
"Pakde dokter tadi datang, katanya mereka mau bicara sama keluarga dari Mamak" lapor Hari lewat telepon setelah dua hari Mamak mertua pulang ke rumah.
"Ya bicaralah sama Dokter. Kamu kan sudah dewasa secara hukum. Usia kamu sudah delapan belas tahun dan kamu juga anak Mamakmu yang pertama. Kami harus belajar untuk bertanggungjawab" jawab Mas Fadil.
"Aku gak ngerti Pakde" elak Hari.
"Kalau gak ngerti kenapa saat Nenek disana kamu usir?" tanya Mas Fadil geram.
"Mana ada aku usir, nenek yang malah mengusirku dari rumah sakit" bantah Hari.
"Kenapa nenek mengusirmu?" tanya Mas Fadil.
"Aku mau minta uang sama nenek tapi gak dikasih" jawab Hari.
"Untuk apa uangnya? Kalau makan kamu kan selalu dibelikan nenek" tanya Mas Fadil.
"Aku mau minta uang untuk beli pulsa isi paket data Pakde" jawab Hari.
"Untuk main game kan? Enak banget hidup kamu ya, cuma duduk - duduk hanya menunggu kabar. Makan selalu minta yang enak - enak dan kerja kamu seharian main game online. Kamu pikir mamak bapakmu orang kaya? Kamu gak mikir Mamakmu sekarang masih sekarat antara hidup dan mati? Bukan kamu kemarin yang nangis - nangis sebelum Mamakmu operasi? Kamu takut kehilangan Mamak, takut tidak bisa mengurus adik - adikmu. Mana air mata kamu sekarang? Palsu semuanya... belagak paling sedih tapi malah bersenang-senang diatas perjuangan Mamakmu. Kalau sudah merasa hebat belajar hidup sendiri. Kamu sudah besar, sudah delapan belas tahun? Sudah bisa cari uang sendiri? Belum kan? Masih minta sama nenek dan kakek. Kalau masih butuh bantuan orang lain baik - baik sikap kamu. Bukan seperti ini caranya" bentak Mas Fadil.
Aku langsung menghampiri Mas Fadil, aku takut dia terlalu emosi jadi sakit. Mas Fadil punya riwayat darah tinggi sejak dia berhenti bekerja. Mungkin karena pikiran juga.
"Maaas tenang" ucapku mengingatkan.
"Ma.. maaf Pakde" ucap Hari.
"Kalian semua sama saja. Kamu, Lia tidak ada bedanya. Mudah sekali ucap maaf tapi besok dibuat lagi, diulang lagi. Kami juga punya keluarga yang harus diurus, bukan memikirkan kalian saja" sambung Mas Fadil kesal.
Aku mengelus punggung Mas Fadil untuk meredakan amarahnya.
"Iya Pakde, aku ngaku salah" jawab Hari.
"Temui dokter dan tanyakan apa ada yang perlu. Kalau memang urgent baru kami datang" perintah Mas Fadil.
__ADS_1
"Iya Pakde. Udah dulu ya Pakde. Assalamu'alaikum" tutup Hari.
"Wa'alaikumsalam" jawab Mas Fadil dan menutup teleponannya.
"Ya Allah bagaimana lagi cara menghadapi mereka" gumam Mas Fadil.
"Sudah Mas sabar dulu situasinya masih seperti ini" sambutku.
Keesokan harinya Hari kembali menghubungi.
"Pakde kata dokter Mamak akan dikeluarkan dari ruang ICU" lapor Hari.
"Lho kenapa? Apa karena biaya? Mamak kamu kan masih koma dan masih pakai alat bantu semuanya. Kalau pindah dari ruang ICU gimana nanti alatnya di copot?" tanya Mas Fadil panik.
"Gak tau Pakde. Mereka ingin bicara pada keluarga yang lebih dewasa untuk membicarakan hal ini. Nanti sore Dokternya akan datang lagi Pakde" jawab Hari.
"Ya sudah kalau begitu nanti Pakde dan nenek akan datang ke Rumah Sakit. Tapi ingat kalau kamu berkata kasar dan bersikap kasar pada Nenek Pakde akan mengusir kamu. Nenek itu Mamaknya Pakde. Pakde gak sudi kalian perlakukan seperti itu Mamak Pakde" ancam Mas Fadil.
Telepon terputus. Setelah itu Mas Fadil langsung pamit padaku untuk pergi ke rumah Mamaknya. Setelah itu Mas Fadil dan Mamak mertua pergi ke Rumah Sakit.
Mas Fadil kembali mengancam Hari dan Lia di Rumah Sakit.
"Kalian harus bersikap dewasa. Hidup ini tak seindah seperti yang kalian bayangkan. Jangan terlena karena hidup ini sangat keras. Mungkin saat ini kalian tidak tau bagaimana kerasnya hidup tapi ikutilah apa yang Pakde katakan InsyaAllah kalian akan selamat" ucap Mas Fadil pada mereka.
"Iya Pakde" sahut Hari dan Lia bersamaan.
"Lia kamu ikut sama Pakde pulang, gantian kamu jaga adik - adik kamu di rumah Nenek. Biar Nenek dan Hari yang jaga Mamak kalian" perintah Mas Fadil.
"Iya Pakde" jawab Lia.
Mas Fadil dan Lia pulang ke rumah, sebelumnya singgah ke rumah Mertua untuk mengantar Lia. Sesampainya di rumah rasa ingin tahu ku tak bisa lagi di cegah. Begitu Mas Fadil pulang aku langsung menyambut nya.
"Ada kabar apa Mas?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Kata dokter Wati akan dipindah ke ruangan rawat inap biasa" jawab Mas Fadil dengan wajah sedih.
"Jadi gimana donk, bukannya Wati masih belum sadar dan masih dipasang banyak alat kan?" tanyaku lagi.
"Kata dokter keadaannya sudah stabil. Hanya tinggal menunggu dia sadar. Keluarga di suruh untuk memancing kesadarannya agar dia bereaksi. Tapi Mas keberatan tadi karena luka kakinya belum kering. Dokter yang mengobati kaki berbeda dengan dokter penyakit dalam. Jadi dua Dokter tadi saling berkomunikasi dan akhiy Wati batal di pindah. Dilihat dulu seminggu ini luka di kakinya. Kalau sudah kering Wati akan dipindah ke ruangan rawat inap. Hanya tinggal dua alat yang dipasang. Alat pernapasan dari lehernya juga oksigen di hidungnya. Dua - duanya bisa dibawa. Nanti beberapa hari sekali perawat akan menyedot lendir yang ada di leher Wati karena dia dalam keadaan batuk" ungkap Mas Fadil.
"Oh ya Allah.. " ucapku.
Mendengar penjelasan Mas Fadil saja aku sudah lemas. Apa iya ya pasien yang belum sadar bisa keluar dari ruang ICU? Tanyaku dalam hati.
"Ayah gak tanya, apakah tindakan mereka ada hubungannya dengan biaya? Biaya Wati kan di tanggung penuh oleh BPJS Ketenagakerjaan?" tanyaku lagi.
"Sudah ayah sudah tanyakan. Kata mereka tidak ada hubungannya dengan biaya. Pihak rumah sakit juga sudah tau kalau biaya ditanggung BPJS ketenagakerjaan. Mereka tidak punya alasan tepat untuk menahan Wati berlama - lama di ICU. Karena perlahan - lahan keadaannya memang sudah mulai stabil. Tekanan darahnya sudah normal dan pernafasannya juga sudah mulai membaik" sambung Mas Fadil.
"Mudah - mudahan Dokter melakukan yang terbaik untuk Wati ya Yah" ucapku.
Mas Fadil menarik nafas panjang.
"Setidaknya kita sudah melakukan yang terbaik untuk Wati. Kalau Allah berkehendak lain ya itu kuasa Allah. Kalau dia hidup juga sangat berat, seumur hidup harus dirawat. Karena otak sebelah kanan kemarin yang dioperasi membuat bagian tubuhnya sebelah kiri lemah. Dia seperti orang yang terkena stroke. Kaki dan tangannya juga sudah mulai mengecil" ungkap Mas Fadil.
"Ya Allah... " ngilu rasanya mendengar cerita Mas Fadil.
"Sampai saat ini saja sangat banyak keajaiban dari Allah untuk Wati. Secara keseluruhan Wati semakin membaik. Kita tetap berharap dia sadar, soal siapa nanti yang mengurusnya biarlah kira pikirkan nanti" ujar Mas Fadil.
"Iya Mas, semoga Allah memberikan kesempatan untung Wati memperbaiki diri dan hidupnya. Siapa tau dengan cara begini dia bisa berkumpul dengan semua anak - anaknya" doaku.
"Aamiin.. " jawab Mas Fadil.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1