Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Lupakan Dia


__ADS_3

"Aku benar-benar tidak tahu apa tujuan Bryan melakukan ini" ucap Sean pada Rey.


Mereka kini tinggal berdua. Jayden sudah pulang setelah mati-matian membujuk Tania agar pulang saja. Toh dia tidak akan bisa bertemu Vian dan Vera meski dia memaksa menunggu di sana.


"Aku juga. Hanya saja, ada yang tega melakukan hal semacam itu" jawab Rey


Sean menarik nafasnya mendengar ucapan Rey.


"Nyatanya ada" jawab Sean.


Obrolan mereka terhenti, ketika melihat istri masing-masing sedang berjalwn ke arah mereka.


"Sudah?"


Keduanya mengangguk.


"Kenapa hanya sebentar?" tanya Rey.


"Aku illfeel deh sama Vera" jawab Nita.


Sean dan Rey hanya menarik nafas mereka.Cukup paham dengan yang kedua wanita mereka rasakan. Siapa juga yang tidak jengkel dan kesal melihat sikap Vera.


"Pulang aja, yuk. Ngapain juga disini. Tadinya sih pengen bantuin ngurusin Vian tapi sekarang malas ah" ketus Maura.


"Iya, aku juga. Pulang aja yuk. Daripada stres lihat muka mereka berdua. Iih bikin darah tinggi saja" tambah Nita.


Kedua pasutri itu lantas melenggang keluar dari rumah sakit itu. Tidak peduli dengan keadaan Vera. Sementara Vera yang baru saja selesai menyusui Vian, nampak termenung menatap wajah damai sang putra yang sudah terlelap.


Sebelah tangannya mengusap lembut gelang yang ada di pergelangan tangan Vian. Nita sendiri yang memasangkannya pada tangan bayi mungil itu. Nita merasa harus memastikan kalau gelang itu dipakai oleh baby Vi.


Vera sendiri kala itu tidak masalah. Sebab Nita dan Maura mengaku kalau mereka patungan untuk memesan gelang itu. Ya iyalah ngaku patungan, keduanya mana sanggup beli permata rubi yang mengapit inisial nama baby Vi. Bisa bangkrut mereka.


"Sudah tidurkah?" tanya Bryan yang muncul dari pintu kamar mandi.


Vera mengangguk.


"Sini biar sama Papa. Mama biar istirahat. Atau mau makan?" tanya Bryan.


Sungguh hati Vera merasa sangat dicintai oleh Bryan. Merasa diperhatikan. Dia benar-benar tidak ingin wanita lain merebut Bryan darinya. Termasuk Tania sahabatnya sendiri.


"Sayang, apa yang tadi aku lihat itu benar?" pada akhirnya Vera bertanya juga.


"Ya seperti itulah kejadiannya. Aku sendiri tidak menyangka jika Tania akan seperti itu" ucap Bryan tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Apa seorang Jayden Lee tidak cukup untuknya. Sampai dia harus menggodamu segala" balas Vera tidak habis pikir.


Bryan mengedikkan bahunya. Dia lebih suka Vera membangun kebenciannya sendiri pada Tania. Dia akan membiarkan Vera membangun benteng untuk menolak semua pembelaan yang nantinya akan Tania berikan.


Dia lebih suka melihat keduanya bertengkar dengan pikiran mereka sendiri. Bryan jelas sedang menggulirkan bola panas diantara dua sahabat itu. Merusaknya dengan hanya sedikit saja menambahkan sebuah salah paham. Dan membiarkan hal itu menggila dengan sendirinya. Bukankah itu sebuah kejahatan yang sempurna.


Bryan jelas dari awal tidak mengucapkan kalimat kalau Tania menggodanya. Vera sang istri yang langsung melontarkan tuduhan itu. Dan parahnya kondisi mereka sangat mendukung tuduhan itu. Bryan juga menggunakan rasa cemburu Vera untuk membuat istrinya itu tidak bisa menggunakan logikanya untuk berpikir.


Dan hasilnya sesuai dengan keinginan Bryan. Kedua sahabat itu saling bertengkar sesama sendiri. Senyum kemenangan jelas terukir di bibir Bryan. Kala pria itu menidurkan baby Vi di box bayi di samping Vera.


"Sayang..."


"Ya?" Vera meletakkan gelas yang baru saja dia minum airnya.


"Aku berpikir untuk pindah ke Australia. Ke rumah Papa"


"Alasannya?"


"Aku ingin menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Aku takut jika aku...kita tetap berada disini. Dia akan terus mengganggu kita" ucap Bryan selembut mungkin.


Dia ingin Vera berpikir kalau dirinya begitu concern, begitu menghargai pernikahan mereka. Padahal dia tidak ingin Tania dan yang lainnya mendekati Vera untuk menjelaskan duduk perkaranya. Bryan yakin kalau saat ini, lawannya itu sudah atau sedang mengumpulkan bukti kalau dia hanya memanipulasi keadaan.


Dia jelas ingat pesan dari wanita yang gagal menjebak Jayden dan Tania kala itu.


Pesan wanita itu sebelum dideportasi dan dicekal oleh Kaizo Aditya.


Dan Bryan merasa beruntung karena memiliki Vera dan Vian. Karena keduanya bisa menjadi tameng bagi Bryan. Mereka, terlebih Tania tidak akan tega melihat Vera dan Vian menderita. Bukankah keadaanpun seolah mendukung tindakan gila Bryan.


Vera terdiam sejenak. Berpikir soal ucapan Bryan. Vera melihat kesungguhan di mata Bryan. Hingga akhirnya dia mengangguk.


"Aku tidak masalah pergi kemanapun. Asalkan bersamamu dan Vian" jawab Vera.


Membuat Bryan benar-benar tersenyum penuh kemenangan.


"Terima kasih, Sayang. Sudah memahamiku" ucap Bryan lagi.


"Tapi bisakan setelah semua urusanku beres. Aku akan mundur dari pekerjaanku"


"Tentu saja. Hanya saja, aku takut kalau kamu bertemu Tania, dia akan mengucapkan sesuatu yang membuatmu ragu padaku" Bryan berujar sendu.


"Kamu jangan khawatir Sayang. Aku percaya padamu. Sangat percaya padamu. Apapun yang Tania katakan aku tidak akan mempercayainya" ucap Vera sambil memeluk tubuh suaminya.


"Terima kasih sudah percaya padaku" ucap Bryan sambil mengecup lembut puncak kepala Vera.

__ADS_1


"Habis kau kali ini Tania. Aku jamin. Vera tidak akan pernah mendengarkan ucapanmu" batin Bryan menyeringai penuh kemenangan.


****


Sementara itu, di apartement Jayden. Tania menangis sejadi-jadinya. Dia histeris. Tidak pernah dia bayangkan. Kalau Vera, sahabatnya sendiri. Orang yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri. Tega menuduhnya menggoda suaminya. Bahkan menyebutnya ja****.


"Apa aku semurahan itu?" teriaknya sambil memukuli dadanya sendiri. Hatinya terasa sakit. Dadanya begitu sesak. Lehernya terasa tercekik. Seolah bernafaspun susah untuk dilakukannya.


Jayden jelas kelabakan melihat sikap Tania. Dia berusaha menenangkan gadis itu. Tapi susah sekali. Gadis itu terus mengungkapkan rasa kecewanya.


"Baby, tenanglah. Kita akan mencari cara untuk bisa bicara pada Vera. Kita punya buktinya. Kamu memyentuh diapun tidak" Jayden berusaha bicara selembut mungkin.


"Bagaimana caranya? Kalau dia sebentar lagi akan ke Australia!" pekik Tania.


Membuat Jayden mendekap tubuh Tania. Berharap pelukannya bisa menenangkan Tania. Dan hal itu berhasil. Meski masih menangis tapi tidak sekeras tadi. Sejenak Jayden hanya membiarkan Tania menangis didadanya.


Hingga perlahan tangisan itu tinggal isakan satu dua yang tersisa. Tania masih memeluk erat tubuh Jayden. Begitupun sebaliknya.


"Lebih baik?" tanya Jayden setelah pelukan Tania sedikit mengendur.


Tania tidak menjawab. Perlahan Jayden membawa Tania untuk duduk di sofa. Masih dengan pelukan yang tidak terurai.


"Dengarkan aku. Jangan berpikir berlebihan dulu"


"Hanya sebatas inikah persahabatan kami. Dia hanya percaya pada apa yang dilihatnya tanpa mendengar penjelasanku. Memberiku kesempatan pun tidak" akhirnya Tania bicara.


"Itu berarti dia sama sekali tidak menganggapmu sebagai sahabat di hatinya"


Demi mendengar ucapan Jayden. Tania kembali terisak.


"Untuk apa kamu menangisi dia. Dia bahkan tidak memandangmu saat kamu menangis. Dia tidak peduli padamu. Hanya karena dia sudah punya suami dan anak. Ciiih, betapa menyedihkannya dia. Dengan bodohnya dia percaya pada suami brengseknya" maki Jayden.


"Kak...meski begitu dia sahabatku"


"Itu dulu, sekarang dia bukan lagi sahabatmu. Kalau dia memang menganggapmu sahabat. Dia tentunya tahu sifatmu. Dia tidak mungkin menuduhmu melakukan hal yang jelas-jelas tidak mungkin kamu lakukan" Jayden berujar.


Tania hanya diam meresapi ucapan Jayden. Mencerna setiap kata yang Jayden katakan.


"Lupakan dia" Jayden kembali berucap.


Membuat Tania langsung menatap wajah Jayden. Seolah tidak percaya dengan saran yang Jayden berikan.


****

__ADS_1


__ADS_2