
Tania melongo mendengar jawaban Jayden.
"Maksud Anda apa ya?"
"Aku cemburu. Apa masih kurang jelas. Aku tidak suka kamu berdekatan dengan pria manapun" tegas Jayden.
"Dia teman saya. Bukan pria manapun"
"Kamu tahu. Teman antara pria dan wanita itu bullsyit. Tidak ada yang seperti itu. Salah satu pasti punya perasaan lebih dari sekedar teman" ucap Jayden.
"Memang benar sih. Sean pernah terang-terangan bilang menyukaiku" batin Tania.
"Kenapa diam? Yang aku katakan benar kan? Yang kulihat jelas dia punya perasaan lebih padamu. Benar tidak?"
Tania hanya diam. Dia tidak berani berkata apa-apa. Salah bicara. Bisa-bisa Sean dihajar pria ini.
"Jangan temui dia lagi" ucap Jayden melunak.
"Kenapa kamu melarangku bertemu Sean. Salah Sean apa?"
"Berani menjawab ya? Tentu saja karena aku tidak suka kamu dekat denganya" ucap Jayden. Suaranya kembali meninggi.
"Apa hak Anda melarang pertemanan saya. Saya akan tetap menemui Sean. Dia teman baik saya"
"Aku bilang tidak boleh"
Tania hanya diam menatap Jayden. Matanya mulai berkaca-kaca. Membuat Jayden terkesiap. Dia sadar sudah bersikap keterlaluan untuk orang yang baru kenal.
"Tania...maaf aku tidak bermaksud membentakmu" ucap Jayden perlahan mendekat ke arah Tania. Ingin meraih tangan Tania. Tapi gadis itu menepisnya.
"Kamu tidak tahu apa-apa soal hidupku. Kamu tidak tahu apa yang sudah aku alami. Kamu tahu, hanya Vera dan Sean yang aku punya, ketika aku putus asa dengan hidupku. Hanya mereka yang aku punya, ketika aku hampir memilih kematian sebagai pilihanku. Kau? Kau siapa? Tiba-tiba datang padaku. Mengatakan tidak boleh ini. Tidak boleh itu. Siapa kau?" teriak Tania menggelegar di studio itu. Air mata bercucuran di wajah Tania.
Jayden jelas terkejut. Baru tahu jika Tania begitu sensitif. Melihat Tania menangis. Entah mengapa hati Jayden terasa sakit.
"Tania...Tania maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu padamu. Maafkan aku..aku..cemburu padanya"
Tania mendengus kesal. Dengan cepat dia menghapus air matanya.
"Keluar!"
"Tidak mau!"
"Aku bilang keluar!" teriak Tania tanpa sadar tangannya bergerak di atas meja. Dimana ratusan jarum pentul berada di atas sebuah kotak. Dan detik berikutnya, Tania meringis tatkala beberapa jarum pentul melukai jarinya.
"Aahhh!"
Jayden dengan cepat meraih jemari Tania. Tiga jarum pentul menusuk jemari gadis itu. Perlahan Jayden mencabut jarum pentul itu. Begitu jarum itu tercabut. Darah mengalir dengan deras. Meski lukanya kecil.
"Rey!" pekik Jayden.
Rey yang berada di luar ruangan. Langsung melesat masuk. Dia sedikit heran melihat bos singanya tampak menghi*** ujung jari telunjuk Tania.
"Carikan P3K" perintah Jayden.
__ADS_1
Rey dengan cepat keluar lagi. Tak lama masuk lagi. Membawa kotak P3K. Juga Sean yang ikut masuk.
"Apa yang kamu lakukan padanya? Kamu melukainya?" tanya Sean berapi-berapi.
Melihat darah nampak di tangan Tania. Sedang Tania hanya diam saja. Tatapan matanya kosong.
"Diamlah!" hardik Jayden.
Perlahan pria itu membersihkan jemari Tania dengan alkohol. Lalu memasang plester.
"Istirahatlah dulu. Aku minta maaf" ucap Jayden lembut.
Sean jelas melongo melihat itu.
"Tania bilang mereka tidak ada hubungan selain bisnis. Tapi kenapa pria ini begitu perhatian pada Tania. Sikapnya terlihat begitu manis. Apa dia jatuh cinta pada Tania? Pria ini...aku harus menyelidikinya" batin Sean.
"Keluar. Aku ingin bekerja" ucap Tania tegas.
"Tapi Tania jarimu terluka"
"Aku masih punya jari yang lainnya. Keluar!" perintah Tania.
Jayden ingin membantah. Tapi Sean menepuk bahunya. Mata Jayden menatap Sean tajam. Seolah ingin mencabik-cabik Sean.
"Apa kau mencintainya?" tanya Sean.
Setelah mereka keluar dari studio itu. Membiarkan Tania sendiri. Gadis kembali mengerjakan gaun milik Jayden Lee.
"Bukan urusanmu!" jawab Jayden ketus.
Yang tertegun mendengar ucapan Sean. Sesaat Jayden mengintip ke dalam studio. Tania tampak serius bekerja. Tapi dia tahu gadis itu masih menangis.
"Luka apa yang kamu pendam? Sebesar apa lukamu hingga aku nyaris tidak bisa melihat kebahagiaan di matamu" batin Jayden.
***
"Lee Jae Kyung aka Jayden Lee. Dua puluh delapan tahun. Lahir dan besar di Korea. Putra dari pengusaha Lee Jae Ha dan Sofia, seorang wanita asal Yogyakarta. Baru dua tahun ini dia kembali ke Indonesia. Enam bulan lalu dia pindah ke sini. Mengurus majalah fashion miliknya. Dia memiliki saudara kembar yang identik dengannya, Lee Joon. Yang sudah menikah dan mempunyai anak kembar. Sepasang, bernama Lee Hyun Ae dan Kalyca Thalia"
Sebaris informasi yang dia dapat soal Jayden Lee.
"Dia punya saudara kembar. Identik lagi"
Perlahan Sean googling. Mencari wajah Lee Joon dan Jayden Lee.
"Astaga benar-benar mirip" guman Sean menatap dua foto di layar laptopnya.
"Ini kalau orang tidak tahu bisa salah paham"
"Halo, Kak? Sibukkah?"
"Tidak juga. Ada apa?"
"Apa Kakak tahu, kalau sebelumnya Tania pernah bertemu dengan Jayden Lee. Saudara kembar dari Lee Joon. Dari LJ GROUP"
__ADS_1
"Tidak. Yang aku tahu mereka tidak punya hubungan dan tidak pernah bertemu. Kenapa?"
"Mereka bertemu di sini. Dan mereka terlihat seperti pernah bertemu sebelumnya. Atau bahkan punya hubungan"
"Aku tidak tahu soal itu. Setahuku Fanny tidak punya teman pria yang dekat dengannya"
Hening sejenak.
"Apa mereka terlihat dekat?"
"Dekat mungkin tidak. Tapi yang aku lihat Jayden Lee mencintai adikmu"
Hening lagi.
"Baguslah kalau begitu. Bagaimana track record Jayden Lee. Aku kenal dekat dengan kakaknya, Lee Joon. Dan Lee Joon sangat bersih. Tapi adiknya aku tidak tahu"
"Nah itu dia. Dia dulunya di Korea, seorang casanova. Tapi menurut info dia sudah berhenti sejak kembali ke Indonesia"
Hening lagi.
"Kamu terus awasi Tania. Dan juga Jayden Lee. Aku akan menanyakan pada Lee Joon. Bagaimana adiknya itu sekarang"
"Siap Kakak"
"Jangan sampai Jayden Lee berbuat sesuatu pada Fanny. Atau aku sendiri yang akan menghajarnya dan juga kamu"
"Lah kok aku juga ikut dihajar. Bisa berkurang nanti gantengku"
"Karena itu berarti kamu nggak becus menjaga Fanny"
"Eh Kakak, aku ini nggak bisa menjaganya dua puluh empat jam. Aku bukan suaminya. Jadi kalau ada hal yang terjadi di luar kendaliku. Jangan salahkan aku juga"
"Oooo mau lari dari tanggungjawab rupanya".
"Bukannya begitu Kak, aku hanya bicara realitanya saja. Aku hanya pengawalnya bukan bodyguardnya yang dua puluh empat jam menempel padanya"
"Terserah. Yang penting tidak terjadi apa-apa pada Fanny. Atau kakaknya disini juga akan menghajarku"
"Bagus deh kalau gitu. Jadi nggak cuma aku saja yang kena hajar"
"Mulutmu itu...kalau ngomong bisa saja. Sudah dulu. Ingat pesanku"
Tuuut,
"Selalu saja dia dulu yang menutup teleponnya" gerutu Sean sambil memanyunkan bibirnya.
"Nasih oh nasib. Tahu begini, aku terima saja casting yang waktu itu. Setidaknya aku bebas menjalani hidupku. Tidak seperti ini. Aahhh sepertinya aku perlu liburan. Atau pulang kampung bertemu ayah, pasti menyenangkan" ucap Sean tiba-tiba saja merindukan sang ayah dan kampung halamannya di Shanghai.
"Semoga saja Jayden Lee bisa membuat Tania bahagia. Setidaknya berkurang tugasku. Tapi melihat sombongnya orang itu. Aku kok ragu ya dia bisa meluluhkan hati Tania" guman Sean sendiri.
"Ahh bodoh amatlah. Mau mandi. Sisanya pikir keri seperti kata Via Valen" ucap Sean lantas melesat masuk ke kamar mandi.
Sambil bibirnya berkomat kamit menyanyikan lagu milik Via Valen yang berjudul "Pikir Keri"
__ADS_1
***