Menatap Senja

Menatap Senja
13


__ADS_3

Adikku bertanya obat apa saja yang diresepkan Dokter Jiwa kepadaku. Aku mengirim gambar obat - obat yang aku minum.


"Mbak kalau bisa obat tidurnya jangan diminum? Takutnya Mbak jadi ketagihan. Sebisa mungkin dilawan ya jangan terlalu diikutkan" pesan adikku.


"Iya dek, obat tidurnya disarankan minum dua kali sehari. Tapi kalau pagi Mbak minum, Mbak gak bisa kerja. Ngantuknya luar biasa sehingga tidak bisa fokus. Mbak hanya meminumnya malam hari" jawabku pada adikku yang dokter.


"Untuk sementara tidak apa - apa. Karena Mbak memang membutuhkannya tapi kalau bisa jangan terlalu lama. Cari jalan sendiri bagaimana caranya bisa tidur dengan alami" sambut Adikku.


"Iya Mbak akan coba cari jalan lain" balasku.


Sesampainya di rumah sebelum tidur seperti biasa suamiku mengecek obatku. Karena aku punya kebiasan buruk lupa minum obat. Oh iya sekarang aku jadi pelupa. Sering sulit fokus.


"Obatnya sudah diminum semua Bun?" tanya suamiku.


"Sudah Yah" jawabku.


"Obatnya hebat banget ya Bun. Kalau Bunda minum obat penenang itu tidur Bunda nyenyak sekali. Rayyan ribut aja Bunda gak dengar. Padahal Bunda sangat sensitif kalau tidur. Gak bisa dengar suara ribut" lapor suamiku.


"Oh ya?" tanyaku terkejut


Padahal aku merasa seperti tidak tidur. Pikiranku terus berjalan - jalan entah memikirkan apa saja.


"Iya, bahkan Rayyan banting pintu saja Bunda tidak terbangun" jawab suamiku.


"Itulah Yah yang dipesankan Arif. Kalau bisa Bunda jangan tergantung dengan obat itu. Jangan minum obat itu terus menerus. Takut ketergantungan" balasku.


"Benar juga Bun, coba cari cara yang alami" sambut suamiku.


Sebelum tidur aku punya kebiasan baru melihat aplikasi instagra* di ponselku. Saat aku buka ada ceramah singkat Ustadz Adi Hidayat yang isinya.


"Saat kita mengaji beribu setan yang menduduki mata kita. Meniupnya agar kita merasa ngantuk dan menghentikan aktivitas kita. Itulah godaan setan yang tidak suka kita mengaji" ucap Ustadz tersebut.


Tiba - tiba muncul ide begitu saja di kepalaku. Aku membuka aplikasi YouTub* dan mencari murrotal yang dibawakan oleh Ustadz Hanan Ataki. Entah mengapa aku sangat suka dengan lantunan irama saat dia mengaji. Rasanya sangat mendayu - dayu.


"Yah Bunda mau coba cara sendiri aja ya.. Jangan dimatiin" pesanku pada suamiku.


Aku mematikan lampu kamar dan mendengarkan kajian Ustadz Hanan Ataki. Seperti dinyanyikan lagu yang membuat mataku lama - lama mengantuk. Akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


Keesokan harinya saat sarapan.


"Yah rasanya tidur Bunda tadi malam nyenyak sekali" laporku pada suami.


"Ya jelas nyenyak, kamu kan minyak obat tidur Bun. Sampai mendengkur halus" sambut suamiku.


"Beda yah, biasanya aku tidur tapi sepertinya pikiranku tetap jalan. Sehingga saat bangun pagi aku merasa lelah dan tidak segar. Tapi tadi malam beda. Apa terapiku berhasil ya?" jawabku.


"Maksud Bunda terapi dengerin murotal?" tanya suamiku.


"Iya, padahal tadi malam Bunda tidak minum obat tidur" jawabku.


"Wah bagus itu Bun. Kalau kamu sudah menemukan caranya lanjutkan sahat" sambut suamiku.


Sejak saat itu setiap malam aku mulai kebiasaan baruku sebelum tidur.


****


Setelah peristiwa surat rujukanku ke Dokter Jiwa diketahui semua orang kantor pandangan teman - teman berbeda - beda melihatku.


Ada yang kasihan, ada yang mengejek, ada yang merasakan hal yang sama ada juga yang sepertinya bersyukur aku mengidap penyakit itu. Aku hanya bisa diam dan memendamnya sendiri. Yang penting aku sembuh demi anak - anakku.


Alhamdulillah tartnya sukses aku buat. Kata suami dan anak - anakku enak. Mertuaku juga berkata begitu. Bahkan mertua seperti terkejut melihat aku yang tiba - tiba bisa masak.


"Lho bisa juga rupanya dia masak" ucap mertua laki - laki. Aku tak sengaja mendengar percakapan kedua mertuaku.


"Anggi itu bisa semuanya asalkan dia serius dan sungguh - sungguh belajar. Buktinya kemarin baju pestaku yang brokat dipayet sama Anggi dan cantik" jawab mertua perempuanku.


Mertua laki - laki terdiam sambil menikmati tart yang aku buat. Akhir - akhir ini aku memang lebih sering memasak di dapur.


Tapi anehnya aku hanya bisa memasak makanan yang aku suka saja. Kalau aku tidak suka makan masakanku pasti gagal.


"Bun posting aja tartnya di sosial media sekalian promosi. Siapa tau ada yang mau pesan" ucap suamiku.


Setelah aku pikir - pikir kenapa nggak. Aku segera memotret hasil karya ku dan memposting nya di sosial media. Alhamdulillah banyak teman - teman yang menanggapi. Terlebih teman - teman yang mengenal aku sejak SMU sampai kuliah.


Mereka terkejut melihat bakat terpendam ku. Selama ini aku terkenal tidak bisa apa - apa saat kuliah dulu. Kalau makan aku catering dan setiap teman - teman memasak aku hanya menyumbang uang saja.

__ADS_1


Keesokan harinya di kantor.


"Anggi Tart yang kamu posting di status kamu itu buatan sendiri?" tanya seorang teman kantorku.


"Iya Mas. Ketepatan si Sulung ulang tahun" jawabku.


"Boleh deh aku pesan untuk anniversary pernikahanku? Rasanya sudah lama banget gak dirayain. Lagian biar jadi cemilan anakku di rumah" pinta temanku itu.


"Mas mau bentuk yang bagaimana?" tanyaku.


"Terserah kamu saja yang penting enak" jawab temanku ini.


Keesokan harinya aku belanja semua bahan Tart dan sepulang kerja aku langsung membuatnya. Ketepatan temanku itu tipe pria yang ceriwis.


Kalau ada hal yang tidak dia suka, dia selalu ngedumel. Saat membuat Tartnya entah mengapa aku merasa sangat terbebani. Takut dia tidak suka dengan bentuk tart buatanku.


Akhirnya tartnya sulit sekali mulus. Aku mulai panik, sementara waktu sudah semakin larut malam. Tart akhirnya selesai aku buat sekitar jam 12 malam.


Bahuku sangat kaku sekali, kakiku pegal dan mataku ngantuk sekali. Secara keseluruhan aku sangat capek. Setelah selesai semuanya aku bersih - bersih dan masuk ke kamar.


Begitu aku sampai kamar aku melihat suami dan anak - anakku sudah tidur dengan nyenyak.


Enak sekali kalian bisa tidur dengan nyenyak. Sementara aku baru selesai bekerja. Bisikan dalam hatiku.


Tiba - tiba aku tersadar. Bukan suamiku yang menyuruhku menerima pesanan itu tapi aku sendiri yang mau. Dia tidak pernah memaksaku bekerja. Suamiku tipe pria yang membebaskan semua kegiatan istrinya selama hal itu positif.


Walau mataku mengantuk tapi aku tidak bisa tidur. Aku sangat marah dengan keadaan ini. Untuk meredakan amarah ini aku membuka ponselku dan kembali membuka instagra*.


Mungkin Allah masih sayang padaku, sehingga yang mucul adalah ceramah Ustadz Abd. Somad dan Ustadz Adi Hidayat yang berisikan rezeki dan kehidupan.


Aku tersadar dan segera mengambil wudhu. Aku shalat dua rakaat sebelum tidur. Tapi saat aku shalat aku seperti mendapatkan energi yang luar biasa. Sejadi - jadinya aku menangis mengadu kepada Allah.


Apa yang aku takutkan atas hidup ini ya Allah. Padahal KAU sudah janjikan rezeki untukku. Harta hanyalah titipin, dunia ini panggung sandiwara. Apa yang aku takutkan? tanyaku dalam hati.


Aku menangis meminta ampun kepada Allah atas dosa - dosaku selama ini. Mungkin kah ini hidayah dariMU ya Allah.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2