
Tania bangun pagi dengan mood berantakan. Tubuhnya pegal luar biasa. Bagaimana tidak pegal. Hampir semalaman Jayden menindih tubuhnya. Tanpa ingin mengubah posisinya.
Baru ketika pagi menjelang. Jayden bergerak dari atas tubuh Tania. Tania sudah mandi dan berganti baju. Menatap sengit Jayden yang masih tertidur pulas di atas kasurnya.
Pria itu benar-benar tahan dingin. Sebelum mandi tadi. Perasaan Tania menyelimuti tubuh Jayden. Tapi sekarang selimut itu sudah teronggok di lantai. Membuat punggung kokoh dan sandarable Jayden terekspose sempurna.
Pria itu masih mengenakan celana jeansnya. Meski dia lihat ikat pinggang milik Jayden sudah tergeletak di lantai.
Tania berlalu keluar kamarnya. Meninggalkan Jayden yang masih terlelap.
"Dia benar-benar menyebalkan" gerutu Tania. Tania terpaksa memakai foundation dan menggerai rambutnya. Kissmark yang dibuat Jayden benar-benar terlihat sempurna. Gadis itu memakai baju lengan panjang dari bahan rajut. Membuatnya tetap hangat meski tanpa jaket.
Kredit Instagram@eleanorleeex
Tanpa Tania tahu. Jayden perlahan membuka matanya ketika Tania keluar kamarnya.
"Hebat sekali bahkan dia tidak tergoda dengan tubuhku" batin Jayden lantas melompat bangun.
Keluar dari kamar Tania. Masuk ke kamarnya sendiri.
"Untung aku segera keluar. Jika tidak aku bisa gila melihat tubuh sempurna pria menyebalkan itu. Aduh pegalnya tubuhnya. Dia memang sengaja berbuat seperti itu. Dasar brengsek" umpatnya sepanjang jalan.
"Naik kuda asyik nih" guman Tania. Setelah puas mengumpat Jayden.
Lantas menyewa seekor kuda.
"Bisa sendiri ya Mbak?" tanya pemilik kuda. Si pemilik kuda tentu hafal dengan orang yang bisa naik kuda dan tidak. Dari awal sudah terlihat kalau Tania piawai dalam hal berkuda. Dari cara dia mengelus-elus kepala kuda, dia tahu tata cara sebelum seseorang berkuda dengan kuda yang baru saja dia kenal.
"Kita jalan-jalan ya" ucap Tania lembut. Sebelum menghentak tali kekang kuda itu perlahan.
"Tania tunggu.... Tania..." teriak Jayden.
Yang ternyata sudah menyusul Tania.
"Aku kira masih molor cantik" guman Tania.
Dan tak lama. Jayden sudah berhasil menyusul kuda Tania.
"Kamu bisa naik kuda?" tanya Jayden.
Tania diam. Sedikit mempercepat laju kudanya.
"Sial!!Dia marah" guman Jayden.Perlahan menyusul Tania.
Jayden tersenyum melihat penampilan Tania. Rambut panjangnya sukses menutupi kissmark yang dia buat semalam. Padahal Jayden sengaja membuatnya tepat di tengkuk Tania. Kecuali Tania mengikat tinggi rambutnya. Kissmark itu tidak akan terlihat.
"Marahkah?" tanya Jayden lagi.
Lagi-lagi Tania terdiam.
"Oh come on Tania. Well, I'm sorry. Really really sorry. Aku tidak bermaksud untuk melakukannya sebelum kita menikah. Aku hanya marah dan khawatir padamu. Kamu tengah malam, pergi ke tempat itu hanya dengan pak Yono"
"Di sana rame Tuan" potong Tania cepat.
"Oke disana rame. Tapi di jalan? Kita tidak tahu apa yang ada di pikiran orang lain. Apalagi kamu perempuan. Cantik. Dan dia laki-laki. Itu bisa berbahaya Tania"
"Aku rasa lebih bahaya dirimu daripada pak Yono"
Jayden mendelik mendengar ucapan Tania. Bagaimana bisa Tania berpikir dirinya lebih berbahaya dari pak Yono.
"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?"
"Bagaimana tidak. Kamu saja tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri. Benar tidak?"
Glek,
Jayden menelan ludahnya kasar.
"Hanya denganmu aku seperti itu" Jayden berusaha membela dirinya.
"Benarkah? Sepertinya aku tidak percaya" cibir Tania.
"Tania...
"Coba kalau ada perempuan full nak** berada didepanmu. Tergoda tidak?" pancing Tania.
"Tentu saja tidak!" jawab Jayden cepat.
"Bohong!" teriak Tania.
Membuat beberapa orang yang mendengar sejenak melihat mereka.
"Tania..." desis Jayden.
Tanpa terasa satu putaran selesai. Mereka kembali ke titik awal dimana pemilik kuda sudah menunggu mereka. Tania sudah bersiap turun. Ketika Jayden malah melompat naik ke kudanya.
Membuat pemilik kuda itu melongo. Sedang Tania jelas terkejut.
__ADS_1
"Ini apalagi?" tanya Tania.
"Diamlah" desis Jayden.
Meraih dompetnya. Menyerahkan beberapa lembar pecahan berwarna merah.
"Satu putaran cukup kan Pak?" tanya Jayden.
"Cukup Mas, cukup Mas" jawab penyewa kudanya. Dengan senyum terkembang sempurna di bibirnya. Merasa mendapat rezeki nomplok hari ini.
"Kakak mau ngapain?" tanya Tania. Ketika Jayden dengan lembut merebut tali kekang kudanya. Menjalankannya dengan perlahan.
"Menyelesaikan masalah kita" ucap Jayden enteng.
"Kita tidak punya masalah Kak" ucap Tania sedikit risih dengan posisi mereka.
Dimana dada bidang Jayden menempel ketat di punggungnya. Nafas Jayden terasa hangat di telinga Tania. Membuat Tania merinding dibuatnya.
"Lah ini masalahnya" batin Tania.
Yang merutuki dirinya sendiri. Karena hanya berada sedekat ini dengan Jayden. Tubuhnya sudah panas dingin tidak karuan. Dengan jantung yang berdebar layaknya maraton satu kota.
"Kak..." panggil Tania.
Yang terdengar seperti sebuah rengekan manja di telinga Jayden. Entah kenapa dia begitu suka mendengar Tania memanggil dirinya Kakak.
"Hmmm" jawab Jayden singkat.
Pria itu terlihat begitu menikmati waktu mereka.
"Turunkan aku" pinta Tania.
"Kenapa? Bukankah ini yang sering disebut oleh para wanita itu dengan kata "romantis"
Blush,
Wajah Tania merona merah. Hanya mendengar kata romantis terucap dari bibir Jayden. Namun yang jelas karena wajah Jayden begitu dekat dengan wajahnya. Meski tak dipungkiri. Ini bukan pertama kalinya mereka berada dalam jarak sedekat ini.
"Turun yuk. Kemarin pas aku naik. Ada yang jualan buah di pasar bawah. Beli yuk. Kan dari kemarin aku nggak makan sayur sama buah. Sudah nggak ngegym lagi. Nanti bisa-bisa abs aku kabur lagi" oceh Jayden.
"Kebawah kelamaan Kak. Nanti dikiranya kita bawa kabur kudanya" cegah Tania.
"Bomat. Kalau perlu aku nanti beliin kuda baru lagi. Kalau yang punya marah" sombong Jayden.
"Sombong amat" maki Tania.
"Suka-suka akulah"
"Ini aku kapan dituruninnya" keluh Tania.
"Kenapa kan asyik bisa berduaan. Lebih asyik dari naik motor" bisik Jayden.
"Pikirannya itu lo. Turunin napa?"
"Nggak sebelum kamu rubah mode marah kamu"
"Oke aku rubah jadi mode silent"
"Nggak sekalian mode getar? Pasti hot tu kalau mode getarnya di-on-kan" ucap Jayden.
Yang langsung mendapat cubitan keras dipahanya.
"Astaga sakit, aaahh panas. Aje gila, tu tangan apa gunting neng" ucap Jayden mengusap-usap pahanya yang terasa panas akibat cubitan Tania.
"Rasakan! Makanya kalau ngomong difilter dulu"
"Itu juga sudah lolos sensor, Baby"
"Kumat lagi manggilnya begituan. Turunin dong"
"Nggak. Pokoknya kalau kamu belum selesai marahnya. Nggak bakalan aku turunin. Sampai malem juga aku jabanin" ucap Jayden.
"Betah-betah aje sih gue. Orang posisinya enak gini" batin Jayden sambil menyeringai.
"Iya-iya nggak marah lagi"
Ucap Tania terpaksa. Daripada dia terus jadi perhatian orang sepanjang jalan. Bagaimana tidak jadi perhatian. Melihat sepasang manusia cantik dan tampan naik kuda berdua. Serasa lagi nonton film nggak sih. Live gitu...
"Beneran sudah nggak marah?"
"Nggak, cuma mangkel"
"Ha? Apalagi itu?" tanya Jayden.
"Tahu deh. Pikir saja sendiri" jawab Tania ketus.
"Ini sakit tidak" ucap Jayden sambil meletakkan wajahnya di bahu Tania. Yang semalam digigitnya. Membuat semua orang yang menonton aksi live mereka bertambah baper saja.
"Aduuuhhh" ringis Tania.
__ADS_1
"Sorry. Abis gemas banget"
"Ada ya warning letter model beginian"
"Adalah, modelku" jawab Jayden pede.
Tania mencebikkan bibirnya. Kesal.
Mereka sampai di pasar bawah. Tentu saja kehadiran keduanya menarik perhatian banyak orang.
Kredit Instagram.com
"Wuihh duren" ucap Tania sumringah.
"Apa tu?" tanya Jayden lirik sana lirik sini mencari yang dimaksud Tania.
"Turun!"
"Masih marah nggak?"
"Nggak, asal dibeliin duren"
"No problem" jawab Jayden sumringah.
Jayden turun dulu, kemudian dia menangkap tangan Tania. Membantunya turun. Matanya berbinar melibat durian dihadapannya.
"Yang mana yang namanya duren? Eh bau apa ini?"
"Ya itu depan Kakak namanya duren, durian. Dan itu bau durian. Enak kan"
"Duriannya Mbak, Oppa. Masak pohon baru datang lagi. Masih fresh kata orang kota" tawar penjualnya ramah.
"Oppa lagi"
"Durian lokal Mbak?"
"Iya. Dari Karanggupito. Dekat-dekat sini juga"
"Ada tester-nya nggak"
"Oh ada, monggo Mbak, Oppa"
"Emmm manis. Enak. Kakak mau?" tanya Tania pada Jayden yang tampak tidak baik-baik saja.
"Kok aku pusing ya Tan" ucap Jayden.
"Lah Kakak mabuk durian"
"Makan aja kagak. Kok bisa mabuk?"
"Durian gitu Kak. Yang nggak tahan bisa pusing sama muntah-muntah" jelas Tania.
"Seriously"
Tania mengangguk.
"Terus gimana dong?"
"Nggak jadi beli deh"
"Lah nanti mode marahnya on lagi. Kamu beli deh. Makan jauh-jauh dari aku"
"Tapi...."
"Mbak beli dua ya"
"Kak..."
"Nggak apa-apa. Masak iya kalah sama durian. Nggak lucu kan"
"Beneran?"
Jayden mengangguk.
"Kalau begitu. Dikupas sekalian ya Mbak. Diatas tahu ada alatnya atau nggak"
"Siap Mbak"
Sementara itu. Jayden memilih menyingkir. Menjauh sejauh mungkin dari aroma durian. Yang membuatnya pusing tujuh keliling. Bahkan lebih pusing dari menghadapi beberapa deadline yang datangnya bersamaan.
"*D*urian oh durian" batin Jayden.
Dan kenapa juga sang pujaan hati tampaknya sangat menyukai buah berduri itu.
"Alamat bisa gelut gara-gara tu buah berduri alias durian" batin Jayden lagi.
Sambil memijat pelipisnya yang pusing gara-gara durian.
__ADS_1
****