Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Kejadian Di Masa Lalu


__ADS_3

Sejenak Tania membeku melihat siapa pria yang berdiri didepannya. Jelas dia tidak percaya akan bertemu pria ini setelah setahun lebih sejak kejadian panas diantara mereka berdua.


"We meet again, Baby"


Lagi kalimat itu terucap dari bibir seksi Jayden. Suara baritone Jayden membuat jantung Tania berdetak sepuluh kali lipat dari biasanya. Entah sebenarnya apa yang Tania rasakan. Takut? Mungkin iya. Mengira pria yang berdiri di depannya adalah Lee Joon. Seorang pria beristri.


Tapi disatu sisi timbul pertanyaan di benaknya. Mengapa pria ini berani menemuinya. Dan dari nadanya bicara menyiratkan kalau pria dihadapannya ini sudah lama mencarinya. Untuk apa? Kalau soal tanggungjawab. Bukankah dia sebagai perempuan yang harusnya minta pertanggungjawaban dari pria dihadapannya ini.


Pada akhirnya Tania memilih melangkahkan kakinya. Menghindari pria ini adalah jalan terbaik pikirnya. Namun baru satu langkah dirinya melewati Jayden. Pria itu mencekal tangan Tania.


"Kamu mau kemana?" tanya Jayden.


"None of your business" jawab Tania dingin.


"Ooohh you left me in our last met, but I'll make sure this time you won't leave me again. You can count on my words" ucap Jayden.


(Oohh kamu meninggalkanku di pertemuan terakhir kita, tapi kali ini akan aku pastikan kalau kamu tidak meninggalkanku lagi. Kamu bisa pegang kata-kataku)


"Itu adalah pertemuan pertama dan terakhir kita. Begitu juga hari ini. Jadi lepaskan tanganku" Tania sedikit berteriak.


Jayden menarik sudut bibirnya. Membuat sebuah senyuman tipis tercipta di sana.


"What if I say no even never"


(Bagaimana jika aku bilang tidak bahkan tidak akan pernah)


Ucap Jayden sambil memiringkan wajahnya. Menikmati wajah kesal Tania.


"And then I'll fight you"


(Maka aku akan melawanmu)


Dan "buuggghhh" suara tubuh terbanting ke lantai kayu terdengar memecah kesunyian danau itu. Bersamaan dengan satu umpatan yang keluar dari bibir Jayden.


"Ohh shi**t!!" umpat Jayden.


Sedang Tania tetap waspada. Melihat Jayden meringis menahan sakit di pinggang dan punggungya.


"Kenapa sih dua wanita yang kusuka, suka sekali membantingku" umpat Jayden lagi.


"Mungkin karena kamu pantas menerimanya" jawab Tania.


Perlahan gadis itu melangkah menjauh dari tempat Jayden terbaring. Namun kembali Jayden mencekal tangan Tania.


"Sudah kukatakan kalau aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku" ucap Jayden langsung menarik tangan Tania. Membuat gadis itu jatuh tepat diatas tubuh Jayden.


Tania jelas terkejut. Reflek menempatkan tangannya diatas dada bidang Jayden. Mencegah supaya tubuhnya tidak menempel sempurna di tubuh pria yang kini malah tersenyum menatapnya.


"Oh baby. You know how much miss you"


(Oh sayang, kamu tahu betapa aku merindukanmu)


"Aku tidak mengenalmu. Kita tidak saling mengenal. Bagaimana kamu bisa mengatakan kalau kamu rindu padaku. Iiihhh lepaskan" teriak Tania.


Karena tangan Jayden justru memeluk pinggangnya erat.

__ADS_1


"Ssstt diamlah. Kamu tahu posisimu ini bisa membangunkan yang dibawah sana. Kamu mau aku menerkammu sekarang. Kamu tahu aku tidak pernah bercin** dengan wanita lain sejak hari itu" ucap Jayden setengah mengancam.


Membuat Tania membeku seketika.


"Bukankah dia punya istri. Apa maksudnya dengan tidak pernah bercin** setelah waktu itu" batin Tania bingung.


"Halo, Nona masih betah di atas sana" ucapan Jayden membuyarkan lamunan Tania.


"Lepaskan dulu tanganmu"


"Janji dulu kamu tidak akan lari. Pinggangku sakit kalau harus mengejarmu"


"Tidak mau"


"Kalau begitu. Kita begini saja. Akan lebih bagus kalau ada orang yang melihat kita seperti ini"


"Kau ini.....lepaskan!"


"Janji dulu..." ucap Jayden menatap dalam dua bola mata Tania yang nampak cemas. Melirik ke sekelilingnya. Begitu takut kalau ada orang yang melihat mereka.


"Bagaimana?" tanya Jayden lagi.


"Iya-iya, aku janji tidak lari"


Jayden tersenyum. Lantas melonggarkan kuncian tangannya di pinggang Tania. Membuat gadis itu perlahan bangun dari atas tubuh Jayden.


Begitu Tania berdiri. Jayden langsung ikut berdiri. Dengan cepat Tania berlalu dari sana. Namun lagi-lagi, tangan Jayden menahannya lagi.


"Apalagi sih?" tanya Tania kesal.


"Mau ke mana?" tanya Jayden balik.


"Oh God, kenapa dia galak sekali" batin Jayden.


Pada akhirnya Jayden mengikuti Tania masuk kembali ke venue fashion show. Sedikit lega ketika tahu Jayden tidak mengikuti. Mood Tania jadi berantakan. Bertemu dengan Jayden bukanlah hal yang dia inginkan. Maka itu dia akhirnya memutuskan untuk pulang. Toh acara juga selesai.


Ketika dia melewati pintu keluar. Dia bisa melihat Jayden yang duduk di barisan penonton fashion show itu.


"Siapa sih sebenarnya dia" gumannya pelan. Lantas berlalu. Keluar dari venue itu. Tanpa dia tahu.Jayden mengikutinya.


"Oh Sean. Kamu disini juga?" tanya Tania ketika melihat Sean berdiri bersandar pada mobilnya. Seolah menunģgunya.


"Mau ngajakin pulang bareng. Mau ya?" ucap Sean setengah merengek. Membuat Tania tertawa.


"Kalau aku nggak maupun. Kamu pasti maksa. Betul tidak?"


"Absolutely"


Jawab Sean membenarkan. Dan kejadian itu ditangkap oleh ekor mata Jayden. Membuatnya mengeratkan rahangnya.


"Siapa pria itu? Apa dia kekasih Fanny" batin Jayden yang melihat interaksi manis antara Sean dan Tania.


Jayden hanya diam saja ketika melihat mobil Sean berlalu dari hadapannya. Diikuti Rey yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.


"Merhatiin siapa Bos?" tanya Rey heran.

__ADS_1


"Ambil mobilnya cepat!" perintah Jayden.


Membuat Rey heran. Tapi tak urung memgikuti perintah Bos singanya itu.


"Ikuti CRV hitam yang didepan itu" perintah Jayden begitu mereka sudah siap dengan safety belt mereka.


Rey mengerutkan dahinya. Terlebih melihat Jayden yang duduk di samping kemudinya.Biasanya Jayden lebih suka duduk di kursi belakang.


"Memang itu mobil siapa?" tanya Rey. Mulai melajukan mobilnya.


"Fanny...."


Ciiiitttt,


Rey langsung mengerem mobilnya mendadak. Membuat keduanya hampir saja kepentok dashboard mobil itu jika saja tidak memakai seat belt.


"Are you crazy? Mau bunuh kita?" bentak Jayden.


"Sorry Bos. Sorry. Tadi Bos bilang apa? Mobilnya Fanny? Beneran itu Fanny?" cerocos Rey tanpa henti. Sambil melajukan lagi mobilnya.


"Iya itu Fanny" jawab Jayden.


Matanya sibuk menatap ke depan. Mencari mobil Sean karena mereka tertinggal cukup jauh.


"Itu mereka. Jangan sampai hilang lagi"


"Siap pak Bos"


Sementara di mobil Sean,


"Kamu kenapa?" tanya Sean heran. Melihat Tania yang sedari tadi hanya diam. Tidak seperti biasanya. Namun gadis itu hanya diam. Sean jelas tahu karakter Tania yang memang pendiam dan sedikit tertutup.


"Masih memikirkan soal Bryan" tanya Sean.


Tania menggeleng. Gadis itu bahkan belum bertemu Bryan sejak kejadian dia melihat ciuman panas antara Bryan dan wanita itu di resto tempo hari. Dan lebih baiknya lagi. Bryan juga tidak menghubungi dirinya. Hanya satu pesan singkat yang dia terima dari pacarnya itu.


"Aku akan sangat sibuk dalam beberapa hari ke depan. Jadi maaf jika aku tidak sempat menghubungimu atau bertemu denganmu"


Isi pesan dari Bryan yang membuat Tania berdecih kesal.


"Halo, Nona Tania ada sesuatu yang terjadikah?" tanya Sean lagi ketika dilihatnya gadis itu masih diam saja.


"Ahhh tidak. Aku hanya sedikit kesal. Aku bertemu orang menyebalkan tadi" kilah Tania.


"Membuatmu kesal? Biasanya kamu suka bertemu banyak orang. Apa yang dia lakukan sampai membuatmu kesal" tanya Sean tanpa melihat Tania. Pria itu fokus pada kemudinya.


"Dia tidak melakukan apa-apa. Hanya saja dia mengingatkanku soal kejadian di masa lalu. Dan itu cukup mengganggu pikiranku" jawab Tania membuat Sean mengerutkan dahinya.


"Kejadian di masa lalu? Cukup membuat pikirannya terganggu?" batin Sean.


Ucapan Tania cukup membuat Sean kepo. Terlebih lagi ekspresi Tania kala mengucapkan "kejadian di masa lalu". Ekspresinya begitu gugup. Seolah "kejadian di masa lalu" itu merupakan sesuatu yang buruk bagi Tania.


Namun Sean pun tidak ingin mengorek lebih dalam akan hal itu. Dia cukup bisa menghargai privasi seseorang. Tentu dia tidak akan memaksa Tania bercerita. Kalau gadis itu tidak ingin menceritakannya.


Sementara di mobil belakang mereka. Jayden cukup emosi membayangkan Tania bersama seorang pria di dalam satu mobil.

__ADS_1


"Tidak akan kubiarkan kau lari dari pandanganku kali ini"


*****


__ADS_2