Menatap Senja

Menatap Senja
43


__ADS_3

Hari ini Mas Fadil menjemput aku di kantor. Kami singgah ke kios susu segar Fadil untuk menemani Habib sebentar.


"Gimana penjualan seminggu ini Bib?" tanyaku kepada Habib.


"Sepi Kak" jawab Habis.


"Lama juga ya Bib perkembangannya. Kalau sebulan ini merugi terus apa harus tetap bertahan?" tanyaku kepada Habib.


"Gak tau Kak, semua tergantung Mas Arif. Kalau Mas Arif kuat modal boleh sih dilanjut tapi lihat pangsa pasar juga Kak" ujar Habib.


"Tapi pandemi seperti itu orang kan pada suka konsumsi tubuh untuk minuman bergizi meningkatkan imun tubuh" ujarku


"Masalahnya Bun perekonomian masyarakat melemah karena pandemi saat ini. Masyarakat lebih memilih bertahan hidup dari pada jajanan seperti ini. Karena kita semua tidak tau sampai kapan pandemi ini berakhir. Kita juga sudah mencoba jualan minuman seperti ini kan Bun tapi dagangan sepi" ucap Mas Fadil.


"Tapi percaya gak Yah kalau memang rezeki sesempit apapun Allah pasti akan lancarkan. Benar memang pandangan kita saat ini perekonomian hampir semua orang melemah. Tapi kalau Allah mau mengangkat derajat seseorang pasti akan naik. Lihat saja penjual masker. Selama ini dagangan mereka sangat sedikit sekali peminatnya tiba - tiba saja diserbu pembeli malah sampai mereka kewalahan mencari barangnya saat kemarin sempat langka" ujarku.


"Yah makanya benar kata orang roda kehidupan itu selalu berputar Bun. Tak selamanya kita terus berada di bawah. Tapi saat kita ada diatas kita tak boleh sombong" sambung Mas Fadil.


"Denger itu Bib, kamu kan masih muda. Masih belum tau begitu beratnya hidup. Dulu saat seusia kamu Mbak taunya hanya meminta uang pada Pakde untuk belajar tak pernah terpikirkan akan menjalani hidup seperti ini. Sikap kamu saat ini sudah benar Bib, kamu sudah berani mandiri kuliah sambil mencari pengalaman kerja seperti ini. Mudah - mudahan nanti kalau kamu sudah lulus kuliah kamu tidak terkejut lagi menjalani hidup kamu yang sebenarnya " pesanku kepada Habib.


"Iya Kak" jawab Habib mengerti.


"Bun kita gak bisa lama - lama. Ayah mau ke kios kita yang lama, mau ambil sisa barang - barang kita yang masih ada disana" ajak Mas Fadil.


"Gak apa - apa kan Bib kalau kami cepat pulang" ujarku pada Habib.


"Gak apa - apa Kak" jawab Habib.


Aku dan Mas Fadil berangkat menuju kios kami yang lama untuk bertemu penyewa baru. Kami mengambil sisa barang yang masih ada di sana.


"Bun kita shalat di Mesjid dulu yuk" ajak Mas Fadil.


"Mas belum adzan dan nih bawaan kita banyak banget. Kita shalat di rumah aja ya biar lebih tenang. Sampai di rumah kita bisa langsung mandi dan shalat" jawabku.


"Ya sudah" sambut suami.


Suami menjalankan motor dengan kecepatan sedang, kami sambil bercerita di jalan. Terdengar suara adzan shalat ashar saat kami masih di tengah jalan.


Kami sudah sampai di daerah rumah kami. Sekitar sepuluh menit lagi sampai di rumah. Suasananya sore itu sangat mendung.


"Cepetan Mas sebentar lagi hujan" ucapku.

__ADS_1


"Iya Bun tapi kita gak bisa kencang kan bawa banyak barang begini" jawab Mas Fadil.


"Iya ya" sambut ku.


Sekitar persimpangan tiba - tiba ada becak barang dari arah berlawanan yang melaju dengan kencang. Dikendarai oleh pria yang sudah berumur.


Dia bersama anak muda yang aku tebak adalah anaknya. Mereka sedang asik berbincang-bincang. Tanpa melihat arah depan dan tanpa memberi aba - aba dia langsung belok ke ke kanan yang artinya dia belok tepat di hadapan kami dan ke arah kiri kami.


Mas Fadil sangat terkejut dan tidak bisa mengelakkan motor kami. Aku dan Mas Fadil menyaksikan dengan jelas bagaimana mereka belok.


Kami berdua spontan berteriak.


"Heeeei" jerit Mas Fadil.


"Allahu Akbar" ucapku.


Bruk.. $@#&+@$&


Aku langsung terjatuh ke tengah jalan. Untung saja jalanan di depan sepi kalau tidak aku sudah tertabrak kendaraan lain.


"Ya Allah... " teriakku.


Sepeda motor Mas Fadil langsung lengket di becak bagian bak besi untuk mengangkut barang. Ban depan motor Mas Fadil langsung kempes karena terkoyak besi.


"Apa ada yang sakit Bu?" tanya seorang Pria berumur kepadaku.


"Ti.. tidak ada Pak" jawabku dengan suara bergetar.


Tubuhku masih bergetar hebat karena shock. Seluruh tubuhku terasa lemas. Aku membayangkan seandainya saha di depan kami ada mobil atau motor lain, pasti aku sudah ditabrak.


"Hei .. kamu mau lari" teriak Mas Fadil. Melihat gelagat pembaca becak.


Karena begitu motor Mas Fadil lepas dia berusaha menghidupkan motornya.


"Bukan Mas saya cuma mau meminggirkan becak biar jalanan tidak macet" jawabnya.


"Woi tanggung jawab.. udah jelas - jelas kamu yang salah" teriak para saksi mata.


"Bunda gak apa - apa?" tanya Mas Fadil.


"Gak apa - apa Yah" sahutku.

__ADS_1


"Bicarakan dengan tenang saja Pak, jangan pakai kekerasan" ujar seorang pria memberi nasehat kepada Mas Fadil. Karena Mas Fadil terlihat sangat marah.


"Bapak kalau jalan jangan sambil bercanda. Akibatnya gak lihat kami yang ada di depan kan? Bapak kira kami tidak bisa melihat Bapak dengan jelas tadi? Masak belok tidak pakai aba - aba dan ngebut" ucap suamiku.


"Maaf Mas tadi aku memang tidak melihat Mas di depan, aku kira jalan kosong" jawab Bapak itu.


"Untung saja tidak ada mobil atau kendaraan lain Pak, kalau tidak istri saya pasti sudah celaka" sambung Mas Fadil masih emosi.


"Iya.. Ibu gak kenapa - kenapa kan?" tanyanya.


"Alhamdulillah saya tidak apa - apa Pak. Tapi saya sangat shock sekali. Bapak belok tiba - tiba tanpa aba - aba dan kencang" jawabku.


"Jadi bagaimana ini semua?" tanya suamiku.


"Maaf Mas aku akan tanggung jawab tapi aku gak punya uang banyak Mas" jawabnya.


"Saya tidak mau tau saya hanya mau minta perbaiki kendaraan saya dan ini ponsel saya juga pecah karena jatuh tadi" pinta Mas Fadil.


"Jangan begitu lah Mas, saya gak punya uang banyak" jawab pria itu.


"Tapi gimana Pak, suami saya kerja dengan motor ini lho Pak. Suami saya pekerjaannya ojek online Pak. Dua alat untuk mencari nafkah rusak. Motor dan ponsel suami saya. Bagaimana besok suami saya mau kerja?" tanyaku.


"Kalau begitu kita ke rumah saya aja gimana Mas?" tanya pria itu.


"Rumah Bapak dimana?" tanya suamiku.


"Tidak jauh dari sini, saya juga orang sini kok Mas" jawab pria itu.


Aku mendekati suamiku dan berbisik.


"Jangan Yah, kalau kita ke rumahnya nanti sudah lain ceritanya. Tidak ada saksi yang ikut, lagian bagaimana kita mau kesana motor kita saja rusak seperti ini" bisikku.


"Kita langsung ke bengkel aja Pak untuk perbaiki semua ini. Kan bisa anak Bapak yang pulang ke rumah untuk ambil uang. Becak Bapak kan bisa dipakai karena tidak rusak" pinta Mas Fadil.


Dia sepertinya ingin mengelak dari tanggung jawab. Ada seseorang yang berbisik kepada kami.


"Jangan mau damai uang Pak, Bapak ini orang kaya cuma pura - pura susah aja. Dia punya toko buah di depan sana. Memang gayanya seperti ini pelit dan pura - pura susah tapi sombong sekali orangnya. Sudah jelas tadi dia yang salah. Aku yakin dia tidak punya SIM dan tidak ada surat - surat becaknya. Dibawa ke kantor polisi pasti dia kalah" ujar pria itu.


"Oh ya Allah.. " sahutku.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2