
Keesokan harinya.
"Mas cepat ke rumah, Lia minggat" telepon Tari.
"Ada apa lagi ini?" tanya Mas Fadil kesal.
"Udah Mas nanti di sini aja ceritanya" jawab Tari.
"Baiklah Mas akan ke sana" ujar Mas Fadil.
Aku melihat wajah Mas Fadil berubah, seperti terkejut dan marah.
"Ada apa Yah?" tanyaku penasaran.
"Bun kita harus ke rumah Mamak sekarang. Lia minggat" ajak Mas Fadil.
"Astaghfirullah.. ada masalah apa? Kenapa Lia minggat? Anak - anak ini ya Allah selalu membuat ulah" sambutku.
"Udah Bun cepat yuk" ajak Mas Fadil lagi.
"Iya Yah" aku langsung menyambar jilbab ku dan memakainya lalu duduk di belakang Mas Fadil.
Kami langsung bergerak menuju rumah mertua. Sesampainya di sana kami dengar Bapak mertua marah - marah sedangkan Mamak mertua menangis.
__ADS_1
Perutku langsung sakit, aku tidak bisa lagi dalam keadaan seperti ini. Batinku sudah tidak kuat lagi menghadapi hal seperti ini.
"Ada apa Yah? kenapa Ayah marah - marah?" tanya Mas Fadil kepada Bapak mertua.
"Itulah anak durhaka itu, sekarang dia sudah minggat. Sudah Nek jangan lagi kamu tangisi kepergiannya, biarkan saja dia pergi. Kalau dia mau jadi hantu di luar sana aku sudah tidak perduli" ucap Bapak Mertua.
Aku duduk di samping suamiku.
"Yah duduk dulu, Ayah harus tenang" ucapku pada Bapak mertua.
"Bagaimana ceritanya bisa seperti ini?" tanya Mas Fadil penasaran.
"Mamak sibuk masak di dapur, minta bantuan dia untuk mencuci piring. Sudah berulang kali Mamak memanggilnya tadi dia diam di kamar main HP. Aku capek baru pulang kerja. Masih ngantuk karena jaga malam. Kepala ku pusing mendengar Mamak berulang kali memanggilnya tapi dia tidak juga bergerak. Akhirnya naik emosiku, ku tendang dia yang lagi tidur - tiduran. Dia marah dan gak terima karena aku tendang. Apa sih Kek? katanya. Semakin emosi aku melihat sikapnya itu. Habislah aku maki dan hampir aku tampar tadi kalau gak di tahan Mamak. Aku bilang padanya kalau kau tidak suka tinggal di sini keluar dari rumah ini. Untuk apa aku besarkan kalian dan sekolahkan kalian tinggi - tinggi sampai SMA tapi gak ada akhlak kalian " ungkap Bapak mertua masih emosi.
"Dia langsung ke kamar dan menyusun semua bajunya sambil menangis. Dia pikir kami akan menahannya Mas, tapi aku juga sudah lelah dengan sikapnya yang sesukanya di rumah ini. Mamak tadi sempat juga ingin menahan tapi aku larang. Dia kan sudah dewasa sudah tujuh belas tahun. Kalau di bela terus makin besar kepala. Lagian Ayah marah kan karena belain Mamak. Malah Mamak mau bela dia, untuk apa?" potong Tari.
"Sudahlah Mak, aku juga sudah capek menasehati mereka, semua anak Wati ini sama saja. Gak ada yang mau berubah, mereka tidak lihat bagaimana keadaan Mamaknya sekarang. Kalau Lia mau pergi biarkan saja. Dia yang memilih seperti itu. Selama ini kita udah berbuat baik dan berusaha mendidiknya menjadi anak yang baik tapi dia salah jalan. Tapi sekali dia pergi dari rumah ini, jangan ada yang menerimanya kembali. Aku keberatan, kalau Ayah dan Mamak nanti menerima dia kembali aku angkat tangan. Mohon maaf aku tidak akan perduli lagi pada semuanya, aku juga punya keluarga dan rumah tangga sendiri. Aku sibuk urus anak orang sedangkan anakku ku kirim ke rumah mertua ku di kampung. Aku merasa aku sudah tidak adil pada anak - anakku sendiri. Sudah waktunya aku mengurus keluarga ku" tegas Mas Fadil.
Bapak dan Ibu mertua terdiam mendengar ucapan Mas Fadil. Aku juga tidak menyangka Mas Fadil akan berkata seperti itu. Pasti dia sudah sangat marah pada Lia.
"Kamu juga Hari, Rajak, dengar ucapan Pakde. Kalau mau keluar dari rumah ini silahkan, pintu keluar terbuka lebar. Tapi ingat sekali kalian melangkah keluar jangan harap bisa kembali lagi" ancam Mas Fadil pada dua anak Wati lainnya yang sudah besar.
"Aku juga sudah capek, kadang aku berpikir sampai kapan aku banting tulang seperti ini. Aku sudah tua, fisik ku sudah tidak kuat lagi. Aku sudah memperjuangkan anak, sekarang mengurus cucu lagi. Kapan aku istirahat dan menikmati masa tua" ungkap Bapak Mertua.
__ADS_1
Bapak mertua akhirnya menangis. Mungkin dia sudah sangat kesal dan kesabarannya sudah hampir habis menghadapi Wati dan anak - anaknya.
"Aku pasrah, aku lepas semua. Biarlah aku serahkan semua pada Allah. Kalian sudah baligh, sudah bertanggung jawab terhadap diri sendiri di hadapan Allah. Sudah cukup aku ajarkan kebaikan pada kalian. Kalau kalian tidak mau terima dan ikut apa yang aku katakan terserah. Kalian juga boleh pergi dari sini. Aku sudah tak kuat menahan semua ini. Kalian masih punya orang tua, pergi kalian ke rumah Bapak kalian. Kamu Hari, kamu kan sudah tau dimana rumah Bapak kamu. Pergi sana minta makan dan tinggal sama Bapakmu. Kakek sudah tidak kuat lagi" ungkap Bapak mertua putus asa.
Aku juga ikut menangis, aku tau bagaimana hancurnya perasaan Bapak mertuaku saat ini. Semua memang sangat berat setelah kejadian kecelakaan Wati. Mungkin saat inilah puncak kekuatan Bapak mertuaku.
"Aku juga sering memikirkan Ayah dan Mamak. Usia Ayah dan Mamak sudah tua, fisik kalian sudah tak sekuat dulu. Sudahlah sekalian saja kita bicarakan masalah anak - anak Wati ini. Mamak tidak akan bisa mengurus mereka semua. Kalau sekedar makan, Anggi yakin bisa kita kasih. Tapi sekolah mereka bagaimana. Iya kalau Mamak dan Ayah terus sehat, kalau satu aja diantara Ayah dan Mamak jatuh sakit padam semua cahaya di rumah ini. Lebih baik tiga anak - anak Wati yang kecil - kecil ini kita pulang kan sama Bapak kandungnya. Kata Tari Bapaknya sudah kembali ke kota ini. Dia lebih berhak dan wajib mengurus anak - anaknya dari pada kita. Kalau Hari dan Rajak kan sudah besar, mereka sudah tidak perlu di urusin lagi. Mereka juga sudah bisa membantu Mamak untuk mengurus Wati. Biar mereka tetap di sini. Itupun kalau mereka mau, kalau mereka mau mengikuti jejak Lia, silahkan pergi. Kita lepas saja semua. Biar mamak bisa fokus pada kesembuhan dan pengobatan Lia. Mudah - mudahan Lia sembuh" saranku.
"Iya Mak aku setuju" sambung Tari.
"Aku juga setuju, mereka memang ponakanku Mak. Kalau di tanya hati, aku sayang tapi selama mereka mau diatur. Kita juga serba terbatas. Kalau pilih mereka atau Mamak dan Ayah, jelas aku lebih memilih Ayah dan Mamak. Lebih baik mereka semua pergi dari pada Ayah dan Mamak sakit" ungkap Mas Fadil.
Bapak mertua menatap ke arah Mamak mertua.
"Ayah rasa juga seperti itu Mak. Ayah kasihan melihat Mamak bekerja seharian penuh setiap harinya. Sementara mereka tidak ada yang mau perduli. Kita pulang kan saja tiga anak Wati ini kepala Dana" ujar Bapak mertua.
Mamak mertua menghapus air matanya dan menarik nafas panjang.
"Ya sudah kalau itu keputusan semuanya. Mamak ikut saja, jujur Mamak juga sangat lelah. Biarlah mereka tinggal sama Bapaknya nanti kalau aku rindu baru aku bawa mereka beberapa hari menginap di sini" jawab Mamak mertua akhirnya.
"Ya sudah besok aku akan panggil Sahrul Mak minta bantuannya untuk mengantarkan anak - anak Wati ke rumah Kakaknya Dana. Karena kata Kakak Dana dia nanti yang akan panggil Dana untuk mengambil anak - anaknya" ujar Tari.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG