
Seminggu sudah anak - anak di kampung. Rumah rasanya sepi sekali tidak ada lagi terdengar tawa mereka. Pulang kerja tidak ada yang menyambutku.
Mas Fadil selalu pulang malam. Kalau pulang kerja aku lebih sering naik angkutan umum. Bosan tidak ada kegiatan di rumah.
Aku ingat pesan dokter jiwa yang dulu membantuku untuk menyembuhkan sakit asam lambungku. Dia menyuruh aku untuk mencari kesibukan yang aku suka.
Kalau memasak aku tidak semangat karena tidak ada anak - anak yang semangat memakan masakanku. Aku membuka sosial media yaitu aplikasi Faceboo* .
Tanpa sengaja aku membaca sepenggal cerita novel. Saat aku baca sampai bawah ternyata bersambung. Karena penasaran aku mendownload aplikasinya dan melanjutkan membaca novel tadi.
Jadi ingat hobby lamaku, membaca novel. Sejak SMU aku sudah suka membaca novel ataupun komik. Bahkan dulu aku pernah berniat untuk membuat satu cerita pendek tapi karena tata bahasaku tidak bagus aku tidak percaya diri untuk mengirimkannya ke sebuah kantor surat kabar kota.
Malam harinya Mas Fadil pulang dengan membawa dua bungkus nasi goreng untuk kami makan malam ini. Kami makan berdua sambil menonton televisi.
"Bun hari ini anak - anak ada menghubungi gak?" tanya suamiku.
"Ada Yah... tadi sepulang kerja Bunda yang hubungi mereka" jawabku.
"Shifa belum sekolah ya" ujar Mas Fadil.
"Belum masih liburan. Minggu depan baru dia sekolah dan masuk di kelas empat" ungkapku.
"Untung ada kelonggaran ya Bun, uang sekolahnya discount karena pandemi. Kalau tidak dengan keadaan kita sekarang ini pasti semakin berat" ucap Mas Fadil.
"Iya yah Alhamdulillah.. " sambutku.
"Yah malam minggu kita menginap di rumah Rahmat yuk? Bunda kangen sama Elda" pintaku pada Mas Fadil.
"Ya sudah nanti Bunda tunggu aja di rumah. Ayah akan pulang lebih cepat baru kita ke rumah mereka" balas Mas Fadil.
Hari sabtunya aku sudah siap - siap menunggu Mas Fadil pulang lalu kami main ke rumah Rahmat dan tidur di sana.
Tapi ternyata Rahmat bersama istri dan anaknya tidak ada di rumah. Mereka sedang pergi. Salah kami juga sih mau datang gak kabari dulu. Akhirnya kami pergi ke rumah Tante, adiknya Papa yang rumahnya tidak jauh dari rumah Rahmat.
"Assalamu'alaikum.. " ucapku.
"Wa'alaikumsalam. Eh Anggi, Fadil udah lama gak ketemu ya. Dari mana kalian? " tanya Tanteku.
__ADS_1
"Dari rumah. Mau ke rumah Rahmat rupanya Rahmat sedang keluar. Tante sehat" tanyaku sambil memeluk Tante ku.
"Alhamdulillah sehat" sahutnya.
"Lho Tante Lizar di sini juga?" tanyaku ketika melihat ada Tanteku yang lain juga ada di situ.
"Iya, Tante lagi kurang sehat. Gak tau entah mengapa rasanya takut tinggal di rumah. Sudah sebulan Tante tinggal di sini" jawab Tante Lizar lemah.
Ini adalah rumah Omaku dari Papa. Di sini tinggal Tanteku Emi berdua saja dengan suaminya. Rumah Tante Lizar tak jauh dari sini hanya sekitar lima ratus kilometer.
Rumah ini disebut rumah gadang, karena merupakan rumah warisan orang tua Papa. Oleh sebab itu rumah ini biasanya tidak pernah sepi. Adik - adik Papa sering bergantian mampir atau menginap disini untuk melepaskan rindu mereka dan bersilaturahmi.
"Tante sakit apa?" tanyaku pada Tante Lizar.
"Gak tau, Tante rasanya ketakutan kalau sudah berada di rumah. Pengen cepat - cepat pergi. Tante seperti melihat ada bayangan di sekitar rumah" jawab Tante Lizar.
"Itu hanya perasaan Tante aja Gi. Padahal kata anak - anaknya tidak ada seperti itu. Om dan anak - anaknya nyaman - nyaman aja tinggal di rumah mereka" sambut Tante Emi.
Aku duduk di samping Tante Lizar setelah mencium tangannya.
"Iya Tante, sakit asam lambung" jawabku.
"Gimana gejalanya?" tanya Tante Lizar.
"Suka cemas, tiba - tiba jantung berdetak kencang, keringat dingin, lutut lemas dan sesak nafas" jawabku.
"Tante juga sering merasa seperti itu lho Gi. Cemas, susah tidur. Tante tidur biasanya menjelang subuh. Akibatnya shalat subuh sering telat bahkan lewat" ungkap Tante Lizar.
"Nanti kalau sudah sulit tidur, entah apa saja yang Anggi pikirkan yang membuat Anggi bisa sakit perut" sambungku.
"Ih benar, tante juga seperti itu. Sering ingat - ingat masa lalu, bahkan sampai menangis sendiri" sambut Tante Lizar.
"Bantuin Tante Lizar Gi, biar dia sembuh. Kasihan dia belakangan ini cemas dan seperti orang linglung, ketakutan terus" pinta Tante Emi.
"Iya Gi, Tante mau sembuh. Gak enak juga hidup seperti ini terus" sambut Tante Lizar.
"Coba Tante keluarkan saja unek - unek yang selama ini tersimpan di hati Tante" aku mulai mancing Tante Lizar untuk curhat. Seperti dulu Dokter mencoba menyembuhkanku.
__ADS_1
Mungkin pengalamanku sakit seperti ini bisa membantu menyelamatkan orang lain. Apalagi keluarga dekat seperti ini.
"Apa ya.. Tante merasa saat ini jadi lebih mudah baper" ungkap Tante Lizar.
Tante Lizar merupakan Tante yang kurang beruntung dari semua saudara Papaku. Tapi catat, hanya kurang beruntung dibandingkan saudara Papa yang lain. Tapi kalau dibandingkan dengan orang lain Tante Lizar masih bisa dikategorikan hidup enak.
Dia punya rumah dua lantai walau itu dia dapatkan dari pembagian warisan keluarga suaminya. Memang Tante Lizar sudah lama mengidap diabetes begitu juga suaminya. Sehingga dia dan suaminya tidak bisa lagi bekerja hanya di rumah saja.
Selama ini kehidupan mereka di topang oleh anak sulungnya dan bantuan dari saudara - saudara.
"Kalau Anggi dulu merasa takut mati Tante makanya Anggi ingin sembuh. Anggi cari - cari apa alasan Anggi takut mati. Ternyata bukan karena anak - anak karena kalau Anggi mati. Anak - anak akan terus hidup. Bukankah saat kita lahir kedunia Allah sudah menjamin rezeki kita. Begitu juga dengan anak - anak Anggi. Anggi takut mati karena dosa Anggi masih banyak. Bekal Anggi belum cukup untuk akhirat" ungkapku.
"Kalau Tante gak takut mati. Tante hitung - hitung dosa Tante gak banyak kok, Tante gak pernah melakukan dosa besar" sahut Tante Lizar.
Ya Allah apakah ini baik atau buruk untuk Tante Lizar? Tolong bantu dia ya Allah. Dan tuntun aku untuk mengobati hatinya. Doaku dalam hati
"Menurut Tante dosa apa yang besar? Berzina? atau membunuh? Ada lho Tan namanya dosa ikan teri. Kecil tapi banyak akhirnya ya besar juga jadinya" balasku.
Tante Lizar terdiam dan sepertinya sedang memikirkan makna ucapanku.
Ya Allah mudah - mudahan dia sadar. Doaku.
Tante Lizar memang selama ini aku akui ada sifat sombong dan tinggi hatinya. Merasa selalu menang dan hebat. Dia memang pintar tapi sayang tidak beruntung. Itu yang membuat dia kecewa pada hidupnya dan akhirnya sakit seperti ini.
"Tante tau apa itu?" tanyaku.
Dia menggelengkan kepalanya.
"Menggunjingi orang lain, menggosip, berpikiran buruk dan selalu berprasangka buruk pada orang lain" jawabku.
Tante Lizar terdiam mendengar jawabanku.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1