
"Ya, Ta ada apa?" Tania berdiri cepat.
Sejenak dia mendengarkan seseorang di ponselnya.
"Mbak, aku balik dulu. Ada kerjaan" pamitnya pada Yuli.
Yang masih memberesi belanjaan mereka. Andi saja belum selesai menurunkan belanjaan mereka. Andi pikir belanjaan mereka cuma sedikit. Hingga berpikir untuk sedikit mencari muka di depan Tania.
Tak disangkanya. Belanjaan keduanya, seperti memindahkan mall ke rumah mereka.
"Duitnya Mbak banyak banget bisa ngeborong ini semua" oceh Andi kesal.
"Buka aku yang bayarin. Tapi Tania. Dia kan orang kaya. Kata Mas Andri calon suaminya juga kaya. Cakep lagi"
"Kapok mu kapan Mas" sindir Vera.
"La emang kenapa?" Yuli kepo.
"Mas Andi kayaknya naksir Mbak Tania" ucap Vera membuat Andi mendelik ke arah adiknya.
"Ooo gak bakal dapat kamu. Lihat kamu, lihat dia. Kayak nggak bisa ngaca. Kalau kamu naksir dia. Terus nasib janda anak satu itu gimana?" ucap Yuli pedas.
Andi hanya diam mendengar sindiran tajam bin pedas dari kakak iparnya itu. Menarik nafas. Lantas keluar dari rumahnya. Meninggalkan Yuli dan Vera yang masih sibuk memilah-milah belanjaan mereka.
Andi sengaja melewati depan rumah sewa Tania. Sedikit mengintip. Tania jelas ada di ruang tamu. Tapi pintunya tertutup. Sayup-sayup terdengar suara Tania yang berbicara dalam bahasa Inggris. Rupa-rupanya ada meeting online dengan kliennya yang dari luar negeri.
"Apa iya aku tidak punya kesempatan untuk mendekati Tania" batin Andi melangkah pergi dari depan rumah sewa Tania.
***
"Issshh dia ini kemana sih? Dari tadi ditelepon tidak diangkat" gerutu Jayden.
Dia dari tadi hanya sibuk mengumpat tidak jelas. Sebabnya hanya karena Tania tidak mengangkat teleponnya.
"Haish. Baru ditinggal sehari saja aku sudah seperti orang gila" maki Jayden pada dirinya sendiri.
Sedang Rey dari tadi hanya diam melihat tingkah bos singanya.
"Sehari saja sudah kelimpungan. Aduh Bu Tania cepetan balik. Kalau nggak.Bagaimana nasibku harus menghadapi kegilaan bos singanya ini" doa Rey dalam hati.
Sambil terus bekerja. Sesekai melirik Jayden yang nampak duduk resah di kursi kerjanya.
"Ya, halo Kai?" tiba-tiba nada bicara Jayden berubah dingin.
"Apa kamu sudah mulai melakukan rencanamu?" tanya Kai diujung sana.
"Belum.Aku pikir belum saatnya. Aku akan memulainya dalam waktu satu atau dua tahun lagi. Menunggunya pulang ke Australia dulu. Kamudian akan benar-benar aku lakukan setelah Vian dewasa. Hingga tidak akan berimbas buat anak itu. Kamu tahu kan jika Vian lecet sedikit. Tania bisa menghajarku. Dia benar-benar menyayangi anak itu" jelas Jayden.
"So ini long term plan-lah ceritanya?" tanya Kai.
"Iya. Boleh dibilang seperti itu" Jayden menegaskan.
"Jangan kau pikir aku akan diam saja Bryan Aditama. Aku membalasmu. Berpuluh-puluh kali lipat. Tapi tidak sekarang. Akan kubuat kau menyesal karena sudah membuat Tania menangis karena kehilangan sahabat dan juga putra angkat" batin Jayden sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
***
Malam mulai merayap naik. Malam kedua di tempat baru bagi Tania. Sore tadi. Tania baru saja mendapat omelan ekstra panjang dari Andri. Soal Tania yang begitu memanjakan Qila.
"Aku tidak suka ya kamu memanjakan Qila. Nanti dia ngelunjak dan bla...bla..bla..." omelan itu masih terus berlanjut panjang bak rel kereta api yang tidak berujung.
Dengan ujung yang begitu membekas di hati Tania.
"Kamu akan merasakan sendiri jika kamu sudah punya anak"
Ucap Andri kala itu. Tania masih duduk di ruang tamu. Sesekali menggigit apel yang tadi baru dibelinya. Jayden juga baru saja menghubunginya. Dan dia juga sama seperti Andri. Mengomel panjang kali lebar kali tinggi.
"Uuhh kenapa juga hari ini semua orang marah padaku. Uuuh menyebalkan" umpat Tania sambil meminum green tea yang baru saja dibuatnya.
Sore tadi dia beli gula di warung sebelah rumahnya. Dengan diantar Qila. Gadis kecil itu mulai dekat dengannya. Kulkasnya juga sudah terisi penuh. Dia tadi mengecek peralatan dapur. Semua masih oke dan bisa langsung dipakai.
Hanya saja dia pikir akan beli food processor yang baru besok. Untuk membuat sarapan paginya.
***
Hari berganti pagi. Tania tampak sudah segar. Berdiri di ruang tamu. Mulai melakukan yoga paginya. Dia memang penggemar yoga. Namun kalau kesibukan datang mendera. Boro-boro buat yoga. Makan saja keteteran.
Jadi mumpung dia free dia akan melakukannya. Meski tanpa matras yoga.
Selesai yoga dia kemudian mandi. Mulai membuat sarapannya sendiri. Smoothie alpukat dengan madu.
"Aahh damainya hidup" gumannya pelan.
Lalu mulai membuka laptopnya. Mengecek pekerjaannya. Karena sekarang dia sendiri yang mengurus kantor.Jadi, dia harus bekerja ekstra. Meski dia secara resmi memiliki tiga wakil untuk menggantikannya jika dia berhalangan ke kantor. Tetap saja semua keputusan ada di tangan dia.
"Okay, sepertinya hari ini akan lebih santai" gumannya lagi.
Menghabiskan sarapannya. Lantas memakai training dan kaos yang agak longgar. Sadar diri dia berada di lingkungan yang masih sedikit desa. Jadi pakaian bisa jadi hal yang menjadi sorotan. Dia hanya membuka pintu rumahnya. Menyalakan air pods. Lalu mulai mendengarkan beberapa lagu di play list miliknya.
Tangannya sibuk menggambar di kertas designnya. Mencoba menuangkan beberapa ide yang beberapa hari ini mampir ke kepalanya.
Lagu lawas milik Westlife yang berjudul If I Let You Go membuat Tania termenung. Entah kenapa pikirannya melayang kepada Jayden ketika lagu itu mengalun di telinganya.
But if I let you go
I would never know
what my life would be holding you close to me
will I ever see
you smilling back at me
how will I know
if I let you go
Yeah, dia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi padanya. Jika dia melepaskan Jayden. Tapi dia juga tidak ingin melakukan hal itu. Dia...takut kehilangan Jayden.
__ADS_1
Tanpa sadar tangannya terus bergerak. Hingga sebuah sketsa gaun terlukis di sana. Gaun yang penuh kebimbangan. Seperti hatinya. Tania menarik nafasnya pelan. Seiring dengan suara ketukan pintu.
"Tanta..." panggil suara itu.
"Ya sayang"
Dilihatnya Qila berdiri di depan pintunya.
"Kata ibu disuruh ke rumah" ucap Qila terputus. Sepertinya dia menghafal pesan yang diucapkan ibunya.
"Baik, tunggu sebentar ya"
Qila mengangguk. Setelah membereskan laptop dan juga kertas designnya. Tania mengikuti Qila ke rumahnya.
Dia bertemu Andri yang seperti biasa sudah ready akan pergi bekerja.
"Sarapan dulu sana" ucap Andri.
"Aku tidak pernah sarapan kalau pagi"
Andri mengerutkan dahinya.
"Terus?"
"Cuma minum smoothie alpukat"
"Kenyang sampai siang? Kalau aku yo bisa semaput ( pingsan ) di jalan" kelakar Andri.
Tania terbahak.
"Bisa aja mas Andri ini. Oh ya Vera sudah berangkat jam segini?"
"Sudahlah. Ini kan hampir jam delapan"
Tania ber-ooo ria. Tak lama keduanya dikejutkan oleh suara tawa Qila.
"Kenapa tu?"
"Biasa kalau sudah nonton kartun botak itu ya gitu. Ngakak sendiri"
"Lucu ya dia"
"Lucu apanya? Njengkelke iya. Cuma ya, dia itu penyemangat hidup. Mood booster para orang tua ya anak" ucapan Andri yang sarat makna.
Anak? Pikirannya melayang pada Vian. Apa kabar anak itu sekarang. Ah, Tania jadi merindukannya.
***
Kredit Instagram @ eunwooaddict97
Babang Jayden yang kelimpungan ditinggal neng Tania 🤣🤣🤣
__ADS_1
***