
"Kau kecewa?" tanya sebuah suara lembut.
Membuat Jayden berbalik. Mematikan rokok yang tengah dia nikmati. Menatap wajah kakak iparnya.
"Sedikit" jawab Jayden singkat.
"Beri dia waktu" saran Nina.
"Entahlah, aku pikir aku sudah cukup menunjukkan kalau aku sudah berubah. Tapi nyatanya itu belum bisa membuatnya berkata "iya" tiap kali aku melamarnya" keluh Jayden.
"Mungkin ada hal lain yang jadi pertimbangan untuknya. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri"
Jayden menarik nafasnya pelan.
"Aku bisa lihat dia memiliki perasaan itu dimatanya. Tapi aku juga bisa merasakan keraguan dihatinya. Jadi jangan berpikiran yang aneh-aneh soal dia"
Jayden mengangguk.
"Oh ya, aku pikir kau benar-benar tulus mencintainya. Tapi nyatanya diapun sudah kau unboxing duluan" cetus Nina membuat wajah Jayden memerah.
"Apa sih?"
"Tidak ada. Hanya saja casanova ya tetap casanova biar katanya sudah tobat. Dan menemukan batunya setelah dites dulu" gelak Nina.
"Kamu pikir dia makanan?"
"Iya makanan lezat untukmu. Makanya kau tidak bisa berhenti untuk memakannya"
"Hei aku melakukannya hanya sekali. Itu juga karena dia mabuk"
"Sekali. Tapi puncaknya berkali-kali. Kalian sama saja" cebik Nina.
"Haisshh, malah jadi ngelantur ngomongnya. Sudah balik kamar sana. Nanti suamimu jealous lagi ke aku" ucap Jayden kesal.
Mendorong tubuh Nina, agar segera masuk ke kamarnya. Yang berada tepat di depan kamar Jayden. Sedang Jayden sedang berada di balkon diantara kamar mereka.
"Iya-iya aku masuk. Mau lanjutin bobok sama suami tercinta. Bye..." ledek Nina membuat Jayden mendengus kesal.
Nina masuk ke kamar dan mendapati sang suami tengah menatapnya tajam.
"Darimana kamu?"
"Ambil air" jawab Nina santai sambil menunjukkan satu jug air beserta gelapnya.
"Yakin tidak melakukan hal lain"
"Mengobrol dengan adikmu yang frustrasi"
"Kamu begitu peduli dengan adikku yang frustrasi. Tapi tidak peduli dengan "dia" yang juga frustrasi" ucap Lee Joon. Melirik ke tubuh bagian bawahnya.
"Astaga, masih kurang?"
"Denganmu tidak akan pernah cukup" ucap Lee Joon dengan wajah mesuum mode on plus level akut.
Nina memutar matanya malas. Lalu naik ke atas ranjang. Tanpa basa basi. Wanita cantik itu langsung menyambar bibir seksi sang suami liar, yang langsung menyambutnya. Tidak kalah ganas. Hingga malam yang dingin itu kembali memanas dengan ulah pengantin lama rasa pengantin baru itu.
****
Waktu baru menunjukkan pukul delapan malam. Ketika Tania melesat keluar dari kamarnya. Meraih satu kunci mobil. Lantas menekannya. Dia sedikit membulatkan matanya. Ketika sebuah Audi R8 yang meresponnya.
Kredit google.com
__ADS_1
Merasa akan kehabisan waktu kalau harus memilih mobil lagi. Tania langsung masuk ke mobil itu. Lantas membawanya melandas ke jalan raya. Menuju sebuah hotel di kawasan Jakarta Pusat.
"Apa kau tidak panasaran denganku?"
"Siapa kau?"
"Aku? Aku seseorang yang cukup tahu tentang siapa dia dan siapa kamu. Di masa kini juga dimasa lalu"
"Temui aku di hotel XX jika kamu ingin bertemu denganku"
Tania pikir dirinya terlalu bodoh untuk mengikuti permintaan bertemu orang itu. Orang yang selama beberapa hari ini membuatnya pusing kepala. Dengan kiriman pesan dan juga video yang membuat keraguan hatinya semakin besar terhadap Jayden. Tapi rasa penasaran seolah mengalahkan logikanya.
"Aku punya kejutan untukmu. Jika kau sudah sampai. Naiklah ke lantai 20 kamar 2002"
Seperti orang yang terkena hipnotis. Tania langsung naik ke lantai 20 persis seperti yang pesan itu perintahkan.Begitu dia sampai di hotel tersebut. Jantungnya berdebar tidak menentu ketika dia mulai masuk ke dalam lift. Bersamaan dengan itu. Ponselnya berbunyi.
Tidak ada suara yang terdengar ketika Tania mengangkat panggilan itu. Dia baru akan mematikan panggilannya. Ketika dua bola matanya membulat. Mendengar suara yang terdengar dari ponselnya. Suara yang begitu ia kenal.
Tiinng,
Pintu lift terbuka. Tania semakin mempercepat langkahnya. Menuju kamar 2002 yang mungkin disengaja. Pintunya tidak ditutup rapat. Satu hal yang seharusnya membuat Tania curiga. Tapi dengan rasa penasaran yang berkecamuk di dadanya. Dia tidak lagi memperdulikan hal itu.
Tania langsung membuka pintu kamar itu. Sepi. Hening, seolah tidak ada kehidupan. Mengikuti nalurinya. Dia diam tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Terdengar sayup-sayup suara dari arah dalam. Tania semakin masuk.
Bola matanya langsung membola melihat pemandangan di depannya. Jayden tengah berada di atas tubuh seorang wanita yang.... hanya memakai bra saja. Sedang kemeja Jayden sudah hampir terlepas semua kancingnya. Jangan lupakan posisi tangan wanita itu. Yang sudah berada di ikat pinggang celana jeans Jayden. Bersiap untuk membukanya.
"Jayden...." ucapnya lirih.
Namun masih bisa menjangkau telinga dua manusia beda gender itu. Yang sontak langsung menoleh ke arah Tania.
"Tania....?" ucap Jayden tidak percaya.
Lantas menoleh ke arah wanita yang tengah berada dibawah tubuhnya.
"Surprise" ucap wanita itu tanpa suara.
"Kau....aku akan buat perhitungan denganmu!" ancam Jayden dengan mata berkilat penuh amarah.
"Aku tunggu saat itu, Sayang" ucap wanita itu setengah berteriak karena Jayden sudah melesat keluar dari kamar itu.
"Kita lihat saja apa kau bisa menemukanku setelah ini" ucap wanita itu lagi. Karena setelahnya di langsung memakai atasannya. Lantas menyeret kopernya. Keluar dari kamar itu.
Sementara di lobi hotel. Pintu lift terbuka. Tania langsung melesat keluar. Tidak peduli dengan orang-orang yang ada disana. Termasuk Kai dan Leo yang juga baru saja keluar dari lift. Keduanya tampak saling pandang. Melihat Tania yang berlari seperti dikejar sesuatu.
Tiiing, pintu lift sebelah Kai terbuka. Terlihat Jayden yang juga akan keluar dari lift. Ketika dengan cepat Leo mencekal tangan Jayden.
"Tuan Lee..."
Jayden sedikit terkejut melihat Kai dan Leo berada disana. Namun sejurus kemudian dia mempunyai ide.
"Kau urus ja**** yang ada di kamar 2002" ucap Jayden lantas melesat keluar mengejar Tania.
Leo dengan sigap meraih ponselnya. Membuat panggilan. Seolah dia paham bahwa itu juga keinginan tuannya.
"Sepertinya dia tidak mengindahkan peringatan kita semalam" ucap Kai kembali masuk kedalam lift.
"Sepertinya begitu" Leo menyahut.
***
"Tania....Tania...Baby...dengarkan aku dulu. Aku bisa menjelaskan semuanya. Ini jebakan" Jayden berteriak sambil memukul-mukul kaca mobil taksi yang Tania tumpangi.
Tapi dengan cepat mobil itu bergerak. Melandas masuk ke padatnya jalanan ibukota. Membuat Jayden tidak bisa menyusulnya.
__ADS_1
"Sial!!" umpatnya lagi.
Berlari kembali ke dalam parkiran hotel. Mengambil mobilnya. Dan tak lama, mobil Jayden sudah terlihat bergabung dengan padatnya kendaraan di jalan raya ibukota.
Jayden melirik monitor GPS di dashboard mobilnya. Cukup lega karena taksi Tania mengarah ke kediaman Atmaja. Setidaknya dia akan aman disana.
"Akan aku coba" Natasya tampak berbicara melalui ponselnya. Ketika Tania masuk ke dalam rumah. Setengah berlari.
"Dia pulang. Aku akan bicara dengannya" ucap Natasya lagi.
"Ada apa?" tanya Nadya yang baru keluar dari kamarnya.
"Tania. Dia mengalami apa yang kamu alami" jelas Natasya singkat.
Nadya mengerutkan dahinya.
"Kenapa sih mereka tidak bisa lihat cowok bening sedikit. Bawaannya pengen ngerebut aja"
"Itu karena pria kita memang mengagumkan" seloroh Natasya.
"Ini lagi. Malah ngomporin" gerutu Nadya yang jelas tidak didengar kakaknya. Karena Natasya sudah naik ke lantai dua.
"Tania mana?" tanya Jayden dengan nafas terengah-engah.
"Nah ini dia korbannya"
"Korban apa?"
"Korban yang diraba-raba tubuhnya. Betul tidak?" tanya Nadya yang membuat Jayden berhenti.
"Kamu tahu?"
"Aku dulu juga sama. Justin pernah digituin sama temanku"
"Terus?"
"Nabrak!" salak Nadya.
"Eh Nona aku nanya betulan"
"Ya, aku jawab beneran. Sudah sana urusin dulu adikku. Mewek gak habis-habis dia nanti" ucap Nadya berlalu dari hadapan Jayden.
Membuat Jayden langsung naik ke lantai dua. Di sana dilihatnya Natasya yang tengah mengetuk pintu kamar Tania.
"Tania buka pintunya. Ini kakak"
"Bagaimana?" tanya Jayden.
Natasya mengedikkan bahunya.
"Aku takut dia kenapa-kenapa?" tanya Jayden panik.
"Kau tidak ingin menjelaskan apa-apa padanya?"
"Tentu saja ingin. Tapi aku lebih khawatir pada keadaannya. Dia tertutup dan cenderung akan bertindak di luar logikanya jika dalam keadaan tertekan"
Natasya tersenyum. Melihat Jayden yang begitu paham dengan sifat adiknya.
"Kita akan melihatnya. Apa dia baik-baik saja"
Sementara didalam sana. Sang pemilik kamar, nampak terduduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya disudut kamar.
"Kenapa? Kenapa aku harus terluka lagi? Tidakkah cukup yang kualami selama ini" batinnya dengan derai air mata membasahi pipi.
__ADS_1
Merasa begitu hancur melihat Jayden dan wanita itu dalam satu posisi seperti itu. Hatinya terasa begitu sakit mengingat hal itu. Sanggupkah dia bertahan?
****