
"Ya..Ndri"
"..."
"Beneran sudah dapat?"
"..."
"Dekat rumah kamu? Baguslah"
"..."
"Tidak tahu"
"..."
"Aku akan menghubungimu lagi, nanti"
Tania menutup panggilan teleponnya. Lantas menarik nafasnya dalam. Menyandarkan tubuhnya di kursinya. Lantas memejamkan matanya.
"Kau memang ja****!"
Perkataan Vera masih terus terngiang di telinga Tania.
"Apa dia benar-benar berpikir aku serendah itu. Ooh aku perlu lari dari sini. Aku perlu tempat menenangkan diri" guman Tania.
Lantas mulai kembali mengerjakan pekerjaannya. Dia ingin menyeselaikan semuanya lantas pergi ke Giriloyo. Untuk belajar soal batik juga untuk menenangkan diri.
***
"Jika dia ingin menenangkan diri. Aku harap kau tidak mencegahnya" ucap Sean. Siang itu mereka bertiga menghabiskan waktu makan siang bersama.
"Maksudnya?"
"Aku kenal Tania. Dia mengalami pukulan telak dalam hidupnya. Bahkan mungkin ini lebih berat dari pada dia yang patah hati pada Kai. Biasanya kalau sudah begini...
"Dia akan kabur?"
Sean mengangguk.
"Mundur lagi dong jadwal gue buat nerkam tu cewek"
"Alah emang kamu nggak nyicil apa?" todong Sean.
"He..he.." Jayden menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Secara tidak langsung membenarkan ucapan Sean.
"Dasar mantan casanova. Mana betah lihat bodi semok gitu" cibir Sean.
"Alah kaya kalian enggak aja" Jayden membalikkan ucapan Sean.
Kini giliran Sean dan Rey yang menggaruk kepala mereka yang tidak gatal.
***
"Kak...."
"Hmmm"
Keduanya sudah berada di apartement Jayden. Lagi pria itu tidak mau mengantarkan Tania pulang ke apartementnya sendiri. Tania hampir kabur jika saja Jayden berjanji tidak akan aneh-aneh.
"Aku punya plan mau trip ke Yogja sebelum pernikahan kita" ucap Tania ragu memulai pembicaraan.
"Mau ku temani?" tawar Jayden.
"Emmm tidak. Aku tidak...
"Mau kabur lagi?" potong Jayden cepat.
"Enggaklah. Kalau aku kabur, aku tidak akan memberitahu Kakak kemana aku akan pergi" jawab Tania.
"Berapa lama?"
"Tidak tahu.."
Jayden menarik nafasnya dalam.
__ADS_1
"Digantung lagi" keluh Jayden.
"Maaf. Tapi aku janji kita akan menikah setelah aku pulang dari Yogya" ucap Tania yakin.
Hening sejenak. Keduanya sama-sama menghentikan kegiatan makan mereka.
"Kapan berangkat?" tanya Jayden pada akhirnya.
"Setelah semua urusan klien pentingku selesai" jawab Tania.
Hening lagi. Sampai mereka menyelesaikan makan malam mereka. Setelah makan malam itu. Tania bagian mencuci piring seperti biasa.
"Baby, kemarilah" panggil Jayden setelah dilihatnya Tania sudah selesai mencuci piringnya.
Tania perlahan duduk di samping Jayden. Yang seketika meraih sebuah kotak lalu membukanya.
"Aku mengizinkanmu pergi. Asal kamu berjanji akan pulang" ucap Jayden menatap dalam dua bola mata Tania.
Bola mata Tania langsung berkaca-kaca. Mendengar Jayden memberinya izin. Meski syaratnya terdengar begitu berat untuknya. Pasalnya dia tidak tahu kapan ia pulang.
"Tapi Kak aku tidak tahu kapan aku pulang...
"Berjanjilah. Aku adalah tempatmu pulang. Aku akan menunggumu" ucap Jayden sambil menyarungkan sebuah cincin yang begitu cantik di jari manis Tania.
"Kak ini...."
"Aku mengikatmu. Jika kamu masih mencari rumah untuk tempatmu pulang. Hatiku adalah rumah yang kau cari" ucap Jayden. Mencium lembut kening Tania.
Bisa Tania rasakan. Besarnya rasa cinta yang Jayden punya untuknya.
"Pergilah ke sana. Tenangkan dirimu. Sembuhkan lukamu. Lalu hempaskan dia ke dasar laut. Lupakan dia. Dan kembalilah dengan tersenyum"
"Kak...." airmata mulai mengalir di pipi Tania.
"Aku mencintaimu, Tania Adelia" ucap Jayden kembali menatap wajah Tania.
Sesaat keduanya terdiam. Hingga perlahan, Jayden mendekatkan wajahnya ke wajah Tania. Mencium lembut bibir Tania. Tania sesaat terkejut. Namun detik berikutnya, gadis itu memejamkan matanya. Lantas mulai membalas ciuman dari Jayden.
***
Mereka sudah ada di depan lobi apartemen Jayden. Pria itu tampak menyeret sebuah koper sedang milik Tania. Dia pikir tadinya Tania akan dihantar supir.
"Yakinlah. Jangan khawatir aku gak akan nyemplung ke kali lagi" ucapnya sambil nyengir ke arah Sean.
"Masih ingat kamu?" tanya Sean.
"Masihlah" jawab Tania.
"Koper sudah masuk. Ada yang lain?" Rey melapor.
Tania menggeleng.
Kemudian dia berbalik. Nita dan Maura memeluk Tania bersamaan. Keduanya menangis.
"Kok nangis. Aku nggak lama kok. Lagian aku pasti pulang" ucap Tania.
"Kapan?"
"Itu belum tahu" cengir Tania.
"Dasar menyebalkan!" maki Sean.
"Jaga diri dan juga istri-istri kalian" pesan Tania pada Sean dan Rey. Rey mengangguk.
Sedang Sean langsung memeluk Tania.
"Jaga dirimu juga. Ingat kami tidak ada disana"
"Jangan khawatir. Aku punya teman disana. Mereka yang akan menemaniku"
"Siapa temanmu?" tanya Jayden sambil memicingkan mata. Pasalnya Tania tidak pernah mengatakan kalau dia punya teman di sana.
"Namanya Andri. Dia dan istrinya yang akan menemaniku"
Jayden menatap tajam pada Tania.
__ADS_1
"Oh ayolah. Aku tidak akan macam-macam disana" Tania memeluk tubuh Jayden. Membuat pria itu mengulum senyumnya.
"Dasar bucin!" teriak Sean.
"Alah kayak kalian enggak aja" balas Jayden.
Sementara Rey hanya bisa ikut tersenyum.
"Awas kalau macam-macam. Aku jemput paksa kamu" ancam Jayden.
"Siap pak Bos" jawab Tania santai.
"Aku pergi dulu ya. Tunggu aku pulang" ucap Tania saat gadis itu sudah duduk dibelakang kemudinya.
"Jangan lama-lama. Kasihan tu si bujang lapuk" seloroh Sean.
Jayden manyun mendengar ledekan Sean.
"Yang itu no promises" cengir Tania.
Mesin mulai dihidupkan. Saat mobil itu hendak melaju. Tiba-tiba Jayden mendekat ke jendela mobil Tania yang masih terbuka penuh. Dengan cepat pria itu meraih tengkuk Tania lantas mencium lembut bibir Tania. Beberapa saat keduanya larut dalam ciuman mereka.
Mengabaikan pelototan empat pasang mata yang menatap horor pada pemandangan panas dihadapan mereka.
"Ingat, aku menunggumu" ucap Jayden setelah mengurai ciumannya.
Tania mengangguk.
"Aku pasti pulang" jawab Tania.
Lantas mulai melajukan mobilnya. Memasuki jalan raya. Menuju ke arah kota Gudeg, Yogyakarta.
"Beuuuhh, panasnya disini" sindir Sean.
"Iri bilang bos" balas Jayden.
"Buat apa iri. Orang kita melakukan lebih dari sekedar ciuman. Benar tidak Sayang" Sean balik membalas.
Jayden tidak menggubris ucapan Sean. Prja itu berlalu masuk ke lobi apartementnya. Diikuti Rey dan Maura.
"Kami langsung pulang kalau begitu" teriak Sean yang hanya dibalas lambaian tangan Jayden.
"Sialan!" maki Sean merasa diabaikan oleh Jayden.
Jayden jelas merasa resah. Dia tidak tahu kapan gadisnya itu pulang. Juga karena dia belum sepenuhnya yakin telah memiliki hati Tania sepenuhnya. Meski Tania tidak pernah menolak apapun yang Jayden lakukan atau berikan.
Tapi gadis itu tidak pernah melontarkan kalimat sakral dari bibirnya. Bahkan ketika Jayden sudah memulainya lebih dulu. Tania hanya diam atau sekedar ber-emmm ria. Walau Jayden tidak menampik kalau bahasa tubuh Tania menunjukkan kalau dirinya juga merasakan hal sama dengan Jayden.
Rasa cinta, rasa rindu, rasa memiliki. Semua rasa itu tercermin dalam bahasa tubuh Tania. Tapi entahlah, kata cinta sepertinya sangat mahal untuk terucap dari bibir Tania.
Jayden menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia mendesah kesal. Berapa lama dia akan menjalani kesendirian ini. Baru kemarin, apartemennya ini serasa hidup dengan teriakan dan protes Tania yang tidak suka dengan kebiasaan Jayden yang ternyata tidak seklimis penampilannya di luar rumah. Aslinya ternyata berantakan dan sakarepe dhewe alias sesuka hatinya.
Tiiingg,
Satu pesan masuk. Jayden membukanya. Lantas membacanya. Detik berikutnya, ponsel itu sudah terlempar ke sudut kursi sofa.
"Sialan!" umpat Jayden. Sambil meraup kasar wajahnya.
Ponsel itu masih menyala. Hingga pesan yang masuk itu masih terbaca dengan jelas.
"Selamat berhibernasi"
Tulis pesan itu.
"Kau pikir aku beruang kutub apa. Awas kau Sean Huang....!" teriak Jayden menggelegar di apartementnya sendiri.
Sementara ditempat lain. Sean langsung tertawa cekakakan. Puas bisa mengerjai Jayden. Meski dia tahu. Besok dia harus bersiap. Karena Jayden pasti akan menghajarnya. Atau setidaknya memakinya. Tapi whatever, yang penting dia bahagia sekarang. Besok, ya urus saja besok.
***
Kredit Instagram.com
Babang Jayden yang otewe hibernasi kaya beruang kutub 🤣🤣🤣
__ADS_1
****