
Kami pindah di rumah kontrakan adikku. Untuk sementara hatiku lega karena masalah rumah sudah teratasi. Uang kontrakan yang biasanya aku tabung lewat arisan bisa aku simpan utuh.
Biasanya aku ikut arisan satu juta perbulan. Jadi aku sudah menyimpan uang dua belas juta. Harusnya sebelas juta untuk bayar rumah kontrakan karena adikku ngontrak di perumahan jadi harga kontrakannya lumayan besar.
"Yah uang arisanku beli motor ya" pintaku pada suami.
"Kenapa beli motor?" tanya suamiku.
"Nanti kan kalau kita jadi pindah rumah, jauh dari kantor jaraknya malah lebih dekat kantor Ayah. Gak mungkin setiap hari Ayah antarin bunda dulu setelah itu baru ayah ke kantor" ungkapku.
"Iya juga ya Bun. Ya sudah terserah Bunda. Lagian kan uang arisan itu uang Bunda. Bunda bayar pakai gaji Bunda. Terserah Bunda mau diapain" jawab suamiku.
"Ya sudah tolong carikan motor yang pas sesuai budget ya Yah. Bunda mau tambah hutang, kita beli cash saja" sambungku.
"Iya nanti Ayah cari ya.. Ayah tanya - tanya dulu sama teman - teman. Siapa tau ada yang cocok" balas suamiku.
Seminggu kemudian.
"Bun udah ketemu nih motonya. Motor matic harganya sebelas juta setengah" ucap suamiku lewat telepon.
"Bagus Yah, masih sehat?" tanyaku.
"Bagus Bun, tahunnya juga masih tinggi. Gini aja nanti Ayah datang sama teman Ayah. Dia akan bawa motornya terus Bunda lihat. Kalau Bunda suka nanti motornya tinggal. Besok baru kita bayar" jawab Suamiku.
"Boleh Yah" sahutku.
Sore harinya pulang kerja suamiku datang bersama temannya membawa motor matic yang akan aku beli. Setelah diperiksa motornya memang masih sehat. Aku setuju dan besok kami akan bayar lunas motornya.
Sejak saat itu sekarang aku ke kantor dengan mengendarai motor sendiri. Suamiku tidak perlu antar jemput lagi. Alhamdulillah ternyata ada rezeki untuk memperingan jalanku.
__ADS_1
"Minggu depan Papa Mama akan datang. Kami menginap di rumah Rahmat ya.. Si Egi sepupu kamu kan nikah. Kita semua di undang. Nanti kamu, Fadil dan anak - anak nginap aja di rumah Rahmat. Adik kamu Arif juga akan datang baru kita berangkat sama - sama" ucap Mamaku lewat telepon.
"Iya Ma, nanti aku bilang sama Mas Fadil ya Ma" jawabku.
Tibalah minggu depan. Sabtu sore sepulang kerja suamiku kami pergi ke rumah adikku Rahmat dan menginap disana.
"Waah kamu motor baru Gi?" tanya Papaku.
"Iya Pak, alhamdulillah uang kontrakan tahun ini kan bisa ditabung karena kami nerusin rumah kontrakan Rahmat. Uangnya aku belikan motor Pa" jawabku.
"Syukurlah kalau begitu. Kalian kan jadi lebih mudah pergi ke kantor. Gak perlu antar jemput lagi. Shifa juga bisa bareng kamu ke sekolah. Kan sekolahnya searah sama kantor kamu" sambung Papa.
"Iya Pa" jawabku.
Pagi sekitar jam sembilan pagi aku bersama keluargaku pergi undangan ke nikahan sepupu. Disana semua keluarga besar berkumpul.
Aku berasal dari keluarga yang berada. Walau kedua orang tuaku tidaklah kaya tapi dia memiliki mobil dan ladang di kampung.
Tapi dengan ladang itu dulu Papaku bisa menyekolahkan kami sampai perguruan tinggi. Aku sarjana ekonomi, adikku yang nomor dua bernama Rahmat sarjana teknik di Bandung dan yang paling kecil Arif adalah dokter umum.
Kami bertiga sudah menikah, Rahmat sudah mempunyai rumah sendiri. Kalau Arif masih tinggal di rumah mertuanya karena istrinya anak paling besar dan mertuanya masih meminta mereka tinggal bersama.
Kalau dilihat dari kehidupan kedua adikku memang aku sendiri yang paling kurang beruntung. Tapi aku sudah sangat bersyukur. Sebenarnya masih banyak orang yang hidupnya lebih susah dibandingkan kehidupanku.
Keluarga besarku juga termasuk menengah keatas. Sepupu - sepupuku banyak yang sukses. Beberapa orang dokter, pegawai negeri, kerja di Bank dan perusahaan yang bagus lainnya.
Terkadang aku sering minder kalau bertemu dengan mereka. Tapi aku sering membesarkan hati. Aku sudah sangat bersyukur dengan apa yang aku raih saat ini.
Semua yang aku dapatkan adalah hasil kerja kerasku sendiri. Aku tidak pernah meminta bantuan kepada keluargaku kalau memang tidak sangat penting sekali.
__ADS_1
Walau Orang tua dan adik - adikku hidupnya lebih mewah dariku tapi aku tidak pernah meminta sesuatu pada mereka. Apalagi yang namanya uang, aku sangat menjaganya.
Kecuali kalau mereka dengan sukarela memberi. Itupun biasanya judulnya untuk anak - anakku, bukan untukku. Mungkin mereka takut aku tersinggung dan merasa direndahkan.
Aku tau mereka sangat menyayangiku tapi aku tidak mau kehidupanku memberatkan mereka. Jika kita bersaudara dan sudah menikah hubungan persaudaraan tidak bisa seperti masa dulu apalagi masa kecil.
Kalau adikku punya permen dengan mudahnya aku meminta dan mereka akan memberikannya. Kalau sama - sama sudah menikah ada perasaan adik ipar yang harus dijaga. Apalagi kalau istri adik - adikku keduanya juga bekerja.
Pasti uang yang mereka punya tidak semuanya dari gaji adikku. Ada jerih payah dan hasil keringat istrinya yang lelah bekerja. Aku tidak mau setiap aku datang pandangan mereka seolah - olah ingin meminta bantuan.
Kalau orang bilang harga diriku terlalu tinggi. Pada saudara sendiri saja pakai kata sungkan untuk meminta, biarlah karena hanya harga diri yang aku punya. Hanya itu yang membuat aku sebagai seorang kakak merasa dihargai.
Aku bertanggungjawab dengan rumah tangga dan kehidupanku. Aku juga menjaga nama baik suamiku di hadapan keluargaku. Suamiku tidak pernah menyuruh aku untuk meminta bantuan kepada keluargaku.
Di gedung tempat berlangsungnya pesta, aku menghampiri semua keluarga besarku. Aku mencium tangan hormat pada saudara - saudara Papaku dan menyapa mereka.
Sambutan yang berbeda - beda. Ada yang dengan tulus ramah menyambutku. Ada yang biasa saja dan ada juga yang hanya sekedarnya saja. Hal ini sudah sangat aku maklumi.
Dalam kehidupan ini rasanya sudah menjadi pelajaran umum tentang kehidupan. Kalau kita mempunyai kehidupan mewah pasti banyak orang yang akan mendekat, begitu juga sebaliknya.
Kalau kita susah orang akan menjauh, mungkin takut diminta pertolongannya. Yah sekedar meminjam uang atau bahkan dimintai uang. Aku sangat paham dengan yang namanya hukum alam itu.
Tiba - tiba aku dengar salah seorang kerabatku berkata.
"Mas Angga menginap di rumah si Rahmat ya? Kok gak di rumah Anggi? Anggi kan anak pertama dan dia juga anak satu - satunya perempuan. Kok bisa Papa Mamanya tidak mau menginap di rumahnya?" ucap seorang wanita yang aku kenal memang suka berbicara ketus pada semua orang.
Nyeees.... rasanya sakit banget mendengar ucapannya. Air mataku seketika mengalir tapi aku langsung menghapusnya karena tidak ingin ada yang melihatnya. Apalagi disini ramai, nanti Papa Mama, suamiku dan adik - adikku lihat pasti mereka akan bertanya - tanya.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG