Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Warning Letter Dariku


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya,


Jakarta,


Tampak dua pria tampan sedang menikmati waktu mereka di ruangan Lee Joon. Lantai 35, LJ Group Head Office.


"Bagaimana? Aku dengar kamu baru pulang dari Surabaya" tanya seorang pria berparas oriental Cina.


Dialah Kaizo Aditya. Kakak tiri Tania. Yang di masa lalu, membuat Tania patah hati dan terluka.



Kredit Instagram@ supapan_noi


Visualnya Kaizo Aditya ya guys, masih pada ingat to.


"Yah, aku baru balik tadi pagi" jawab Lee Joon.


"Bertemu adikku?"


"Tidak sih. Aku hanya bertemu adikku. Jayden"


"Apa benar yang kau katakan waktu itu?"


"Soal adikku mengejar adikmu?"


Lee Joon mengangguk.


"Jayden tidak mengatakan dengan jelas soal hal itu. Hanya saja aku rasa mereka tengah liburan bersama saat ini"


"Adikku di Telaga Sarangan sekarang. Berarti Jayden juga ada disana"


"Mungkin" jawab Lee Joon ambigu.


Hening,


"Omong-omong apa kau mengirim orang untuk mengawasi adikmu. Dia mengganti identitasnya sekarang"


"Aku tahu dia mengganti namanya menjadi Tania. Aku mengirim seorang kawan untuk mengawalnya" jawab Kai.


"Kenapa aku rasa, Tania terkesan bersembunyi" tanya Lee Joon.


"Dia memang sedang menyembunyikan diri. Atau yang jelas, menghindari kami. Menurut info dari pengawalku dia patah hati dan terluka setelah kejadian waktu itu, you know ketika aku lebih memilih kakaknya" ucap Kai sendu.


"Aku paham, tapi bukankah cinta juga tidak bisa dipaksa"


Kai mengangguk.


"Aku benar-benar hanya menyayanginya sebagai adik. Tidak lebih" tambah Kai.


"Dan dia kecewa" timpal Lee Joon.


"Orangku bilang, dia nyaris bunuh diri kala itu. Untung ketahuan. Dia merasa bersalah atas semua yang terjadi. Merasa malu untuk bertemu kami. Padahal itu tidak benar"


Lee Joon terdiam mendengar curhatan temannya itu.


"Sejujurnya aku juga merasa bersalah atas kejadian hal ini. Membuatnya terluka. Tapi sungguh aku tidak bisa menerima cintanya"


"It's okay Bro. Bukankah sejak awal kau sudah mengatakan kalau hanya menganggapnya adik? Jadi itu bukan salahmu. Itu salahnya sendiri tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri. Salah mengartikan perhatianmu. Jadi berhentilah merasa bersalah. Anggap saja ini proses untuk membuat Tania bertambah dewasa"


Kai tampak berpikir.


"Mungkin kau benar. Dia semakin dewasa saat ini. Aku sendiri tidak menyangka kalau dia bisa dibilang sukses dalam waktu singkat. Dia bisa membuktikan kemampuannya. Bahwa pilihannya tidak salah"


"Jayden bilang kalau adikmu berbakat dalam design. Rancangannya bagus-bagus. Tapi dia enggan untuk ikut fashion show"


"Passion-nya memang di design. Dia tidak mau diekspose media. Takut kami tahu keberadaannya"


"Padahal kau sudah tahu sejak awal dimana dia sembunyi" Lee Joon terkekeh.

__ADS_1


Kai tersenyum.


"Soal mencari orang tukang kabur kita ahlinya" seloroh Kai.


"Kau benar" timpal Lee Joon.


Dan keduanya terbahak sejenak.


"Aku hanya berharap adikmu, Jayden adalah orang yang dibutuhkan Tania. Meskipun yaa, dia mantan casanova. Asal dia tidak kumat lagi"


"Tidak akan. Aku berani menjaminnya. Kalau tidak, tidak akan aku izinkan dia bertemu putrinya"


"Putrinya?"


"Lia, putriku. Dia kan meng-klaim Lia putrinya sejak lahir. Tapi biarlah. Itu akan jadi kunci jika dia berani macam-macam"


"Kau pandai memanfaatkan situasinya. By the way sudah lama tidak bertemu si kembar"


"Sekali-sekali kita sepertinya harus ngumpul. Rame sekarang. Siapa tahu kamu juga bisa tertular. Punya anak juga"


"Pasti lucu kalau bisa punya baby"



Kredit Instagram.com


Visual Lee Joon dan Jayden. Kan kembar jadi sama he he


***


Jayden langsung menarik tangan Tania. Begitu gadis itu masuk ke villa. Tentu ulah Jayden ini membuat Tania bingung. Sedang Rina dan pak Yono tampak diam. Enggan mencampuri urusan "pasutri" itu.


"Ini ada apa sih?" tanya Tania bingung.


Jayden hanya diam. Menarik Tania masuk ke kamarnya. Jayden setengah menyentak tubuh Tania begitu mereka masuk ke kamar. Tubuh Tania sedikit terhuyung.


"Apa sih?" tanya Tania kesal sedikit mengusap pergelangan tangannya. Merah dan sedikit sakit.


"Kenapa kamu marah? Aku biasa pergi dengan pak Yono tiap kali kemari"


"Sekarang tidak boleh. Kamu hanya boleh pergi denganku"


"Seenaknya saja" gerutu Tania.


"Kamu kan tahu aku memang seenaknya sendiri"


"Kalau begitu aku juga bisa seenaknya sendiri"


Ucap Tania. Lantas mendorong tubuh Jayden menuju pintu kamarnya. Berusaha membuat Jayden keluar dari kamarnya.


"Kamu mau apa?" ucap Jayden menahan tubuhnya sendiri agar tidak terdorong Tania.


"Keluar dari kamarku. Balik ke kamarmu sana" usir Tania.


"Tidak mau! Aku kan suami kamu!"


"Suami dari Hongkong! Keluar sana!" Tania berteriak.


Tapi teriakan Tania tidak berlangsung lama. Karena Jayden dengan cepat membungkam bibir Tania dengan bibirnya. Membuat Tania terdiam seketika.


"Jangan berteriak. Tidak ada peredam di kamar ini" ucap Jayden setengah berbisik.


"Bodo amat!" Tania kembali berteriak.


Dan Jayden kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Tania. Sedikit melum**nya. Membuat Tania kembali terdiam.


"Dasar modus. Mesuum!"


"Berteriak lagi dan aku akan membuatmu mendes**!" ancam Jayden.

__ADS_1


"Berani kamu...


Belum selesa bicara. Tubuh Tania sudah didorong jatuh ke kasurnya. Tania jelas terkejut. Apalagi ketika dengan cepat, Jayden membuang kaos polonya. Memperlihatkan tubuh sempurnanya.


"Kakak mau apa?" tanya Tania panik.


Seolah dejavu. Tania samar-samar ingat kejadian dua tahun lalu. Bagaimana Jayden benar-benar membuatnya hilang kendali dan hilang akal.


"Daripada kamu berteriak tidak jelas. Lebih baik mengubah teriakanmu menjadi desa***" ucap Jayden sambil menyeringai.


Jayden segera naik ke kasur. Merangkak naik ke atas tubuh Tania yang bergetar hebat. Karena panik dan takut. Detik berikutnya Jayden langsung menyambar bibir Tania. Menciumnya dalam. Sementara Tania langsung menahan dada bidang Jayden agar tidak semakin menempel ke tubuhnya. Berusaha mendorong jauh tubuh Jayden.


Ciuman itu berlangsung beberapa waktu. Tangan Tania yang tadinya sibuk mendorong tubuh Jayden kini sudah dikunci diatas kepala gadis itu. Membuat Tania tidak bisa melawan. Apalagi kedua kaki Jayden mengunci kedua kaki Tania. Membuat Tania benar-benar tidak bisa bergerak.


Sedang ciuman Jayden semakin dalam. Seiring has***nya yang juga mulai naik.


"Oh sh**! Gadis ini benar-benar bisa membuatku hilang kendali" batin Jayden di sela-sela ciuman panasnya.


Sedang Tania sendiri juga mulai kehilangan kesadarannya. Gadis itu mulai ikut membalas ciuman Jayden. Membuat Jayden semakin frustrasi dibuatnya.


Sesaat kemudian Jayden melepaskan ciumannya. Menatap Tania dengan nafasnya yang memburu. Menahan gelombang gai*** yang kian kuat datang menyapa.


"Katakan padaku apa kamu menginginkannya?" tanya Jayden menatap dalam bola mata Tania.


Jujur tubuh Tania menginginkan lebih. Dia jelas masih mengingat bagaimana sentuhan Jayden membuatnya mabuk kepayang. Bagaimana sentuhan Jayden membuatnya hilang kendali.


Tapi Tania juga masih waras. Tidak ingin mengulangi kesalahannya dua kali. Tania hanya diam menatap wajah Jayden. Pria itu jelas sedang berusaha menahan gejolak tubuhnya. Keduanya diam.


"Aku....


"Aku mengerti" ucap Jayden memotong ucapan Tania. Jayden tahu Tania jelas masih ragu dengan hubungan mereka. Jadi dia sebisa mungkin untuk tidak memberikan kesan kalau dia memaksa Tania.


Meski sekarang kepalanya pusing. Serasa mau pecah. Dengan cepat Jayden menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Tania. Menghirup aroma tubuh Tania dalam-dalam. Berharap aroma Tania bisa meredam has***nya yang terlanjur meroket naik.


"Kak..." rengek Tania.


"Ssttt diamlah. Biarkan begini dulu. Jangan bergerak. Nanti dia tambah liar" ucap Jayden di balik telinga Tania.


"Haahh maksudnya? Aaaawwwhh Kak" Tania menjerit tertahan ketika Jayden menghi*** leher Tania kuat. Membuat Tania yakin kalau Jayden tengah membuat kissmark di lehernya.


"Itu hukumannya karena kamu berani pergi dengan laki-laki lain" ucap Jayden sambil tersenyum di ceruk leher Tania.


"Astaga. Kakak cemburu dengan pak Yono? Dia cuma supir Kak" bela Tania.


"Bodo amat!"


"Astaga" Tania memutar matanya malas. Ternyata begini kelakuan asli Jayden kalau sedang cemburu.


"Kak...


"Apa?"


"Berat" Tania sedikit mengeser tubuhnya.


Jayden hanya menyeringai mendengar keluhan Tania. Sebenarnya dia tengah menikmati himpitan benda kenyal milik Tania. Yang menempel didada polosnya.


"Aku rasa dadanya semakin padat saja. Pasti sangat sek**" batin Jayden.


"Oh come on Jayden. Jangan aneh-aneh atau kamu akan hilang kendali" kembali Jayden membatin.


"Dengarkan aku Tania. Sekali lagi kamu ketahuan pergi dengan pria lain. Aku tidak akan segan untuk langsung menerkammu"


"Kakak mengancamku"


"Ya itu ancaman. Dan ini warning letter dariku" ucap Jayden kali ini menggigit bahu Tania yang masih terbalut kemeja.


"Kakak gila!" maki Tania.


Sedang Jayden terkekeh puas. Mendengar makian Tania. Perlahan Jayden memejamkan matanya. Mencoba tidur. Tanpa ingin merubah posisinya. Menindih tubuh Tania.

__ADS_1


****


__ADS_2