Menatap Senja

Menatap Senja
79


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


"Gimana Yah kesepakatan perdamaian?" Tanyaku pada Mas Fadil.


"Mereka hanya sanggup membayar sebesar dua puluh tiga juta" jawab Mas Fadil.


"Nanggung amat pakai tiga juta dibelakangnya. Kenapa gak digenapin tiga puluh juta?" tanyaku.


"Minta dua puluh lima juta aja berat Bun. Kata polisinya itu sudah besar" jawab Mas Fadil.


"Besar apanya? Watinya saja belum sadar sudah lebih seminggu. Kalau ada apa - apa dengan Wati gimana?" tanyaku.


"Pak Polisi bilang, kalau misalnya Wati meninggal nanti akan dapat dari BPJS Ketenagakerjaan dana kemalangan" jawab Mas Fadil.


"Jadi polisi berharap Wati meninggal? Kita kan mikir kalau Wati hidup, pasti biaya mengurusnya jauh lebih besar" sambungku.


Mas Fadil tampak menarik nafas panjang.


"Gak taulah Bun apa yang terjadi dibelakang kita. Kalau memang mereka sengaja membuat semua cerita ini, biarlah mereka yang akan mendapat balasan dari Allah. Baik tujuan mereka maka baiklah yang mereka dapat. Kalau niat mereka buruk itu juga yang mereka dapatkan. Ayah sudah bicara sama Nenek dan Kakek di Rumah Sakit. Besok Ayah pergi sama Kakek ke rumah sakit. Surat nikah Wati dan jelas, kartu keluarganya sama Dana juga gak jelas. Kartu Keluarga Wati saat janda dulu yang sudah ayah urus duplikatnya itu yang akan kami bawa sebagai data yang kuat. Karena anak - anak Wati masih dibawa umur uang perdamaian diterima oleh Kakek sebagai Ayah kandung Wati. Jadi begitu uang kami terima langsung dimasukkan ke bank" ungkap Mas Fadil.


"Semuanya kan?" tanyaku.


"Rencana tiga juta akan dikasih kepada polisi sebagai ucapan terimakasih" jawab Mas Fadil.


"Banyak banget Yah, itu kan sudah tugas mereka sebagai aparat negara masak harus ada pakai salam dan uang terimakasih?" tanyaku kesal.


"Begitulah dunia sekarang Bun, tidak ada lagi jalan mulus pasti ada tempelan - tempelannya. Sudahlah Kakek ikhlas kok agar semua selesai" ujar Maa Fadil.


"Iya tapi mereka mengurangi hak orang teraniaya" sambutku.

__ADS_1


"Mereka tidak ada meminta dan menetapkan berapa jumlahnya. Kakek yang ingin kasih mereka segitu" balas Mas Fadil.


"Ya sudahlah Yah kalau memang itu maunya si Kakek. Yang penting uangnya harus dipergunakan sebaik mungkin. Soalnya ini menyangkut hidup Wati dan anak - anaknya" ujarku.


Keesokan harinya Mas Fadil dan Bapak mertua pergi ke kantor polisi untuk membuat surat perdamaian dan sekaligus mencabut tuntutan dari keluarga kami.


Disana Bapak mertua bertemu dengan supir yang menabrak. Seorang pria yang juga sudah berumur. Dia memeluk bapak mertua sambil menangis.


"Maafkan saya Pak, saya benar - benar tidak sengaja melakukannya. Saat itu saya sangat panik dan tidak tau harus berbuat apa - apa lagi" ucapnya pada Bapak mertua.


"Sudahlah Pak.. sudah saya maafkan. Saya hanya meminta kepada Allah semoga anak saya segera sadar dan sehat kembali" jawab Bapak Mertua.


Mereka berpisah di kantor polisi. Setelah itu Mas Fadil dan Bapak mertua singgah ke Bank untuk memasukkan uang perdamaian Wati ke rekening Mamak mertua.


Baru kemudian Mas Fadil kembali mengantar Bapak mertua kembali ke Rumah Sakit..


"Iya Pak tidak apa - apa. Biar Mamak sama Hari saja yang jaga di sini. Kalian kembali lah bekerja sepet biasa. Jangan semua terganggu karena Wati. Kita tidak tau kapan Wati sadar" jawab Mamak mertua.


Setelah itu Mas Fadil dan Bapak mertua pulang ke rumah. Perlahan - lahan kehidupan kami mulai normal. Bapak mertua sudah kembali bekerja di sebuah sekolah swasta.


Mas Fadil kembali bekerja, aku juga sama. Tari kembali menjalankan loundrynya sambil mengasuh anak - anaknya dan anak - anak Wati.


"Mbak tolong bilangin Lia donk" pinta Tari lewat telepon.


"Bilangin apa Tari?" tanyaku.


"Dia kalau sudah pergi ke sekolah pulangnya selalu malam. Gak pernah pulang tepat waktu. Memang dia sekolah hanya dua kali dalam seminggu. Tapi aku kan harus bekerja mana bisa aku mengurus lima anak - anak yang kecil - kecil. Rajak kan selalu ikut Ayah ke sekolah dan tidur di sekolah" ungkap Tari.


Bapak mertua memang bekerja di sekolah sebagai satpam. Dia selalu membawa Rajak ikut serta agar Rajak tidak salah bergaul. Kalau di sekolah Bapak mertua selalu mengajaknya shalat berjamaah di mesjid.

__ADS_1


Rajak masih kelas satu SMP. Lia kelas dua SMU dan Hari sudah tidak sekolah. Karena dulu dia putus sekolah saat SMP. Dia sibuk main game online dan tidak pernah sekolah. Akhirnya di drop out dari sekolah.


Sangat berat perjuangan mertua untuk mengurus tiga anak itu, kini harus ditambah lagi dengan tiga orang anak yang masih kecil - kecil. Terkadang aku kasihan melihat kedua mertuaku. Sudah tua masih saja diberatkan oleh anak - anaknya juga cucu - cucunya.


Dulu waktu aku dan Mas Fadil masih sama - sama bekerja, kami sering mengajak mereka jalan - jalan bersama kedua orang tuaku. Walau kami naik mobil Papa tapi setidaknya bisa mengajak orang tua kami pergi bersama - sama.


Kadang Papa dan Mamaku juga berkomentar, mereka turut prihatin dengan nasib mertua yang masih saja diberatkan oleh anak - anak.


Tapi aku tak berani mengambil kesimpulan. Menurutku mertuaku juga punya kekurangan. Terlalu lemah dan tidak disiplin sehingga seperti ini nasib mereka sekarang.


Aku sering melihat semua yang ada di rumah mertuaku itu bangunnya hampir siang. Kalau di rumah Papa, pagi - pagi Papa sudah sibuk membangunkan kami untuk shalat subuh.


Di rumah itu ada Tari dan Lia. Tapi semua pekerjaan rumah Mamak mertua yang kerjakan. Dan mamak mertua selalu dia saja dan melindungi mereka. Itu bukan mendidik menurutku. Pada akhirnya saat tubuh kita tak sekuat saat muda baru akan merasa lelah. Mungkin saat ini Mamak mertua masih kuat tapi nanti akan tiba masanya dia merasakan lelah.


"Mbak malas sudah menasehati Lia Tari. Pasti dia hanya diam saja, setelah itu dia tetap melakukan apa yang dia inginkan. Apa yang dia suka, itu terus yang terjadi. Mbak sudah jera" ungkapku.


"Tapi aku tidak sanggup Mbak kalau harus bekerja sendiri" ujar Tari.


"Maaf ya Tari, jangan tersinggung kalau Mbak bicaranya agak keras. Coba deh ambil hikmah dari musibah ini. Menurut Mbak keluarga kita saat ini sedang di tegur Allah. Semuanya... tidak ada terkecuali. Ada apa dengan keluarga ini, pasti ada yang salah. Marilah kita sama - sama memperbaiki diri. Lihatlah kisah Wati, begitu dekat kematian itu. Pikirkan kalau kita mati bagaimana anak - anak kita. Apakah kita harus titipkan mereka pada Mamak dan Ayah lagi. Mereka sudah tua Tari, harusnya tinggal menikmati hidup. Yuk sama - sama kita hidup lebih baik. Dalam musibah ini kita harus sabar.. semua stres, bukan hanya Tari, Mamak dan Ayah bagaimana. Masalah Lia nanti Mbak akan bilang sama Mas Fadil biar dia aja yang nasehati Lia" ucapku pada Tari.


Tari terdiam sesaat, tidak tau apakah dia bisa menerima perkataanku atau malah marah mendengar ucapanku.


"Iya Mbak" ucap Tari akhirnya.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2