Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Hampir Saja


__ADS_3

Tania dan Nita saling pandang ketika keesokan harinya, mereka melihat wajah Vera yang terlihat pucat.


"Kamu kenapa Ra?" tanya Tania.


"Nggak tahu deh. Aku sepertinya tidak enak badan" kilah Vera.


"Kamu sakit?" Nita bertanya.


"Sepertinya begitu"


"Mending kamu istirahat saja kalau lagi sakit, Ra" saran Tania.


Vera sedikit berpikir.


"Sudah pulang saja sana. Istirahat di rumah. Atau mau ke dokter? Aku antar" tawar Tania.


"Tidak perlu. Aku akan pulang sendiri saja"


"Ya sudah. Tapi nggak apa-apa kamu pulang sendiri?" tanya Nita lagi.


"Nggak apa-apa, Ta" Vera meyakinkan.


Pada akhirnya Vera memutuskan pulang. Namun ketika dia keluar dari kantornya. Dia bertemu Sean.


"Mau kemana, Ra?"


"Aku mau pulang. Tidak enak badan" jawab Vera.


Membuat Sean mengerutkan dahinya. Dia hanya terdiam melihat Vera berlalu dari hadapannya.


"Vera kenapa?" tanyanya pada Nita sang kekasih hati.


"Katanya tidak enak badan. Terus kita suruh pulang saja. Kenapa?" tanya Nita polos.


"Tidak apa-apa" jawab Sean ambigu.


***


Tangan Vera bergetar. Menatap benda pipih dengan nama test pack itu. Bertuliskan "pregnant". Tubuhnya merosot seketika ke lantai kamar mandinya. Air matanya luruh seketika.


Tangisnya pecah di kamar mandi miliknya. Yang ditakutkannya benar terjadi. Dia hamil. Hamil anak Bryan, pria brengsek itu.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya lirih. Mengusap perutnya yang masih rata.


"Huwaaaaaa...


Tangisnya semakin kencang. Dia bingung, dia takut. Apa yang harus dia lakukan sekarang.


"Apa aku harus menggugurkannya?" tiba-tiba satu pikiran terlintas di kepalanya.


"Aahhh tidak, tidak. Anak ini tidak bersalah. Dia mempunyai hak untuk melihat dunia. Dia sudah ada di sini. Hidup di sini" ucapnya pelan.


Kembali mengusap perutnya. Vera hanya bisa menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandinya. Menangis seorang diri dalam kebingungan juga ketakutan. Bagaimana dia akan menghadapi hari esok.


***


Tania kembali mengerutkan dahinya. Melihat Vera yang hanya makan buah pagi ini. Biasanya dia pasti sarapan yang berat-berat di pagi hari. Nasi goreng. Atau paling tidak sandwich. Berbeda dengan dirinya. Yang memang hanya meminum jus alpukat segar plus madu tiap pagi.


Menatap Vera yang hanya makan beberapa potong apel. Membuatnya heran.


"Itu nggak salah, Ra"


"Apanya?"


"Sarapan kamu?" ucap Tania menunjuk potongan apel di piring Vera.


"He, he kan masih pagi, Tan. Bentar lagi juga ngambil nasi. Lagian mumpung libur. Kan bisa santai. Sarapan kapan saja" dalih Vera.


"Iya juga ya" timpal Tania sambil meminum jus alpukatnya.

__ADS_1


"Mau keluar?" tanya Vera memasukkan potongan apel ke mulutnya. Melihat Tania dengan jeans dan blus biru mudanya.


"He e. Si marga Lee ngajak jalan-jalan. Mau dibeliin apa?"


"Apa ya?" Vera berpikir.


Tania memperhatikan Vera.


"Tidak ingin cari pacar gitu, Ra?" tanya Tania hati-hati.


"Entahlah. Masih belum pengen" jawab Vera.


Hening,


"Kemarin Nita bilang ketemu Bryan di restoran dekat kantor. Dia nanyain kamu" ucap Tania lagi.


Deg,


Mendengar nama itu. Kembali rasa benci melanda hatinya. Bersamaan dengan itu, seketika rasa mual menyerang perut Vera. Tapi sebisa mungkin Vera tahan. Dia tidak ingin membuat Tania curiga.


"Mau ngapain nanyain aku. Bukannya kamu mantannya" tanya Vera. Beberapa kali menelan ludahnya. Untuk meredam rasa mual diperutnya.


"Aku rasa dia suka sama kamu deh, Ra"


"Huwek" rasa ingin muntah langsung menyerang Vera. Tapi berusaha dia tahan. Untungnya beberapa saat kemudian. Tania sudah keluar dari apartement mereka. Karena Jayden sudah sampai dibawah.


Begitu Tania keluar. Vera langsung berlari ke wastafel. Langsung muntah disana. Keringat dingin langsung membanjiri seluruh tubuh Vera.


"Apa kamu tidak menyukai orang brengsek itu sebagai ayahmu. Kalau begitu kita sama" batin Vera.


Di lantai bawah,


Tania tampak celingak celinguk mencari sosok Jayden.


"Katanya menunggu di lobi. Tapi kok nggak ada" guman Tania.


"Cari aku ya" suara Jayden tiba-tiba terdengar di belakang Tania.



Kredit Instagram.com


Jayden tampak mengintip dari balik kacamatanya. Pria itu terlihat keren dengan celana jeans, kaos oblong hitam dan kemeja Fendi sebagai outter-nya.


Beberapa orang nampak menatap takjub pada sosok tampan Jayden. Siapa juga yang tidak terpesona pada pria setampan Jayden. Tania saja hampir ngiler dibuatnya. Tapi lebih ngiler lagi kalau lihat Jayden shirtless. Membayangkan abs dan dada bidang berotot Jayden. Membuat otak Tania traveling kemana-mana.


Tania menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuang jauh-jauh pikiran kotornya.


"Aduh baru membayangkan saja otak sudah kemana-mana. Bagaimana jika dia beneran shirtless. Aduuuhhh mana tahan" teriak jiwa mesum Tania.


"Malah bengong. Cabut yuk" ajak Jayden.


Meraih tangan Tania lantas menggenggamnya. Membawanya keluar dari lobi apartementnya.


"Nah ini baru bener" celetuk Tania.


Melihat TRD Sportivo miliknya terparkir di depan lobi. Membuat Jayden memutar matanya malas.


"Dasar cewek aneh. Diajak naik mobil mewah protes. Giliran diajak naik mobil biasa saja. Girangnya minta ampun" gerutu Jayden.


"Biarin aja" cebik Tania.


"Jadi mau kemana ini?" tanya Jayden.


"Muter-muter aja dulu. Nanti berhenti makan street food aja. Gimana?" tawar Tania.


"Boleh deh" Jayden mengiyakan.


Lalu membawa mobilnya melandas ke jalanan Surabaya yang cukup lengang di hari Minggu.

__ADS_1


"Dulu Kak Kai juga tinggal di Surabaya. Karena ingin menghindari Mama. Sekarang aku juga di sini untuk menghindari Kak Kai. Hah aneh. Julukannya bisa berganti ini. Dari kota Pahlawan jadi kota Pelarian. Ah jadi ingat kak Kai. Tapi sepertinya rasaku sudah berubah ke dia. Apa mungkin karena aku mulai jatuh cinta pada pria ini"


Monolog Tania dalam hati. Sambil menatap Jayden yang tengah fokus menyetir.


"Kenapa? Apa aku terlihat tampan? Apa kamu sudah jatuh cinta padaku?" cerca Jayden yang melihat Tania menatap dirinya.


"Iissshh siapa juga yang jatuh cinta" elak Tania.


"Jangan membohongi diri sendiri dan orang lain. Tidak baik" saran Jayden sekaligus menyindir Tania.


"Tidak. Aku tidak seperti itu" kilah Tania


"Tidak salah maksudmu" ucap Jayden.


"Mbohlah" jawab Tania memanyunkan bibirnya.


Tiba-tiba "cup". Jayden mengecup singkat bibir Tania. Membuat si empunya bibir meradang.


"Makanya kondisikan tu bibir. Kalau tidak sedang di mobil aku habisi kamu"


"Dasar mesum" maki Tania yang disambut gelak tawa Jayden. Membuat Tania kembali memanyunkan bibirnya tanpa sadar.


"Tania...." desis Jayden.


Tania buru-buru menormalkan bibirnya. Jayden hanya bisa mengulum senyumnya kali ini. Melihat Tania yang patuh padanya hanya dengan ancaman kecil darinya.


Mobil Jayden berputar-putar di beberapa jalanan di kota Surabaya. Mereka begitu menikmati waktu mereka saat ini. Hingga pada akhirnya mereka berhenti di sebuah kawasan dimana berjajar banyak food truck yang menawarkan berbagai macam street food yang lagi hype saat ini.


"Jadi beneran asisten Rey jadian sama Maura?" tanya Tania. Disela-sela suapan memakan chicken rice bowl.


Salah satu makanan yang dijajakan di food truck itu. Padahal hanya makan nasi lauk ayam. Dirumah juga bisa buat. Tapi tetap saja jajan makannya itu juga. Nggak ada bedanya kali sama makan di rumah.


"He e. Mereka juga kencan sekarang. Dia bilang memang pak bos doang yang bisa pacaran. Saya juga bisa. Jiiaahh pengen tak jitak saja kepala si Rey itu. Bisa pacaran saja sombong amir" gerutu Jayden. Sibuk menggibah soal asistennya sendiri.


"La itu kan hak asasi dia. Ya kakak jangan marah. Wong kakak juga tidak jauh beda"


"Woo jelas beda dong. Kan aku sudah dapat jackpotnya. Dia belum" jawab Jayden dengan senyum mesumnya.


"Iissh jangan dibahas kenapa?"


"La kenapa? Bagiku itu kenangan indah sekaligus nikmat. Pengen lagi deh....aduuuh ditendang lagi" keluh Jayden.


"Makanya kalau ngomong jangan keras-keras" desis Tania.


"Berarti kalau bisik-bisik boleh" bisik Jayden.


"Nggak gitu juga kali" ucap Tania.


Bicara dengan Jayden harus pintar. Karena pria ini pandai sekali bermain kata.


Pada akhirnya mereka melanjutkan jalan-jalannya. Ketika hari menjelang petang. Jayden membawa Tania ke sebuah taman. Memarkirkan mobilnya disana. Beberapa camilan mereka bawa.


"So, sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku?" tembak Jayden padaku.


Tania hampir tersedak meminum lattenya. Ditodong pertanyaan seperti itu oleh Jayden.


"Pelan-pelan aku tidak akan memintanya" goda Jayden.


Perlahan membuka seatbelt-nya. Mencondongkan tubuhnya. Mengusap bibir Tania menggunakan jarinya. Seketika Tania membeku. Ketika jari Jayden menyentuh bibirnya. Reflek mata Tania langsung menatap mata Jayden. Yang juga tengah menatapnya.


Perlahan Jayden mendekatkan wajahnya. Suasana petang dengan daun yang berjatuhan ala musim gugur negeri empat musim. Cukup menciptakan suasana yang romantis kala itu.


Hingga tak lama bibir Jayden mendarat sempurna di bibir Tania. Awalnya hanya menempelkan bibir tapi lama-lama berubah menjadi luma*** yang langsung menaikkan suhu tubuh keduanya.


Jayden terus saja memainkan bibir Tania. Membuatnya terbuai. Masuk ke dalam permainan yang Jayden ciptakan. Mereka benar-benar mulai kehilangan kendali diri. Ketika ciuman itu berubah semakin panas dan menuntut.


Bahkan tanpa sadar. Jayden telah menarik tubuh Tania pindah ke atas pangkuannya. Dengan tangan Tania sudah berada di leher Jayden.


Sedang tangan Jayden sendiri. Sudah merayap masuk ke dalam blus yang Tania pakai. Mengusap kulit punggungnya. Hingga ketika tangan Jayden mulai melepaskan pengait bra Tania. Saat itulah Tania tersadar. Langsung melepaskan ciuman mereka. Membuat Jayden ikut tersadar juga.

__ADS_1


"Astaga hampir saja kebablasan"


******


__ADS_2