
Bryan tersenyum puas setelah Dika melaporkan kalau Tania saat ini ada di Yogjakarta. Dengan dalih ingin belajar soal batik. Namun Bryan menduga kalau kepergian Tania kali ini adalah untuk mengatasi rasa shock yang dia terima akibat perbuatannya.
"Bagus sekali. Ternyata hanya seperti ini saja kamu sudah melarikan diri" guman Bryan setelah Dika keluar dari ruangannya.
Ternyata rencana Bryan dengan menghancurkan persahabatan Tania dan istrinya. Sangat efektif untuk membuat Tania jatuh. Shock juga putus asa dalam waktu yang bersamaan.
Bryan kembali menyunggingkan senyum jahatnya.
"Akan kunikmati penderitaanmu kali ini Tania Adelia" ucap Bryan sambil menatap keluar jendela ruang kerjanya di kantor Aditama Group.
***
Pagi menjelang. Tania terbangun ketika sinar matahari mengusik matanya. Menyusup masuk lewat gorden kain berwarna baby blue yang ada di kamar yang dia tempati.
Perlahan bangun. Lantas meregangkan tubuhnya. Keluar dari kamarnya lalu membuka gorden ruang tamunya. Setelah terlebih dulu memcuci muka dan menggosok giginya.
Bisa dilihatnya. Jalanan didepan rumah sewanya lumayan ramai. Lalu lalang kendaraan bermotor sepertinya akan jadi hal baru bagi Tania mulai sekarang.
Tania membuka pintu rumah sewanya. Melihat keadaan sekelilingnya. Disamping rumah sewanya ada toko kelontong. Terus ada warteg di depan rumah sewanya. Diseberang jalan. Ada penjual mi ayam, bakso dan masih banyak lagi. Wah bakalan seru nih pelariannya kali ini.
Tania pikir dia harus pergi ke toko buah. Soalnya dia kemarin lupa membeli alpukat yang jadi sarapan paginya. Andri menjelaskan kalau dia boleh menggunakan semua peralatan elektronik yang ada di rumah itu. Juga dengan peralatan masak dan juga dapurnya.
Tadi sekarang karena perutnya lapar. Lebih baik dia beli makanan saja di warteg depan itu. Masuk kembali ke dalam. Meraih dompetnya. Lantas menyeberang jalan menuju warteg.
Tak berapa lama. Tania sudah kembali ke rumah sewanya. Membawa dua kresek nasi bungkus dengan lauknya. Yang menurut Tania enak sekali. Bayangkan di warteg yang ada didaerah kampung. Warteg itu bisa menyediakan berbagai lauk. Bahkan udang dan cumi juga ada. Satu lagi harganya juga lumayan murah untuk kantong Tania.
Ehh...kantong elu kan kantong sultan. Jelas saja elu bilang murah πππ
Setelah meletakkan satu kresek nasi bungkus dirumah sewanya. Tania lantas menuju rumah Andri yang ternyata masih satu halaman dengan rumah sewanya. Mobil Tania sendiri dia parkirkan di halaman rumah Andri.
"Pagi..." Tania memberi salam.Sambil mengetuk pintu.
Ternyata yang membukanya seorang remaja yang memakai seragam SMA.
"Adik Andri mungkin" batin Tania.
"Cari siapa ya, Mbak?" tanya remaja itu.
"Enggak cari siapa-siapa. Saya orang yang sewa rumah disebelah. Hanya ingin memberikan ini" ucap Tania menyerahkan satu kresek besar lauk dari warteg.
"Ooo, Mbak temannya mas Andri?" tanya remaja itu.
"Ah iya" jawab Tania tidak menyangka kalau adik Andri tahu tentang dirinya.
"Mau masuk dulu. Mas Andrinya baru mandi. Mbak Yuli masih ngurusin Qila" jelas remaja itu.
"Aah tidak usah. Saya pulang saja kalau begitu" ucap Tania permisi pulang.
Bersamaan dengan seorang pemuda berusia sebaya dirinya. Masuk ke halaman rumah Andri sambil membawa alat pancing.
"Siapa?" tanya pria itu.
"Temannya mas Andri. Yang ngontrak di sebelah" jelas remaja itu.
__ADS_1
Sejenak pemuda tadi menatap Tania yang mulai masuk ke rumah sewanya.
"Kenapa? Naksir? Kepo? Mas nggak level sama Mbaknya itu" cemooh sang adik.
"Kenapa?"
"Dia cantik. Tajir lagi. Lihat saja mobilnya tu...." remaja itu menunjuk mobil TRD Sportivo yang parkir dihalaman rumah mereka.
"Ini mobilnya?" tanya pemuda itu. Dan si adik mengangguk.
"Masnya nggak level sama mbak itu. Lagian mana mau Mbak cantik itu sama Mas yang pengangguran. Yang kerjaannya cuma mancing....mancing amarah" seloroh remaja itu.
"Vera...." teriak pemuda.
Sementara si adik sudah heboh di meja makan. Dia begitu senang melihat lauk yang diberikan Tania. Ada udang, cumi. Telur. Ayam hampir semua lauk dibeli Tania.
"Kamu kenapa Ra?" tanya Yuli yang baru selesai memandikan Qila.
"Lihat deh Mbak. Temannya mas Andri beliin lauk sebanyak ini. Wah mana semua Vera suka"
"Ini mbak Tania yang belikan?" tanya Yuli.
"Oohh namanya Tania. Namanya cantik secantik orangnya" oceh Vera.
Sementara Tania yang sudah selesai mandi. Bersiap untuk memakan sarapannya. Mengambil ponselnya. Setelah semalam hampir mati karena lupa di cas.
Sedikit ragu. Ketika akan memakan sarapannya. Sudah hampir lima tahun ini, dia tidak pernah sarapan nasi.
Akhirnya dengan terpaksa dia sarapan juga. Daripada cacing di perutnya semakin gencar melancarkan demo kelaparan mereka.
Tak berapa lama.Andri datang. Sudah siap dengan atribut kebesarannya untuk menjadi sales kain.
"Kamu tu jangan merepotkan diri. Masak kami kamu belikan lauk sebanyak itu" omel Andri langsung tanpa basa basi.
"Alah orang cuma sekalian. Tadi aku lapar terus lihat ada warteg didepan. Aku beli saja disitu. Anggap saja rezeki buat keluarga kalian"
Andri tampak tidak terima.
"Alah, jangan marah. Nanti rezekinya berkurang lo" goda Tania.
"Kamu ini. Besok jangan diulangi lagi"
"Siap pak Bos"
"Ya sudah aku ngluyur nyari rezeki dulu. Ada apa-apa tanya saja ke Yuli" pesan Andri.
"Beres Bos"
Pria itu kembali ke rumahnya. Langsung naik ke motornya. Dilepas oleh Yuli dan Qila. Pria itu membunyikan klakson motornya kala melintas didepan rumah sewa Tania. Membuat Tania melambaikn tangannya.
Sejenak Tania menatap Yuli yang mulai sibuk dengan pekerjaannya sebagi ibu rumah tangga. Sedang Qila tidak terlihat di depan rumah itu. Tanpa sadar seorang pria nampak menatap Tania dari kejauhan. Terpesona..
Tania meraih ponsel disaku celana jeansnya.
__ADS_1
"Ya...Ta?"
Tania masuk ke rumah sewanya. Lantas menyalakan laptopnya. Mulai bekerja dari Yogyakarta.
***
Kai tampak memijat pelipisnya pelan. Pria itu masih berada di ruang kerjanya, didalam kamarnya. Dia sudah memakai kemeja kerjanya. Tinggal memakai dasi dan jasnya.
"Adikmu pergi ke Jogya. Si brengsek itu mengadu domba antara Tania dan Vera. Membuat Tania seolah menggoda bajingan itu"
Satu pesan yang baru saja masuk. Langsung membuat kepalanya pusing. Belum ditambah dengan kehamilan simpatik yang dia alami. Ya, akhirnya setelah hampir tiga tahun menunggu. Sang istri tercinta, Natasya akhirnya bisa hamil.
Meski dia yang harus merasakan morning sick-nya setiap pagi sejak dua minΔ£gu lalu.
"Kenapa?" tanya Natasya yang sudah duduk disamping Kai. Membawa dasi dan jas milik Kai.
"Pusing lagi? Mual lagi?" tanya Natasya.
Kai menggeleng. Menatap dalam wajah sang istri. Lantas tanpa aba-aba langsung mencium bibir pink sang istri. ********** begitu dalam dan intens. Cukup lama keduanya larut dalam ciuman panas mereka.
Hingga Kai melepaskan pagutannya terlebih dahulu. Kembali menatap wajah Natasya.
"Ada apa?" tanya Natasya khawatir.
Kai memeluk tubuh istrinya. Menyandarkan dirinya ditubuh istrinya.
"Tania pergi ke Jogja sendirian" Kai berkata setelah menarik nafasnya dalam.
"Apa maksudmu? Mereka bertengkar?" tanya Natasya panik.
"Mereka tidak bertengkar. Si brengsek itu berulah lagi. Dia menghasut Vera untuk membenci Tania. Dengan mengatakan kalau Tania menggoda si brengsek itu" jelas Kai.
"Yang benar? Lalu Tania bagaimana? Dia pasti shock sekali. Dia dan Vera sudah seperti kakak adik. Sejak dulu kemana-mana selalu berdua" tanya Natasya.
"Tania jelas shock dan terpukul. Dibenci oleh sahabat sendiri itu sangat menyakitkan. Apalagi ini karena dihasut orang" Kai menjawab.
"Lalu kita harus bagaimana? Kita hancurkan saja si Bryan itu" usul Natasya.
Dia sebenarnya sudah benci setengah mati pada pria bernama Bryan itu.
"Tidak bisa. Vera baru saja melahirkan. Lagipula adikmu tidak mengizinkan kita mengusik bisnis si brengsek itu. Nanti Vera dan anaknya ikut terkena imbasnya" cegah Kai.
"Hah kenapa dia begitu?"
Kai mengedikkan bahunya. Detik berikutnya. Kai menutup mulutnya. Ketika rasa mual datang menerpa. Natasya yang tahu akan hal itu. Langsung memijat pelan tengkuk sang suami. Membuatnya merasa lebih baik.
***
Kredit Instagram @_Iam_linyi
Abang Kai yang lagi kena morning sick. Semangat bang, demi debay yang sudah lama ditunggu πͺπͺπͺ
__ADS_1
π€£π€£π€£ Authornya malah ngetawain..
****