
Tania mengerjapkan matanya pelan. Memindai keadaan sekelilingnya. Kemudian tersadar kalau dia berada di kamar Jayden. Kamar Jayden? Seketika wajah Tania merona.
Sejenak dia menengok ke sisi kanannya. Tidak ada. Perasaan tadi dia merebahkan Lia tepat disamping kanannya. Kenapa sekarang tidak ada. Apa mungkin gadis kecil itu sudah bangun. Kalau begitu aku juga harus segera bangun.
Namun dia baru saja akan bangun. Ketika dia merasakan sesuatu menimpa perutnya.
"Eh..." Tania menoleh seketika. Terkejut mendapati Jayden yang malah tidur dengannya. Bukannya Lia.
"Kenapa kamu tidur disini?" tanya Tania judes.
"Ha...sudah bangun. Kan ini kamarku" jawab Jayden masih terpejam.
Tania berusaha menyingkirkan tangan Jayden. Dia mulai hafal kebiasaan pria itu jika sudah seperti ini. Lihat sebentar lagi dia akan mulai berulah.
"Jayden Lee, bangun" Tania mulai gerah.
Malas terjerat dengan ulah Jayden yang tidak jauh-jauh dari kata mesum. Dan benar saja. Bukannya bangun. Pria yang tinggal memakai kaos oblongnya itu malah mengeratkan pelukannya pada perut rata Tania.
"Kamu menggodaku tadi pagi. Jadi kamu harus tanggungjawab"
"Menggoda apanya?" tanya Tania tidak ingat kejadian tadi pagi.
"Itu..." Jayden menunjuk dada Tania dengan ekor matanya.
"Ehhh..itu kan tidak sengaja" kilah Tania.
"Bomat. Sengaja atau tidak. Aku terlanjur melihatnya. Dan itu membuatku penasaran. Perasaan semakin besar saja. Padahal aku kan dulu memainkannya tidak lama"
Tania langsung menjewer telinga Jayden. Mendengar ucapan no filter dari Jayden. Untung Lia sudah bangun. Kalau tidak bisa terkontaminasi hal-hal yang aneh lagi anak itu.
"Kok dijewer sih. Kan benar. Berapa ukurannya sekarang"
"Eh, kok malah semakin tidak bisa dikondisikan sih tu bibir"
"Makanya kondisikan cepat" potong Jayden.
Tania melongo.
"Issh begini lo caranya" ucap Jayden lantas menyambar cepat bibir Tania. Merebahkan paksa tubuh Tania diatas kasur king sizenya.
Tania berusaha mendorong jauh dada Jayden. Agar tidak terlalu menghimpit dadanya sendiri. Bukannya berhenti. Jayden malah semakin liar menyatukan bibir mereka. Tania hampir kehabisan nafas akibat ulah Jayden. Dia terus saja berontak. Hingga tiba-tiba, satu teriakan membuat Jayden menghentikan aksinya.
"Lee Kae Kyung...astaga" ucap suara itu.
"Oh ******!!" Jayden memaki.
Detik berikutnya Jayden meringis kala telinganya dijewer sang mama.
"Aaaa ampun Ma...ampun...."
"Apa yang kau lakukan padanya ha?!" salak Sofia.
"Aduuhh Ma, nyicip doang" jawab Jayden di tengah ringisannya.
__ADS_1
Bisa dibayangkan betapa malunya wajah Tania. Dipergoki sedang berciuman dengan sang putra. Beeuuhhh malu sampai ke ubun-ubun. Ini kalau ada Harry Potter sudah minta mantra penghilang. Atau ber-Apparate ke mana gitu. Penting tidak ada di situ.
Atau tenggelam ke dasar samudera juga boleh. Malu..malu...mau ditaruh dimana wajah Tania.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Sofia menatap Tania.
"Orang belum diapa-apain juga" potong Jayden cepat.
"Diam kamu!" bentak Sofia.
"Kirain sudah tobat. Ternyata belum ya" sambung Sofia.
"Aku sudah benaran tobat Ma. Aku begitu cuma sama dia. Aduh Ma.. lepas nanti putus telinga aku" pinta Jayden.
"Biarin. Punya anak kok susah bener dibilangin" gerutu Sofia. Perlahan melepas jeweran di telinga Jayden.
"Astaga...Ma. Merah sekali. Orang nanti mengira kalau ini kissmark" ucap Jayden didepan cermin riasnya.
Sofia mendelik mendengar ucapan narsis putra bungsunya itu. Menepuk jidatnya pelan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Sofia lagi pada Tania.
"Dibilangin nggak. Tidak percaya. Belum juga masuk. Mama sih ganggu aja" gerutu Jayden. Yang langsung mendapat lemparan bantal dari Sofia.
"Itu mulut kalau ngomong ya"
Jayden mencebik kesal. Melangkah ke kamar mandi. Meninggalkan Sofia dan Tania.
"Maafkan putra Tante ya. Dia memang keterlaluan" ucap Sofia tulus.
"Iihh Mama sih nggak asyik" gerutu Jayden begitu turun dan bertemu sang mama didapur.
"Kamu tu ya. Nikahin dia dulu. Baru kamu ajak ***-***" sambar mamanya.
"Dianya yang nggak mau"
"Siapa juga yang mau sama kamu. Yang bekas wanita banyak. Sementara dia masih segelan" sarkas Sofia semakin menenggelamkan harga diri sang putra ke dasar bumi.
"Mama bukannya dukung Jayden malah menurunkan harga diri Jayden" ucap Jayden kesal.
"Lee Jae Kyung, ingat semua orang ingin mendapat yang terbaik untuk jadi pasangannya. Kamu pasti begitu. Dia juga begitu. Jadi jangan salahkan dia kalau dia begitu selektif dalam memilih. Apalagi kandidatnya kamu. Yang dulunya out of the track. Meski kamu bilang kalau kamu sudah berubah. Percaya deh sama Mama, itu tidak akan mudah baginya untuk percaya begitu saja padamu. Apalagi lihat kelakuan kamu yang seperti tadi. Wanita baik-baik jelas akan mikir seribu kali untuk menerimamu" ucap Sofia panjang kali lebar kali tinggi persis rumus luas balok persegi panjang.
Jayden tertegun mendengar ucapan mamanya.
"Tapi Jayden mau dia, Ma" rengek Jaydan frustrasi.
"Kalau begitu bersabarlah. Jangan melakukan hal-hal yang membuatnya illfeel padamu. Kamu tidak lihat apa, dia tadi hampir kehabisan nafas gara-gara kamu cium"
"Aduh Ma, nggak ada juga orang mati kehabisan nafas gara-gara ciuman" jawab Jayden yang langsung mendapat toyoran di kepalanya.
"Iih sakit Ma. Pulang salah. Nggak pulang salah. Lagian siapa sih Ma, yang tahan lihat bibir seksi begitu. Bawaannya minta di lum** sampai bengkak"
"Astaga, Lee Jae Kyung...."
__ADS_1
Sedang tersangkanya sudah kabur kembali ke kamarnya. Setelah meminum habis air putihnya. Sebenarnya itulah tujuannya kedapur. Namun malah bertemu mamanya yang auto ngomel, setelah melihat Jayden hampir meniduri anak gadis orang.
(Bukan hampir Ma, tapi sudah)
Tania tampak menggenggam erat ponselnya. Sebuah video baru saja masuk ke ponselnya. Disertai sebuah pesan yang membuat ulu hati Tania serasa ditikam pisau. Sakit dan juga kecewa.
"Kau tidak pantas untuknya. Karena kau hanyalah anak seorang pembunuh"
Kembali sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Tidak adakah kebahagiaan yang tersisa untukku" batin Tania perih.
***
Tania melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya. Tanpa memperdulikan teriakan Jayden. Untung keadaan rumah sepi. Karena biasanya jam segitu rumah itu sudah ramai karena kakaknya semua sudah pulang.
Merasa diabaikan. Jayden menyusul Tania ke kamarnya. Bahkan Jayden sampai harus mengganjal pintu kamar Tania dengan sepatunya. Karena gadis itu ingin menutup pintu kamarnya tanpa mengizinkan Jayden masuk.
"Kita harus bicara" ucap Jayden cepat.
Jayden merasa ada yang aneh dengan sikap Tania sejak dari rumahnya tadi.
"Apa lagi?" tanya Tania malas.
"Aku minta maaf jika kamu tidak suka dengan sikapku tadi. Aku....
"Tidak perlu dibahas" potong Tania cepat.
Jayden terperangah. Kenapa sikap Tania berubah begitu cepat.
"Satu lagi. Karena aku sudah disini. Aku akan melamarmu pada kakak dan kakekmu" ucap Jayden.
Tania membulatkan matanya. Tidak menyangka jika Jayden begitu serius dengan ucapannya. Ingin hati bersorak gembira. Tapi kenyataannya tidak. Pesan di ponselnya kembali terlintas di benaknya. Membuat Tania mengubur dalam-dalam impiannya.
Dia sadar kalau yang disampaikan pesan itu benar adanya. Ya, dia adalah anak seorang pembunuh. Mamanya melenyapkan mama kak Natasya-nya.
"Aku tidak mau menikah denganmu" ucap Tania pada akhirnya.
Sakit hatinya melihat reaksi Jayden yang seketika kecewa mendengar ucapannya.
"Beri aku satu alasan yang masuk akal kenapa kau menolak menikah denganku" ucap Jayden berusaha tenang. Dia biasa ditolak Tania. Tapi entah kenapa. Rasanya begitu sesak di dada kali ini.
Tania diam. Dia mana mungkin mengungkapkan alasannya. Karena tidak dipungkiri, kalau Tania mencintai Jayden.
"Dengarkan aku, kamu tidak perlu merasa bertanggungjawab dengan menikahiku karena kita pernah tidur bersama. Anggap saja itu sebuah kesalahan. Jadi jangan diungkit lagi" jawab Tania pada akhirnya.
Jayden langsung merasa frustrasi. Apa dirinya masih kurang dalam menunjukkan kalau dirinya begitu mencintai Tania. Bukan hanya karena mereka pernah tidur bersama. Tapi karena hal itu memang tulus dia rasakan dari hatinya.
"Dengarkan aku juga kalau begitu. Aku ingin menikahimu karena aku benar-benar mencintaimu. Bukan karena aku pernah tidur bersama denganmu. Bukan karena aku adalah pemilik kehormatanmu. Tapi karena aku tulus mencintaimu....
Praaaannnnggg,
Terdengar bunyi barang pecah dari pintu yang tidak tertutup sempurna. Membuat keduanya langsung menatap ke arah pintu.
__ADS_1
****