Menatap Senja

Menatap Senja
59


__ADS_3

Tante Lizar tampak sedang berpikir, dia menatap wajahku seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Kenapa Tante, apa yang sedang Tante pikirkan? Coba cerita pada Anggi, anggap saja Anggi sebagai teman. Kita saling cerita bertukar pikiran" bujukku.


Tante Lizar menatapku seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.


"Tante sakit hati sama almarhum Papa. Dia lebih sayang pada Kak Lina dari pada aku" Tante Lizar mulai bercerita.


Kisah ini aku memang sedikit mendengar kisahnya dari Tante Emi.


"Tapi Oma kan sayang sama Tante" potongku.


"Ya memang Mama lebih sayang padaku. Dulu Papa dan Mama pernah bertengkar karena Papa membela Kak Lina sedangkan Mama membelaku" ungkapnya.


"Lantas apa yang membuat Tante sakit hati? Bukankah itu adil, kalau Tante ingin kedua orang tua Tante sayang hanya pada Tante itu artinya serakah. Karena Tante masih punya saudara yang lain. Anggi bisa berkata seperti ini karena Anggi sudah mempunyai anak dua. Tiap - tiap anak punya kelebihan masing - masing dan punya data tarik tersendiri. Sama seperti Tante punya anak dua kan, Fiza dan Ayu. Coba Tante tanya hati Tanye siapa yang paling Tante sayang?" tanyaku.


"Aaah Tante gak berani berpikir seperti itu" Ucap Tante Lizar.


Aku menarik nafas dalam.

__ADS_1


"Tante gak perlu menjawabnya, jawaban itu hanya Tante sendiri yang tau. Tapi selaku orang tua yah kita memang berusaha membagi kasih sayang itu seadil mungkin. Biar anak - anak tidak merasa saling iri dengki itu yang nanti akan membuat mereka tidak bisa saling menyayangi" ujarku.


Aku sengaja bicara seperti itu berharap Tante Lizar menyadari. Opa sudah lama meninggal bahkan sebelum aku lahir. Kalau Oma aku sempat merasakan kasih sayangnya. Oma meninggal saat aku sudah kuliah.


Sering sekali dulu Oma marah sama Tante Lina karena hasutan dari Tante Lizar. Bahkan terkadang masalah hal sepele. Mungkin semua karena Tante Lizar merasa kalau Oma lebih sayang padanya. Dan mungkin sikapnya itu dampak dari rasa kasih sayang yang berlebihan Opa kepada Tante Lina.


"Setiap Tante shalat, Tante selalu mendoakan Mama. Tante sebut namany dan memohon ampunan kepada Allah. Setelah itu Tante sebut nama Papa tapi ada suara yang berbisik di hati Tante. Untuk apa aku doakan dia, dia saja tidak sayang padaku" ungkap Tante Lizar.


"Astaghfirullah Tante istighfar.. Jangan Tante ikutkan, itu bisikan setan. Opa itu Papa nya Tante, kalau Opa tidak ada Tante juga tidak akan ada di dunia ini. Kenapa sampai segitu dendamnya Tante pada Opa?" tanyaku tak percaya.


"Aku pernah dengar Papa bercerita pada Kakaknya. Kalau aku ini tidak punya kelebihan apapun. Terkadang aku berpikir karena ucapan Papa seperti itu makanya hidupku yang paling susah diantara semuanya" ungkap Tante Lizar mulai menangis.


Aku menyentuh dan menggenggam tangan Tante Lizar. Tubuhnya bergetar, akhirnya aku berhasil mengorek luka masa lalunya.


Tante Lizar masih diam dan sedang berpikir.


"Kalau tidak dengan cara seperti itu, tidak ada cara lain Tante. Gak mungkin kan Opa hidup kembali, atau Tante mau masuk ke dalam kubur untuk bertanya mengapa Opa gak sayang Tante atau mengapa Opa dulu bicara seperti itu?" lanjutku.


"Kalau Papa selalu berpesan pada Anggi, kalau ada ajaran Papa yang baik ikutin tapi kalau buruk perbaiki. Begitu dulu yang Papa dapatkan dari Opa kalian. Opa itu manusia, pasti pernah khilaf dan salah, selayaknya Tante sebagai anak memaafkan orang tua sendiri. Pada orang lain saja kita di suruh saling memaafkan apalagi pada orang tua sendiri dan orang tersebut juga sudah meninggal. Masak sedikitpun tidak ada kasih sayang Tante yang tertinggal di hati Tante pada Opa?" ucapku.

__ADS_1


Tante Lizar kembali menangis dia berucap istighfar.


"Coba kita ubah cara pandang kita dalam melihat suatu masalah. Yang selama ini kita selalu berprasangka dan berpikir negatif pelan - pelan diubah dan belajar mengambil hikmah. Hari ini Anggi dapat ilmu yang sangat bermanfaat sebagai seorang anak dan sebagai orang tua dari kisah Tante. Sebagai seorang anak harus selalu mendoakan kedua orang tua kita apapun yang telah mereka lakukan pada kita. Sebagai seorang orang tua, Anggi akan mulai belajar menjadi orang tua yang adil untuk anak - anak Anggi kelak" ungkapku.


Aku memeluk Tante Lizar, tubuhnya masih bergetar.


"Semoga Tante juga seperti itu ya.. Mau sembuh kan? Ayo donk dimulai dari hal yang kecil. Lihat dari kisah Tante Lina. Karena sakit sinusitis akut membuat dia jadi punya kekurangan. Pendengarannya jadi terganggu. Coba berpikir positif menanggapi kisahnya. Jangan menyalahkan Allah karena begitu teganya mengambil fungsi salah satu kenikmatan hidup. Tapi coba berpikir, Allah ambil satu kekurangan Tante Lina Allah ganti dengan keuntungan lain. Dengan satu kelemahan Tante Lina, pendengaran yang lemah sekarang dia selamat dari dosa pendengaran dan mulut. Dia tidak lagi mendengar berita gosip dan kabar burung. Dia juga dijauhkan dari dosa menggunjingi orang" ucapku.


Tante Lizar terdiam kembali mencoba memikirkan semua ucapanku.


"Tante mau Gi datang ke Dokter Anggi.. Tante mau sembuh" ucap Tante Lizar.


"Boleh, kalau Tante mau nanti Lizar temani. Dokter itu praktek di RS. XX. Tapi Dokter hanya membantu secara obat - obatan Tante, dia malah menyuruh Anggi sering - sering berdzikir. Harus dibantu dengan ilmu agama yang kuat. Karena seperti yang Anggi katakan di awal penyakit kita ini sangat dekat sekali dengan hasutan setan. Jadi mulai sekarang coba Tante berobat memulainya dengan ilmu - ilmu agama dulu sembari mengatur jadwal pergi berobat ke Dokter. Ketenangan hati itu yang paling penting Tante" jawabku.


"Iya Tante sulit sekali tidur, kalau Fiza pulang kerja sampai larut Tante takut sekali terjadi sesuatu padanya. Bahkan sampai saat ini Tante juga masih belum memberi izin Fiza menikah karena hanya dia penopang kehidupan kami. Kalau nanti dia menikah bagaimana dia bisa menghidupi Istri dan anak - anaknya dan bagaimana hidup kami?" ucap Tante Lizar


"Bukankah rezeki kita sejak lahir sudah diatur Allah Tante. Yakinlah nanti Allah pasti akan kasih rezeki lebih untuk Fiza karena di dalam rezekinya ada rezeki istri dan anak - anaknya juga rezeki keluarga Tante. Satu lagi usahakan tidur diwaktu malam. Allah juga sangat tidak suka kita begadang, karena apa? Banyak hal negatif nantinya yang akan kita pikirkan dan itu dampaknya sangat buruk terhadap kesehatan tubuh dan rohani kita. Banyak cara yang bisa Tante cari untuk therapi tidur cepat. Kalau Anggi sebelum tidur suka dengarin murottal Alquran. Mungkin cara itu juga bisa membantu Tante untuk bisa tidur dengan tenang. Dan yang terpenting Tante harus semangat untuk sembuh, itu akan menjadi kekuatan Tante disaat lemah" ucapku memberi semangat.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2