
Bryan mengepalkan tangannya menahan amarah. Sebuah rekaman CCTV dikirim ke e-mailnya. Setelah membukanya. Emosinya langsung naik seketika.
"Brengsek!" kali ini dia benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengumpat.
"Ya?"
"Sudah menerimanya?"
"Sudah"
"Lalu?"
"Terserah kalian mau melakukan apa. Aku tidak peduli lagi padanya"
"As you wish, Bro"
Katakanlah dia menjadi anak durhaka kali ini. Tapi mau bagaimana lagi. Mamanya sudah melewati ambang batas kesabarannya. Kekacauan di kantor agensinya mungkin masih bisa diatasinya.
Tapi kali ini. Mamanya tertangkap basah berusaha melukai Vera. Untung saja Tania tiba tepat waktu. Menyelamatkan Vera dan kandungannya. Kalau tidak. Entahlah dia sendiri tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Jika terjadi sesuatu pada Vera dan calon anaknya.
Bryan kembali memijat pelipisnya yang kali ini benar-benar ingin meledak rasanya. Dia sendiri sedang mengajukan pengalihan nama atas kepemilikan agensinya. Saran dari Jayden.
"Akan lebih baik kedepannya jika agensi itu menjadi milikmu sepenuhnya. Hingga tidak ada celah bagi orang yang ingin memanfaatkan agensimu. Kasus Michael sudah cukup jadi pembelajaran untukmu" saran dari Jayden.
***
"Sakit Kak" rengek Tania.
Dia sedang mencoba untuk duduk. Dari semalam dia hanya tiduran. Membuat punggungnya panas.
"Pelan-pelan" ucap Jayden.
Tania kembali meringis.
"Jangan beritahu mereka" ucap Tania setelah dia berhasil menaikkan sedikit punggungnya. Setidaknya dia bisa mengubah posisi tubuhnya menjadi setengah duduk. Tidak full terlentang seperti kemarin.
"Aku tidak memberitahu Kai. Tapi tidak tahu dengan pengawal bayangannya" ucap Jayden.
Membenahi selimut Tania.
"Kalau ada pengawal bayangan, mereka pasti sudah mencegah orang itu untuk melukaiku" ucap Tania mulai memakan apple pie. Dia merengek ingin makan itu dari kemarin. Alhasil tadi Rey harus masuk Mc Donald untuk membelikan pesanan Tania.
"Makan ini" ucap Jayden memberikan sebuah pil.
"Apa ini?" tanya Tania.
"Kapsul ikan apa itu. Kata Nita ikan kutuk atau apa, aku kurang paham. Katanya bagus untuk menyembuhkan luka bekas operasi dan jahitan. Lebih cepat kering katanya" jawab Jayden.
"Nita yang bawa" tanya Tania menerima pil itu lalu meminumnya.
"He e katanya orang tuanya yang mencarikannya untukmu"
Tania hanya ber-ooo ria.
Sementara Jayden kembali sibuk dengan berkasnya. Tania hanya memperhatikannya. Jayden tampak semakin tampan dalam mode serius. Ranjang pasien Tania sudah berubah jadi meja kerja Jayden.
"Kak..."
"Hmmm"
"Bagaimana mereka?"
"Sepertinya lebih baik kelihatannya"
"Sudah tidak mengusirnya lagi?"
"Menurut laporannya sih tidak. Katanya dia sedang dalam masa rekonsiliasi, perbaikan hubungan"
"Syukurlah kalau begitu"
Jayden menghentikan pekerjaannya. Lalu menatap Tania yang sibuk mengunyah apple pie ala Mc D-nya.
__ADS_1
"Lalu kita bagaimana?" tanya Jayden.
"Bagaimana apanya?"
"Hubungan kita?"
"Kita? Ya begini-begini aja" jawab Tania santai.
Membuat Jayden gemas.
"Maksudku kapan kamu bersedia menikah denganku?" tanya Jayden menatap Tania
"Uhuukk" Tania tersedak.
"Kakak melamarku?" tanya Tania, menerima uluran air minum dari Jayden.
"Apa ini bisa dikategorikan sebagai lamaran? Kalau iya anggap saja begitu"
"Isshhh gak romantis" cebik Tania.
"Ooo mau lamaran yang romantis. Tidak masalah nanti aku buatkan. Masalahnya mau tidak kamu menikah denganku?" todong Jayden.
"Tidak tahu" jawab Tania menyembunyikan wajah malunya.
"Iisss dia malah malu" goda Jayden.
"Kakak..."
Jayden terkekeh.
"Tania Adelia..."
"Apa?"
"I love you"
Blush,
" Kok malah diam? Dijawab dong" desak Jayden.
"Jawab apa?"
"Ya apa kek" kejar Jayden.
"Iss Kakak apaan sih" ucap Tania sambil memalingkan wajahnya. Cukup malu jika Jayden melihat wajah blushing-nya. Tanpa tahu Jayden telah berdiri dari duduknya. Berdiri tepat di samping ranjang pasiennya.
"Baby..." panggil Jayden.
Tania yang tidak fokus. Reflek menengok ke arah Jayden.
"Apa....
Cup,
Bibir Jayden mendarat sempurna di bibir Tania. Gerakan yang awalnya hanya berupa kecupan lama-lama berubah menjadi sebuah luma*** tatkala Tania sama sekali tidak menolak ciuman dari Jayden.
Membuat pria itu semakin menekan tengkuk Tania. Hingga ciuman mereka semakin lama semakin dalam.
"Aku bisa menerkammnu. Jika tidak ingat ini rumah sakit dan kamu sedang terluka" ucap Jayden usai melepaskan pagutannya. Sedikit mengusap bibir Tania yang basah karena ulahnya.
"Kakak tidak akan bisa melakukannya" ucap Tania pede.
"Kenapa?"
"Karena Kakak tidak akan mampu melakukannya"
"Kamu meremehkanku"
"Sssttt jangan mulai lagi. Nanti Kakak cuma bisa masuk ke plan B lo. Kakak juga yang repot" ucap Tania tanpa filter.
"Haisshh kamu ini. Masih ingat saja dengan hal itu" ucap Jayden lantas memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Ingat bagaimana dia harus melakukan solo karir karena dia hampir kebablasan waktu itu.
Tania terbahak melihat ekspresi wajah Jayden yang kesal bukan kepalang.
"Makanya, ayolah Baby kita menikah. Biar gak ada lagi plan B" rengek Jayden.
Tania masih terbahak mendengar rengekan Jayden.
"Oh ayolah jangan menyiksaku terus" bujuk Jayden.
"Siapa juga yang menyiksa Kakak?"
"Kamulah siapa lagi"
"Aku kan tidak ngapa-ngapain Kakak" jawab Tania polos.
"Haisshh masih tidak paham juga. Bagaimana tidak menyiksa kalau lihat kamu pakai baju seksi waktu dirumah. Bayangin kamu tidur nggak pakai bra...
Tania mencubit lengan kekar Jayden.
"Aduuuhh...." keluh Jayden.
"Darimana Kakak tahu?" tanya Tania curiga.
"La biasanya perempuan suka begitu kalau dirumah. Tank top, hot pants bukannya itu pakaian itu kesukaan kalian" tebak Jayden.
Tania memicingkan matanya. Menatap wajah Jayden penuh selidik.
"Apa?"
"Kakak tidak memata-matai kami kan?"
"Astaga, itu Lee Joon yang pandai meretas CCTV aku mah tidak"
"Tidak salah, he he" batin Jayden.
"Awas kalau aneh-aneh" ancam Tania.
"Berarti yang aku omongin tadi benar?" tebak Jayden.
"Astaga" ucap Jayden melihat wajah Tania yang diam, acuh sambil meneruskan memakan apple pie yang dari tadi tidak habis-habis.
Padahal kalian tahu kan ukuran apple pie-nya Mc D itu seberapa gedenya 😅😅😅
Alhasil otak Jayden langsung travelling membayangkan bodi sek** dengan paha mulus. Berjalan kesana kemari dan jangan lupakan belahan dada tanpa bra yang terlihat begitu menggoda.
Namun detik berikutnya. Jayden langsung menggelengkan kepalanya. Mengusir bayangan di otaknya yang kemesumannya sudah tingkat dewa. Maklum mantan casanova. Daripada dia harus menjalankan plan B yang jelas tidak nikmat namun bisa menyalurkan has***.
****
Sementara di tempat lain, tampaknya ada seorang pria yang juga kemungkinan akan masuk ke plan B. Bagaimana tidak, Rey yang sejak awal memang sudah terkontaminasi dengan otak mesum Jayden.
Kali semakin berani bertindak ketika dia sudah punya Maura sebagai pacar. Ditinggal Jayden menemani Tania di rumah sakit. Membuat Rey-lah penguasa kantor Jayden.
Dan hal itu tidak disia-siakan oleh Rey. Dimana sekarang ini dia dan Maura sedang berciuman. Awalnya biasa saja. Namun Rey yang belajar teorinya secara otodidak dari Jayden. Langsung bisa praktek dengan Maura.
Rey jadi begitu ahli dalam hal berciuman. Buktinya Maura sampai kewalahan mengimbangi ciuman Rey yang semakin lama semakin lama panas.
"Baru berciuman saja aku sudah kewalahan. Bagaimana urusan ranjang. Bisa langsung KO aku" batin Maura ditengah-tengah pagu*** dan lum**** antara dirinya dan Rey.
"Pantas saja pak bos begitu ketagihan dengan *** dulu. La wong baru ciuman saja rasanya sudah bikin ketagihan. Apalagi kalau sampai acara bobol gawang. Bisa nggak bisa berhenti aku" batin Rey.
Sambil menatap Maura yang tampak sedang menghirup oksigen sebanyak yang dia bisa. Pria itu tersenyum menatap Maura. Yang balik tersenyum padanya.
Detik berikutnya keduanya kembali menyatukan bibir mereka. Mencari jawaban atas rasa penasaran mereka.
***
Maafkan eike kalau tulisan diatas bikin travelling ke mana-mana ya. Amannya baca nanti malam saja ya. Maafkan ye 🙏🙏🙏😅😅😅
***
__ADS_1