
Tania tertawa terbahak-bahak melihat Jayden keluar dari kamar mandi dengan wajah kesal sekaligus lega.
"Lega, Pak?" ledek Tania.
"Lebih enak kalau tembak didalam. Awas ya kamu. Begitu aku menikahimu. Jangan harap kamu bisa keluar dari kamarku" ancam Jayden.
"Ya, ya aku tunggu hari itu"
"Kamu jangan menantangku ya"
"Tidak kok. Hanya saja let see and can't wait for that day" bisik Tania.
"Kamu menggodaku?" tanya Jayden sensual.
"Tidak kok" jawab Tania.
"Tapi sepertinya iya" ucap Jayden semakin mendekat ke arah Tania.
"Eehh...eehh kakak mau ngapain lagi. Nanti kakak harus main sama sabun lagi lo" Tania memperingatkan.
"Aku tidak peduli"
Detik berikutnya Jayden kembali menyerang Tania.
***
"Jadi bagaimana prosesnya sejauh ini" tanya Sean.
Yang melaporkan mama Bryan adalah Jayden. Dengan alasan ada beberapa kontrak yang dilanggar oleh agensi Bryan.
"Mereka akan menangkap mama Bryan hari ini. Aku rasa mama Bryan pun hanya dimanfaatkan saja" ucap Jayden sambil menyesap kopinya.
"Maksudmu?" tanya Sean.
"Semua uang itu masuk ke rekening Michael. Kekasih brondongnya" jelas Jayden.
"Diporotin?"
"Lebih kurang seperti itu. Maklum Micheal selalu bisa memuaskan mama Bryan. Jadi wajar kalau mama Bryan selalu memberikan apa yang Michael mau"
"Tapi bukannya brondongnya mama Bryan nggak cuma Michael doang?"
"Iya sih. Koleksinya banyak banget. Tinggal pilih. Tinggal make" celetuk Bryan.
"Elu kate baju. Tinggal pilih. Tinggal make" Sean heran dengan istilah yang dipakai Jayden.
"Tapi hanya Michael saja yang jadi favoritnya"
Jayden berdiri dari duduknya. Berjalan menuju ke jendela. Lantas berbalik menghadap Sean sambil melipat tangannya.
Kredit Instagram@wuli_eunwoo
"Selain itu. Nama Bryan memang bersih. Dalam akta pendirian agensi itu. Nama Bryan hanya sebagai pengelola. Kepemilikannya atas nama mamanya Bryan" ucap Jayden.
"Wah bagus itu. Jadi setidaknya Bryan tidak akan terseret terlalu jauh dalam kasus ini. Paling banter juga jadi saksi" analisa Sean.
"Kamu benar. Namanya tidak akan terlalu buruk"
Sean mengangguk.
"Maaf Pak Bos. Ada berita penting" lapor Rey tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Jayden.
"Itu...mamanya pak Bryan melarikan diri saat mau ditangkap" lapor Rey.
"Maksudmu?" tanya Jayden.
"Dia kabur saat polisi mendatangi rumahnya"
"Lalu Michael?"
"Dia berhasil ditangkap di apartement. Dan dia ditangkap saat lagi begituan" lapor Rey sedikit ragu.
"Maksudmu?" Sean menunjukkan kode bercin..ta dengan jarinya.
"Alah ngomong aja lagi bercin..ta. Kayak kita gak pernah ngelakuin saja" ucap Jayden gemas.
"Itu kamu. Aku belum" ucap Sean.
__ADS_1
"Saya juga belum pak Bos" jawab Rey juga.
"Belum sepuluh kali" celetuk Jayden.
"Hey, kami tidak seperti elu"
"Maksudmu apa?"
"Kami anak baik-baik. Betul nggak Rey" ucap Sean meminta persetujuan Rey"
Dan Rey langsung mengangguk.
"Dasar asisten durhakim. Malah ikut memojokkan bosnya. Mau kamu tak potong gajinya" ucap Jayden pedas.
"Aduh jangan deh pak Bos. Buat modal nikah ma Maura. Iya deh, pak Bos yang sudah tobat. Sudah jadi anak baik" akhirnya Rey mengalah. Daripada kelangsungan gajinya terancam.
"Dasar asisten tidak punya pendirian" gerutu Sean.
"Bukan tidak punya pendirian. Tapi menjaga kelangsungan gaji" bisik Rey di telinga Sean.
Membuat Sean semakin mengerucutkan bibirnya. Sedang Jayden tersenyum miring sambil menaikkan alisnya. Meledek Sean.
"Casanova tobat" umpat Sean.
Tiba-tiba pintu terbuka. Masuklah Bryan.
"Kenapa tu muka?" tanya Jayden.
"Biasa. Pasti diusir Vera lagi" tebak Sean.
Bryan menghempaskan tubuhnya di sofa. Mendudukkan dirinya di depan Sean dan Jayden. Menarik nafasnya dalam. Menyandarkan tubuhnya ke sofa. Lalu memejamkan matanya.
"Rey, ambilkan whieskey" ucap Bryan.
Rey menatap Bryan. Lalu menatap bosnya.
"Enak saja elu main perintah di kantor gue" gerutu Jayden.
"Gue lagi frustrasi berat, Bro. Mak gue ditangkap. Vera kekeuh belum mau maafin gue" ratap pria itu.
Mereka menatap iba pada Bryan.
"Eh gue juga cuma manusia biasa" potong Bryan cepat.
Ketiganya saling tatap. Tiba-tiba ponsel Jayden berbunyi.
"Iya pak Komandan" sapa Jayden.
Ketiga orang lainnya langsung memasang wajah waspada.
"Kami akan segera ke sana. Dan kebetulan Bryan Aditama sedang bersama kami. Kami akan ke sana sekarang juga"
"Ada apa?" tanya Sean setelah Jayden menutup panggilannya.
"Ternyata ini lebih serius dari yang kita duga" ucap Jayden sambil berdiri dari duduknya.
Keempatnya saling pandang.
"Aku jelaskan dalam perjalanan. Dan elu...(tunjuk Jayden pada Bryan) kayaknya nama elu akan terseret dalam kasus ini" ucap Jayden lagi.
Dan pria bertubuh tinggi besar itu melangkah keluar dari ruangannya. Diikuti tiga pria yang tidak kalah postur tubuhnya dari Jayden.
Membuat para staf di kantor Jayden serasa cuci mata. Melihat wajah bening dan rupawan melintas di depan mereka.
***
"Are you serious?" tanya Sean.
Jayden mengangguk.
"Dan parahnya ada tandatangan elu dalam berkas persetujuan penerimaan mereka sebagai model di agensi elu"
Bryan terdiam.
"Tapi gue nggak merasa...ah si**. Pasti mereka memalsukan umur asli mereka. Soalnya gue selalu mengecek berkas-berkas model yang masuk ke agensi gue" Bryan mengingat detail pekerjaannya.
"Ya sebaiknya elu bekerjasama sama pihak kepolisian" Jayden memberi saran.
"Lah emang gue mau lari kemana" jawab Bryan.
***
__ADS_1
Bryan melongo sekaligus terkejut dan juga marah. Bagaimana tidak. Mamanya menggunakan agensinya untuk merekrut model dibawah umur. Dan mempekerjakan mereka.
Michael diduga sebagai dalang dari semua ini. Sebab Michael sendiri yang mengakui kalau perekrutan model dibawah umur itu adalah idenya. Kemudian dia menggunakan nama mamanya Bryan, dengan statusnya sebagai pemilik agensi,untuk melancarkan aksinya.
Dan kejahatan itu mulai melibatkan unit kejahatan untuk anak dibawah umur karena beberapa model mengakui pernah mengalami pelecehan sek**** yang dilakukan oleh Michael.
"Beeuuuuh semakin panas saja kasus ini" seru Sean.
Ketiganya tengah menunggu Bryan yang hari itu juga langsung dimintai keterangan sebagai saksi dalam kasus itu.
"Tu orang otaknya kriminal campur mesum ya" oceh Sean lagi.
"Asal nggak kecampuran gangguan jiwa saja. Kalau sampai ada indikasi gangguan jiwa bisa tambah ribet urusannya. Bisa-bisa dia cuma dimasukin ke RSJ bukan ke penjara" sahut Jayden.
"Gue jamin dia sehat wal andong. Kalau otaknya gila bagaimana bisa dia berpikir untuk melakukan kejahatan yang wow...otak bisnis gue aja sampe mikir kesana"
"Tapi tuan Sean kadang orang seperti itu malah banyak gilanya daripada warasnya" Rey ikut berpendapat.
"Betul itu Rey. Kan banyak tu penjahat yang sadis-sadis itu ternyata punya gangguan jiwa" Jayden berpendapat.
"Well, semoga saja dia bisa diproses sesuai hukum yang berlaku di negara ini" ucap Jayden pada akhirnya setelah hening beberapa saat.
"Pengacaramu sudah menyiapkan semuanya?" tanya Sean.
"Kata Rey jika semua berkasnya siap bisa langsung naik sidang"
"Bagus kalau begitu" ucap Sean.
Kredit Instagram@huangjunjie_fc
Sean Huang ya guys
Tak berapa lama Bryan keluar dari ruang penyidikan sekaligus interogasi. Hampir tiga jam dia didalam sana.
"Bagaiamana?" tanya ketiganya hampir bersamaan.
"Parah. Dugaan awal dia punya kelainan sek****. Tapi itu cuma hiper sek****. Jadi tidak akan menghalangi proses hukum" ucap Bryan.
Pria itu terlihat lelah. Tiga jam dimintai keterangan pihak berwajib. Siapa juga yang tidak lelah.
Kredit google.com.
Bryan Aditama ya guys
"Pantas saja celup sana celup sini tidak ada puasnya. Ternyata elu pelihara ular dikantor elu" celetuk Sean.
"Ada ya yang kayak gitu" Rey tiba-tiba saja ikut nimbrung.
"Adalah. Kalau nggak ada nggak komplit dunia" sahut Sean.
"Bisa aja elu ngomongnya" ucap Jayden sambil menoyor kepala Sean.
"Iiihh jangan gitu napa. Ntar gesrek lagi otak gue. Belum juga kewong" jawab Sean asal.
Membuat Jayden ingin kembali menoyor kembali kepala Sean. Tapi urung. Karena Rey keburu menyenggol lengan Jayden.
Keduanya langsung menoleh. Mengikuti arah pandangan Rey. Mereka melihat Bryan yang nampak termenung. Setengah melamun.
"Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja" hibur Jayden.
"Gue oke. Hanya saja banyak banget hal yang lepas dari pengawasan gue" lirih Bryan.
"Ini bisa jadi pembelajaran buat elu. Biar elu bisa lebih baik" ucap Sean kali.
"Semangat mas Bryan" Rey ikut menyemangati.
"Balik yuk"
"Makan dulu. Lapar gue" ucap Bryan.
Membuat yang lain saling tatap.
"Plan A lagi" ucap Jayden dan Sean bersamaan.
Sedang Bryan langsung memasang tampang kesalnya. Alamat dia kena rampok lagi.
***
__ADS_1