
Bryan memanyunkan bibirnya. Saking manyunnya bisa dikuncir pakai karet gelang. Bagaimana dia tidak manyun. Dia pikir plan A yang dimaksud oleh dua makhluk tampan didepannya, adalah plan untuk membujuk Vera agar mau memaafkan dirinya.
Tapi ternyata plan A yang mereka maksud adalah makan malam yang sedikit terlambat. Yang membuat Bryan manyun adalah mereka minta Bryan yang mentraktirnya. Masih mending kalau mereka minta makan direstoran biasa dengan menu biasa.
Ini tidak. Mereka berdua memilih untuk makan di restoran western fine dining. Di salah satu hotel mewah di kota Surabaya. Sheraton Surabaya Hotel. Dan menu yang dipilih sekali lagi membuat Bryan geram.
Bagaimana tidak geram. Keduanya memesan menu US Prime Ribeye Steak.
Kredit google.com
Bryan jelas membulatkan matanya. Dia tahu harga satu porsi menu itu berapa.
"Kalian merampokku" gerutu Bryan.
"Oh come on. Jarang-jarang kita makan yang beginian" ucap Sean santai. Memasukkan potongan steak ke mulutnya
"Kalian sengaja merencanakan ini kan?" tuduh Bryan.
"Anggap saja tanda gencatan perang kita"
"Elu kate kita lagi perang kayak Rusia-Ukraina" kesal Bryan.
"Alah sudahlah. Cepetan dimakan. Daripada duit elu, elu kasih sama tu perempuan mending elu pakai buat jajanin kita" oceh Sean.
"Yee mending gue kasih ke mereka. Setidaknya mereka bisa memuaskan gue. La kalian? Bisanya jebolin kantong gue" gerutu Bryan tidak ada habis-habisnya.
Dia benar-benar merasa dikerjai oleh kedua sekutu barunya itu.
"Kita memang gak bisa puasin elu. Ehhh jijik gue pas ngomong puasin elu. Tapi setidaknya kita bisa mengusahakan masa depan elu" ucap Jayden.
"Sok puitis lu!" semprot Bryan.
"Dibilangin nggak percaya. Sudah, sudah ayo kita makan. Kalau dia nggak mau makan. Biarin aja. Rugi ada makanan enak kok nggak dimakan" ucap Sean.
Membuat Bryan akhirnya ikut memakan steaknya. Meski kesalnya bukan main.
***
Jayden nampak berjalan menuju kamarnya. Perlahan dibukanya pintu itu. Terlihat seorang gadis tengah duduk di sofanya. Duduk menyamping membelakanginya.
Jayden berjalan pelan mendekatinya. Sejenak dia terdiam menatap gadis itu. Hingga kemudian, Jayden bergerak. Ikut duduk di depan gadis itu.
"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri" ucap Jayden lembut.
"Lalu aku harus bagaimana? Ini semua memang salahku. Jika saja aku tidak berhubungan dengan Bryan. Vera tidak mungkin akan mengalami hal ini" jawab Tania sambil terisak.
Jayden pikir sudah berapa kali dia mendengar hal ini. Puluhan kali mungkin. Dia harus ekstra sabar menghadapi gadis ini. Tania terus saja menyalahkan dirinya.
Merasa karena dialah, Vera harus menderita seperti ini. Menanggung perbuatan Bryan yang benar-benar brengsek.
"Baby, dengarkan àku. Yang terjadi bukanlah salahmu. Katakan saja ini jalan Vera untuk bisa bersama dengan pria yang dicintainya"
"Tapi kan tidak harus dengan jalan yang menyakitkan seperti ini" protes Tania.
"Tapi jalan mereka harus seperti ini. Look, lihat aku. Apa jalan kita juga tidak lebih kurang sama dengan mereka" tanya Jayden.
__ADS_1
"Tapi setidaknya aku tidak terpaksa dan tidak dipaksa saat melakukannya bersama Kakak" jawab Tania berurai air mata.
"Dengan kata lain, kamu menikmatinya?" tanya Jayden dengan senyum terukir dibibirnya.
"Iiisshh bukan seperti itu juga. Setidaknya aku tidak sampai hamil" ucap Tania.
"Ooo jadi kamu mau hamil?" goda Jayden.
"Kakak aku serius" pekik Tania.
Dia merasa sejak tadi hanya jadi bahan godaan bagi Jayden. Tania langsung memanyunkan bibirnya. Membuat Jayden gemas.
"Dikondisikan bibirnya" Jayden memperingatkan.
Namun Tania yang kesal. Hanya melengoskan wajahnya tanpa menuruti permintaan Jayden.
"Kau ini suka sekali memancingku"
"Aku bukan ikan" jawab Tania kesal.
"Dia marah" ucap Jayden santai.
Perlahan dia meraih tubuh Tania. Memasukkan tubuh gadis itu dalam pelukanya.
"Dengarkan aku. Jangan terus menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi pada Vera. Memang kita mungkin bersalah ikut andil. Hingga hal itu sampai terjadi. Aku dan Sean terlalu fokus padamu. Hingga melupakan Vera yang juga mengkhawatirkanmu"
Jayden menjeda ucapannya. Tania semakin terisak dalam rasa bersalahnya.
"Tapi mari lihat dari sisi positifnya. Aku tidak berkata. Vera hamil di luar nikah adalah hal baik. Tapi lihatlah sisi baiknya. Bryan berubah total untuk bisa mendapat maaf dari Vera"
"Apa di benar-benar berubah?" tanya Tania.
Tania mengangguk.
"Dia meminta kita untuk membantunya. Bicara pada Vera. Untuk membuktikan kalau dia benar-benar menyesal dengan perbuatannya. Dan ingin bertanggungjawab pada Vera"
"Tapi Vera sudah berkata kalau tidak akan menikah dengan orang yang tidak mencintainya"
"Lalu menurutmu apa Bryan tidak mencintai Vera" tanya Jayden menatap wajah Tania.
"Dia mencintainya. Tanpa sadar Bryan jatuh cinta pada Vera. Bahkan mungkin ketika dia masih bersamamu. Atau bahkan sejak awal dia memang mencintai Vera bukan kamu"
Tania terdiam.
"Bisa jadi" jawab Tania akhirnya.
"Sekarang kita pikir. Siapa lagi yang bisa menerima keadaan Vera yang seperti sekarang selain ayah dari anaknya Vera. Plus mencintai Vera"
Tania mengangguk.
"So, please stop to blame yourself. Sekarang kita pikirkan cara agar Vera mau menerima Bryan. Setidaknya Vera mau memberi kesempatan pada Bryan. Kita tahu. Kita bisa menjadi papa dan mama angkat bagi anak Vera. Tapi tidak akan ada yang lebih baik selain papa dan mama kandungnya" ucap Jayden panjang lebar.
Tania kembali terdiam.
"Sudah cukup kamu menangis karena rasa bersalahmu. Okey? Semua akan baik-baik saja. Anggap saja Bryan sudah ketemu batunya. Mereka berdua saling mencintai. Meski awalnya tidak menyadari. Jadi ambil sisi baiknya saja. Dengan adanya anak bisa menyatukan papa dan mamanya" Jayden mencoba meyakinkan Tania lagi.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Tania pada akhirnya.
__ADS_1
Membuat Jayden mengembangkan senyumnya.
"Bicaralah pelan-pelan pada Vera. Dia perlu Bryan disisinya" ucap Jayden lagi.
Tania berpikir.
"Akan aku coba"
Jayden semakin mengeratkan pelukannya. Hening sejenak
"Mari bertemu papa dan mamaku setelah masalah Vera selesai" tiba-tiba Jayden berujar.
"Haaaa?"
"Aku pikir aku ingin segera menikahimu"
"Tapi Kak, aku belum siap bertemu....kak Kai"
"Kamu belum pernah mencobanya. Mana kamu tahu. Apa kamu masih punya rasa sama Kai?" tuduh Jayden.
"Tentu saja tidak" jawab Tania cepat.
"Lalu?" tanya Jayden memastikan.
"Aku...aku...aku malu bertemu dengannya. Kamu tahu kan kalau..." jawab Tania dengan wajah malunya.
"Aku tahu. Jangan khawatir aku akan menemanimu saat bertemu dengannya" ucap Jayden menenangkan.
Tania mengembangkan senyumnya. Dia memang butuh dukungan untuk kembali bertemu Kai.
"Lagipula apa kamu tidak kasihan padaku" ucap Jayden tiba-tiba.
"Kasihan soal apa?" tanya Tania polos.
"Kamu membuatku puasa dua tahun lebih. Dan itu menyiksaku sekali" keluh Jayden.
"Alah...bukannya kamu sudah puas bermain, dulu waktu masih jadi casanova" cebik Tania.
"Tapi denganmu baru satu kali. Dan itu membuatku ketagihan" bisik Jayden ditelinga Tania.
"Mesummm!" ucap Tania mendorong jauh dada Jayden.
Namun pria itu malah menarik tangan Tania. Lantas mencium bibir Tania lembut. Sesaat kemudian keduanya sudah saling menikmati ciuman itu. Saling memagut. Hingga memancing hasrat mereka.
Tanpa sadar Jayden sudah menindih tubuh Tania dia atas sofa miliknya. Kali ini bahkan Tania lebih agresif. Di kala Jayden sudah memulai "french kiss"-nya. Tania sudah mulai melepas kancing kemeja Jayden.
Seketika tubuh Jayden sudah polos. Menampilkan tubuh sempurna miliknya. Melihat hal itu, membuat hawa panas semakin merasuki tubuh Tania.
"Oh my God, ini bisa membuatku gila" pekik Jayden.
Menghentikan aksinya menciumi leher jenjang Tania. Sesaat berikutnya. Jayden langsung melesat masuk ke kamar mandinya. Mencari cara aman untuk melepaskan has***nya.
Tania hanya bisa mengulum senyumnya. Mendengar umpatan dari bibir kekasihnya.
"Oh God, bolehkah aku menyebut ini dengan plan B" gumannya sambil terus memacu dirinya di bawah guyuran shower kamar mandinya.
Sedang Tania langsung meledakkan tawanya mendengar gumanan Jayden yang lebih terdengar sebagai teriakan frustrasinya.
__ADS_1
****