Menatap Senja

Menatap Senja
95


__ADS_3

Honor novelku lumayan bulan ini ditambah pendapatan dari novel yang dicetak jadi buku. Aku langsung menyisihkan zakat penghasilan.


Aku sudah tanyakan kepada seorang yang dalam ilmu agama. Apakah zakat bisa aku kasih ke Wati mengingat kondisinya yang memang sangat membutuhkan saat ini.


Ternyata lebih diutamakan kalau kita memberi kepada keluarga dekat. Oleh sebab itu aku bagi zakat ku untuk Wati setelah itu kepada anak - anak Tari. Karena anak - anak Tari adalah anak yatim.


Aku bagi penghasilanku pada orang tuaku dan mertua. Meminta doa mereka agar rezekiku barokah. Mereka sangat senang sekali mendapatkan kiriman dariku.


"Alhamdulillah ya Gi ternyata ada juga rezeki dari cara seperti itu" ucap Papaku masih tidak percaya.


Dulu dia yang paling tidak percaya bahwa aku bisa mendapatkan penghasilan dengan cara menulis di HP. Setelah dijelaskan oleh adik - adikku sekarang dia yang paling semangat menanyakan novel - novelku.


Bahkan terkadang Papa suka memberi ide untuk membuat cerita kisah percintaannya dulu yang di tentang orang tua.


Para sahabat juga banyak yang menghubungiku untuk memesan novelku. Teman - teman sekolahku dulu ada yang bekerja sebagai guru. Dia memesan khusus kepadaku.


"Gi.. aku pesan novelmu ya jangan lupa nanti minta tanda tangannya sekalian" ucapnya lewat telepon.


"Kamu suka baca juga?" tanyaku.


"Kalau baca di HP mataku suka perih tapi kalau di buku aku suka. Sekalian aku juga mau tunjukin ke murid - muridku kalau pengarang novelnya adalah teman sekolahku. Untuk motivasi mereka bahwa menjadi penulis juga bisa menjadi cita - cita masa depan. Selama ini anak - anak selalu bercita - cita jadi dokter, polisi, tentara. Padahal banyak profesi lain yang lebih menjanjikan. Kalau keahlian anak - anak bisa kita ketahui sejak dini, kita bisa mengarahkannya dari awal. Mendukungnya menggapai masa depan mereka" ungkap temanku.


"Tapi anak - anak sekarang banyak juga sekarang bercita - cita jadi youtube*?" tanyaku.


"Ya itu juga bagus tapi kalau kontennya yang mendidik. Kebanyakan youtube* sekarang kontennya nunjukin kemewahan dan harta mereka. Tunjukin rumah dan mobil mewah. Berlomba - lomba saling kaya ada yang bilang anak raja, anak sultan atau anak pangeran" jawab temanku.


"Iya juga ya, banyak yang tidak mendidik. Mereka hanya meliput kehidupan mereka yang bergelimang harta dan itu di tonton oleh anak - anak bangsa. Sehingga mereka berpikir tidak penting pendidikan dan sekolah yang tinggi untuk menjadi kaya. Memang benar sih, kalau mau kaya bisa dari cara dan jalan apa saja tapi maunya otak mereka juga berkualitas " sambungku.


"Itu dia tantangan buat kami para pendidik anak - anak bangsa Gi, apalagi sekarang anak muda sekarang harus kuat berperang melawan narkoba se* bebas juga sudah meraja lela. Mereka dengan mudahnya berpikir bagaimana cara mencari uang dengan cepat hanya untuk memenuhi kemewahan hidup mereka seperti HP dan barang - barang mewah lainnya" sambung temanku.


Aku teringat pada Lia, entah bagaimana nasibnya sekarang. Kabar yang aku dengar dari Tari. Rajak pernah melihat dia kerja di sebuah toko.


Entah bagaimana dengan sekolahnya. Tapi sudahlah itu memang jalan yang dia pilih. Sudah lelah kami mendidiknya untuk jadi anak yang baik dan benar.


Dia sudah dewasa sudah menanggung dosa sendiri. Dia akan mempertanggung jawabkan tindakannya ini kelak kepada Allah. Yang penting kami sudah mengenalkannya ilmu agama, mengajarinya mengaji dan menjaganya dengan ketat.

__ADS_1


Tapi dia ingin bebas. Kelak aku yakin dia pasti akan menyesal. Dia akan sadar bahwa hidup itu tak seindah seperti yang dia bayangkan. Saat dia terjatuh dia pasti akan butuh keluarga atau orang dekat untuk bantu nya.


Disaat itu tiba dia sudah jauh pada semuanya. Jauh dari keluarga dan aku yakin juga jauh dari Allah. Naudzubillah...


"Semoga anak - anak kita selamat dari kehidupan seperti itu ya Las. Kadang suka ngeri melihat kenakalan remaja saat ini" ucapku.


"Iya Gi. Aamiin" sahut Lasti temanku.


"Oke Las nanti aku kirim novel kamu via pengiriman ya" ucapku.


"Oke Gi, aku tunggu ya. Sukses terus ya Gi" ujar Lastri.


"Terimakasih Las, kamu juga semoga sukses menjadi guru dan mendidik murid - murid kamu. Ingat masa depan anak bangsa ada di tangan guru - guru hebat seperti kamu" ucapku memberi semangat.


"Iya Gi, semoga semangat kami para guru - guru tidak pernah pudar. Udah dulu ya Gi, salam buat suami kamu" pamit Lastri.


"Sama Las, salam juga buat keluarga kamu di kampung ya" jawabku.


Telepon terputus, aku melanjutkan menandatangani buku - buku yang sudah di pesan. Semuanya ada seratus buku.


"Bun... jangan sampai malam kerjanya" ucap Mas Fadil mengingatkanku.


Aku menyelesaikan pekerjaanku sampai jam sepuluh malam. Setelah selesai aku langsung ke kamar menyusul suamiku.


"Yah" panggiku saat kamu sudah sama - sama terbaring di tempat tidur.


"Kalau honor bulan ini sudah masuk kita pasang kanopi rumah ya sekalian sama pintu besi" ucapku pada Mas Fadil.


"Nanti aja dulu Buj, tunggu Romi datang" cegah Mas Fadil.


"Kapan Romi datang? gak mungkin dia datang kalau gak ada acara di sini?" tanyaku.


"Dia mau pulang katanya mau lihat Wati. Tapi hanya dia sendiri saja karena kalau ikut anak dan istrinya kan mahal ongkosnya" jawab Mas Fadil.


"Ya sudah kalau begitu tunggu Romi datang aja" sambutku.

__ADS_1


Adik Mas Fadil yang nomor dua memang bisa ngelas karena dulu dia bekerja di batam bagian las kapal laut. Hanya saja perusahaannya gulung tikar dan dia harus di PHK.


"Kapan kita lihat anak - anak Yah, Bunda udah kangen banget sama mereka?" tanyaku pada Mas Fadil.


"Ayah juga Bun, weekend ini aja ya. Gimana?" tanya Mas Fadil.


"Okey tapi naik kereta aja ya yah. Lebih nyaman dari pada naik travel" jawabku.


"Iya nanti kalau lewat stasiun Ayah akan pesan tiketnya" ujar Mas Fadil.


Aku bernafas lega. Semoga semua berjalan lebih baik. Kalau kondisi keuangan kami sudah semakin baik anak - anak bisa aku bawa pulang.


Si Kakak sudah besar, kalau aku kerja mereka kan bisa tinggal berdua sama si adek di rumah. Lagian aku kerjanya gak full dalam seminggu.


Aku mengambil ponselku, tiba - tiba aku dapat inspirasi untuk menulis bab baru.


"Buun udah malam jangan mengetik sambil tiduran. Ingat pesan Arif kemarin waktu Bunda sakit. Mata Bunda bisa letih dan kabur kalau begitu cara Bunda ketik novel. Mau kumat lagi vertigonya?" ucap Mas Fadil mengingatkan.


Seminggu yang lalu memang vertigoku kumat. Kalau aku membuka mata dunia ini rasanya gempa. Aku sampai muntah - muntah. Rasanya sangat sakit. Mas Fadil bertanya pada Arif dan minta resep obat.


Jadilah aku kena semprot panjang sama Arif. Memang salahku sendiri, kalau sudah asik menulis novel aku lupa makan dan yang lebih buruk lagi aku suka tiduran di kamar sambil mengetik novel di ponsel.


"Iya iya yah.. Bunda duduk sebentaaar aja. Mumpung dapat ide nih" ujarku.


"Jangan begadang ya. Ayah tidur duluan udah ngantuk" balas Mas Fadil.


"Iya" jawabku sambil mengetik novel yang sedang ongoing.


Tak lama nafas Mas Fadil terdengar teratur, dia sudah tidur lelap. Satu jam kemudian satu bab sudah selesai aku ketik buat amunisi besok.


Pagi baru aku upload agar novelku bisa update setiap hari dan aku dapat promosi dari pihak aplikasi novel online tempat aku bernaung.


Aku meletakkan ponsel di nakas tempat tidur dan menyusul Mas Fadil ke alam mimpi.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2