
Bryan terus mengekor langkah Vera masuk ke dalam apartementnya. Sedikit terkesima dengan ruang tamu apartement milik Tania dan Vera. Maklum ini adalah kali pertama dia menginjakkan kaki di apartement milik mereka.
"Kamu tidur di sofa itu" perintah Vera ketus.
"Tapi aku perlu ke kamar mandi, Sayang" pinta Bryan melas.
Vera mendelik mendengar panggilan Bryan. Lantas memutar matanya jengah. Ada-ada saja permintaan manusia brengsek yang satu ini. Karena tidak mungkin memasukkan Bryan ke kamar Tania. Mau tidak mau dia harus mengizinkan Bryan memakai kamar mandinya.
"Ikut aku!" ucap Vera pada akhirnya.
Bryan jelas langsung mengembangkan senyumannya. Mendengar Vera mengizinkannya masuk ke kamarnya.
"Kamar mandi disana, cepatlah. Aku mau mandi!" tunjuk Vera ke arah kamar mandinya.
"Tidak mau mandi bareng?" goda Bryan.
Dan satu keplakan melayang ke lengan kekar Bryan.
Plakkkk,
"Aduh sakit, sayang" ringis Bryan.
"Jangan panggil aku sayang!" ucap Vera galak.
"Iya deh iya" ucap Bryan pasrah.
Lalu perlahan dia melepas jasnya. Begitu juga kemejanya. Membuat Vera yang duduk di sofanya membulatkan matanya. Melihat tubuh sempurna Bryan. Ingatannya langsung kembali ke malam di mana pria itu memacu tubuhnya di atas tubuhnya sendiri tanpa henti.
Vera langsung memalingkan wajahnya. Enggan melihat tubuh Bryan.
"Kenapa pakai acara buka baju?" tanya Vera tanpa mau menatap Bryan.
"Mau mandi. Gerah" jawab Bryan.
"Emang punya ganti?"
"Itu bisa dipakai lagi"
Vera diam saja. Membuat Bryan langsung masuk ke kamar mandi Vera. Aroma lembut vanila langsung menyeruak masuk ke hidung Bryan. Pria itu tersenyum. Lantas melucuti apa yang masih menempel di tubuhnya. Memulai ritual mandinya.
Vera bangkit dari duduknya. Begitu mendengar suara gemericik air. Menandakan Bryan sudah mulai mandi. Berjalan menuju lemarinya. Sedikit mengobrak- abriknya. Perasaan dia punya kaos yang agak besar. Efek salah beli waktu itu.
"Ketemu" ujarnya sumringah.
Dia mengeluarkan kaos berwarna hitam itu. Namun detik berikutnya. Dia hanya diam memegang kaos itu. Kenapa juga aku peduli padanya. Dia ingin mengembalikan kaos itu ke dalam lemarinya. Ketika Bryan tahu-tahu ada di belakangnya.
"Sedang apa kamu?" tanya Bryan melihat Vera melamun di depan lemarinya yang terbuka. Menunjukkan isinya.
Vera reflek berbalik. Dan "blush" wajahnya langsung memerah melihat Bryan yang hanya memakai handuk di pinggangnya. Dengan tangan kirinya menenteng celananya dan uppss boksernya.
"Ngapain nggak pakai baju?" salak Vera.
"Nungguin Dika nganterin bajuku" jawab Bryan santai.
"Pakai ini dulu!" ucap Vera menyerahkan kaos ditangannya. Lantas melangkah ke kamar mandi.
Bryan kembali tersenyum. Lantas memakai kaos pemberian Vera. Bolehlah. Sambil menunggu pakaiannya datang. Melangkah keluar kamar Vera. Takut Vera marah kalau melihat dirinya masih di kamarnya. Sedikit teringat pesan dokter. Jika emosi bisa berpengaruh kepada pertumbuhan janin.
Berjalan keluar kamar Vera. Vera menyembulkan kepalanya ketika dia selesai mandi. Mengecek kalau Bryan sudah keluar dari kamarnya. Melihat Bryan tidak ada. Dia langsung keluar dari kamar mandinya. Memakai baju tidurnya. Lantas naik ke ranjangnya. Bersiap untuk tidur.
__ADS_1
Sempat berpikir apa pria itu nyaman tidur di sofa atau tidak. Kedinginan atau tidak.
"Aiiih kenapa juga aku jadi peduli padanya" dengus Vera kesal.
Memiringkan tubuhnya lantas mencoba memejamkan matanya.
****
Bryan langsung membuka matanya. Ketika mendengar suara dari arah dapur. Melirik jam di ponselnya.
"Jam dua" gumannya serak.
Lantas bangun. Melangkah menuju dapur. Dilihatnya Vera yang sedang berada di sana.
"Kamu ngapain?" tanya Bryan.
"Aku lapar" jawab Vera singkat tanpa menoleh.
Takut kalau pria itu tidak pakai baju. Seperti kebiasaan pria pada umumnya kalau sedang tidur.
"Kamu masak apa?"
"Masak mie instan"
"Itu tidak baik buat kandungan kamu"
"Lagi pengen makan itu"
Bryan menghela nafasnya. Mendengar jawaban Vera yang hanya seperlunya itu. Menandakan bumil itu masih enggan membuka diri padanya.
"Sabar Bry, sabar. Demi anak kamu" batin Bryan.
"Aku bisa sendiri. Aku biasa masak"
"Aku tahu kamu bisa masak. Tapi kali ini biar aku yang memasak untuk kalian berdua" ucap Bryan.
Deg,
"Kalian berdua?" batin Vera
Vera langsung menatap pria yang kini sudah berdiri di sampingnya. Sudah merebut pisau yang tadi dipegangnya. Mulai memotong sawi dan wortel.
Tanpa sadar Vera bergeser ke samping. Seolah memberi ruang pada Bryan. Selesai memotong sayuran. Pria itu mulai menghidupkan kompor. Seolah sudah terbiasa.
"Duduklah. Tunggu sebentar lagi" ucap Bryan. Membuyarkan lamunan Vera.
"Tapi....
"Tidak ada tapi-tapian" mendorong Vera ke arah meja makan.
Sedang pria itu kembali melanjutkan masak mie instannya. Dari tempat Vera duduk. Bisa dia lihat betapa luwesnya Bryan saat memasak.
"Seksi sekali sih dia kalau begitu" batin Vera.
Tanpa sadar. Bibirnya tersenyum.
"Eehh aku ini kenapa sih?" batin Vera lagi detik berikutnya.
Kembali merasa aneh dengan dirinya sendiri. Pria itu masih mengenakan kaos pemberiannya. Juga celana kargo. Yang berarti baju gantinya sudah sampai.
__ADS_1
"Perasaan kaos itu ukurannya sudah XXL. Tapi kenapa di dia jadi ketat gitu ya dipakainya" guman Vera dengan satu tangan menyangga dagunya. Sambil terus asyik melihat Bryan yang nampak sudah selesai memasak mie-nya.
"Waahhh kelihatannya enak" ucap Vera dengan binar bahagia terukir jelas di wajahnya.
Menatap semangkok mie yang terhidang di depannya.
"Semoga kamu suka rasanya. Aku mengurangi bumbu dari mie-nya itu tidak baik untuk baby-mu" ucap Bryan merasa bahagia melihat senyum Vera.
"Ehh babymu? Bukannya ini bayi kamu juga?" batin Vera menatap Bryan.
Tiba-tiba rasa sedih merasuk di hati Vera.
"Tidak maukah Bryan mengakui kalau itu anaknya" batin Vera lagi.
"Kamu kenapa? Tidak suka?" tanya Bryan. Yang melihat perubahan di wajah Vera.
Vera menggeleng.
"Kalau begitu, coba makan. Rasanya enak tidak. Ayo aaa" ucap Bryan. Menyuapkan mie dengan telur dan sawi dan juga wortel.
Vera hanya diam menatap Bryan.
"Kenapa? Tadi katanya lapar. Nanti kasihan babynya kalau lapar" bujuk Bryan.
Hati Vera sedikit menghangat. Bryan tidak lagi menyebut "babymu". Perlahan diterimanya suapan dari Bryan. Membuat pria itu bahagia bukan kepalang. Melihat tidak ada lagi penolakan dari Vera.
"Ohhh rasanya tidak masalah. Jika aku harus membayar tujuh ratus ribu untuk satu porsi US Prime Ribeye steak. Yang mereka makan kemarin. Kalau rasanya bisa sebahagia ini. Bisa bersama Vera dan bayiku" batin Bryan dengan senyum terkulum.
Melihat Vera yang makan dengan lahap dari suapannya. Tidakkah ini hal sederhana yang membuatnya bahagia. Kenapa juga dia kemarin sibuk dengan para perempuan itu. Kalau hanya bersama Vera dan bayinya saja. Bisa membuatnya tidak menginginkan hal lain lagi.
"Kamu kalau lapar bisa ikut makan" ucap Vera tiba-tiba.
"Benarkah?" tanya Bryan.
Vera mengangguk. Bisa dibayangkan sesempurna apa senyum yang terlukis di bibir Bryan. Akhirnya mereka bisa makan bertiga. Dirinya, Vera dan calon anak mereka.
"Bisakah aku berdoa. Agar mood swing Vera tidak berubah lagi" doa Bryan.
Kali dia bergantian menyuapi dirinya dan Vera. Pada akhirnya satu mangkok besar mie itu tandas dimakan oleh mereka berdua. Eh bertiga sama calon anak mereka.
Setelah drama makan mie selesai. Sekarang berganti drama cuci piring. Dimana keduanya kekeuh ingin mencuci bekas masak dan makan mereka. Setelah perdebatan yang alot (daging kali alot) mereka akhirnya memutuskan untuk cuci piring bersama.
"Oh my God. Bisakah hari tidak berganti" batin Bryan.
Atau bolehkah aku jungkir balik saking senangnya. Hingga pria itu mencuci piring sambil senyum-senyum sendiri. Persis pasien RSJ yang kabur dan suka nongki dipinggir jalan itu.
(Eits tapi bukan semua yang nongki di pinggir jalan itu pasien RSJ ya. Entar eike ditabok ma PKL yang suka nongki di pinggir jalan beserta anak buahnya 🤣🤣🤣)
Vera jelas heran dengan sikap Bryan. Yang senyum-senyum sendiri tidak jelas. Itu menurut Vera. Padahal gara-gara dia, casanova tobat nomor dua itu bahagia bukan kepalang.
"Kamu kenapa? Dari tadi senyum-senyum sendiri?" tanya Vera.
"Ah tidak apa-apa?" kilah Bryan.
Drama cuci piring selesai. Bersamaan dengan suara petir yang menggelegar bersahutan di langit Surabaya. Senyum Bryan semakin lebar.
"Upcoming drama sudah datang" batin Bryan.
Menatap Vera yang tampak ketakutan menatap langit yang berkelap kelip dengan bunyi petir menggelegar.
__ADS_1
***