
Sesuai rencana Tania. Hari ini dia benar-benar pulang ke Surabaya. Setelah semalam pamitan ke keluarga Andri dengan menyerahkan sebuah kenang-kenangan yang membuat semua orang melebarkan matanya. Kecuali Andi dan Qila.
"Mbak, ini kebagusan. Kemahalan" tolak Yuli.
"Nggak kok. Anggap saja gantinya hadiah pernikahan yang urung aku berikan" ucap Tania sambil nyengir.
Tania pernah ingin datang ke pernikahan Andri dan Yuli namun urung karena ada meeting dadakan dengan klien hari itu juga. Sampai sekarang Tania merasa bersalah. Bahkan sampai Qila berumur empat tahun.
"Pokoknya diterima" paksa Tania.
"Terima saja Mbak. Wong itu gratis. Dia nggak beli" seloroh Andi yang duduk di pojokan. Memainkan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Ini emas asli. Kalau nggak beli kamu merampok di mana. Sudah ini banyak banget" Andri protes.
Tania baru akan menjawab. Ketika Andi memotongnya lebih dulu.
"Dia merampok di toko kakaknya" potong Andi.
"Ha?"
Semua melongo. Sedang Tania hanya nyengir lantas mendelik ke arah Andi. Yang malah melengos lalu kembali asyik dengan ponselnya.
"Kakakmu punya toko emas?" tanya Andri.
Tania mengangguk.
"Aku awalnya tidak tahu. Bahkan Kak Kai sendiri tidak tahu kalau dia punya toko emas. Ya sudah dia suruh ambil apapun yang aku mau" jelas Tania enteng.
"Sebanyak ini kamu ambil gitu aja" Yuli melongo melihat semua perhiasan berkilau di depan matanya. Dia pikir berapa puluh juta gadis itu habiskan jika saja itu bukan toko kakaknya.
"Jangan lupa dia membelikanku juga. Juga gelang di tangannya itu. Semua dia ambil gratis dari sana" tambah Andi.
"Hei aku juga berniat bayar tahu. Tapi mereka menolak" protes Tania.
"Sama saja to jadinya gretongan alias gratis" kekeuh Andi.
"Mas, mending kamu segera nikahin aja dia. Daripada bikin darah tinggi saja" bisik Tania.
"Maunya sih gitu. Tapi nggak mau aku dia nikah sama janda itu" Andri balik berbisik.
"Bukan sama jendes. Dia lagi pedekate sama perawan ting ting tapi bukan Ayu Ting Ting"
"Ha?"
Andri membulatkan matanya. Tania mengangguk. Meyakinkan. Detik berikutnya, semua orang menatap kepo ke arah Andi yang terus saja tersenyum. Tanpa tahu dirinya sudah jadi obyek ghibah para kakaknya.
"Oh fix, harus segera tak nikahkan. Daripada dia gila beneran. Lihat wis mesam mesem dhewe begitu. Kalau di jalan apa nggak dianggap orang gila" gerutu Andri.
Membuat semua orang mengulum senyumnya.
Koper Tania sudah masuk ke mobil. Ditambah beberapa kardus yang kata Yuli makanan khas Yogyakarta.
"Kami tahu disana tidak kekurangan makanan. Tapi anggaplah sebagai basa basi kami. Juga ucapan terimakasih. Kami tidak merasa direpotkan. Justru kami malah sangat senang sekali. Kamu mau datang ke sini" ucap Andri saat akan melepas Tania.
Tania jelas berkaca-kaca. Merasa terharu dengan ucapan Andri.
__ADS_1
" Jangan nangis. Kita masih bisa bertemu kapan-kapan. Datanglah ke sini kapanpun kamu mau. Ajaklah suamimu jika nanti sudah menikah. Rumah kami selalu terbuka untukmu" tambah Andri.
Membuat Tania langsung memeluk Andri.
"Terima kasih, Mas. Sudah membimbing hatiku hingga aku menemukan jawaban atas perasaanku sendiri" ucap Tania.
"Sama-sama. Pulang dan bahagialah. Jangan memikirkan hal yang hanya membuatmu sedih. Ingat kata-kataku. Dia akan kembali padamu suatu hari nanti. Percayalah. Sampai hari itu tiba tetaplah tersenyum. Jangan menangis"
Tania mengangguk. Lantas memeluk Yuli.
"Terima kasih Mbak. Maaf merepotkan" ucap Tania.
"Nggak kok. Saya yang senang. Ada yang bantuin momong"
Tania tersenyum.
"Tante pulang dulu ya. Qila jangan nakal" pamit Tania pada Qila.
"Qila tidak akan nakal. Kan sudah dapat mainan banyak. Baju banyak. Juga ini" ucap Qila sambil menunjukkan kalung berbandul hello kitty pilihannya sendiri.
Tania mengusap sayang kepala Qila. Vera memeluk Tania. Mengucapkan banyak terima kasih. Pun dengan Andi. Meski hanya diam.
"Cepetan nikah sono" seloroh Tania.
"Tak kumpul-kumpul duit dulu" jawab Andi.
Lantas Tania berbisik. Membuat Andi membulatkan matanya.
"Beneran?"
Tania mengangguk.
"Bisa, bisa, bisa" jawab Tania menirukan kartun kesukaan Qila.
Membuat semua orang tertawa. Tak berapa lama mobil Tania mulai melaju di jalan raya. Meninggalkan keluarga Andri dengan lambaian tangan mereka.
"Aku akan merindukan kehangatan keluarga kalian" batin Tania.
Saat bayangan keluarga Andri mulai menghilang dari kaca spion mobilnya. Dengan Tania mulai memaju mobilnya dengan kecepatan sedang. Entah kenapa kali ini, dia begitu bersemangat sekali untuk pulang. Ingin cepat-cepat sampai ke Surabaya.
***
Jam makan siang hampir tiba. Ketika mobil Tania memasuki kawasan kantor Jayden Lee. Dia tidak menuju kantornya sendiri karena ingin bertemu Jayden lebih dulu.
Dia baru sampai di depan resepsionis, ketika Maura berteriak memanggilnya.
"Mbak Tania kapan pulang?" tanya Maura berlari memeluk Maura.
"Baru saja. Emm dia ada?" ucap Tania.
"Aduh gawat pak Lee baru saja pergi ke Juanda. Mau pergi...ke Seoul
Maura belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Tania sudah melesat keluar lagi dari kantor Jayden. Tidak memperdulikan teriaka Maura yang ingin menjelaskan kalau Jayden Lee hanya mengantarkan klien pulang ke Seoul, Korea Selatan. Habis itu balik lagi ke kantor.
Tania langsung melajukan kembali mobilnya menuju ke Bandara Juanda kali ini. Dia pikir Jayden akan pergi ke luar negeri. Hingga dia tidak punya kesempatan untuk bertemu Jayden hari ini.
__ADS_1
"Oh, ayolah" gemas Tania ketika banyak lampu merah juga jalanan yang padat.
Maklum jam makan siang. Ponselnya yang terus berdering di jok belakang tidak dia dengar. Puluhan panggilan dari Maura tidak Tania angkat. Maura mencoba menghubungi ponsel Rey. Tidak aktif.
"Oh sh**!!" tanpa sadar Maura mengumpat. Namun detik berikutnya dia menutup mulutnya sendiri lalu mengusap perutnya.
"Aduh maaf nak, Mama keceplosan. Bu Bos dan Papamu bikin darah tinggi saja" Ya, para pengantin baru lagi pada hamil berjamaah 🤣🤣
Di bandara, setelah mendapat parkir. Tania langsung melesat masuk ke dalam. Mencari Jayden maksudnya. Hingga beberapa saat kemudian dia merutuki kebodohannya. Tidak bertanya dulu pada Maura kemana Jayden pergi. Ditambah lagi dia meninggalkan ponselnya di mobil.
"Aahhh" Tania menjambak rambutnya frustrasi.
Bagaimana dia bisa menemukan Jayden di tempat sebesar ini. Secepatnya karena dia pikir pria itu akan pergi ke luar kota atau mungkin...ke luar negeri.
Tania membulatkan matanya. Pikirannya begitu kacau. Tidak bisa berpikir jernih. Dia berputar ke sana, ke sini mencoba mencari sosok Jayden di antara banyaknya orang yang berlalu lalang di bandara Juanda. Berpikir semoga saja keberuntungan masih berpihak padanya.
Dan sepertinya doanya terkabul. Ketika dia masih celingak celinguk mencari Jayden. Ekor matanya menangkap sesosok pria yang ia kenal. Bibirnya langsung tersenyum lebar. Ada dia berarti ada Jayden juga.
Hingga detik berikutnya dia berlari ke arah Rey, sambil berteriak.
"Rey....." teriak Tania.
Membuat si empunya nama, langsung mengangkat wajahnya. Mencari sumber suara yang terdengar tidak asing di telinganya. Rey sukses membulatkan matanya melihat siapa yang ada didepannya.
"Bu Tania...kapan Ibu pulang?" tanya Rey heran, melihat kekasih bosnya ada didepannya. Pasalnya tidak ada kabar yang menyebutkan kalau Tania akan pulang hari ini.
Tania berdiri di depan Rey, dengan nafas tersengal-sengal hampir habis. Beberapa kali tubuh gadis itu limbung hampir ambruk. Hingga membuat Rey, harus membantu Tania berdiri.
Perlahan Rey membawa Tania duduk di kursi tunggu. Beberapa saat, Tania terdiam. Menormalkan kembali nafasnya. Menurutnya, melihat Rey ada di sini, pastilah Jayden belum berangkat. Apalagi melihat sebuah jas tersampir di lengan suami Maura itu.
"Rey, dimana Jayden?" tanya Tania setelah nafasnya kembali normal. Setelah menenggak air mineral yang Rey beli.
"Ah pak Bos...." jawab Rey ambigu.
"Dia tidak bersamamu? Tidak pergi denganmu?" potong Tania cepat.
Rey mengangguk.
"Aduh aku terlambat ya" ucap Tania penuh sesal. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Terlambat apanya?" tanya Rey tidak paham.
"Terlambat bertemu dia. Padahal aku mau ngomong penting sama dia" ucap Tania hampir terisak.
Melihat kekasih bosnya hampir menangis. Membuat Rey gelagapan. Apalagi melihat bosnya ternyata sudah berdiri di belakang Tania. Memberinya kode untuk diam. Membiarkan Tania mengucapkan apa yang ingin dia katakan.
Rey melebarkan matanya ketika melihat pak Bosnya mengeluarkan ponselnya. Lantas mulai merekam suara Tania. Seolah tahu keinginan bosnya. Rey memulai sandiwaranya mengikuti perintah bos singanya itu.
***
Kredit Instagram @ourdongmin
Babang Jayden yang lagi mau ngerjain neng Tania, cuuuss disimak 😅😅😅
__ADS_1
****