Menatap Senja

Menatap Senja
80


__ADS_3

"Yah tadi Tari telepon" ucapku pada Mas Fadil sebelum tidur.


"Ada apa dia telepon Bunda?" tanya Mas Fadil.


"Dia meminta kita untuk nasehatin Lia. Setiap kali jadwal Lia ke sekolah dia tidak pernah pulang cepat. Paling cepat sebelum maghrib. Pernah bahkan malam jam sembilan. Tari kerepotan jaga anak - anak itu. Anak Tari saja ada dua, anak - anak Wati yang kecil ada tiga, anak Ridwan lagi yang dititip di rumah Mamak. Belum lagi Tari harus urus loundry nya, belum masak. Walau loundry nya pakai karyawan tapi kan tetap ribet juga Yah. Gak mungkin dia hentikan loundry nya. Sementara dia janda anak dua, butuh uang untuk biaya hidup dan sekolah anaknya" ungkap ku.


"Bunda aja ya yang nasehatin Lia" ujar Mas Fadil.


"Bunda takut bicara kasar Yah. Rasanya kesabaran Bunda sudah habis padanya. Bunda juga pernah muda, pernah berada di usia dia. Pernah merasakan apa yang saat ini dia rasakan. Masa remaja, puber, suka sama lawan jenis. Tapi masih bisa di bendung. Ini kok kelewatan. Malah lebih nyaman tinggal di rumah orang dari pada rumah sendiri" ucapku.


"Ya kalau di rumah orang kan dia seperti tamu dilayani terus. Gak kerja apa - apa" sambung Mas Fadil.


"Tapi sampai berapa lama orang tahan menerima dia sebagai tamu. Makan ditanggung seperti anak raja. Emang nya orang tua temannya tidak keberatan? Bunda heran ya lihat ibu - ibu zaman sekarang. Kalau dulu ada teman Bunda seperti Lia itu pasti Mama akan bertanya, Lia gaj dicari orang tua? Udah pamit sama orang tuanya? Pulang lama apa gak dicari sama orang tuanya? Menurut Bunda Lia tidak ditanya seperti itu makanya dia betah di sana. Lia dulu pernah cerita Mamaknya Manda teman Lia itu hanya jual gorengan. Kita kan tau Yah hidup mereka juga mungkin pas - pasan masak mau memberatkan orang lain sih" ungkap ku.


Mas Fadil sedang menatap langit- langit kamar dan sedang berpikir keras.


"Haaaaah... Ayah tidak tau lagi harus bagaimana memperlakukan anak - anak Wati. Kalau Ayah bicara keras, Mamak dan Ayah di rumah bela mereka. Apa yang mereka minta tetap saja di kasih. Kalau ingin menghentikan aksi Lia itu sebenarnya mudah caranya. Jangan kasih dia uang jajan lebih. Atau kalau dia melanggar aturan di hukum. Tidak dikasih uang jajan. Biar disiplin, tapi Ayah tetap saja kasih apa yang mereka pinta" ujar Mas Fadil.


"Dulu waktu kalian kecil apa seperti itu juga didikan Ayah dan Mamak?" tanyaku penasaran.


"Dulu kami hidup susah, Ayah kami merantau. Kami hanya tinggal sama Mamak. Tidak ada kesempatan untuk bermain dengan teman karena kami sibuk membantu Mamak di sawah. Ayah dan Romi, sedangkan Wati menjaga adik - adik di rumah. Tapi sejak SMU Wati salah bergaul, dia sering pulang telat bahkan tidak pulang persis seperti Lia itu. Romi yang selalu mencari Wati kemana - mana, Romi juga sering memukul Wati kalau dia melawan. Tapi setelah tamat SMU Romi pergi kerja ke luar kota. Ayah juga sibuk bekerja jadi SPG di Mall. Hanya Mamak yang urus empat adik - adik di rumah. Wati semakin melawan hingga akhirnya Wati lari kawin ke luar kota. Baru Ayah kami pulang dan kumpul bersama lagi. Dia memanggik Wati dan suaminya lalu menikahkan mereka secara sah" jawab Mas Fadil.


"Nasib Mamak begitu ya yah, cuma punya anak perempuan dua, dua - duanya sudah menjanda" ujarku.

__ADS_1


Mas Fadil menarik nafas panjang.


"Ya sudah besok sebelum berangkat kerja kita singgah ke rumah Mamak. Biar ayah nasehatin Lia" ucap Mas Fadil.


"Iya Yah" sambutku.


Besok paginya kami singgah ke rumah Mamak mertua. Ternyata Lia belum bangun sedangkan Tari sibuk mengurus sarapan lima anak kecil di rumah Mamak mertua. Anak Ridwan belum datang dan dititipkan.


"Mana Lia?" tanya Mas Fadil.


"Tuh di kamar belum bangun. Aku sudah capek suruh dia bangun dari tadi" jawab Tari kesal.


"Pagi - pagi anak - anak ini sudah kelaparan semua, belum ada yang mandi" sambung Tari.


Tari masuk ke kamar Lia dan membangunkan Lia. Tak lama kemudian Lia keluar kamar dengan wajah bantalnya.


"Duduk" perintah Mas Fadil dengan tegas.


Seperti biasa Lia hanya diam dan menunduk.


"Pakde di sini bicara sebagai pengganti Kakek ya.. Mungkin dengan Kakek kalian bisa bermanja - manja tapi sama Pakde tidak. Kalau kalian tidak mau di atur di rumah ini Pakde bisa mengambil tindakan. Kakek dan Nenek itu orang tua Pakde, tidak ada yang boleh menyakiti mereka. Awas kalau Pakde dengar kalian melawan sama Kakek dan Nenek, itu artinya kalian akan berhadapan dengan Pakde" ancam Mas Fadil.


Lia semakin menunduk

__ADS_1


"Kamu itu sudah besar Lia, sudah kelas satu SMU, usiamu sebentar lagi sudah tujuh belas tahun. Pasti sudah mengerti apa yang sedang terjadi sekarang di rumah ini. Kami semua banting tulang untuk menyelamatkan Mamak kalian. Agar kalian masih bisa punya Mamak, bukan anak piatu. Ayah kalian semua entah dimana rimbanya. Jadi kamu harus mengerti Lia dengan keadaan ini. Semua untuk kalian. Kami bisa saja lepas tangan memulangkan kalian semua ke rumah keluarga Bapak kalian tapi karena kasih sayang Kakek dan Nenek yang menahan kalian di sini. Kamu jangan besar kepala merasa paling di sayang disini. Kalau kamu terus berbuat sesuka hati di rumah ini, ingat.. Pakde sendiri yang akan mengantarkan kamu ke rumah keluarga Bapak kamu" tegas Mas Fadil.


"Harusnya kamu prihatin dengan situasi di rumah ini. Nenek sedang mengurus Mamak kamu di Rumah Sakit, Kakek mencari nafkah untuk sekolah kalian. Masak kamu sedikit pun tidak tau rasa berterimakasih? Mereka ini adik - adik kamu, bukan tanggung jawab Bu Tari mengurus mereka. Karena rasa kasih sayang makanya dia mau berbuat seperti itu karena kalian anak kakaknya. Masak kamu tidak ada sedikitpun merasa kasihan atau sayang pada adik - adikmu?" tanya Mas Fadil.


Dari jauh aku juga sudah mengepalkan tangan karena menahan geram melihat tingkah Lia yang seperti itu. Rasanya sudah muak melihat wajahnya yang pura - pura sedih kalau dinasehati seperti ini. Tapi besok - besok akan dibuatnya lagi.


"Ingat itu Lia, jangan ada lagi Pakde dengar kamu pulang telat dari sekolah. Kalau kamu lakukan hal itu lagi lebih baik kamu belajar daring aja di rumah, biar Pakde bilang sama guru kamu keadaan keluarga kita. Pakde rasa guru kamu pasti akan mengerti. Kalau kamu tidak terima juga jangan salahkan Pakde jika Pakde bawa kamu ke rumah keluarga Bapak kamu dan jangan pernah kembali lagi ke sini. Mungkin itu lebih baik, mengurangi beban di rumah ini" ancam Mas Fadil dengan keras.


"Cukup sekali Pakde ingatkan ya Lia, ingat pesan Pakde ini" tutup Mas Fadil.


Mas Fadil langsung berdiri, aku tau Mas Fadil sedang menahan emosinya jangan sampai meledak dan menyakiti Lia lebih dalam. Mas Fadil langsung pergi meninggalkan Lia.


"Ayo Bun kita pergi" ajak Mas Fadil.


"Makasih ya Mas" ucap Tari.


Aku dan Mas Fadil keluar dari rumah Mamak mertua dan berangkat kerja.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2