menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Allah punya rencana dibalik perjuangan kita dua tahun ini. Covid juga sudah mulai reda. Mudah - mudahan semakin banyak pelanggan kita" doaku.
"Aamiin.. " sahut Mas Fadil.
*****
Awal bulan anak - anak pulang diantar Papa dan Mama. Papa dan Mama tidur di rumah kami. Sejak rumah kami di renovasi bagian depan, di cat baru dan dipagar. Mereka belum pernah datang ke rumah kami.
"Kalau sudah di pagar seperti ini rumah kalian jadi terlihat besar. Papa sangat senang melihat perkembangan hidup kalian. Rasa Papa sudah semakin baik" ucap Papa senang.
"Alhamdulillah Pa. Nanti bagitu Anggi dapat pesangon. Kami akan lunasi rumah ini agar tidak ada lagi hutang puitang kami" sambutku.
"Iya.. kalian tinggal fokus membesarkan usaha dan menabung untuk sekolah anak - anak" jawab Papa.
"Rumah belum selesai semua Pa. Kami mau renovasi bagian dalam. Tambah dua kamar untuk kamar utama dan kamar Rayyan nanti di samping. Kamar anak - anak yang ada sekarang akan kami bobok untuk ruangan TV. Dapur juga akan di ubah bentuknya" ujarku.
"Pelan - pelan nanti semua bisa kalian capai. Papa sangat yakin" sambut Papa.
"Kami selalu berdoa untuk kalian, semoga usaha kalian berhasil" potong Mama.
"Iya Ma, makasih ya Ma" aku memeluk Mama.
"Bunda.. Ayaaah.. nanti kalau Ayah dan Bunda kerja kami dimana?" tanya Rayyan.
"Di rumah berdua sama Kakak. Kan di depan udah ada Bu Tari. Apa kalian takut kalau Bunda dan Ayah tinggalkan di rumah?" tanyaku.
"Nggak takut Bun, kami berani. Nanti kamu akan ajak Nazwa juga temani kami di rumah" sambut Shifa.
Sore ini kami bercerita panjang tentang masa depan. Rasanya sudah mulai lega. Keluarga kecil kami juga sudah berkumpul kembali.
Aku menatap senja.. kebiasaan yang belakangan ini jarang aku lakukan karena sibuk mengurus masalah laundry.
Terimakasih ya Allah, tolong ridhoi usaha baru kami ini dan berikanlah kami rezeki yang barokah. Aamiin. Doaku dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1