Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Tidak Ingin Kehilanganmu


__ADS_3

Braaakkkk,


Pintu dibuka cukup keras. Membuat Tania berusaha bangun dari atas tubuh Bryan. Tapi pria itu menahan tubuh Tania. Membuat tubuh Tania ambruk kembali menimpa tubuh Bryan.


Bersamaan dengan sebuah suara yang langsung membuat Tania panik.


"Alamak!" itu jelas suara Nita.


"Astaga, kalian! Apa yang kalian lakukan?" satu suara itu membuat Tania menoleh.


Vera berdiri dengan wajah menatap dirinya. Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Vera...aku bisa jelaskan ini. Ini hanya salah paham kan, Bry" ucap Tania panik. Dia takut kalau Vera salah paham dengan situasinya.


Namun Bryan hanya diam. Tidak menjawab. Vera menatap Tania dan suaminya bergantian.


"Apa Jayden Lee saja tidak cukup? Sampai kau juga harus menggoda suamiku?!" tuduh Vera.


Jeeddeerrr,


Ucapan Vera bak petir bagi Tania. Sahabatnya sendiri menuduh dirinya menggoda suaminya.


"Apa maksudmu?" tanya Tania.


Sedang Nita yang berdiri di belakang Vera, langsung menutup mulutnya tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari bibir Vera. Terlihat oleh Nita, Bryan tampak menyeringai puas.


"Ternyata semudah ini menghancurkan kau!" batin Bryan tersenyum puas.


"Jangan balik bertanya. Bukankah sudah jelas yang terjadi. Kau berusaha menggoda suamiku!" pekik Vera.


"Astaga Vera! Aku tidak pernah menggoda suamimu. Berpikirpun tidak! Aku hampir terjatuh dan dia berusaha menolongku. Itu saja. Tidak lebih!"


"Aku tidak percaya! Kalau itu hanya sebuah kebetulan kenapa kau tidak segera bangun. Kau malah terlihat menikmatinya!" tuduh Vera lagi.


"Bagaimana aku bisa bangun jika suamimu menahan pinggangku!" akhirnya Tania meledak juga.


"Ooo, jadi kau menuduh suamiku yang menggodamu!"


"Oh my God Vera. Ini hanya salah paham. Tidakkah kamu bisa melihatnya. Bry, apa kau tidak ingin menjelaskan pada istrimu?" tanya Tania pada Bryan.


Heran kenapa pria itu sejak tadi hanya diam. Melihat dirinya dan Vera bertengkar. Dan sungguh di luar dugaan. Bryan hanya mengedikkan bahunya. Seolah tidak tahu menahu soal kejadian tadi.


"Apa kau sengaja melakukan ini untuk mengadu domba kami?" akhirnya satu pikiran terlintas dipikiran Tania.


"Kau menuduhku? Kau sendiri yang menjatuhkan tubuhmu sendiri!" Bryan akhirnya buka suara.


"Kau dengar? Aku tidak percaya kau melakukan ini padaku!" teriak Vera.


"Vera dengarkan aku! Suamimu berbohong! Dia berusaha membuat kita bertengkar!" Tania mulai memelankan suaranya meski tetap terdengar keras.


"Kau berani menuduh suamiku?" potong Vera cepat.


"Cepatlah datang! Ada masalah besar disini"


Satu pesan singkat dikirim cepat oleh Nita ke tiga nomor berbeda. Dia sejak tadi hanya jadi penonton. Takut untuk masuk campur.


"Aku tidak menuduhnya. Itu kenyataannya!" jawab Tania cepat.


"Aku tidak percaya kau bisa melakukan ini pada...aarrrģgghhhh..


Vera mengerang sambil memegangi perutnya. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Beruntung Nita di belakang Vera sigap menahan tubuh Vera.

__ADS_1


"Sayang kau kenapa?" tanya Bryan panik.


Tania ikut mendekat.


"Perutku sakit! Rasanya aaarrgghhh" kembali Vera meringis.


Perutnya serasa diaduk-aduk. Rasanya panas sampai ke pinggangnya. Belum lagi rasa mulas yang tiba-tiba menyerang.


"Bawa ke rumah sakit cepat" Tania berucap cepat. Dia ingin ikut membantu Vera tapi Vera dengan cepat menepis tangannya.


"Jangan menyentuhku. Aku tidak sudi disentuh olehmu..ja*****"


Deg,


Tubuh Tania membeku mendengar ucapan kasar Vera. Pun dengan Nita. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Hati Tania sakit bukan kepalang. Sahabat terbaiknya menyebut dirinya ja*****. Sebuah kata yang menggambarkan betapa rendahnya nilai seorang wanita karena menjual tubuhnya.


Tubuh Tania mendadak lemas. Dia jatuh terduduk di lantai ruang kerjanya. Dirinya seakan dihempaskan ke dasar jurang yang paling dalam di dasar bumi. Air matanya meleleh. Seiring hatinya yang terasa dicabik-cabik oleh perkataan Vera. Perkataan Vera terus berputar di kepalanya.


"Mbak..mbak Tania, mbak Tania baik-baik saja?" suara Nita mengembalikan kesadaran Tania.


"Mereka ke mana?"


"Baru saja keluar"


"Susul mereka. Kamu harus tetap bersama Vera. Pastikan dia baik-baik saja" perintah Tania.


"Lakukan sekarang Ta, aku tidak bisa berada di samping Vera sekarang. Tapi kamu bisa. Cepat Ta!" desak Tania.


Membuat Nita mengangguk. Lalu berlari menyusul Vera dan Bryan.


Sepeningal Nita. Tangis Tania kembali pecah. Dia hampir meraung meluapkan sakit hatinya. Namun urung dilakukan. Hingga akhirnya dia hanya bisa menangis sambil menutup mulutnya sendiri.


"Hanya sedalam inikah persahabatan kita, Ra" jerit pilu hati Tania.


Untuk beberapa saat. Tania hanya berdiam diri. Hingga akhirnya dia bangkit. Menyambar tas dan juga kunci mobilnya"


****


Mobil Bryan masuk ke halaman rumah sakit XX di kawasan Jakarta Timur. Langsung disambut brangkar pasien yang langsung membawa Vera masuk ke IGD.


Bryan dan Nita sejenak menunggu di luar. Tidak ada kata yang terucap diantara keduanya. Hingga seorang dokter keluar memberitahu keadaan Vera.


"Pasien akan segera masuk ruang bersalin. Karena dia sudah masuk pembukaan enam. Diperkirakan akan melahirkan tidak lama lagi. Anda suaminya?" jelas dokter itu.


Bryan menganģguk.


"Silahkan ikut saya. Anda bisa mendampingi istri Anda saat melahirkan. Dan juga tolong segera urus administrasinya"


"Biar aku yang urus" Nita menyela cepat.


Bryan ikut dokter itu masuk kembali. Nita baru saja akan beranjak pergi. Ketika Tania datang setengah berlari.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Tania hampir kehabisan nafas.


"Sudah bukaan enam. Itu tadi. Mungkin sekarang sudah bertambah. Dia akan segera lahir. Sekarang sudah dipindahkan ke ruang bersalin" jelas Nita.


"Mbak Tania tidak apa-apa?" tanya Nita kembali. Dilihatnya mata Tania yang bengkak. Bisa Nita tebak kalau gadis itu menangis tiada henti.


"Aku tidak apa-apa. Lalu bagaimana sekarang?"


"Aku akan mengurus administrasinya tapi...

__ADS_1


Tania membuka tasnya cepat. Meraih kopi identitas Vera.


"Gunakan ini. Urus administrasinya segera. Aku akan menunggu di depan ruang bersalin" ucap Tania menyerahkan selembar kertas juga sebuah kartu..black card.


Tania langsung melesat menuju ke ruang bersalin. Sedang Nita langsung menuju bagian administrasi.


Sampai di depan ruang bersalin. Sepi. Tidak ada seorangpun disana. Tania berdiri di dekat pintu. Jantungnya berdebar tidak karuan. Rasa cemas melanda Tania seketika.Dia yang awalnya hanya diam berdiri. Kini sudah seperti gosokan. Mondar mandir di depan ruang bersalin.


"Ya Tuhan, mudahkanlah kelahirannya" sebait doa Tania bisikkan dalam hatinya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Jayden dan Sean yang datang bersamaan.


Tania menggeleng. Detik berikutnya tangis Tania pecah. Jayden langsung merengkuh tubuh Tania.


"Aku tidak melakukannya" bisik Tania.


"Aku tahu" jawab Jayden.


"Percayalah. Semua akan baik-baik saja" ucap Jayden lagi.


Tak lama terdengar suara tangisan bayi.


"Dia sudah lahir. Putraku sudah lahir" ucap Tania terharu.


Semua tampak bernafas lega.


Namun tak lama. Seorang perawat nampak keluar dari ruang bersalin. Wajahnya panik.


"Ada apa Mbak?" Sean menahan perawat itu.


"Kalian keluarga pasien Altania Vera?" tanya perawat itu.


Semua mengangguk termasuk Nita yang baru selesai mengurus administrasi.


"Begini pasien mengalami pendarahan. Kami membutuhkan..


"Ambil darahku, Mbak. Golongan darahku sama dengan pasien" potong Tania cepat. Dia tahu situasinya.


"Kalau begitu mari ikut saya" ajak perawat itu.


"Tania..Baby..tunggu dulu"


"Dia butuh bantuanku, Kak" ucap Tania melepaskan cekalan tangan Jayden.


Selepas Tania pergi. Jayden langsung meninju tembok dibelakangnya.


"Apa dia itu bodoh? Wanita itu sudah menyebutnya ja**** tapi dia masih bersikeras menolongnya" ucap Jayden emosi.


"Itulah Tania. Apa kau tidak paham dengan sifatnya" Sean berucap.


Membuat Jayden tergugu. Ya, seharusnya dia cukup paham dengan sifat Tania.


"Dia akan melakukan apapun untuk orang yang disayanginya. Tidak peduli apapun yang pernah orang itu lakukan pada Tania" Nita menambahkan.


"Dia benar-benar bodoh" umpat Jayden.


"Akan kulakukan apapun untukmu, Ra. Kamu harus bertahan. Apapun caranya. Pangeran kecil kita membutuhkanmu. Dia membutuhkanmu" batin Tania.


Dia melihat darahnya sendiri yang mulai mengalir masuk ke kantung darah. Perlahan dia mulai memejamkan matanya. Mengenang persahabatannya dengan Vera. Tanpa terasa air matanya mengalir di sudut matanya yang terpejam.


"Aku tidak ingin kehilanganmu, Ra" batin Tania lagi.

__ADS_1


****


__ADS_2