
"Beli aja Kak, nanti kami akan tambahin dananya" ucap Rahmat.
Aku malu karena perkataan adik - adikku. Dulu waktu aku pertama kerja aku yang selalu traktir mereka dan membelikan mainan untuk Arif. Karena saat itu Arif masih kecil, masih sekolah.
Tapi sekarang malah aku yang selalu mereka teraktir dan belikan sesuatu kepadaku.
"A.. ah.. gak usah. Semua hanya masalah waktu. Kakak tabung dulu, bulan depan pasti udah bisa kebeli" tolakku.
"Gak apa - apa Kak. Beli saja biar kami tambahin uangnya. Kan enak kakak bisa ketik novel dengan layar ponsel yang lebih besar. Dan gak perlu bulak - balik carger HP karena batrenya lowbat" bujuk Arif.
"Iya Kak udah tinggal pilih mau yang warna apa?" sambung Rahmat.
Aku melirik Mas Fadil meminta persetujuannya
"Gimana yah?" tanyaku pada Mas Fadil.
"Ya terserah Bunda. Kan Bunda yang pakai, Bunda suka atau tidak" jawab Mas Fadil.
"Ya suka tapi uangnya... " ucapku terputus.
"Kan kata Rahmat dan Arif mereka mau tambahin" jawab Mas Fadil.
Aku mempertimbangkannya sejenak. Lalu menarik nafas panjang.
"Iya deh Kakak mau" jawabku.
"Ya sudah tinggal pilih warnanya" sahut Rahmat.
"Yang hitam aja, Kakak gak mau yang macem - macem" pintaku.
Pelayan toko memberikan kotak ponsel yang belum di buka. Setelah itu dia membuka dan mengeluarkan isinya. Dan mengisi fitur-fitur dan data - data yang dibutuhkan.
"Oh iya Bu, ada undiannya. Ibu berhak mendapatkan satu kupon hadiah, silahkan pilih" ujar pelayan toko.
"Kalian saja yang pilih. Tangan Kakak selalu tidak beruntung untuk hal undian atau sejenisnya. Tangan ini terbiasa mendapatkan sesuatu dengan kerja keras" ungkapku.
"Kamu aja Rif, Aku mau lihat - lihat ponsel yang lain" sambut Rahmat.
"Okey.. mari kita pilih kartu undiannya" sambut Arif.
__ADS_1
Arif memasukkan tangannya ke dalam tabung yang berisikan lembar undian. Setelah mengambil satu kertas dia memberikannya kepada pelayan toko.
Kertas tersebut di buka dan isi yang tertulis di dalamnya.
"Handset" ucap pelayan toko.
"Lumayan Bun dapat gratis" sambut Mas Fadil.
"Bukannya itu sudah kelengkapan di dalam kotak?" tanyaku.
"Tidak bu, di dalam kotak hanya ada kartu garansi, carger dan kwitansi" jawab pria itu.
"Baiklah.. apapun itu harus di syukuri. Itu rezeki saya hari ini" ucapku.
Pelayan toko mengambil benda yang akan diberikan kepadaku secara cuma & cuma. Setelah membayarnya kami semua keluar dari toko tersebut dan pulang ke rumah masing-masing.
"Cieee yang punya HP baru" goda Mas Fadil saat aku sibuk memindahkan semua data - data yang penting dari ponselku yang lama.
"Alhamdulillah Mas bisa beli HP baru. HP yang lama bisa dipakai anak - anak. Mereka pasti senang walau dapat bekas" sambutku.
"Iya Rayyan dan Shifa gak perlu rebutan lagi main HP" gumam Mas Fadil.
"Iya Bun, Ayah tau kok" sahut Mas Fadil.
Akhirnya semua sudah selesai aku pindahkan. Dan aku sudah mulai mengetik novel menggunakan ponsel baru.
Dikantor Mbak Tyas heboh karena melihat aku beli ponsel baru. Mbak Tyas malah lebih dulu beli HP baru. Jadinya kami sama - sama tertawa karena kompakan pakai HP baru.
Aku semakin semangat menyelesaikan novelku yang ketiga. Novel itu juga aku selesaikan dalam waktu satu bulan. Karena tiga novelku sudah tamat levelku sebagai penulis juga meningkat.
Dan karena prestasi novel ketigaku yang booming aku menjadi penulis platinum. Perjanjian kontrak novel aku baca perlahan demi perlahan. Semua secara otodidak aku pelajari.
Setiap hari aku selalu rajin melakukan promosi langsung di aplikasi novel atau di sosial media ku. Teman - teman kerja banyak yang sudah mengetahui pekerjaan baruku ini.
"Gi, Dara menikah bulan depan. Kalian pulang ya. Ajak adik - adik kamu" ucap Mama.
"Iya Ma, nanti akan Anggi kabari adik - adik semua" jawabku.
"Ini ada baju seragam pesta, besok Mama akan mengirimkannya lewat pengiriman ya.. Biar sempat kalian jahitan. Bagi sama adik - adik ipar kamu" pesan Mama.
__ADS_1
"Iya Ma" jawabku.
Singkat cerita acara nikah sepupuku akhirnya tiba. Kami semua pulang kampung ke rumah orang tuaku. Rumah Mama terdiri dari empat kamar tidur satu kamar untuk menyetrika tapi di situ tidur adik anak saudara Papa yang tinggal membantu Papa di kampung.
Sebenarnya kamar itu cukup untuk kami semua. Tapi tiba - tiba ada keluarga dari kota yang menumpang tidur di rumah Papa.
Rahmat dan Arif mempunyai anak kecil sedangkan anak - anakku sudah lebih besar. Akhirnya aku dan keluarga kecilku yang mengalah dan tidur di luar.
Saat itu hatiku sebenarnya sedih, mengapa harus aku yang mengalah? Apa karena keluargaku yang paling tidak beruntung sehingga tidak dihargai.
Aku sempat kesal dengan Mama mengapa menerima saudaranya tidur di rumah kami. Mengapa tidak dikatakan saja kalau kamar sudah penuh diisi semua anak - anak.
Aku, suami dan anak - anak bingung mau mandi dimana dan berpakaian dimana. Kamar mandi di dapur kecil. Malam itu tidak ada yang tau kalau aku menangis.
Apa aku yang terlalu baper ya Allah.. apa sesedih ini jadi orang yang tidak beruntung? tanyaku dalam hati.
Tiba - tiba seperti ada yang membisikkan di telingaku untuk shalat. Aku lupa ada tempat yang terbaik untuk mengadu.
Setelah shalat aku mengadu kepada Allah. Seketika aku malu sudah berburuk sangka pada keluargaku. Mereka sudah sangat baik padaku.
Aku berusaha menghapus bisikan setan yang selalu mencari kelemahan hatiku. Aku berpikir positif, tidak mungkin adik - adikku yang lain tidur diluar. Kasihan anak - anaknya terbiasa tidur dengan AC.
Tidak mungkin juga kalau adik - adikku dipisah tidurnya dengan anak - anaknya. Karena anak - anak mereka tidur harus dekat dengan mereka.
Aku menilai memang hanya aku dan keluargaku yang pantas untuk mengalah. Apalagi anak - anakku sudah besar dan tidak rewel lagi. Pakai kipas angin saja mereka sudah bisa tidur nyenyak.
Mas Fadil juga tidak keberatan tidur di musholla karena tempatnya juga adem. Beruntung punya suami yang tidak menjadi provokator saat hatiku lemah.
Dia malah jadi penguat dan selalu memberikan nasehat kalau pikiranku sedang tidak sehat dan tidak bisa berpikir jernih.
"Gak apa - apa Bun kita yang mengalah. Itulah gunanya anak paling tua. Harus ngalah sama adik - adiknya. Lagian kasihan anak - anak mereka kalau harus tidur diluar pasti kepanasan" ucap Mas Fadil tadi sebelum tidur.
Setelah shalat aku pandangi suami dan anak - anakku. Terimakasih ya Allah, berilah kami kesehatan agar kami kuat menjalani semuanya. Aamiin..
Doaku dalam hati.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG