
Tania tampak bersiap keluar dari rumah sewanya. Ketika dia juga melihat Yuli dan Qila yang juga tengah bersiap akan keluar rumah.
"Mau kemana, Mbak?
"Mau beli susunya Qila. Sekalian mau belanja bulanan"
"Barengan aja yuk. Saya juga mau keluar" ajak Tania.
"Nanti ngerepotin" tolak Yuli halus.
"Nggaklah. Qila sayang mau ya jalan-jalan sama mobil tante" bujuk Tania.
Tanpa berpikir panjang. Gadis kecil itu mengangguk antusias. Qila dari kemarin memang sudah terpana dengan mobil Tania.
"Ya sudah ayo naik. Tapi duduk dulu sebentar ya. Tante panasin dulu mesin mobilnya" ucap Tania membuka pintu mobil lantas menaikkan gadis kecil itu, yang langsung melebarkan senyumnya.
Tania memanasi mesin mobilnya sebentar. Setelah itu, mulai melajukan mobilnya. Melandas ke jalanan yang tidak terlalu padat kendaraan.
"Mbak mau beli apa?"
"Alpukat tapi yang mentega. Di tukang buah ada nggak ya"
"Kalau alpukat mentega disini adanya di supermarket. Kalau di tukang buah adanya yang lokal"
"Jadi kita ke supermarket saja ya. Beli susunya di sana saja" putus Tania. Sambil sesekali melirik Qila yang sejak tadi terus saja menyanyi tiada henti.
Mereka harus menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit. Untuk mencapai sebuah supermarket yang cukup besar di kota Bantul.
Qila langsung melompat senang. Membuat Yuli memutar matanya malas. Melihat tingkah aktif Qila.
"Baju, Buk baju" rengek Qila.
"Baju?" Tania membeo.
"Dia itu akhir-akhir ini suka beli baju. Kalau keluar pasti beli baju" keluh Yuli.
"Ohh Qila mau baju?" Tania bertanya.
Qila langsung mengangguk antusias.
"Nanti beli sama Tante mau?"
"Mau..mau..mau" jawab Qila.
"Nggak boleh Qila. Nanti bilang ayah dulu kalau mau beli baju" sang ibu mencoba membujuk.
Mendengar hal itu. Qila langsung mengubah raut wajahnya menjadi sedih.
"Wis, angel, angel, nek wis ngenei iki"
(Sudah, susah kalau sudah begini)
Tania tertawa mendengar keluhan Yuli.
"Memang dia seperti ini ya?"
"Iya, susah dibilangin kalau sudah ada maunya. Sebenarnya aku tu malas ngajak dia keluar. Pasti minta macam-macam. Dan harus" curhat Yuli.
"Ya udah. Hari ini anggap saja rezekinya anak kamu. Aku yang traktir" ucap Tania.
"Eh nggak usah Mbak" tolak Yuli.
"Nggak apa-apa. Lagian aku tu jarang banget belanja. Sampai kadang mereka marah padaku"
"Siapa? Pacar Mbak ya"
__ADS_1
"Dia juga marah. Kakakku juga marah" kenang Tania.
"Pacar? Kenapa aku jadi rindu padanya" batin Tania.
Sekelabat bayangan Jayden melintas di benaknya.
"Aku benar-benar rindu padanya" batin Tania sambil tersenyum.
"Ibu mau itu" teriak Qila.
Gadis kecil itu berlari ke arah stand mainan.
"Woi tadi katanya minta baju. Kenapa mainan juga iya" Yuli berteriak. Sepertinya sudah biasa bagi Yuli untuk berteriak pada Qila.
Qila tidak menģgubris teriakan sang ibu. Anak kecil itu langsung antusias memilih semua mainan yang dia suka.
Dan drama ibu dan anak itu dimulai. Biasa si ibu suruh milih. Si anak mau semua. Semua berakhir ketika Tania berkata ayo bayar mainannya dulu. Qila langsung bersorak membawa troli penuh berisi mainan ke arah meja kasir.
Sedang Yuli hanya bisa geleng-geleng kepala. Terlebih Tania yang dengan entengnya membayar seluruh mainan yang dibeli Qila.
"Pokoknya habis ini Qila nggak boleh beli apa-apa lagi. Ingat?" Yuli mengancam Qila. Yang diancam hanya manggut-manggut manut.
"Apa aku juga akan seperti itu jika punya anak nanti? Ah anak?" batin Tania melihat interaksi Yuli dan Qila.
Namun rupanya manutnya Qila cuma bertahan 5 menit saja. Karena begitu melihat baju anak kecil. Qila kembali berlari antusias. Langsung memilih baju yang dia suka.
Yuli hanya bisa menepuk dahinya pelan.
"Oi ini kalau begini acaranya nggak jadi beli susu ya" Yuli kembali mengancam. Namun Qila seolah tidak peduli.
Qila pun pasang muka polos kala menyerahkan tumpukan baju pada ibunya.
"Nggak. Pokoknya nggak" Yuli berusaha tegas pada Qila. Mendengar hal itu kembali Qila hampir menangis.
"Sudah nanti dia nangis. Malu. Ayo sama Tante biar Tante yang bayar"
Qila naik ke troli. Duduk manis disana. Kedua wanita beda status itu yang mendorongnya.
"Astaga berat sekali kamu? Berapa kilo beratnya?" Tania bercanda.
"Terakhir 15 kilo. Tahu sekarang. Susunya itu lo sehari bisa sepuluh kali" Yuli menjawab.
"Qila gendut ya" goda Tania.
Qila hanya tersenyum mendengar godaan Tania. Mereka mulai berbelanja. Alpukat mentega. Madu. Telur. Banyak cemilan. Sedang yang receh-receh mau dibeli diwarung dekat rumah. Juga tiga box besar susu Qila.Juga minyak yang sekarang lagi naik daun gegara kemahalannya.
Dua jam mereka berputar-putar. Akhirnya selesai juga. Mengantri di kasir. Membiarkan Qila menikmati es krimnya. Yang penting diam. Kata Yuli.
Mereka akhirnya keluar supermarket itu. Setelah Tania membayar semua belanjaannya. Hampir jam makan siang. Tania mengajak Yuli dan Qila makan siang. Di sebuah restoran ayam goreng. Sesuai rekomendasi Yuli.
"Mbak, aku gak enak deh. Masak semua yang bayarin mbak Tania" Yuli mengungkapkan rasa tidak enaknya.
"Gak apa-apa. Hitung-hitung bayaran jadi pemandu jalanku"
"Tetap saja. Itu banyak banget belanjaannya Qila"
"Tidak apa-apa. Nanti gantinya aku ajarin masak ya" pinta Tania.
Yuli memicingkan matanya.
"Mbak, nggak bisa masak?"
Tania menggeleng malu.
"Dasar orang kaya. Terus yang masak siapa selama ini"
__ADS_1
"Ya kalau lagi pacar ya pacar aku yang masak. Kalau nggak ya pesen. Kalau nggak aku makan diluar" jawab Tania.
"Pacarnya malah pinter masak?" tanya Yuli.
Tania mengangguk.
"Hebat ya" puji Yuli.
Tania tersenyum.
Ketiganya menghabiskan makan siang mereka. Langsung pulang setelah Tania juga membawa empat dus ayam goreng take away.
"Banyak bener. Buat siapa?"
"Untuk adik sama suamimulah"
"Lah yang tadi pagi saja belum tentu habis"
"Diangetin buat besok. Besok nggak usah masak" jawab Tania enteng.
Yuli menepuk pelan dahinya. Melihat sikap sesuka hati Tania.
"Eh, mampir ATM dulu" ucap Tania tiba-tiba.
Lantas menghentikan mobilnya disebuah ATM. Hanya lima menit. Mobil itu kembali melaju.
Dan tak berapa lama. Mobil itu mulai masuk ke halaman rumah Yuli. Qila langsung turun disambut seorang remaja. Yang tadi pagi ditemui Tania.
"Tante Ra, Tante Ra lihat deh mainan sama baju Qila banyak. Dibeliin tante Tania" adu Qila.
"Dia adikmu" tanya Tania. Sambil mulai menurunkan belanjaan mereka.
"He e, namanya Vera"
Deg,
"Vera? Nama sama. Beda orang. Tenang Tania. Dia bukan Altania Vera" batin Tania.
Sejenak terdiam. Menatap Vera yang mulai asyik dengan Qila. Meng-unboxing belanjaan Qila.
"Capek Mbak? Kalau capek. Istirahat dulu. Biar aku saja yang menurunkan belanjaannya" ucap Yuli.
"Biar kubantu" satu suara tiba-tiba terdengar dari belakang Yuli.
"Eh tumben dirumah. Biasanya juga nangkring di kali" seloroh Yuli.
"Dia siapa?" tanya Tania.
"Thang kenalin dulu. Ini Andi. Adiknya mas Andri. Ini Tania" Yuli mengenalkan keduanya.
Baik Tania maupun Andi hanya mengangguk.
"Ya sudah kamu turunin semua kalau begitu. Kita istirahat saja. Yuk Mbak" ajak Yuli.
Andi mendengus geram. Merasa dikerjai oleh kakak iparnya itu. Tania sudah masuk ke rumah Andri. Ketika tidak berapa lama. Dia keluar lagi.
"Ponselku ketinggalan" Tania berucap menjawab tatapan Andi.
"Cantik sekali kamu" batin Andi.
***
FYI, keluarga Andri Astoyo itu nyata ya. Dia sepupu author. Yang memang tinggal di Imogiri. Satu kecamatan sama kampung batik Giriloyo.
Qila juga nyata. Vera dan Andi juga nyata. Ceritanya author saja yang haluu 🤣🤣🤣
__ADS_1
***