Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Honey, I'm Coming


__ADS_3

"Ada yang ingin dibeli?" tanya Jayden ketika mobil mereka mulai melandas di jalanan. Mulai meninggalkan kawasan Telaga Sarangan.


"Ehh, nanti berhenti kalau lihat ada toko tanaman hias. Vera minta dibelikan philodendrum. Buat seger-seger di kantor" ucap Tania.


"Philodendrum? Nggak salah. Setahuku itu tanaman agak rewel perawatannya. Soalnya mama punya beberapa di rumah. Meski sering dijadikan mainan sama si kembar. Memang Vera bisa merawatnya" jawab Jayden sambil fokus menyetir. Karena jalanan kadang naik turun dengan belokan yang tiba-tiba saja muncul.


"Masak sih. Itu kan cuma kaktus hias. Tinggal siram doang"


"Ooo, kalau yang kaktus namanya sukulen. Bukan philodendrum" jelas Jayden.


"Ha?" Tania melongo.


"Nggak percaya? Tanya nanti sama penjualnya. Mana sukulen mana philodendrum" ucap Jayden.


Tak berapa lama. Jayden menepikan mobilnya. Di sebuah tempat penjual tanaman hias yang banyak terdapat di dekat Telaga Wahyu dan sepanjang jalan Plaosan-Sarangan.


"Cari apa ya Mbak, Mas" tanya sang penjual ramah.


"Cari sukulen, Mbak" jawab Jayden.


Dan penjualnya langsung mengarahkan keduanya ke deretan kaktus hias cantik. Yang berderet di atas rak.


"Kan benar namanya sukulen. Bukan phipodendrum" desis Jayden.


Sedang Tania hanya bisa nyengir. Menyadari kesalahannya.


"He, he berarti aku salah dong waktu itu" ucap Tania malu.


Dan Jayden hanya tersenyum mendengar pengakuàn Tania.


"Ini Mbak, Mas. Sukulen-nya. Monggo bisa dilihat-lihat dulu" penjualnya mempersilahkan.


"Wow, cantiknya" guman Tania.


Matanya berbinar melihat berbagai macam kaktus mini yang tumbuh di pot-pot mini. Cantik dan imut.



Kredit google.com


Jayden tampak mengikuti Tania.


"Yang ini lebih cantik" ujar Jayden.



Kredit google.com


"Waahhh, iya. Ada yang warna ungu lagi. Kesukaan Vera" ucap Tania.


Lantas mulai memilih beberapa sukulen yang terlihat begitu menarik di matanya.


"Beli saja agak banyakan. Buat oleh-oleh stafmu. Kan bisa buat merilekkan mata setelah pada mandangin laptop seharian" saran Jayden.


"Iya juga ya" Tania mengiyakan.


Akhirnya hampir dua dus sukulen yang Tania beli. Setelah beberapa saat memilih. Penjualnya jelas senang dengan hal itu.


"Yang ini khusus untukmu" ucap Jayden menyerahkan tanaman sukulen berwarna- warni dalam pot berbentuk hati. Yang langsung membuat wajah Tania merona. Antara malu dan bahagia.



Kredit google.com


Jayden tersenyum melihat ekspresi wajah menggemaskan Tania.


"Suka?" tanya Jayden yang terdengar manis di telinga Tania.


Tania mengangguk sambil memeluk erat sukulen dalam pot berbentuk hati itu.


"Mbak, yang seperti ini. Ada dua lagi tidak?" tanya Jayden sambil memperlihatkan tanaman sukulen dalam pot kayu yang terlihat mewah dan elegan.



Kredit google.com

__ADS_1


"Sebentar ya Mas. Tak lihat dulu didalam" ujar sang penjual.


Jayden mengangguk.


"Untuk kantorku" ucap Jayden menjawab tatapan penuh pertanyaan dari Tania.


Pria itu kembali berkeliling. Sejenak berhenti di sebuah tanaman bonsai Bougenviel.


"Kenapa?" tanya Tania.


"Mama kemarin ingin yang seperti ini. Tapi di Jakarta susah dapat yang sudah jadi seperti ini" jawab Jayden.


"Tanya saja. Siapa tahu mereka bisa kirim ke Jakarta" saran Tania.


"Iya juga"


"Ada, Mas" tiba-tiba suara sang penjual terdengar. Sambil menunjukkan sukulen yang Jayden inginkan.


"Bagus sekali. Oh ya Mbak, apa disini bisa kirim tanamannya ke Jakarta?" tanya Jayden.


"Ooh bisa, Mas. Kami melayani pengiriman seluruh Indonesia. Bisa kirim ke luar juga. Kami ada situs penjualan online. Dan kami jamin fotonya real no editan" promo sang penjual. Sambil menunjukkan situs penjualan online mereka.


"Bagus kalau begitu. Bisa kirim bonsai Bougenviel yang itu ke alamat ini" ucap Jayden sambil menuliskan alamat rumah mama Sofia di Bogor dan menunjuk sebuah bonsai cantik di sudut ruangan.



Kredit google.com


"Bisa Mas, bisa. Kami jamin pengiriman kami aman sampai tujuan" ucap sang penjual mantap.


Rupanya tidak cuma satu tanaman yang dikirim Jayden untuk mamanya. Ada lebih dari empat macam tanaman yang dia kirim.


"Biar nggak rugi bayar ongkirnya" bisik pria itu.


Setelah mereka membayar semua harga tanaman yang mereka beli. Yang membuat sang penjual seakan mendapat durian runtuh. Keduanya kembali melanjutkan perjalanan pulang mereka.


Di dalam mobil Tania tidak berhenti menatap sukulennya. Membuat Jayden hanya bisa tersenyum dibuatnya.


"Dibeliin sukulen tiga puluh ribu saja. Senangnya minta ampun" batin pria itu.


"Ya halo, Ta" sapa Tania ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi.


Tania tertawa mendengar suara Nita diujung sana.


"Memangnya ada apa? Apa ada yang serius?"


"Iya Bu. Sangat-sangat serius"


"Benarkah? Apa itu?"


Dan Nita mulai menceritakan tentang kesalahan pengiriman kain yang mereka pesan dari Jakarta.


"Kalau begitu, saya akan langsung ke pabrik saja"


"La, emang Ibu pulang hari ini?"


"Iya, saya pulang hari ini. Ini sudah turun dari Sarangan. Sebentar lagi bisa masuk tol. Kalau saya nggak turun gunung. Emang kamu bisa hubungi saya lancar begini"


"Eh, iya juga ya. Seneng deh Ibu sudah pulang. Kalau nggak, bisa puyeng itu Bu Vera"


"Ya, sudah aku tutup dulu. Ketemu nanti"


"Ada apa?" tanya Jayden.


"Ada masalah di pabrik. Kita langsung ke pabrik ya" ucap Tania mulai merubah arah tujuan mereka ke pabrik Tania.


"Surabaya Industrial Estate Rungkut. Pabrikmu ada di kawasan SIER" tanya Jayden.


Tania mengangguk.


"Pinjam laptopnya, Kak" pinta Tania ketika mereka berhenti di lampu merah.


"Itu di belakang" tunjuk Jayden.


Meletakkan sukulennya di jok belakang. Berganti mengambil laptop milik Jayden. Sedikit terkejut melihat wallpapernya.

__ADS_1


"Itu Lia"


"Aku tahu" ucap Tania setelah Jayden membukakan password laptopnya.


"Tidak marah?"


"Tidak. Kan dia putrimu. Bukan istrimu"


"Ya iyalah. Istriku kan sedang duduk disampingku" gombal Jayden.


Tania diam. Karena dia sudah mulai masuk ke urusan pekerjaannya. Sedetik kemudian dia menghubungi Vera.


"Aku baru saja mau menghubungi" ucap Vera langsung.


"Sehati dong kita"


"Dari dulu kali"


Tania terkekeh.


"Bagaimana sudah nemu solusinya?"


"Satu-satunya cara ya kita mix kedua bahan itu. Grade dan harga tidak akan banyak berpengaruh. Hanya saja kita perlu menjelaskan kepada mereka tentang hal ini. Bagaimana?"


"Aku setuju denganmu. Design yang mereka pilih juga banyak menguntungkan kita. Half mix. Setengah batik, setengah katun"


"Iya, tapi yang jadi masalah ada di proses produksinya. Saat menjahitnya. Kita kehabisan waktu. Belum lagi. Kain ini melenceng jauh dari schedule kedatangannya"


"Begini saja. Suruh bagian cutting memotong part batiknya dulu. Setelah kainnya datang mereka bisa langsung cutting part katunnya. Aku akan coba menghubungi pak Gunawan yang lainnya untuk inform ada perubahan bahan"


"Siap Bu Bos" jawab Vera bersemangat.


"Oke, begitu saja. Kita bertemu di pabrik"


Sambungan dimatikan.


"Seriuskah?"


"Emmm not really. Hanya saja. Mungkin aku akan lembur di pabrik malam ini. Shipment kami sudah delay dua hari. Dan kami tidak bisa lagi mengulurnya. Besok harus bisa dikirim" ucap Tania.


"Ya, halo dengan pak Gunawan. Saya Tania dari ....."


Jayden hanya fokus pada setirnya. Sembari sesekali mendengar Tania dengan sabar menghubungi kliennya dan memberitahu masalah yang mereka hadapi. Gadis itu terlihat berbeda saat bekerja dan berhubungan dengan klien. Termasuk dengan dirinya.


"Dia sangat berbeda saat bekerja" batin Jayden menatap Tania yang nampak serius.


Tania menarik nafasnya panjang.


"Settle" gumannya.


"Benarkah? Secepat itu? Wah berarti kemampuan negosiasimu sangat baik"


"Terima kasih atas pujiannya" jawab Tania merasa tersanjung dengan ucapan Jayden.


"Ya, Ra. Aku sudah menghubungi Pak Gunawan dan yang lainnya. Semua tidak masalah dengan perubahan kainnya. Yang penting tetap nyaman. Sebenarnya soal harga mereka juga tidak masalah kalau dinaikkan. Tapi aku rasa tidak perlu kan"


"Bagus sekali. Tidak perlu dinaikkan. Nita baru saja mengirimiku kalkulasi terbaru menggunakan harga yang baru. Dan bolehlah kita masih bisa untung kok. Hanya saja malam ini mereka kayaknya harus lembur sampai malam. Soalnya tempat pak Hartono harus dikirim besok. Soalnya punya beliau yang delay dua hari. Dan masih kurang dua ratus pcs" terang Vera.


"Kita bicarakan itu nanti waktu kita ketemu. Mungkin dua jam lagi aku sampai....oh tidak sampai. Supirku bisa menggunakan speed F1 disini"


Vera terkekeh.


"Roman-romannya ada yang lagi jatuh cintrong nih turun dari Sarangan" goda Vera.


"Iisshh apa sih?" elak Tania dengan wajah merahnya.


"Baby....." panggil Jayden seolah sengaja agar Vera mendengarnya.


Tania jelas langsung mendelik ke arah Jayden. Sedang Jayden hanya tersenyum manis pada Tania.


"Oohh hatiku meleleh....oh honey I'm coming" goda Vera dari seberang.


"Altania Vera!"


"Ya, Bu Bos" jawab Vera dari ujung.

__ADS_1


Bisa dibayangkan bagaimana merahnya wajah Tania. Meski tidak ia pungkiri kalau ia tengah bahagia saat ini.


****'


__ADS_2