Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Bertemu Denganmu, Keberuntunganku


__ADS_3

Hampir semua anggota keluarga di Jakarta bersorak gembira. Mendengar rencana pernikahan Jayden dan Tania. Terlebih para perempuan.


"Lalu rencana pastinya kapan?" tanya Nina sambil memangku Lia yang begitu antusias melihat Eommanya.


Mengingat kemarin Tania pulang ke Surabaya tidak pamit pada Lia. Membuat gadis kecil itu sedikit merajuk. Untung Jayden masih ada disana. Jadi masih bisa ikut andil membujuk gadis kecil itu.


"Kalau bisa setelah Vera lahiran. Kalau dia sudah lahiran. Semua sudah plong rasanya" jawab Tania.


"Kamu Jayden?" tanya Nadya.


"Aku sih maunya sekarang" jawab Jayden.


Membuat yang diseberang menepuk jidat mereka berjamaah. Sedang Tania langsung melayangkan tatapan warningnya.


"Kenapa? Bukankah hal yang baik lebih baik disegerakan"


"Darimana kamu tahu kalimat seperti itu" tanya Lee Joon. Tidak nampak wajahnya tapi terdengar suaranya.


"Hei, hantu ke apa yang ngomong tu?"


"Sialan! Kau bilang aku hantu. Aku kakakmu brengsek!" umpat Lee Joon.


"Hubby ada Lia!" Nina berteriak memperingatkan.


"Uupss sorry"


"Ma, blengsek itu apa?" seloroh gadis kecil itu.


Membuat semua orang di seberang memberi tatapan membunuh pada Lee Joon.


Tania, Jayden dan semua orang di kediaman Atmaja langsung tertawa terpingkal-pingkal. Melihat Lee Joon dikeroyok keluarganya sendiri.


"Hyun Ae, tolong Papa" mohon Lee Joon pada putranya.


"No! Itu salah Papa. Tidak bisa me-ngen-da-li-kan diri. Betul tidak Om ucapanku?" tanya Hyun Ae.


Yang langsung membuat orang berbalik menatap Jayden lewat layar Macbook mereka.


"Aku tidak ikutan!" kilah Jayden.


"Dia jelas menyebut Om. Siapa lagi Omnya kalau bukan kamu" salak Nina.


"Astoge, aku baru mengucapkannya sekali. Takkan Hyun Ae langsung ingat"


"Tu kan ngaku juga akhirnya" geram Nina.


"Sorry. Aku keceplosan waktu itu" Jayden membela diri.


"Jangan menghindar kamu! Tania, pokoknya kamu jangan mau diapa-apain sama raja mesuum itu" ucap Nina lagi.


"Ye.. suka hati akulah" Jayden Lee menjawab.


"Kau sentuh adikku sebelum waktunya. Kuhajar kau!" kali ini Kai yang bicara.


"Aku tidak bisa menjamin" jawab Jayden enteng.


"Kau harus bisa. Kalau tidak aku akan menjemputnya sekarang. Lalu akan aku kembalikan saat Vera mau lahiran. Pilih mana?" ancam Kai.


Jayden menelan salivanya dengan susah payah. Sedang Tania duduk santai disebelahnya, sambil menikmati red velvetnya. Tidak peduli dengan yang orang-orang itu ributkan.


"Kenapa pilihannya sulit sekali. Tidak kau bunuh saja aku sekalian?" tanya Jayden frustrasi.


"Kalau kau mati. Adikku akan marah padaku" celetuk Kai.


"Nah tu tahu. Jadi jangan lakukan yang aneh-aneh pada adikku. No depe. No cicil mencicil"


"Kau pikir aku sedang beli mobil. Beli mobil aja aku bisa cash"


"Terserah mau ngomong apa. Mau atau tidak itu syaratnya. Dan itu mutlak. No tawar menawar. No debat!"

__ADS_1


"Iya deh iya. Aku akan mencobanya" jawab Jayden sekenanya. Asal segera terhindar dari omelan seorang Kaizo Aditya.



Kredit Instagram @ lin_yi


"Aku pegang kata-katamu" ucap Kai tegas.


"Iya-iya"


Dan panggilan pengumuman yang berakhir rusuh itu akhirnya berakhir. Jayden menarik nafasnya lega. Lantas menatap Tania. Gadis itu masih asyik menyantap red velvet-nya.


Membuat Jayden gemas seketika. Karena cara makan Tania yang berantakan. Bibir seksi itu nampak semakin menggoda. Dengan lelehan cream disana sini.


"Bisa tidak makan dengan benar"


"Ha..."


"Cream-nya kemana-mana" celetuk Jayden.


Tania hanya ber-ooo ria. Tanpa ada keinginan untuk membersihkannya. Dia pikir karena acara makannya belum selesai. Jadi nanti saja membersihkannya.


"Katakan kenapa kamu mau menikah denganku?" todong Jayden.


Dia pikir perlu memastikan perasaan Tania terlebih dahulu. Agar orang lain tidak berpikir ia memaksa Tania.


"Memang perlu ya alasannya?"


"Jelas dong!"


"Emm kenapa ya?" tanya Tania berputar-putar.


"Jangan mempermainkanku, Tania"


"Aku serius Kak. Sangat serius. Kalau Kakak tidak mau menikah denganku ya sudah. Tidak masalah" ujar Tania enteng.


"Hei, kenapa jawabanmu jadi seperti itu"


"Kau ini...


Cup..


Jayden membeku. Tatkala bibir seksi penuh cream milik Tania berlabuh di bibirnya. Bahkan Tania dengan berani melum** sedikit bibir Jayden.


"Kakak berisik!" gerutu Tania.


Lantas dengan santainya kembali memakan red velvetnya.


"Kamu menggodaku hmm?" pancing Jayden ketika kesadarannya sudah pulih sepenuhnya.


"Tidak. Hanya membuat Kakak diam"


Jayden menyeringai.


"Kalau begitu kamu harus sering melakukannya. Karena kamu tahu aku sangat berisik"


"Masak sih? Yang aku tahu Kakak itu orangnya pendiam. Tidak banyak omong. Kenapa tiba-tiba berubah menjadi cerewet. Kakak salah minum obat ya" oceh Tania.


"Bukannya salah minum obat. Tapi sudah ketemu obatnya"


"Benarkah? Apa obatnya?"


"Ini...


Kali ini Jayden langsung menindih tubuh Tania. Menyerang dengan ganas dan liar.


"Kak, Kak Kai akan marah" Tania memperingatkan.


"Dia tidak akan tahu kalau tidak ada yang memberitahunya" jawab Jayden.

__ADS_1


Lantas mencium bibir Tania. Ciuman panas dan menuntut. Sedang Tania masih berusaha untuk tidak terpancing dengan ulah Jayden.


"Kak...


"Open your mouth, Baby"


Jayden menginginkan akses lebih kedalam mulut Tania. Tapi gadis itu masih sadar, untuk tidak mengikuti kemauan Jayden.


Cukup paham. Kalau situasinya akan semakin tidak terkendali jika dia ikut terpancing dengan aksi Jayden.


"Kak...aku mohon berhenti. Kita berdua akan kehilangan kendali diri. Dan benar-benar akan bercin...ta"


"Apa kau tidak menginginkannya" tanya Jayden dengan nafas memburu. Pria itu menatap sayu pada Tania.


"Ingin. Tapi aku ini orang kuno Kak. Yang menganggap bercin..ta itu hanya boleh dilakukan setelah adanya pernikahan. Kita tahu kejadian dulu itu adalah sebuah kesalahan. Terutama aku"


Jayden terdiam. Nafasnya berangsur normal. Menandakan kalau dia berhasil menekan libidonya.


"Maaf" satu kata keluar dari bibir Jayden.


Membuat Tania tersenyum. Dia paham. Pria akan sangat sulit sekali mengendalikan diri. Kala mereka sudah tergoda. Yang harus diakhiri dengan adanya pelampiasan. Jika tidak. Biasanya akan mengakibatkan sakit kepala. Itu yang Tania tahu. Benarnya dia tidak tahu pasti.


"Apa Kakak sangat tersiksa" tanya Tania.


Melirik ke arah celana kargo yang Jayden pakai. Jayden menghembuskan nafasnya kasar.


"Tidak tahu"


Tania tersenyum.


"Mau kubantu?" tanya Tania.


Jayden menatap Tania tidak percaya.


"Aku hanya ingin membantu. Tidak mau ya sudah"


"Kamu tahu caranya?" Jayden bertanya.


Tania berbisik di telinga Jayden. Seketika pria itu membulatkan matanya tidak percaya.


"Kamu belajar dari mana?" tanya Jayden. Setelah akhirnya dia bisa menuntaskan has***nya. Dengan bantuan Tania. Dan yang jelas tanpa bercin...ta. Caranya tebak sendiri 🤣🤣


"Hanya pernah dengar dari teman waktu kuliah dulu. Katanya bisa membantu pacar mereka tanpa melakukan itu"


"Apa kamu pernah melakukan itu?" tanya Jayden curiga.


"Tentu saja tidak. Pacar saja tidak punya. Kakak kan tahu aku waktu itu sudah gila dengan Kak Kai"


Mendengar itu Jayden tersenyum. Cukup yakin kalau dirinyalah orang pertama yang menyentuh tubuh Tania.


"Berarti ada untungnya kau tergila-gila dengan kakakmu itu"


"Iya. Aku kehilangan masa mudaku. Aku menolak semua teman kuliahku yang ingin menjadi pacarku. Benar-benar menyesal"


"Aku tidak. Karena aku dapat semuanya masih segelan. Bahkan aku berani bertaruh. Aku adalah ciuman pertamamu" goda Jayden.


Tania memanyunkan bibirnya. Enggan mengakui kalau semua ucapan Jayden benar.


"Aku benar kan?" desak Jayden.


"Tidak tahu"


"Alah bilang saja iya" goda Jayden lagi.


"Kakak, kamu membuatku malu" gerutu Tania.


"Malu dengan siapa? Denganku? Ha ...ha...malu soal apa? Malu karena kamu masih virgin diusia 23 tahun?" tanya Jayden. Tania hanya bisa diam.


"Kamu tahu bagiku kamu adalah anugerah untukku. Bertemu denganmu adalah keberuntungan untukku" ucap Jayden menatap dalam wajah Tania.

__ADS_1


Tania sendiri hanya bisa diam mendengar ucapan penuh makna dari Jayden.


****,


__ADS_2