Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Berbahagialah Selalu


__ADS_3

Tania menyilangkan kedua tangan didadanya. Menatap tajam wajah Jayden. Pria yang akhir-akhir ini benar-benar sudah membuatnya yakin kalau dia sudah berhenti dari tabiat lamanya. Jadi seorang casanova.


Tapi obrolan Jayden dan Rey yang tadi sempat didengarnya. Saat masuk ke ruangan Rey. Membuatnya ragu kembali. Padahal dia sudah berniat untuk membuka pintu hatinya. Karena nyatanya dia sendiri pun mulai jatuh cinta pada sosok Jayden.


"Jadi apa yang kalian bicarakan?" tanya Tania memulai interogasinya.


"Bicara apa? Itu soal pekerjaaan, Baby" Jayden berusaha mengalihkan.


"Pekerjaan? Tidak salah dengar aku? Kok ada part plus dua satu yang aku dengar" tanya Tania curiga.


"Ayo berpikirlah Jayden. Berpikirlah" batin Jayden.


"Tidak dijawab" desak Tania.


"Oh itu ada klien yang ingin membuat photoshoot atau video dengan tema plus dua satu" kilah Jayden.


"Memang ada?" tanya Tania curiga.


"Adalah" jawab Jayden meyakinkan.


"Kalau bohong awas kamu!" ancam Tania.


Jayden hanya bisa nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Baru kali ini dia salting menghadapi seorang wanita.


"Dan ini semua gara-gara Rey. Awas kau Rey" batin Jayden penuh ancaman.


Menyiapkan serentetan rencana untuk membalas perbuatan Rey. Dia yang enak, aku yang kelimpungan.


Di sisi lain,


Bryan tengah menemani bumil cantik yang masih ngambek gegara ulah sang calon ayah mertua.


"Sayang, jangan ngambek lagi dong"


"Bodo!" jawab Vera judes.


Mereka sedang memilih dekorasi untuk acara resepsi mereka. Sebenarnya Vera tidak ingin mengadakan resepsi. Tapi Bryan bersikeras untuk mengadakan resepsi.


Secara dia sekarang orang kaya. Jadi ingin memberikan yang terbaik bagi Vera. Juga ingin membuktikan kalau dia benar-benar telah berubah. Ingin menunjukkan kalau Veralah satu-satunya wanita di kehidupan Bryan.


Setelah diskusi yang lumayan lama dengan wedding organizer yang menangani pernikahan mereka. Akhirnya diputuskan kalau keduanya akan memakai dua konsep sekaligus. Indoor dan outdoor.


"Iiih lama sekali sih datangnya" cemberut Vera ketika melihat Sean dan Nita datang. Mereka datang untuk membantu memilih gaun pengantin. Juga gaun untuk bridemaid dan jas untuk para groome.


"Sorry. Kan ngelarin kerjaan dulu. Tania mana?" jawab Nita.


"Masih nyamperin Jayden" jawab Bryan.


"Nah itu dia" Vera menunjuk ke arah pintu.


"Lama sekali" gerutu Sean.


"Itu si mantan casanova bikin ulah" ucap Tania judes.


Sedang Jayden langsung memasang tampang innocent-nya.


"Memang ngapain dia?" bisik Vera.


"Tahu deh. Sama si Rey" jawab Tania sambil ikut memilih gaun.


Sedang para pria langsung duduk di sofs tunggu.


"Suruh mereka sekalian milih buat nikahan. Besok tidak usah milih lagi" usul Bryan.

__ADS_1


"Eh boleh juga itu" timpal Sean yang langsung menghampiri para wanita.


"Tania tidak usah" teriak Jayden.


"Kenapa?"


"Aku sudah menyiapkan untuknya"


"Waahhh hebat sekali kamu" puji Bryan.


"Kamu lupa siapa aku?" sombong Jayden.


Bryan mencebikkan bibirnya, kesal dengan kenarsisan temannya itu.


Setelah pilih sana. Pilih sini akhirnya mereka memilih gaun masing-masing. Semua jelas menyukai gaun pilihan masing-masing. Tapi tidak dengan Tania.


Karena dia sendiri yang tidak memilih gaun pengantin. Hanya memilih gaun untuk menjadi bridemaids.


"Kenapa cemberut? Kamu bisa pilih gaun yang kamu mau" ucap Jayden.


"Tidak ada yang kusuka. Lagipula aku belum memutuskan untuk menikah" ucap Tania sedikit melirik Jayden.


"Kenapa? Karena aku belum melamarmu?"


"Bukan"


"Lalu?"


"Karena aku belum memutuskan perasaanku" jawab Tania.


Menatap mata hitam milik Jayden yang balik menatapnya.


"Kamu meragukanku?"


"Masih"


"Entahlah"


"Oh my God" Jayden meraup kasar wajahnya.


Dengan cara apa lagi dia harus meyakinkan gadis yang ada didepannya ini.


***


Hari pernikahan akhirnya tiba. Semua nampak begitu bahagia. Begitu juga Vera, bumil cantik sang pengantin wanita. Wajahnya tak henti menyunggingkan senyum bahagianya.


"Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu" doa Tania mencium pipi kiri dan kanan pengantin wanita. Memeluknya cukup lama.


Ada haru yang menyelinap di hati keduanya. Mereka teringat bagaimana melewati hari-hari sulit mereka berdua selama ini. Saling mendukung, saling menyemangati satu sama lain. Sesaat mata keduanya berkaca-kaca.


"Tidak boleh menangis" ucap Tania pelan.


Vera mengangguk.


"Hari ini dan seterusnya. Jangan biarkan air mata kesedihan turun di pipimu" ucap Tania lagi.


Demi mendengar hal itu. Vera langsung memeluk erat Tania. Tanpa di suruh. Keduanya sudah menangis bersama. Membuat yang lain ikut terharu melihat pemandangan itu. Terlebih Sean. Orang yang paling tahu perjalanan mereka di Surabaya.


"Berjanjilah padaku. Setelah ini, kamu juga harus bahagia. Tidak peduli dengan siapa. Atau dalam keadaan yang bagaimana" ucap Vera setengah berbisik.


Vera tahu. Tania masih ragu soal hubungannya dengan Jayden. Meski sebenarnya, Vera bisa melihat Jayden begitu tulus pada Tania. Berbeda saat Bryan bersama Tania.


"Sudah, sudah. Calon suamimu sudah menunggu" ucap Sean.

__ADS_1


Yang hari itu bertindak sebagai pengantar mempelai wanita. Vera yang yatim piatu tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Pada awalnya Vera ingin berjalan sendiri ke altar. Namun semua menolaknya. Setidaknya harus ada yang mengantarnya. Mereka khawatir dengan lantai licin hotel itu. Juga heels tujuh senti yang Vera pakai.


Dan akhirnya dipilihlah Sean.Pria tampan yang sudah dianggap kakak oleh Vera dan Tania. Meski umurnya tidak berbeda jauh dari keduanya.



Kredit google.com


Pria itu terlihat tampan dengan suit hitamnya. Lengkap dengan dasi kupu-kupunya.


Perlahan keduanya berjalan keluar menuju ke venue pernikahan. Tania, Nita dan Maura tampak mengiringi di belakang mereka. Gaun putih yang dipakai Vera membuat bumil itu bertambah cantik.


Begitu pintu ballroom dibuka. Bisa Vera lihat, Bryan menunggu diujung sana. Dengan senyum yang terukir sempurna di wajahnya. Sama dengan Vera. Pria itu mengenakan suit berwarna putih juga.



Kredit Twitter.com


Dia terpesona menatap Vera. Sungguh tidak menyangka jika Vera benar-benar mau menikah dengannya.



Kredit Google.com


Vera masih menunggu Sean yang mengambil buket bunganya yang tertinggal di kamar hotelnya. Bumil itu terus menatap kedepan, dimana Bryan tengah menunggu dirinya.


Ada jutaan perasaan yang kini berkecamuk di hati Vera. Yang jelas, dia berharap keputusan yang telah dia ambil ini tidaklah salah. Berharap dia tidak membuat kesalahan lagi dalam kehidupan. Memastikan jika Bryan adalah tumpuan hidupnya untuk selanjutnya.


"Sudah siap?" tanya Sean.


Vera menatap Sean sesaat.


"Kamu masih bisa mundur kalau kamu ragu. Kami selalu ada untuk mendukungmu" ucap Sean lagi.


Vera lantas menatap berkeliling. Di satu sudut dia bisa melihat semua mata menatap ke arahnya. Tania, Jayden, Nita, Rey, Maura. Semua orang yang selama ini mendukungnya ada di sana semua.


Berharap yang dia lakukan benar. Vera menatap Sean. Lantas menganggukkan kepalanya. Sean menarik nafasnya.


"Okay boy, let me take your mother to your papa" ucap Sean.


Lantas mulai melangkah. Bisa Sean rasakan jika Vera semakin lama semakin mengeratkan pegangannya pada lengannya.


"Jangan gugup. Dia suamimu sekarang. Tarik nafas dan buang perlahan" bisik Sean."



Kredit Google.com


Sejenak Sean berhenti di depan Bryan.


"Jaga adikku mulai sekarang. Jangan menyakitinya. Jangan membuatnya menangis. Awas saja jika kau sampai membuatnya menangis. Aku hajar milikmu sampai habis" ancam Sean saat dia memeluk Bryan.


"Aku akan selalu menjaganya. Dan mencintainya seumur hidupku" jawab Bryan mantap.


"Bagus! Aku pegang janjimu" ucap Sean lantas menyerahkan tangan Vera ke dalam genggaman Bryan.


"Berbahagialah selalu" ucap Sean seraya menggenggam erat tangan Bryan dan Vera menjadi satu.


Sejurus kemudian mata Vera berkaca-kaca.


"Sean....


"No more tears in your eyes beautifull Mommy" ucap Sean.

__ADS_1


Lantas berlalu dari hadapan keduanya.


****


__ADS_2