
"Ma.. mamak gak pernah bicara begitu pada Lia" tolak mertuaku.
"Tadi Ayah lihat sendiri kan Lia tidak ada membantah. Kalau ucapan Anggi ini bohong pasti Lia akan protes" ujarku pada Ayah mertua.
"Iya" sambut mertua laki - lakiku.
"Tapi gimana Mamak mau bayarnya? Mamak pernah bilang sama Lia. Nanti kalau kau sudah tamat sekolah dan sudah bekerja cicik itu motor Bu Anggi. Itu bukti tanggung jawabmu karena sudah menghilangkan motornya" ungkap Mamak mertua.
"Itu pasti yang dia pegang tapi dia memutar balikkan cerita" sambut Tari.
Aku perhatikan Mamak Mertua tampak gelisah. Karena mungkin dia takut kalau aku minta pertanggung jawaban nya.
"Mak.. mana mungkin kami setega itu sama Mamak. Mamak kan orang tua kami, mana mungkin kami mengalihkan tanggung jawab ini kepada Mamak. Harusnya kami sebagai anak yang memberi Mamak bukan malah kami menagih hutang kepada Mamak" ungkap ku.
"Anggi hanya ingin membuat Lia jera Mak. Biar jadi shock therapy untuk dia. Agar lebih berhati - hati dalam bertindak. Jangan seenaknya saja bersikap sesuka hatinya. Inilah yang kami takutkan, mengapa dia kami larang sering - sering ke sini. Kami takut dia mengadu domba kita seperti ini. Kami ingin dia belajar disiplin dan dewasa" sambung Mas Fadil.
"Aku pusing Mas kalau Lia di sini. Pakaianku sering hilang, aku sering sekali ganti pakaian para langganan loundryku. Mereka sering komplain pakaian mereka hilang padahal aku sudah pakai label tembak. Setelah aku cek lemari Lia, dia mengambil pakaian - pakaian yang bagus. Aku pernah bilang sama Mamak, tapi Mamak bela dia. Mamak malah marah dan mengganti pakaian yang dia ambil. Itu artinya Mamak kan bela dia" ungkap Tari.
Aku terkejut mendengar ucapan Tari.
"Lho itu sama artinya dia mencuri" sambutku.
"Iya betul. Dia mengambil dan memakai barang yang bukan miliknya" timpa Mas Fadil.
"Mamak kok gak pernah cerita sama Ayah?" tanya Ayah mertuaku.
__ADS_1
"Makanya Lia manja karena selalu dibela sama Mamak. Setiap aku marah sama Lia, Mamak balik marah padaku. Lia tau kalau dia itu dibela makanya dia besar kepala dan aku tidak dihargai lagi. Ucapanku hanya angin lalu baginya. Harusnya Mamak biarin aja aku marah. Toh aku marah demi untuk kebaikannya. Bagaimanapun dia itu anak kakakku. Gak mungkin aku gak sayang padanya. Tapi kalau perbuatan dia salah ya harus kita kasih tau agar dia tau mana yang salah dan yang benar" ucap Tari.
Mendengar semua cerita Tari ini aku semakin berniat untuk tidak menahan Lia lagi di rumahku.
"Maaf ya Mak, Anggi sangat sulit sebenarnya benci sama seseorang. Tapi kalau sudah sakit hati seperti ini Anggi sulit untuk bisa menerima. Mungkin itu kekurangan Anggi. Anggi sudah mencoba lebih tiga kali memberi Lia kesempatan tapi Lia sepertinya memang tidak mau berubah. Anggi telanjur sakit hati. Jadi untuk kedepannya maaf sekali kalau Mamak mengeluh pada kami tentang Lia. Anggi sudah tidak mau dengar. Terserah dia mau jadi apa dan mau ngapain, Anggi tidak akan perduli. Kalau Lia baik, Anggi bisa lebih baik lagi tapi kalau dia setega itu kepada Anggi, Anggi bisa lebih tega dari dia" ungkapku sambil menahan emosi.
Mamak mertua tampak terdiam dan merasa malu karena sudah membela Lia.
"Besok Lia akan diantar Mas Fadil pulang ke sini. Itu artinya kami sudah lepas tanggung jawab. Toh dia memang bukan tanggung jawab kami. Selama ini kami hanya merasa kasihan melihat dia mungkin seperti itu karena kurang kasih sayang. Tapi sebaliknya dia salah menerima kasih sayang Mamak yang terlalu berlebihan padanya. Makanya dia sekarang bisa bersikap kelewat batas seperti sekarang ini. Yang penting kami sudah membantunya sekolah di sekolah yang bagus. Semua tergantung dia, kalau dia mau berubah, mudah - mudahan hidupnya lebih baik" sambungku.
"Mengenai cicilan motor itu sekali lagi Anggi tegaskan, Anggi tidak meminta Mamak yang bertanggung jawab. Sebenarnya kalau saja terlihat sikap penyesalan Lia, Anggi pasti bisa ikhlas dia sudah menghilangkan motor Anggi. Tapi sikapnya selalu membuat Anggi sakit hati. Bagaimana bisa Anggi ikhlas Mak" ungkapku.
"Biar nanti kalau Lia pulang ke sini Ayah yang akan nasehati dia. Bila perlu akan Ayah pukul dia" sahut Ayah mertua.
"Ayah mau gagal lagi mendidik dia seperti Ayah dulu gagal mendidik Mamaknya? Kalau dia menikah, aku tidak mau Mamak dan Ayah mengurusnya lagi. Sudah cukup.. Mamak dan Ayah terlalu capek mengurus cucu jangan lagi mengurus cicit. Aku selaku anak tertua di rumah ini akan melarang bila perlu mengusir dia dari rumah ini. Aku tidak perduli, aku tidak ikhlas Mamak dan Ayah direpotkan lagi oleh Lia" tegas Mas Fadil.
Mamak dan Ayah mertuaku terdiam mendengar ucapan Mas Fadil.
"Jadi gimana Shifa dan Rayyan Mbak, siapa yang akan jaga mereka di rumah?" tanya Tari.
"Untuk sementara Mbak dan Mas Fadil bergantian jaga mereka. Tinggal satu minggu lagi Shifa sekolah, sebenar lagi libur kenaikan kelas. Mungkin kami akan menyuruh Mama dan Papa Mbak datang menjemput mereka. Setelah itu nanti dipikirkan kembali bagaimana mereka" jawabku.
"Antar ke sini aja. Biar Shifa dan Rayyan disini kalau kalian bekerja" perintah Ayah Mertua.
"Kami belum sanggup memberi Mamak uang jajan karena keuangan kami masih pas - pasan. Biarlah seperti ini saja dulu" jawabku.
__ADS_1
"Halaaaah ngapain juga kasih uang jajan untuk Mamak. Di sini semua cucu, sama saja haknya" ujar Ayah mertua.
"Gak apa - apa Yah, lagian di sini sudah ramai sekali anak - anak. Ada enam orang anak, kalau di tambah Shifa dan Rayyan jadi delapan orang. Kami tidak mau merepotkan Ayah dan Mamak lagi" tolak Mas Fadil.
"Ya sudah Mak, Yah, Tari... kami pulang ya. Maaf ya Mak, Yah kalau ada ucapan kami yang membuat Mamak dan Ayah tersinggung" ujarku.
"Nggak.. nggak ada Gi. Justru kami yang ucapkan terimakasih karena kalian sudah mau membantu dan mengurus Lia beberapa bulan ini. Malah kalian jadi repot mendidiknya" jawab Ayah mertuaku.
Mamak mertua tampak masih diam, aku tidak tau apakah dia terima dengan cerita aku dan Mas Fadil tadi juga laporan Tari yang sempat membuat Mas Fadil marah karena cara mendidik Mamak yang salah.
Aku dan Mas Fadil pulang ke rumah kami. Aku lihat Lia mengurung diri di kamar dan tidak perduli dengan anak - anakku yang menonton televisi di luar.
Aku membuka pintu kamarnya dan aku lihat dia sedang tidur - tiduran sambil memegang ponselnya.
"Malam ini kamu sudah bisa susunin barang - barang kamu. Besok pagi Pakde akan antar kamu ke rumah Nenek. Oh iya satu lagi, nenek tidak ada berjanji untuk membayar cicilan motor Bude yang hilang. Jadi biar kamu tau ya.. kamu punya hutang sama Bude" tegasku.
Lia langsung duduk di pinggir tempat tidur karena terkejut tidak menyadari kehadiranku di kamarnya.
"I.. iya Bude" jawab Lia.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1