
Tania hanya bisa diam ketika Jayden menyeret dirinya. Masuk ke mobil pria itu. Lantas meninggalkan venue pernikahan Sean dan Nita. Setelah lebih dulu mengirim pesan pada Rey.
Membuat Rey langsung tertawa membaca pesan dari bosnya. Sejurus kemudian dia melesat naik ke pelaminan. Berbisik pada Sean. Yang juga langsung tertawa terbahak-bahak.
"Ada juga yang seperti itu" Sean berkomentar.
"Biarkan sajalah yang penting mereka baik-baik saja" tambah Sean lagi, yang hanya diacungi jempol oleh Rey.
Tania kembali mengerutkan dahinya ketika mobil Jayden masuk ke basement sebuah mall paling dekat dengan venue pernikahan Sean dan Nita.
"Mau ngapain?"
"Diamlah. Tunggu aku sepuluh menit. Jangan pergi. Awas kalau kamu pergi" ancam Jayden.
Pria itu keluar dari mobilnya. Mengancingkan jasnya rapat-rapat. Lantas melangkah masuk ke dalam mall. Sementara Tania hanya bengong ditinggal sendiri didalam mobil Jayden. Di basement lagi.
Dan sepuluh menit kemudian pria itu benar-benar kembali. Namun dengan pakaian berbeda. Terutama celananya. Sementara atasannya, Jayden hanya membuang jasnya. Menyisakan kemeja putihnya. Lebih mengherankan lagi pria itu sekarang memakai masker.
Kredit Instagram @actor_eunwoo
Melemparkan sebuah peperbag ke jok belakang mobilnya.
"Okay, sekarang sudah beres. Kamu sekarang mau kemana?"
"Apanya yang beres?" tanya Tania penasaran kenapa Jayden mengganti pakaiannya.
"Celanaku yang kotor sudah aku ganti" Jayden menjawab.
Tania mengerutkan dahinya.
"Kotor kenapa?"
"Kotor kena calon anakku yang gagal aku tanamlah" jawab Jayden gemas.
"Ha...." Tania melongo.
"Jadi kamu tadi bisa kli...maks hanya dengan ciuman?" tanya Tania tidak percaya.
"Oh come Baby. Aku menahannya begitu lama. Begitu kamu merespon dia juga merespon" jawab Jayden menatap tajam pada Tania.
"Tapi apa kamu..." Tania menggantung ucapannya.
"Apa...kamu meragukan staminaku. Aku bisa menghajarmu sampai pagi kalau aku mau. Mau bukti?" tantang Jayden.
"Ahh tidak...tidak" jawab Tania memundurkan tubuhnya karena Jayden mulai merangsek maju.
"Kalau kau berkata iya. Kita naik, check in sekarang. Lalu kita bisa bertanding dengan Sean malam ini" ucap Jayden sambil menyeringai.
"Tidak perlu..tidak perlu"
"Lalu sekarang?"
"Aku mau makan. Aku tadi belum makan di sana"
"Aku juga belum makan. Tapi bagiku asal bersamamu. Aku punya sesuatu yang bisa aku makan"
"Apa itu?"
"Dirimu"
Ucap Jayden lantas meraih tengkuk Tania. Melahap bibir berlipstick pink itu. Serangan Jayden yang tiba-tiba jelas membuat Tania gelagapan.
"Tidak masalah jika puncak itu datang lagi. Aku sudah beli celana ganti banyak di bagasi" batin Jayden tersenyum tipis.
Lantas kembali memulai french kiss mereka. Dengan Tania yang kembali terpancing membalas semua ciuman panas dari Jayden.
"Kau benar-benar membuatku gila By" ucap Jayden mengusap bibir Tania yang basah akibat pertukaran saliva mereka. Nafas Tania masih terengah- engah. Dengan wajah yang memerah. Membuat Jayden semakin gemas ingin menerkam lagi bibir Tania.
__ADS_1
"Cukup Kak. Kau bisa benar-benar membunuhku" sungut Tania.
Membuat Jayden terkekeh.
"Baik kita lanjutkan nanti diapartement. Sekarang makan dulu. Ayo" ucap Jayden keluar dari mobilnya. Menunggu Tania keluar dari mobilnya.
Mereka masuk ke mall itu sambil bergandengan tangan. Jayden menautkan jari-jari besarnya ke jari mungil Tania. Begitu erat, seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
"Kita makan western mau?"
Tania mengangguk. Memasuki sebuah restoran western food. Memilih ruang VIP yang menghadap ke jalan raya. Tidak lama menunggu. Pesanan keduanya datang. Tania nampak sumringah menatap menu Chicken Parmigiana-nya.
Kredit Google.com
Sedangkan Jayden tetap dengan wajah datarnya saat ada orang lain. Membiarkan pelayan itu meletakkan Chicken Cordon Bleu pesanannya.
Kredit Google.com
Namun mata Jayden langsung melebar ketika satu porsi red velvet turut dihidangkan didepannya. Eh salah, bukan satu slice ya, tapi satu porsi ukuran besar.
Kredit Google.com
"Kamu yang pesan?" tanya Jayden.
Tania mengangguk antusias sambil memulai memakan chicken parmigiana-nya.
"Harus habis" ancam Jayden. Mulai ikut memakan chicken cordon bleu-nya.
"Enak sekali" puji Tania di sela-sela acara makannya.
"Kakak tidak bisa memasaknya?" tanya Tania.
"Kenapa?"
"Tidak ada"
"Kamu menyukainya? Aku bisa belajar resepnya" ucap Jayden.
"Benarkah? Tapi Kakak kan sibuk"
"Kalau aku sibuk ya kita makan disini saja. Gampang kan"
Tania mengangguk. Mulai menyantap red velvetnya.
"Kalau dessert jangan tanya. Nina yang pandai" ucap Jayden.
"Jangan khawatir.Aku tahu dessert itu susah buatnya. Apalagi ini. Beeuuhh ribet. Jadi beli saja kalau pengen"
***
Pada akhirnya Jayden memaksa Tania untuk ikut ke apartementnya.
"Tidak mau. Nanti bakal ada part aneh-aneh kalau aku disana"
"Part aneh apa?"
"Pokoknya tidak mau. Antar aku pulang"
"Rumahmu disini" Jayden menarik tubuh Tania keluar dari mobil. Langsung masuk ke lift. Gadis itu merengut menatap Jayden.
"Kenapa juga aku mau diseret pria mesum ini. Duh, aku jelas tidak bisa menolak jika dia sudah mulai menciumku" batin Tania frustrasi.
Jayden membawa tiga kantong paper bag di dua tangannya. Dua berasal dari pria itu setelah kembali dari mengganti bajunya. Satu lagi berisi red velvet yang nyatanya Tania hanya mampu menghabiskan dua slice saja.
__ADS_1
"Masuk" pinta Jayden.
Tania melangkah masuk dengan enggan.
"Tidak ingin mengganti baju?" tanya Jayden menaikkan satu alisnya.
Sedang Tania mengerutkan dahinya. Mendengar pertanyaan Jayden.
"Maksud Kakak?"
"Tank top dan hot pants. Bukannya itu favoritmu kalau dirumah" goda Jayden.
Membuat Tania langsung memundurkan langkahnya. Sambil menutupi dadanya.
"Mesuumm!"
"Ayolah By, di sini aku saja yang masih single. Bahkan Maura sudah tinggal dengan Rey disebelah" keluh Jayden.
"Maura ada di sebelah? Boleh main dong ke sebelah"
"Tidak boleh. Mereka sedang sibuk"
"Sibuk apa? Ini kan masih siang" seolah tahu ke arah mana pembicaraan Jayden.
"Pengantin baru, tidak peduli siang, sore, pagi, malam. Ada kesempatan langsung gas pol" ucap Jayden.
Membuat Tania tertawa terpingkal-pingkal.
"Kayak iklan Yamaha ya, yang ada tagline los gas pol" ucap Tania terkekeh.
Sedang Jayden langsung memanyunkan bibirnya. Masuk ke dalam kamarnya. Bermaksud untuk mandi.
"Tadi maksa suruh ikut ke sini. Sampai disini malah dicuekin" gerutu Tania.
Melangkah ke arah jendela kaca. Diruang tengah milik Jayden. Sejenak menikmati pemandangan kota Surabaya dari apartemen milik Jayden.
Hingga tak berapa lama. Sepasang tangan memeluk erat tubuhnya dari arah belakang. Sejenak Tania memejamkan matanya. Menikmati aroma khas tubuh Jayden. Begitupun Jayden. Pria itu kembali meletakkan kepalanya dibahu Tania.
Mengendus aroma mawar lembut milik Tania. Sesaat kemudian, Tania berusaha melepaskan belitan tangan Jayden di perutnya. Karena perlahan dia sadar, pria itu tidak memakai baju. Sebab dada bidang Jayden menempel ketat di punggungnya.
"Kak...."
Tania berusaha mengurai jarak diantara tubuh mereka. Namun Jayden tetap tidak bergerak.
"Mari menikah" ucap Jayden.
Entah untuk yang ke berapa kalinya. Kalimat itu terlontar dari bibir Jayden. Sebenarnya dia hanya asal berucap. Tidak berharap akan mendapat jawaban sesuai seperti keinginannya.
Hening sesaat. Hanya terdengar hembusan nafas masing-masing. Hingga akhirnya, suara Tania memecah keheningan di antara mereka.
"Baik, mari menikah" ucap Tania pelan, namun terdengar jelas di telinga Jayden.
Sesaat Jayden terdiam. Tidak bisa mencerna ucapan Tania. Hingga kemudian dia membulatkan matanya, tidak percaya.
"Apa kamu tadi bilang "iya"? tanya Jayden.
Tania mengangguk. Jayden dengan cepat membalikkan tubuh Tania menghadap dirinya.
"Aku tidak salah dengar kan?"
"Tidak. Aku bilang. Iya, mari menikah"
Jayden langsung bersorak gembira. Mengangkat tubuh Tania. Meluapkan seluruh kebahagiaan dalam hatinya.
"Finally, akhirnya kamu berkata iya. Oh my, aku sangat bahagia" ucap Jayden keras, hampir berteriak.
Pada akhirnya, Jayden menghujani seluruh wajah Tania dengan ciuman. Dan berakhir dengan sebuah ciuman hangat di bibir gadis itu.
****
__ADS_1