Menatap Senja

Menatap Senja
78


__ADS_3

Mas Fadil pulang dari ke rumah dengan wajah kesal. Aku jadi heran dengan apa yang sedang terjadi.


"Ada apa Mas?" tanyaku.


"Tadi aku dan Syahrul baru pulang dari kantor polisi" jawab Mas Fadil.


"Terus? Ada berita apa?" tanyaku.


"Tadi polisi sudah memanggil saksi - saksi. Mereka bercerita kalau kecelakaan itu sebenarnya bukan karena kesalahan truk. Lokasinya kan di bundaran, posisi Wati dan truk sejajar. Karena mereka mengelilingi bundaran tanpa sengaja motor Wati mendekat ke truk dan masuk di ban belakang truk. Menurut polisi itu bukan tabrakan karena yang kena bagian tengah truk. Beda kalau truk langsung menabrak dari bagian depan itu jelas tabrakan" ungkap Mas Fadil.


"Lho kok bisa begitu? Kata saksi kemarin mereka bersedia bersaksi kalau truk itu yang salah?" tanyaku terkejut.


"Kesalahan truk karena dia melaju sangat kencang dimana lokasinya itu di bundaran. Dan setelah kejadian kecelakaan truk tidak mau berhenti dan terus berjalan sehingga Wati terseret beberapa meter. Padahal banyak orang yang sudah menjerit dan memberi peringatan. Supir tidak segera melapor malah melarikan diri. Tapi alasannya kata polisi masuk akal takut di ramaikan masa" sambung Mas Fadil.


"Kenapa Bunda merasa ada yang berubah saat ini? Tidak sepet kejadian awal kita mendengar bagaimana kecelakaan itu terjadi?" tanyaku tak percaya.


"Ayah juga merasakan hal yang sama Bun, tapi tidak ada bukti kita. CCTV pintu TOL terdekat tidak bisa diminta. Alasan mereka karena kontrak CCTVnya habis dan belum di perpanjang" jawab Mas Fadil.


"Apa karena kita pihak yang lemah sehingga diperlakukan seperti ini Yah? Apa ada kemungkinan polisi sudah sepakat dengan pihak penabrak?" tanyaku curiga.


"Kita tidak bisa menuduh mereka, apalagi mereka aparat negara Bun. Polisi mengatakan kita tidak bisa menekan atau menuntut mereka dan polisi menyarankan untuk damai saja. Tidak perlu sampai proses hukum berlanjut" jawab Mas Fadil.


"Apa pihak sana ada main Yah sama polisi?" tanyaku curiga.


"Kita tidak boleh menuduh tanpa bukti Bun" pesan Mas Fadil.


"Astaghfirullah... " potongku langsung.

__ADS_1


"Jadi gimana Yah selanjutnya?" tanyaku pada Mas Fadil.


"Tadi Ayah sudah bicara sama Mamak dan Ayah di Rumah Sakit. Bunda taukan gimana Ayah kami, dia tidak pinter ngurus beginian. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan Polisi dia langsung lemas. Kata Ayah damai saja, toh sejak awal kita kan takut biaya rumah sakit Wati" jawab Mas Fadil.


"Tapi melihat kondisi Wati yang tidak akan bisa bekerja lagi gimana nasib anak - anaknya?" tanyaku.


"Kata Mamak Kakaknya Dana datang ke Rumah Sakit, dia katanya mau bawa Sasa. Tinggal Naya dan yang paling kecil. Naya sudah diminta Romi (Adik Mas Fadil nomor dua yang tinggal di luar kota). Tinggal mikirin yang kecil aja. Kalau tiga anak - anak Wati lainnya kan sudah besar - besar" jawab Mas Fadil.


"Kasihan mereka hidup terpisah Yah. Sudah pulangkan saja sama Dana, dia kan Bapak kandung anak - anak itu. Harus tanggung jawab donk sama anak - anaknya. Jangan cuma tau yang enak - enaknya saja" ujarku kesal.


"Sampai sekarang Dana tidak berani menunjukkan wajahnya. Waktu Mamak bertanya pada Kakaknya Dana. Dana bilang dia takut ke Rumah Sakit. Nanti kalau Wati tau dia datang Wati bisa marah dan kritis kondisinya" sambut Mas Fadil.


"Bisa sadar juga dia ya kalau Wati sangat membencinya?" tanyaku.


"Ayah tadi sempat marah juga sama Mamak dan Ayah di rumah sakit. Janji awal kalau keluarga Dana datang kan kita semua akan dikabari. Dan menyuruh keluarganya bertemu dengan kita. Tapi kata Mamak dan Ayah mereka tidak ada membicarakan tentang keinginan mereka membicarakan tentang anak - anak Wati" jawab Mas Fadil.


Mas Fadil duduk di sofa setelah selesai membuka jaketnya. Aku meraih jaketnya itu dan segera menggantungnya.


"Terus kalau damai, berapa jumlah yang harus kita minta pada mereka Yah?" tanyaku.


"Lima puluh juta" jawab Mas Fadil.


"Harga nyawa seorang Ibu dari enam orang anak?" tanyaku sedih.


"Kata polisi itu saja sangat berat Bun. Polisi kasih contoh kasus sebelumnya hanya dapat sekitar sepuluh juta" jawab Mas Fadil.


"Ya Allah, uang sepuluh juta untuk hidup dan sekolah enam orang anak hanya sampai dimana yah?" tanyaku.

__ADS_1


"Sudahlah.. kata Syahrul, kami sudah cek di situs BPJS Ketenagakerjaan. Kalau cacat total dan ada surat keterangan tidak bekerja lagi dari rumah sakit nanti akan mendapat santunan dari BPJS Ketenagakerjaan. Mudah - mudahan uang itu bisa dapat, jadi bisa dijadikan modal usaha untuk Mamak dan Ayah yang hasil usahanya nanti akan dipergunakan untuk sekolah anak - anak Wati" Jawab Mas Fadil.


"Bagus itu idenya Yah. Bunda setuju, karena kalau uang kita simpan pasti lambat laun akan habis. Apalagi kalau Hari, Lia dan Rajak tau Mamaknya punya banyak uang. Bisa minta motor lah, minta HP barulah.. mereka gak mikir masa depan mereka dan tiga orang adiknya yang masih kecil - kecil" sambutku.


"Makanya, Mamak dan Ayah juga sudah setuju. Nanti tinggal cari ide usaha apa yang akan dibuat" balas Mas Fadil.


Aku melihat Mas Fadil memejamkan matanya.


"Eh jadi lupa sebentar ya Yah, Bunda ambil minum untuk Ayah" ucapku.


Aku segera ke dapur membuatkan Mas Fadil teh manis hangat dan memberikannya pada Mas Fadil. Setelah itu aku ke kamar untuk menyiapkan pakaian Mas Fadil.


"Pakaian Ayah sudah Bunda siapkan. Bunda masak air panas untuk mandi Ayah ya" ucapku.


Aku lalu ke dapur menyiapkan makan malam Mas Fadil dan memasak air panas untuk mandinya Mas Fadil. Kalau sudah malam biasanya Mas Fadil mandinya air hangat. Itu sudah menjadi kebiasaannya.


Setelah mandi baru Mas Fadil dan aku makan malam bersama. Aku perhatikan wajah Mas Fadil sangat kusut. Aku tau keletihan yang dia rasakan. Sebagai anak sulung di keluarganya dia harus berperan lebih banyak. Apalagi Bapak mertua tidak mengerti apapun dan juga tidak pandai mengurus apapun.


"Sudah Mas setelah ini lebih baik kamu istirahat saja. Besok baru dipikirkan kembali. Jangan ada lagi yang sakit karena akan memperburuk keadaan. Kita semua harus kuat agar masalah ini segera teratasi" ucapku.


"Iya, tadi Tari juga ngeluh. Pengeluaran di rumah Mamak seperti air bah tak terbendung. Sekarang ada sembilan anak - anak di rumah Mamak. Mereka saling rebutan makan, rebutan mainan bahkan rebutan tempat tidur. Suasa di rumah Mamak sudah seperti kapal pecah" ungkap Mas Fadil.


"Musibah ini menghantam kita semua. Kalau diambil hikmahnya Allah menyuruh kita semua bersabar dan ikhlas. InsyaAllah semua pasti akan bisa teratasi" sambutku.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2