
Setelah melewati drama panjang. Dari sore sampai sekarang hampir jam satu pagi. Pesanan itu akhirnya siap juga. Para pekerja bagian sewing sudah lebih dulu pulang. Tinggal bagian finishing. Seperti obras. Pasang kancing. Merapikan benang. Pasang label. Dan quality control. Membuat Tania dan yang lainnya merasa lega.
Pekerja bagian finishing juga merasa lega sekaligus senang. Apalagi mereka dapat bonus tambahan, martabak yang kebetulan mangkal di depan pabrik. Ludes habis diborong Jayden dan Sean yang kebetulan keluar. Cari angin. Dan melihat penjual martabak didepan pabrik.
Setelah karyawan bagian finishing pulang. Tania dan yang lainnya juga bersiap pulang.
"Pak Anwar, terima kasih ya untuk hari ini" ucap Vera.
"Tidak masalah Bu"
"Oh ya bapak mau pulang silahkan duluan. Saya masih nunggu mereka"
"Ah tidak Bu. Saya pulang besok habis shipment. Saya perlu inform ke packing. Ini bentar lagi mereka datang" Pak Anwar melirik jam tangannya.
"Pak Anwar nggak pulang?"
"Nggak Bu. Saya bisa tiduran sebentar di kantor"
"Ngenol (masuk lebih pagi) biasanya datang jam berapa?"
"Biasanya jam enam Bu. Tapi karena ini spesial case jadi mereka akan datang jam lima. Kan tinggal dua jaman lagi. Nanggung kalau saya pulang" ujar pak Anwar.
"Wah terima kasih lo Pak. Kalau nggak ada bapak saya nggak tahu harus bagaimana" ucap Vera tidak menyangka kalau dia punya karyawan seloyal pak Anwar.
"Saya yang harus berterima kasih sama Bu Vera dan Bu Tania. Jika waktu itu Bu Tania tidak memerintahkan bagian keuangan untuk meloloskan pinjaman saya. Saya tidak tahu harus cari kemana untuk biaya lahiran anak saya yang prematur plus biaya perawatan selama di NICU satu bulan" ujar pak Anwar berkaca-kaca.
"Sudah kewajiban kami menolong Pak"
"Terima kasih Bu. Hanya ini yang bisa lakukan untuk membalas kebaikan kalian"
"Sama-sama, Pak"
Tak lama Tania, Jayden,Nita dan Sean muncul.
"Lo Pak Anwar belum pulang. Nanti Radit nyariin lo" ucap Tania.
"Nggak Bu. Tadi saya sudah pamit sama Radit. Bapak pulang besok. Malam ini harus lembur. Dan dia paham" ucap pak Anwar.
"Bagus kalau sudah pamit. Tapi betul ya besok pagi pulang ambil libur satu hari. Jangan kayak kemarin"
"Ah iya Bu" ucap pak Anwar sambil menggaruk kepalanya.
"Pak, itu masih ada nasi kotak sama martabak bisa buat temen melek" ucap Nita.
"Terima kasih, Mbak"
"Ya sudah kami balik dulu ya pak. Terima kasih. Salam juga buat pak Rahman dan pak Budi packing" ucap Tania.
"Siap Bu. Hati-hati di jalan, Pak"
Sean dan Jayden mengangguk.
"Ta, kamu pulang sendiri" tanya Sean.
"Iyalah"
"Sean kamu anterin gih. Masih malam ini" perintah Vera.
"Saya naik motor, Mbak"
"Sudah biar motornya besok diantar orang ke rumahmu" ucap Sean.
"Tapi...."
"Nita pulang bareng Sean" desis Jayden membuat Nita kicep langsung nurut masuk mobil Vera.
"Thank you Bro"
"Ini gak gratis tahu"
"Dasar kampret lu"
"Otak pebisnis bukan kampret"
"Nyebelin!" maki Sean. Namun Jayden tidak peduli. Pria itu sudah masuk ke mobilnya di mana Vera dan Tania sudah lebih dulu masuk.
"Ra, pinjam mobilnya dulu ya" teriak Sean.
"Alah, biasanya juga main pakai saja. Sekarang pakai acara minta izin segala" cebik Vera.
Kedua mobil itu mulai keluar dari pabrik Tania. Diiringi lambaian tangan pak Anwar. Keduanya berpisah jalan karena tujuan mereka berbeda.
"Kalian pulang kemana?" tanya Jayden.
"Ya ke rumahlah. Mau kemana lagi?" jawab Vera.
Sedang Tania sudah tidak bisa membuka matanya.
__ADS_1
"Aku merem dulu deh. Nggak bisa melek. Nanti bangunin kalau sudah sampai"
"Yah dia merem lagi" sungut Jayden.
"Dia mah peltur" ujar Vera.
"Apa itu?"
"Nempel langsung tidur. Mana susah lagi kalau dibangunin" kesal Vera.
"Iya, kalau sudah tidur susah disuruh bangun"
"Ngalamin kamu?"
"Iya. Katanya minta diantar ke Jalan Tembus. Tidur disana mau nonton sunrise. Giliran sunrisenya nongol. Ampun deh susah bener di banguninnya" cerita Jayden.
"Terus nggak jadi dong nonton sunrisenya"
"Ya jadilah. Aku paksa bangun. Daripada nanti dia ngomel nggak karuan"
Vera meledakkan tawanya. Tidak menyangka. Jayden yang kata Rey si bos singa. Kalah sama omelannya Tania.
"Kenapa tertawa"
"Lucu aja Pak. Bapak kalah sama omelannya Tania"
"Lah tahu sendiri kalau dia ngomel kayak apa"
Vera mengangguk setuju.
"Kayak emak-emak komplek lagi nggibahin tetangga. Nggak ada habisnya"
Giliran Jayden yang ngakak. Membuat Vera melongo. Ternyata Jayden tidak sekaku yang Ray omongkan.
"Kenapa bengong. Heran sama aku?"
Vera mengangguk.
"Aku beda dengan Lee Joon, kakakku. Dia kebalikanku. Serius, dingin. Aku juga seperti itu tapi saat bekerja saja. Di luar itu ya begini. Tapi kata Rey aku ini bos singa. Tukang ngamuk. Seenaknya sendiri. Tukang paksa"
"Tapi Rey betah aja tu kerja sama Bapak"
Jayden mengedikkan bahunya. Tidak paham dengan hal itu. Tidak berapa lama mereka sampai di apartement Tania.
"Aku nggak bisa masuk nih" ucap Jayden.
"Lalu?"
Vera mengedikkan bahunya.
"Balik ke apartemenku. Aku bisa masukkin kalian ke unit milik putriku"
"Putri?"
"Anak Lee Joon. Kakakku"
Vera ber-ooo ria.
Jayden melajukan mobilnya menuju apartementnya. Dan tidak lama mereka sampai.
"Ini apaan sih Kak?" sungut Vera yang merasa sesak di kursi belakang.
"Pesanan kamulah" jawab Jayden.
"Philodendrum?"
"Namanya sukulen bukan philodendrum"
"Masak sih?"
"Pakai ngeyel lagi"
"Halo Rey, bisa bukakan pintu unit Lia"
"...."
"Ya aku sudah pulang"
"...."
"Vera sama Tania yang mau nginap"
"Ayo turun" ajak Jayden.
"Aku sih masih bisa jalan sendiri. La itu?" ucap Vera menunjuk Tania dengan dagunya.
"Coba bangunin"
__ADS_1
"Nggak bakalan bangun. Bapak gendong aja deh"
Sejenak Jayden hanya diam. Lantas perlahan keluar mobil disusul Vera. Dibukanya pintu mobil sebelah Tania. Lalu dengan perlahan direngkuhnya tubuh itu ke dalam pelukannya. Berusaha agar Tania merasa nyaman dulu. Lalu dia berjalan menuju lobi. Masuk kesana. Di mana Rey telah menunggunya.
"Pak Bos kenapa nggak bilang kalau sudah pulang"
"Lupa, tadi langsung ikut lembur ke pabrik Tania"
"Pak Bos mah gitu" kesal Rey.
"Malam Rey" sapa Vera.
"Hampir pagi Neng" sungut Rey.
Vera terkekeh.
"Kenapa tu?" tanya Rey menunjuk bosnya dengan dagunya.
"Biasalah ketiduran. Kalau tidur dia susah dibangunin. Jadi dibawa ke sini saja"
"Lah apartementmu nggak bisa masuk. Kan ada kamu yang bawa masuk"
"Eh iya ya. Kok aku jadi bego begini"
"Kamu kena modus bosku" ucap Rey membuat Vera sadar.
"Dasar seenaknya sendiri" umpat Vera setengah berbisik.
Jayden dengar bisik-bisik antar asisten itu. Tapi biarlah yang penting dia mendapatkan apa yang dia mau. Tania tidur di apartementnya meski bukan unitnya. Tapi setidaknya besok pagi dia tinggal buka pintu penghubung ke unit Lia. Dan dia sudah bisa melihat wajah Tania. Bukankah itu menyenangkan. Membayangkannya saja sudah membuat Jayden tersenyum sendiri.
Tiing,
Pintu lift terbuka. Jayden melangkah keluar lebih dulu. Disusul Rey dan Vera.
Menuju unit nomor 3. Rey membuka kunci menggunakan keycard. Ditambah scan sidik jari. Barulah pintu terbuka.
"Ada tiga kamar. Tinggal pilih. Hanya yang satu double bed. Karena kamarnya si kembar" terang Rey.
"Aku yang mana saja. Penting bisa cepat buat molor. Ngantuk berat ini Rey"
"Huusshh cewek kok ngomongnya molor"
protes Rey.
"Suka-suka akulah. Pak Lee aku suruh tidur dimana" tanya Vera. Merasa dia hanya tamu.
"Antar dia ke kamar kamu" perintah Jayden yang baru buka suara dari tadi.
"Oke aku tidur dulu. Pak Lee, Tania jangan diapa-apain lo" sindir Vera.
"Suka hati akulah" jawab Jayden enteng.
Vera terkekeh melihat ekspresi Jayden. Lalu masuk ke kamar yang ditunjukkan oleh Rey.
"Dah tidur sono. Aku juga mau balik tidur ke unitku"
"Taratengkyu" ucap Vera.
Menatap Rey yang keluar dari apartement itu.Sekilas melihat Jayden masuk ke kamar diseberangnya.
"Ah terserahlah. Aku ngantuk berat" guman Vera. Malas mengurusi hal lain.
Masuk ke kamar tamu. Vera langsung menjatuhkan diri di ranjang. Langsung terlelap dalam mimpinya. Sementara Jayden langsung merebahkan tubuh Tania di ranjang. Membuka jaket dan flat shoes milik gadis itu. Lantas mencium kening Tania lembut.
"Tidurlah yang nyenyak" ucap Jayden.
Dia sendiri langsung keluar. Menuju pintu penghubung. Membukanya menggunakan sidik jarinya. Masuk ke unitnya sendiri. Langsung kekamarnya. Membuka kaosnya. Seperti biasa melemparkannya ke sembarang arah. Naik ke atas kasurnya. Sama seperti Vera. Langsung masuk ke alam mimpi.
***
Matahari sudah tinggi ketika Tania merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Serasa sebuah ciuman. Awalnya dia biasa saja. Hingga lama-lama ciuman itu semakin lama semakin menuntut.
"Ngggg" Tania berguman tidak jelas.
Lantas perlahan mencoba membuka mata. Matanya membulat sempurna melihat Jayden duduk di kasurnya hanya memakai handuk di pinggangnya.
"Kamu ngapain? Apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Tania gelagapan.
Melihat Jayden seperti itu. Yang ditanya hanya mengulas senyum manisnya.
"Morning, Baby" ucap Jayden.
Membuat Tania melongo.
"What the hell si going on"
****
__ADS_1