Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Sudah Dari Sononya


__ADS_3

"Tapi Kak.." Tania ingin membantah saran dari Jayden. Tapi pria itu kembali berkata.


"Oke, aku tahu dia orang yang berarti buatmu. Dia ada ketika kamu berada di titik terendah dalam hidupmu. Dia memberimu semangat. Menemanimu. Aku tidak menyangkal hal itu.Tapi dia juga yang kembali melemparmu ke tempat yang sama. Tanpa berpikir dua kali. Tanpa sedikitpun memberimu kesempatan untuk bicara bahkan menjelaskan. Sudah cukup kamu berbaik hati padanya. Dia, kalau tidak ada kamu. Jadi apa dia" ucap Jayden sambil mendengus geram.


Tania hanya terdiam. Dia masih berada dalam pelukan hangat Jayden.


"Tapi aku tidak bisa membencinya"


"Aku tidak memintamu membencinya. Hanya saja, untuk saat ini. Biarkan saja dulu. Terserah si brengsek itu mau melakukan apa. Ingat tidak selamanya bangkai itu bisa disembunyikan. Suatu saat Vera akan tahu siapa suaminya yang sebenarnya. Kita tahu pasti Bryan ingin mengadu domba kalian. Ingin kalian menyakiti satu sama lain. Tapi percayalah, suatu hari Vera akan menyesal dengan keputusannya hari ini" lagi Jayden berucap panjang kali lebar kali tinggi. Sambil tangannya mengusap lembut punggung Tania.


"Jadi, aku harus membiarkan mereka pergi. Dalam kesalahpahaman yang Bryan sengaja ciptakan untuk kami. Tapi Kak, aku ingin melihat baby Vi tumbuh besar" kembali Tania merengek.


"Hanya sementara. Kita lihat sejauh mana mereka bisa bertahan. Semua hal yang dibangun diatas kebohongan dan tidak dilandasi ketulusan. Pada akhirnya akan hancur. Ibarat bom waktu. Kita tinggal menunggu kapan meledaknya. Soal Vian. Kita bisa memantaunya lewat David. Aku tadi sudah berbicara soal hal ini. Dia akan menjaga Vera dan Vian selama di sana"


"Apa kita bisa percaya pada Om David?"


"Aku rasa bisa. Aku pikir dia orang yang baik. Berbeda dengan Bryan dan mamanya"


Hening sejenak. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


"Aku akan sangat merindukan Vian"


"Dia akan kembali padamu suatu hari. Aku yakin dia sendiri yang akan datang mencarimu. Kamu mencintainya seperti putramu sendiri. Bahkan ketika dia belum pernah melihatmu. Ingatlah jika tidak ada kamu dia tidak akan terlahir ke dunia" Jayden kembali menghibur Tania.


****


Braakkkk,


Terdengar suara meja yang digebrak. Jayden sedikit menjauh dari layar Macbooknya. Sedang Leo yang berada di dekat Kai, langsung mengumpat dalam hati.


"Untung aku yang ada disini. Coba kalau Lisa. Bisa keguguran dia, saking kagetnya" maki Leo dalam hati.


"Bagaimana dia begitu saja percaya pada perkataan si brengsek itu" Kai meradang melalui panggilan video mereka.


"Ya namanya juga sudah cinta" jawab Jayden santai.


"Tapi setidaknya dia masih berpikir menggunakan logikanya" potong Kai cepat.


"Ye, sudah aku bilang. Cinta itu bisa mengalahkan logika. Kayak gak pernah merasakan cinta saja" ledek Jayden.


"Sialan!" umpat Kai.


"Lalu sekarang bagaimana?" lanjut Kai yang mendengus geram. Melihat Jayden meledeknya.

__ADS_1


"Ya, sementara biarkan saja dia berbuat semaunya. Kita bisa saja menghancurkan dia. Tapi apa kamu mau menanggung resiko kalau adikmu itu marah padamu, aku tidak mau"


Kai terdiam mendengar ucapan Jayden. Pria itu tampak menghela nafasnya.


"Terserah kau sajalah. Aku akan mengikuti rencanamu. Aku yakin kau sudah punya rencana kan?" selidik Kai.


"Tentu saja. Kau pikir aku akan diam saja. Melihat mereka melukai Tania. Akan kubuat mereka membayar semuanya suatu hari nanti. Hanya saja. Nanti aku pasti akan memerlukan bantuanmu" ucap Jayden sambil menyeringai.


"Tentu saja. Sekarang bagaimana dia?" tanya Kai.


"Akhirnya dia mau tidur juga. Meski menolak untuk makan. Padahal seharusnya dia harus makan. Kau tahu adikmu bahkan menyumbangkan darahnya pada Vera. Kalau aku, sudah kubiarkan saja dia mati"


"Apa kau belum mengenal Tania dengan baik"


"Sudah. Hanya saja...tetap saja...aku tidak akan bisa begitu baik pada orang yang bahkan dengan entengnya menyebut dirimu ja****" Jayden merasa begitu sakit kala mengingat Vera menyebut Tania ja****.


Padahal selama ini, Jayden tahu pasti siapa pria yang sudah menyentuh tubuh Tania. Dirinya, hanya dirinya.


Kai pun ikut memerah menahan amarah. Dia tahu betul siapa Tania.


****


Beberapa hari berlalu. Vera sudah pulang dari rumah sakit. Sudah pulang ke apartement Bryan. Sesaat dia tercekat. Begitu masuk ke kamar Vian. Semua barang yang ada disana. Adalah hasil dari mereka belanja berempat dua bulan yang lalu


Padahal dulu mereka begitu antusias akan kelahiran putranya. Tapi sekarang. Dan saat dia curhat dengan Bryan. Suaminya itu malah menjawab dengan ucapan yang membuat Vera semakin meragukan pertemanan di antara mereka.


"Mereka sudah tentu mendukung wanita itu. Kan mereka lebih suka berteman dengan dia, ketimbang dengan dirimu"


Kembali ucapan Bryan, seolah seperti seseorang yang sengaja menyiram bensin diatas bara api. Seperti orang yang sengaja menyebarkan garam diatas kulit yang terluka. Semakin memperparah keadaan saja.


"Sepertinya yang diucapkan Bryan benar. Mereka tidak tulus berteman denganku" guman Vera lirih sambil memeluk baby Vi yang baru saja tertidur. Setelah meminum ASI-nya.


"Sayang, makan dulu. Biarkan Vian tidur di boxnya. Sebentar lagi Papa datang. Dia akan tinggal disini sampai kita berangkat ke Australia. Kita akan pulang ke sana bersama-sama" ucap Bryan sambil mencium kening sang putra.


Hanya perlakuan hangat dan penuh cinta dari Bryanlah, yang membuat Vera merasa bisa melalui kehidupan ini, meski tanpa kehadiran sahabat-sahabatnya yang dulu selalu menemaninya.


****


"Kamu yakin mau ngantor hari ini?" tanya Jayden.


Tiga hari Tania meliburkan dirinya. Hanya melakukan work from home. Selama itu pula dia tinggal dengan Jayden. Sesekali Sean dan Nita mengunjungi dirinya. Sedang Maura, memang setiap hari datang ke unit Jayden setelah pulang kerja. Kan dia tinggal dengan Rey diunit sebelah.


"Iihh mbak Tania buruan napa nikah sama pak Bos. Kan enak saya tiap hari ada temen ngobrol"

__ADS_1


"La memang aku tidak bisa dijadikan teman ngobrol?" Rey protes.


"Ya bisa sih. Tapi masa iya, aku mau ngobrolin buat kue resepnya apa tanya ke kamu. Emang kamu nyambung" tanya Maura pada sang suami. Membuat Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya juga ya"


Dan keempatnya tertawa.


"Iya, aku ngantor hari ini. Ada beberapa klien yang harus aku tangani langsung"


"Apa kamu yakin?"


"Sangat yakin"


"Oke kalau begitu nanti aku antar. Kita sarapan dulu"


"Aku tidak sarapan"


"Aku tahu"


Jawab Jayden. Lantas melangkah keluar kamarnya. Pria itu sudah mandi. Namun masih memakai kaos oblong dan celana kargonya. Belum berganti pakaian kerjanya.


Tak berapa lama, Tania keluar dari kamar Jayden. Dia sudah berganti pakaian.


"Minumlah ini" menyerahkan jus alpukat yang menjadi menu sarapan Tania.


Tania tersenyum. Sambil menerima jus alpukatnya. Jayden masuk ke kamarnya untuk berganti baju. Tak lama dia juga sudah berganti dengan setelan formalnya.


Tiga hari hidup bersama. Membuat Tania mulai hafal kebiasaan Jayden. Semua masih bisa diterimanya. Kecuali satu. Pria itu kalau tidur suka shirtless bahkan kadang hanya memakai boksernya saja.


Tania selalu saja protes selama tiga hari dia tidur dengan Jayden. Meski pria itu tidak pernah melakukan hal lebih selain memeluk dirinya saat tidur.


"Pakai bajumu sana" pekik Tania ketika pria mulai naik ke atas ranjangnya setelah membuang kaosnya entah kemana.


"Tidak mau. Ini sudah jadi kebiasaanku" jawab Jayden santai sambil memainkan ponselnya. Mengecek ada email yang masuk atau tidak.


"Jayden Lee...pakai bajumu"


"Ogah. Ini sudah dari sononya setingannya begini" lagi Jayden menjawab.


Membuat Tania melongo mendengar jawaban Jayden.


****

__ADS_1


__ADS_2