Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Beri Aku Kesempatan


__ADS_3

Braaakkkk,


Suara pintu yang dibuka kasar membuat penghuninya langsung menoleh kearah pintu. Terkejut, sama seperti Bryan yang terkejut melihat sepasang manusia tanpa sehelai benang apapun di tubuh mereka, tampak sedang asyik menikmati sesi panas mereka.


"Astaga, Mama!" teriak Bryan.


Dia shock, melihat sang mama yang sedang asyik memacu tubuhnya diatas tubuh seorang pria yang dia kenal dengan baik.


"Halo, bos" ucap pria itu tanpa dosa.


"Bryan, ngapain kamu kemari?" tanya sang mama.


"Kenapa? Memangnya aku tidak boleh kemari? Supaya aku tidak bisa melihat aksi be*** kalian. Astaga, Mama kenapa dia?" Bryan langsung menyemburkan amarahnya yang sejak tadi ia tahan.


Melihat Mamanya sendiri bergumul dengan Michael, salah satu model di agensinya.


"Kenapa? Memangnya ada yang salah. Kami saling membutuhkan. Yang lebih penting kami sama-sama single. Jadi kami bebas melakukan apapun, termasuk bercin..ta" kali ini sang mama yang bicara tanpa dosa.


Bryan benar-benar shock melihat kelakuan sang mama. Pantas saja selama ini dia tidak pernah protes dengan semua kelakuan Bryan. Ternyata dia sendiri pun sama. Suka bermain dengan banyak pria.


Bryan masih memandang tidak percaya pada sang mama. Yang sekarang sudah memakai handuk kimononya. Sedang Michael sendiri sudah berlalu ke kamar mandi. Setelah sebelumnya membuat Bryan darah tinggi.


Bagaimana tidak membuat darah tinggi. Sebelum pergi ke kamar mandi. Modelnya itu masih sempat melu*** bibir sang mama. Dengan tangannya yang mere*** aset mamanya. Membuat si empunya mele...nguh. Dan semua dilakukan didepan mata Bryan. Keduanya seolah sudah tidak memiliki rasa malu sedikitpun. Menganggap Bryan tidak ada di sana.


"Jadi untuk apa kemari?" tanya sang mama to the point. Mereka sudah berada di ruang tengah.


Bryan kembali terkejut.Melihat sikap mamanya yang terkesan acuh pada dirinya.


"Kenapa Mama tidak memberi tahu siapa Tania yang sebenarnya?" tanya Bryan.


"Kenapa? Apa kamu berhasil menidurinya?" tanya mama Bryan antusias.


"Kalau iya kenapa?" pancing Bryan.


Dia ingin tahu alasannya kenapa mamanya selalu menyuruhnya untuk bisa meniduri Tania.


"Bagus sekali. Dengan begitu mereka tidak akan menolak pernikahan kalian. Karena aku akan menyebarkan aib Tania jika mereka berani menolak pernikahanmu dengan Tania" jawab mama Bryan sumringah.


"Kalau aku tidak mau menikahi Tania?" tanya Bryan lagi.


"Bodoh! Kamu tidak akan mendapat apapun jika kamu tidak menikahinya" akhirnya sang mama membuka kartunya.


"Oohh, jadi ini supaya aku bisa mendapatkan harta Hadiwinata dengan cara meniduri cucunya" Bryan mengambil kesimpulan.


"Bagus jika kamu tahu tujuan mama. Kamu tahu berapa banyak harta Hadiwinata. Kita bisa hidup enak selamanya tanpa perlu bekerja" jawab sang mama tanpa rasa berdosa.


Bryan semakin shock mendengar ucapan sang mama. Tidak menyangka jika seperti inilah sosok mamanya. Yang begitu mendewakan uang. Hingga mau melakukan apapun untuk mendapatkannya. Termasuk menggunakan cara kotor. Menjerat Tania, cucu Hadiwinata.


Semakin sadar jika keputusannya untuk mengikuti sang mama adalah sebuah kesalahan.


"Kenapa Mama melakukan ini?" tanya Bryan tiba-tiba.


"Apa?"


"Uang. Kenapa Mama mau melakukan apapun untuk uang?" tanya Bryan.


"Oh come on Bryan. Jangan munafik. Semua orang membutuhkan uang untuk hidup" jawab mama Bryan.


"Kalau hanya sekedar untuk hidup. Aku bisa menghidupi Mama. Tanpa perlu mencari tambahan harta dari orang lain"


"Itu tidak cukup Bryan. Mama ingin hidup mewah. Bisa beli ini, beli itu. Liburan mewah. Jika mama bisa mendapatkan harta Hadiwinata. Mama bisa mendapatkan itu semua"


Bryan jelas kecewa mendengar jawaban mamanya. Matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


"Jadi ini sifat asli mama. Pantas saja Papa lebih memilih menceraikan mama. Mama benar-benar tidak bisa disebut sebagai seorang ibu" ucap Bryan dengan rasa kecewa membuncah di dadanya.


"Ngomong apa kamu?" ucap mama Bryan tidak terima.


"Sudahlah. Sekarang terserah mama mau melakukan apa. Aku sudah tidak peduli. Dan satu lagi....aku akan segera menikah" ucap Bryan membuat wajah sang mama langsng berubah senang.


"Tentu saja kau harus segera menikahinya"


"Aku akan menikah tapi bukan dengan Tania. Aku akan menikahi Vera karena dia sedang mengandung anakku" ucap Bryan berlalu dari hadapan mamanya.


Yang tidak percaya dengan ucapan Bryan.


"Apa maksudmu dengan menikah bukan dengan Tania. Hei Bryan! Bryan! Mama belum selesai bicara" teriak sang mama namun tidak digubris oleh Bryan.


"Aku akan hidup sesuai pilihanku sendiri sekarang. Aku tidak sudi hidup sesuai perintahmu lagi" tekad Bryan.


Kecewa itu yang Bryan rasakan saat ini.


***


"Mau apa kemari?!" salak Vera.


"Ra, aku ingin bicara" pinta Bryan.


"Bicara apa? Ah aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu. Pergilah" nada suara Vera menurun.


Mengingat ucapan dokter kalau emosi bisa merusak mood seorang ibu hamil. Dan bisa berpengaruh pada janin.


"Aku ingin minta maaf. Aku tidak bermaksud melakukan itu padamu. Sungguh aku khilaf saat itu" ucap Bryan penuh penyesalan.


Vera tersenyum mengejek.


"Enak sekali kamu bicara seperti itu. Enak sekali kamu bilang kalau aku sendiri yang datang padamu. Dan menyerahkan diriku sendiri"


"Lalu kau pikir bisa melecehkannya juga. Jangan mimpi!"


Bryan gelagapan mendengar ucapan telak Vera.


"Ra...aku tidak bermaksud...


"Sudahlah. Pergi sana. Aku tidak mau melihatmu" usir Vera.


"Aku tidak mau pergi. Sebelum kamu mau menikah denganku"


Vera melonģo.


"Kenapa aku harus menikah denganmu?" tanya Vera.


"Karena kamu sedang hamil anakku"


Vera terkejut. Darimana Bryan tahu kalau dia hamil anaknya. Tanpa Vera tahu. Jayden kelepasan ngomong waktu itu.


"Itu tidak penting dari mana aku tahu. Aku akan bertanggungjawab padamu"


"Bertanggungjawab? Memangnya kamu yakin ini anakmu? Bagaimana jika ini anak pria lain?" Vera mencoba mengelak.


"Jangan memancing emosiku. Aku tahu kau masih perawan saat bercin..ta denganku. Aku yang pertama untukmu. Dan aku tahu dengan jelas kalau, kamu tidak pernah tidur dengan pria manapun selain aku"


"Jangan terlalu percaya diri dulu. Bagaimana kamu tahu aku tidak pernah tidur dengan pria lain?"


"Karena aku tahu benar siapa kamu. Bagaimana kamu" jawab Bryan lembut menatap dalam bola mata Vera.


Membuat hati Vera tersentuh.

__ADS_1


"Ra...aku tahu kamu mencintaiku. Begitu juga aku. Jadi bisakah kita memulai lagi semua dari awal?" tanya Bryan.


Hati Vera melemah. Kemarin dia memang sempat berkata begitu membenci Bryan. Tapi dia tidak bisa memungkiri. Kalau dia juga mencintai Bryan.


Dia membenci Bryan karena pria itu menggunakan dirinya sebagai pelampiasan kemarahannya karena gagal mendapatkan Tania.


Mengingat kembali hal itu. Rasa benci itu muncul lagi. Dia tidak mau hanya dijadikan obyek pelampiasan. Daripada seperti itu. Lebih baik dia melahirkan anaknya tanpa sosok ayah kandungnya.


"Kalau aku tidak mau" jawab Vera.


"Ra, anak kita butuh aku sebagai ayahnya" ucap Bryan.


"Ayah? Sean dan Jayden sudah bersedia jadi ayah angkat anak ini. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Soal biaya? Kamu tahu kekayaan mereka lebih dari cukup untuk menghidupiku dan anakku. Jadi jangan berpikir untuk menikahiku lagi. Pergilah dan jangan pernah muncul lagi di depanku! Aku benci melihatmu!" kalimat itu kembali terlontar dari bibir Vera.


Membuat Bryan membeku. Menatap mata berkaca-kaca milik Vera. Dia tahu seberapa dalam luka yang telah ia torehkan di hati Vera. Dia tahu seberapa parah dia telah menyakiti hati Vera.


"Pergilah. Dan jangan pernah datang lagi...


Ucapan Vera terpotong karena rasa mual tiba-tiba menyerangnya.


"Huweekkkkk!!"


Vera muntah hebat di wastafel. Melihat hal itu Bryan sigap memijat lembut tengkuk Vera. Merasakan tangan Bryan menyentuhnya. Vera berniat menepisnya. Namun urung dilakukannya karena dia muntah lagi.


"Apa dia begitu merepotkanmu?" tanya Bryan. Dia terlihat begitu bahagia bisa menikmati moment ini.


"Bukan urusanmu, huwekk....


Vera muntah lagi. Bryan tersenyum.


"Sepertinya anak ayah ingin berkenalan dengan ayah. Betul tidak?" goda Bryan.


Membuat Vera dengan cepat menepis tangan Bryan. Mendorong tubuh pria itu menjauh.


"Dia bukan anakmu! Pergi dan jangan datang lagi!" teriak Vera.


"Ra...aku mohon. Beri aku kesempatan" mohon Bryan.


"Pergi! Aku bilang pergi!!"


"Halo Le, lihat papa dapat martabak yang kamu mau" ucapan Sean terpotong melihat Bryan dan Vera.


"Ngapain kamu disini?"


Kedua pria itu sama-sama menahan amarah. Bryan marah karena Sean menyebut dirinya papa bagi anaknya.


"Bertemu anakku apalagi" jawab Bryan.


"Kamu memaafkannya?" tanya Sean pada Vera.


"Siapa? Aku sudah mengusirnya dari tadi. Tapi dia tidak mau pergi" ucap Vera pedas.


"Kau dengar? Pergi sekarang juga atau aku panggil sekurity" usir Sean.


Mendorong keluar tubuh Bryan.


"Ra...Vera...dengarkan aku. Berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Vera...!" ucapan Bryan menghilang seiring pintu yang ditutup Sean.


Sedang Vera langsung menangis. Dan pelukan Sean, membuat tangis Vera semakin kencang. Bryan hanya bisa ikut menitikkan airmata di luar pintu.


"Beri aku kesempatan, aku mohon"


****

__ADS_1


__ADS_2