
"Mamak gak enak badan, kalau di rumah sakit ini ketahuan sakit harus di swab" ucap Mamak mertua pada Mas Fadil lewat telepon.
"Ya sudah kalau begitu besok aku akan jemput Mamak. Tapi siapa yang gantian jagain Wati? Kalau Hari sendiri gak mungkin Mak, dia kan laki - laki. Nanti perawat butuh apa - apa untuk gonta ganti pampers gimana?" tanya Mas Fadil.
"Maksud Mamak gantian sama Lia dulu dua hari saja Mamak mau istirahat" jawab Mamak mertua.
"Ya sudah Mak kalau begitu besok aku bawa Lia ke Rumah Sakit pulang nya aku bawa Mamak pulang ke rumah" sambut Mas Fadil.
"Ya sudah begitu saja" balas Mamak mertua.
Aku yang duduk disamping Mas Fadil hanya bisa mendengarkan saja percakapan mereka lewat telepon karena Mas Fadil sengaja menekan tombol speaker agar aku dengar.
Esok harinya Mamak mertua pulang kerumah. Sepulang kerja aku singgah ke rumah Mamak mertuaku. Aku, Mas Fadil dan Tari mendengar cerita mertuaku.
"Mamak gak sanggup mengurus Hari di sana. Setiap hari dia maunya makan enak, dua hari sekali minta isi pulsa untuk isi paket internet. Di Rumah Sakit kerjanya hanya main game. Udah seperti orang kaya saja gayanya" ungkap mertuaku.
"Ya Allah Mamaknya lagi berjuang melawan maut mengapa anak - anaknya tidak ada yang sadar" ucapku.
"Heran ya.. bukannya mau bersusah - susah sementara waktu" sambut Tari.
"Mungkin mereka lihat banyak teman - teman kerja Wati yang datang menjenguk dan memberi Mamak uang. Pikir mereka itu kan uang Mamak mereka" gumam mertua.
"Benar memang itu uang Mamak mereka tapi apa mau dihabiskan begitu saja? Apa mereka gak mikir bagaimana nanti biaya hidup mereka ke depannya?" tanya Mas Fadil.
__ADS_1
"Disana Hari yang mengulah, disini Lia. Aku udah capek Mak lihat mereka. Lebih baik pulangkan saja mereka ke rumah keluarga Bapak mereka masing-masing" ujar Tari.
"Kasihan nanti hidupnya" jawab Mamak mertua.
"Mamak selalu kasihan tapi tidak mau tegas. Maaf ya Mak sikap mereka sepet ini juga andil Mamak dan Ayah di rumah ini. Kalian tidak mau tegas pada mereka. Lihat si Hari putus sekolah saat SMP karena bolos sekolah dan tiap hari mampir di warnet main game online. Itu karena apa? Karena Mamak dan Ayah selalu kasih mereka uang jajan sesuai yang mereka minta. Akhirnya digunakan untuk yang salah. Kalau mereka pulang telat tidak pernah dicari. Ayah dan Mamak selalu bilang, ah nanti mereka pasti akan pulang. Dan saat mereka salah Ayah dan Mamak tidak pernah tegas dan menghukum. Selalu percaya dengan ucapan mereka yang mengalasankan ada tugas sekolah, ada kegiatan sekolah dan lainnya. Itu yang membuat Lia manja dan tidak tau pekerjaan rumah" protes Mas Fadil.
Mamal mertua terdiam dan tertunduk.
"Kemarin aku baru nasehati Lia dan ancam akan memulangkan dia ke rumah Bapaknya. Karena dia tidak mau mengurus adik - adiknya di sini. Setiap pulang dari sekolah selalu malam dan tidak perduli dengan apa yang terjadi. Bukannya malah baik - baik di rumah, shalat dan mendoakan agar Mamaknya segera sadar" sambung Mas Fadil.
"Udah Mak, kalau begitu coba saja beberapa hari ini mereka urus Mamak mereka di rumah sakit. Hari kan susah dewasa. Umurnya sudah delapan belas tahun. Kita lihat apakah bisa mereka hadapi semua sendiri" ucap Tari.
"Bener itu Mak, kita tes mereka dulu. Mudah - mudahan mereka sadar kalau mereka masih butuh kita dan mau mendengarkan nasehat kita" sambutku.
"Dia bilang begitu sama Mamak?" tanya Mas Fadil marah.
"Iya" jawab Mamak mertua.
"Sudah kalau nanti dia telepon tanya Mamak suruh dia telepon aku. Biar aku yang bicara sama dia. Enak aja dia bentak - bentak Mamak. Aku aja anak Mamak gak pernah berbuat seperti itu" ucap Mas Fadil emosi.
"Anak gak tau diri, sudah di asuh, dibesarkan, disekolahkan gak tau balas budi. Bukan kita harap mereka melakukan hal yang sama, membayar kita dengan uang. Kita hanya pinta mereka sekolah dengan baik agar hidup mereka berubah. Tidak seperti kehidupan Mamaknya yang berat. Tapi dasar gak mau diatur. Lihatlah nanti gimana hidup mereka nanti. Kesal aku dengarnya" sambung Mas Fadil.
Oh ya Allah.. inikah yang KAU sebut orang yang mandul. Orang yang mandul bukan berarti orang yang tidak bisa mempunyai anak. Karena sejatinya istri Rasulullah Aisyah saja tidak penah melahirkan seorang anak dari rahimnya.
__ADS_1
Tapi beliau tidak pernah dikatakan mandul. Malah aku pernah dengar manusia yang mandul itu adalah manusia yang mempunyai anak tapi anaknya tidak bisa membawa manfaat baginya. Seperti itulah yang terjadi pada Wati. Tapi semuanya juga tidak seratus persen kesalahan anak - anak itu. Wati juga sangat bersalah atas semua ini. Dia tidak penah memberikan kasih sayang utuh untuk anak - anaknya. Dia sibuk dengan kehidupannya sendiri. Meninggalkan anak - anak kepada orang tuanya. Membebani orang tua yang sudah usia senja. Astaghfirullah.. apakah dia bisa disebut anak durhaka? Ya Allah jauhkan kami dari perbuatan itu. Doaku dalam hati.
Ali mengusap dadaku dan menarik nafas panjang. Rasanya dada ini sangat berat untuk bernafas.
"Tolong Mak kalau semuanya nanti sudah kembali seperti dulu, rubahlah cara mendidik mereka" pintaku.
"Sudah terlambat Mbak, mereka sudah keenakan. Terkadang aku sedih melihat Mamak memperlakukan mereka berbeda dengan anakku. Harusnya anak - anakku yang perlu disantuni karena anakku anak yatim. Mereka masih punya orang tua lengkap tapi Mamak memanjakan mereka. Inilah akhirnya mereka sudah salah jalan. Sangat berat untuk mendisiplinkan mereka kembali. Jalan satu - satunya hanya kata lepaskan saja Mak. Sudah waktunya Ayah mereka bertanggung jawab mengurus anak - anaknya. Mbak Wati juga sudah lelah itu. Selama dia menikah selalu mendapatkan cerita rumah tangga yang sama. Biarlah kita urus Mbak Wati saja sampai dia sehat. Nanti kalau Mbak Wati sehat baru kita panggil anak - anaknya untuk melihat Mamak mereka. Itupun kalau mereka masih mau mengakui Mbak Wati sebagai Mamak mereka" ujar Tari.
"Jangan.. jangan dulu Tari, Mamak masih belum bisa memikirkan semuanya. Biarlah seperti ini saja dulu, hingga Wati pulih baru nanti kita pikirkan. Tolong kalian bantu saja Mamak dulu ya" pinta Mamak mertua.
"Percuma saja Mak kamu bantuin Mamak tapi mereka menyakiti dan tidak hormat kepada Mamak. Hatiku juga sakit Mak, Mamak adalah orang tuaku. Aku tidak bisa melihat mereka memperlakukan Mamak seperti itu" sambut Mas Fadil masih dengan nada kesal.
"Mamak akan berubah. Mamak akan coba mendidik mereka dengan cara berbeda. Mamak akan mencoba membuat mereka dispilin" ucap mertuaku memohon.
"Mudah - mudahan berhasil ya Mak" sambung ku.
Mas Fadil dan Tari hanya diam mendengar ucapan Mamak mereka. Aku tidak tau apa yang sedang mereka pikirkan saat ini.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1