
Tania hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Sedang tangannya sibuk meremas ujung blusnya. Dia begitu cemas dan gugup. Benar-benar takut.
Sedang Jayden, pria itu malah duduk dengan santai di sebelahnya. Sedang didepan mereka. Duduk dua orang, yang menatap tajam pada dirinya dan Jayden.
Tatapan tajam itu terputus ketika. Seorang pria tampak ikut menyusul. Ikut duduk diantara dua pria lainnya.
Tania jelas tidak mampu mengangkat wajahnya. Didepan sana, sang kakak angkat, Kaizo Aditya menatapnya tajam. Sejak kepulangannya. Baru hari ini dia berhadapan dengan Kai.
Kredit Instagram @bemilk_linyi
Sedang disebelah Kai. Duduk Lee Jae Ha. Papa Jayden. Yang sengaja dihubungi Lee Joon untuk menjadi hakim di sidang sang adik.
(Kejahatan apa yang kau buat hingga harus disidang model begini)
Dan Lee Joon. Si kembar identik. Duduk tepat disebelah sang papa.
Kredit Instagram @chaeunwoo_th
"Jadi kita mulai saja sidangnya" ucap Lee Jae Ha.
Memecah suasana mencekam yang sudah melebihi suasana kuburan pas malam jumat kliwon.
"Eit tunggu dulu. Memang aku penjahat apa. Pakai acara disidang segala" protes Jayden. Mengabaikan rasa gugup Tania yang duduk di sebelahnya.
"Kau memang penjahat. Penjahat wanita" tuduh Lee Joon.
"Issh itu bukan kejahatan. Tapi kenikmatan"
Pluk!
Satu bantal sofa melayang ke wajah Jayden. Dan itu berasal dari sang tuan rumah.
"Katakan sekarang! Apa yang didengar Natasya adalah benar? Kalau kau sudah ...ahh bencinya aku mengatakan ini...sudah tidur dengan adikku?!" tanya Kai to the point.
Jayden sejenak menatap Tania. Mata gadis itu seolah bilang jangan mengaku. Tapi sudut bibir Jayden tertarik sedikit. Membentuk senyum tipis yang samar.
"Iya. Aku sudah tidur dengannya" jawab Jayden tegas.
Membuat tubuh Tania merosot ke sandaran sofa seketika. Berikutnya pasti sang kakak akan memaksanya menikah dengan Jayden.
"Brengsek kau!" umpat Kai.
"Hei, aku memang brengsek....tapi itu dulu"
"Lalu sekarang?"
"Aku sudah tobat. Sudah berubah"
"Ada bukti?"
Jayden menarik nafasnya.
"Kaizo Aditya, adikmu adalah perempuan terakhir, dan akan menjadi satu-satunya yang akan jadi partner tidurku.....aaahhhh sakit Baby" Jayden meringis kala Tania mencubit pingganggnya ekstra keras.
Sedang tiga orang itu langsung memijat pelipis masing-masing. Merasa pusing mendengar bahasa yang Jayden gunakan.
"Kau pikir adikku apa? Satu-satunya partner tidur..." Kai mendengus kesal.
"Oke-oke. Satu-satunya wanita dalam hidupku" Jayden meralat bahasanya.
"Bisa menjamin?"
"Seribu persen aku menjaminnya"
Jae Ha dan Lee Joon lebih memilih diam. Karena ini memang ranah Kaizo untuk menghakimi Jayden.
"Mau bertanggungjawab?"
__ADS_1
"Tentu saja. Meski Tania tidak hamil anakku. Tapi aku akan menikahinya" jawab Jayden mantap.
"Alasannya?"
"Kai aku mencintai adikmu. Bukan karena aku sudah merasakan tubuhnya....aahh sakit By" pekik Jayden.
"Rasakan!" kali ini Lee Joon yang memaki.
Kai lagi-lagi mendelik mendengar bahasa Jayden. Sedang Jayden terus saja, meringis sambil menatap Tania. Yang balik menatapnya nyalang.
"Duh gini amat sih. Belum juga kewong sudah KDRT aja bawaannya" keluh Jayden. Mengusap-usap pinggangnya yang panas akibat ulah Tania.
"Makanya kalau ngomong itu yang benar" Jae Ha akhirnya buka suara.
"Kau sungguh-sungguh mencintai adikku?" tanya Kai.
"Aku betul-betul jatuh cinta padanya"
Jayden menatap netra Tania lembut penuh cinta.Ketiga orang itu saling pandang melihat sikap Jayden ke Tania.
"Lalu kamu?" tanya Kai pada Tania.
Sikapnya melembut begitu bicara pada adiknya.
"Ciih, denganku galaknya minta ampun. Tapi dengan adiknya" Jayden mendengus kesal pada Kai. Yang kembali menatapnya tajam.
"Tania...aku bertanya. Apa kamu mencintai si brengsek ini"
Jayden ingin protes dikatai brengsek oleh Kai. Tapi tatapan tajam sang papa membuatnya diam kembali.
"Kak...ini semua salahku. Aku màbuk waktu itu" Tania akhirnya buka suara.
"Tapi dia tidak kan?" potong Kai cepat.
Tania menggeleng.
"Kalau begitu sebagai yang masih waras otaknya. Dia seharusnya tidak melakukan itu padamu, Tania"
"Kamu mencintainya atau tidak?" Kai bertanya tegas pada Tania.
Inilah Kai yang sebenarnya. Tegas. Tanpa basa-basi. Tania tampak menatap semua orang. Lalu berakhir pada Jayden yang menatapnya sejak tadi.
Ketika keduanya bertatapan. Bisa orang lain lihat, kalau ada rasa cinta yang terpancar dari kedua mata dua orang itu.
Tapi detik berikutnya. Tania kembali menguasai diri. Jayden yang sekarang. Terlalu baik untuknya. Terlepas dari masa lalunya yang kelam. Tania akui, Jayden sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dan Tania benci kalau ia memang mencintai pria dihadapannya ini. Rasa frustrasi itu kembali menerjang hati dan pikirannya.
"Tania, Kakak bertanya" ucap Kai lagi.
"Tidak tahu Kak...aku tidak tahu" jawab Tania frustrasi.
Disatu sisi ingin mengatakan kalau dia ingin mengakui perasaannya pada Jayden. Tapi disisi lain. Dia takut kalau dirinya tidak pantas untuk seorang Jayden Lee.
Jayden langsung mendesah kecewa mendengar jawaban Tania. Satu kalimat sakral yang ingin sekali dia dengar dari bibir Tania. Tapi sampai detik ini. Jayden belum juga mendengarnya.
***
"Kapan itu terjadi?" tanya Lee Joon.
Kini mereka tinggal berdua. Tania sudah kembali ke kamarnya. Kai sedang bicara dengan Lee Jae Ha di ruang kerjanya.
"Di saat yang sama, ketika klienmu menjebakmu dengan afro. Dan aku membawa istrimu kepadamu" jawab Jayden lesu.
Lee Joon ber-oo ria.
"Apa kau mengenal dia sebelumnya?"
"Aku baru tahu namanya Fanny ketika kau memberitahuku hari itu. Aku juga baru tahu kalau hari itu dia mabuk karena patah hati pada Kai" bisik Jayden.
"Kalian senasib makanya cocok" ledek Lee Joon.
"Sialan!" umpat Jayden.
__ADS_1
Lee Joon terkekeh melihat wajah kesal adiknya.
"Kalau dia hamil. Anak kalian akan seumuran dengan si kembar" guman Lee Joon.
"Hei, aku masih waras ya waktu itu. Aku buang semua kecebongku di luar" salak Jayden.
"Berarti kau beruntung. Berapapun yang kau lepas tidak ada yang tersesat" ledek Lee Joon.
Jayden mendengus.
"Aku sebenarnya berharap dia hamil anakku. Agar aku bisa menjeratnya. Membuatnya tidak bisa menolak menikah denganku" ucap Jayden lesu.
"Kau gila ya? Kalau kau tidak bisa menemukannya. Dia akan menjalani kehamilannya sendiri. Kau sendiri lihat bagaimana Nina waktu hamil si kembar. Jangan egois Jay"
"Lantas aku harus bagaimana?" ucapan Jayden yang lebih terdengar seperti rengekan di telinga Lee Jòon.
"Isshh jangan seperti anak kecil. Kita akan cari jalan keluarnya. Dia juga mencintaimu. Kami bisa melihat itu. Hanya saja aku merasa ada hal yang membuatnya tidak ingin mengakui hal itu"
"Benarkah?"
"Iya benar. Kita akan cari jalan untuk membuatnya mau menikah denganmu"
"Janji?"
Lee Joon memutar matanya malas. Adiknya ini sudah dua puluh sembilan tahun. Tapi tingkahnya melebihi anak kecil.
"Iya janji. Papa dan Kai sedang membicarakannya"
"Kalau cara biasa tidak bisa. Aku akan menggunakan cara yang luar biasa" ucap Jayden sambil menyeringai.
"Apa itu?"
"Aku akan menghamilinya. Dengan begitu dia tidak akan menolak menikah denganku" uca Jayden sumringah.
Dan sebuah keplakan, Jayden terima di lengan kekarnya.
"Sembarangan kalau ngomong. Sudah kubilang jangan egois. Bagus kalau dia mau menikah denganmu. Kalau tidak yang ada, dia malah semakin membencimu. Sudah jangan bertindak yang aneh-aneh" warning Lee Joon.
Mendengar hal itu. Jayden langsung memanyunkan bibirnya.
"Kau tidak asyik..." keluh Jayden.
"Kalau mau asyik-asyik nanti setelah nikah"
"Hei aku sudah kelamaan puasa"
"Selama ini tidak ada masalah kan. Jadi apa susahnya menunggu sebentar lagi" ucap Lee Joon enteng.
"Ya sabun gue jadi cepet habis" oceh Jayden tanpa filter.
"Ya sudah nanti tak akuisisikan pabrik sabun untukmu"
"Kau meledekku"
"Tidak. Aku berusaha menolongmu"
"Bukan begitu cara menolongku. Bujuk dia agar mau menikah denganku"
"Kan sudah"
"Iisshh kau ini menyebalkan"
"Apa kau tidak. Kan kita kembar"
"Kau baru mau mengakuinya sekarang"
"Karena aku baru menyadarinya sekarang"
"Lee Joooonn!!"
Teriak Jayden Lee keras. Tidak peduli. Dia sedang berada di rumah lain. Orang-orang yang mendengar teriakan Jayden. Hanya bisa menggelengkan kepala. Melihat tingkah dua orang kembar dewasa yang menolak tua itu.
__ADS_1
***