
Mobil Jayden tiba di pabrik Tania bersamaan dengan mobil box yang membawa kain pesanan mereka. Tania bergegas turun dari mobil Jayden. Yang langsung disambut senyum terkembang Vera. Namun tidak dengan Sean.
Awalnya dia sumringah melihat Tania. Namun wajahnya langsung berubah masam. Begitu melihat Jayden yang menyusul langkah Tania di belakangnya.
"Kenapa si marga Lee itu ikut dengan Tania?" sungut Sean.
"La, kamu tidak tahu mereka liburan bareng" jawab Vera
"What!!!? Are you serious?" tanya Sean tidak percaya.
"Dua rius malah" jawab Vera meyakinkan.
"Jangan bilang kalau mereka...
"Mereka mulai pedekate" bisik Vera karena Tania semakin dekat.
Sean jelas mendelik mendengar hal itu.
"Wah info baru nih" batin Sean tersenyum tipis.
"Sudah lama?" tanya Tania. Memeluk Vera sebentar.
"Eemm kangennya" guman Tania.
"Elu kate kangen? Yang bener aje. Heloo situ normal kan ya Bu" celetuk Sean.
"Iisshh ngomongnya kok begitu" gerutu Vera.
Tania melerai pelukannya ke Vera ketika Jayden juga sampai disana.
"Halo Ra, halo Sean..." Jayden ogah-ogahan menyebut nama Sean.
"Alah, ngapain juga elu ikut dimari?" tanya Sean dengan raut tidak sukanya.
"Ye suka-suka gue. Napa situ yang rempong" jawab Jayden ketus.
"Sudah-sudah. Nita lagi otewe kemari" ucap Vera.
"Benarkah?" tanya Sean sumringah.
Sedang Tania dan Jayden memutar matanya malas.
"Dasar buciiin" ledek Jayden.
"Mereka belum jadian" bisik Tania.
"Ha yang bener. Berarti disini, kita doang dong yang couple" ucap Jayden keras.
"Kalian jadian?" tanya Vera.
"Belum"
"Sudah"
Jawab Jayden dan Tania bersamaan. Mendengar ketidakkompakan mereka. Sean tertawa ngakak.
"Rasain lu. Sok pede!" ledek Sean balik.
Sedang Jayden memasang wajah merajuk kepada Tania.
"Baby...."
Tapi Tania mengacuhkannya. Karena pintu box sudah dibuka. Dan para pekerja mulai mengeluarkan gulungan kain yang berada didalamnya.
"Ini memang satu grade lebih bagus dari pesanan kita" ucap Vera yang diangguki oleh Tania.
"Pastikan dulu semua grade-nya sama. Lalu langsung masuk cutting machine" saran Tania.
Vera berlalu memberi perintah pada pak Rahman dan bawahannya.
"Jayden. Kamu bisa pulang dulu. Aku mungkin sampai malam. Jadi tidak usah ditunggu"
"Enggak. Aku mau nemenin kamu lembur" Jayden menolak pulang.
"Enak saja si bule Cina ini mau berduaan sama Tania. Tidak bisa dibiarkan" batin Jayden.
"Dasar modus aja elu" Sean memanas-manasi Jayden.
__ADS_1
"Biar saja wee.."
"Kalau pada mau bertengkar pulang saja sana" galak Tania yang lama-lama jengah juga mendengar kedua pria tampan itu berdebat terus.
"No!" jawab Jayden dan Sean bersamaan. Membuat Tania menepuk dahinya pelan. Sedang Vera tertawa ngakak.
"Kapok lu pada kena marah" ledek Vera.
"Vera, aku klien kamu"
"Itu dikantor pak Lee. Kalau disini posisi kalian sama. Ngerebutin Tania"
"Enak saja rebutan. Tania itu milikku" klaim Jayden membuat Sean mengerutkan dahinya.
"Ahh terserahlah. Baby..." teriak Jayden mencari Tania.
Kehadiran Jayden jelas membuat kehebohan di kalangan pekerja. Mereka berlomba-lomba melihat Jayden dari dekat. Mereka pikir itu salah satu klien mereka.
Semua memuji ketampanan Jayden. Hari itu Jayden memang santai memakai setelan kasualnya. Jaket hitam. Kaos oblong hitam. Celana berwarna biru. Juga sepatu putihnya.
Kredit Instagram@ wuli_eunwoo
"Tania, Tan kamu dimana?" teriak Jayden tidak peduli dengan banyaknya karyawan yang berjajar untuk melihat dirinya.
"Apa sih teriak-teriak?" gerutu Tania dari balik cutting machine yang besar.
Jayden tersenyum melihat Tania.
"Jadi kalau dipotong seperti ini tidak masalah ya" tanya Tania pada pekerja bagian cutting. Sambil menunjukkan gร mbar pola di laptopnya.
"Tidak masalah Bu. Tidak ada bedanya. Hanya grade-nya yang berbeda. Kainnya lebih tebal tapi lebih halus. Mungkin speednya saja yang tidak bisa secepat biasanya" terang pekerja itu.
Jayden sedikit berkeliling. Dia cukup takjud dengan pabrik Tania. Safety first. Itulah slogan mereka. Bisa dia lihat semua pekerja mereka memakai hairnet dan masker. Memang hal yang wajib untuk mereka yang bekerja dengan gulungan kain. Yang terkadang penuh dengan debu dan kotoran.
Jayden melihat ada penyedot debu otomatis di beberapa titik. Begitu juga dengan air purifyer. Juga blower untuk membantu mendinginkan udara serta beberapa unit AC. Suasananya cukup sejuk tidak panas juga tidak terlalu dingin. Pas untuk bekerja.
"Apa teriak-teriak?" tanya Tania lagi.
"Pabrikmu oke juga. Satu ini atau ada yang lain?" puji Jayden.
Jayden kembali berkeliling. Bisa dilihat jika para pekerja itu sesekali mencuri lihat ke arah Jayden yang berjalan di belakang Tania. Seolah bodyguard bagi Tania.
"Pak Anwar ada berapa yang bekerja di setiap line" tanya Tania pada seorang stafnya.
"Tiap line dua puluh orang. Dengan target satu orang 4 pcs perjam" jelas pak Anwar.
"Itu baru sewing-nya saja. Belum finishingnya" tanya Tania.
"Betul, Bu"
"Besok shipment jam berapa ya" tanya Tania.
"Pagi Bu. Shipment terpagi"
"Berarti yang paling akhir adalah bagian packing"
"Betul Bu"
"Apa hari ini ada packing untuk urgent shipment"
"Ada Bu. Tapi sudah tujuh puluh persen selesai"
"Kalau begitu pulangkan dua line packing awal hari ini. Dan suruh mereka ngenol besok pagi. Akan ada tambahan fee untuk mereka" putus Tania.
"Baik Bu" pak Anwar mundur dari hadapan Tania.
"Tania, Tania ...." panggil Vera terengah-engah.
"Apa?"
"Problem lain datang"
"Delay karena cutting masih on going?" tebak Tania.
Vera mengangguk.
__ADS_1
"Ikut aku" ajak Tania. Vera, Jayden dan Sean mengikuti Tania.
Jayden dan Sean saling melirik sebal.
"Kalian berdua pergi saja keruangan pak Anwar kalau mau gelut bisa disana. Baju sudah kembaran masak masih berantem mulu" gerutu Tania tanpa melihat Jayden dan Sean.
Mendengar ucapan Tania, Jayden dan Sean melirik baju masing-masing. Sama-sama hitam. Pikir keduanya.
Kredit google.com
Sean Huang ya guys ๐๐๐
Keduanya masih melempar tatapan tajam satu sama lain. Meski tidak lagi bersuara.
Tania berhenti di satu line. Yang tengah berhenti proses sewing-nya (menjahit) karena seperti Vera bilang tadi. Masih menunggu bagian cutting.
"Selamat malam semua. Saya Tania. Saya pikir kalian sudah tahu siapa saya. Saya hanya ingin meminta kerjasama kalian. Kita tahu masalah yang sedang kita hadapi bukan. Saya tidak menyalahkan kalian. Karena memang bukan salah kalian. Jadi saya disini akan meminta kalian untuk lembur malam ini. Sampai dua ratus pcs itu selesai. Tapi bagi yang tidak bersedia tidak masalah. Mungkin kalian punya urusan yang harus diselesaikan" Tania menjeda bicaranya.
Semua pekerja nampak menumpukkan perhatian mereka pada ucapan Tania.
"Jadi kalian bersediakan lembur malam ini. Ada tambahan fee...
"Dan juga makan malam free" tambah Jayden dari belakang Tania.
Membuat semua pekerja tersenyum sumringah.
"Kami mau lembur, Bu" ucap perwakilan dari pekerja itu.
"Bagus dan terimakasih sebelumnya. Jangan khawatir. Kalian tidak akan lembur sendirian. Saya dan Bu Vera akan ada disini membantu sampai selesai"
Kata membantu membuat semua pekerja saling pandang.
"Maksud Ibu?" tanya seorang pekerja.
"Meski kami tidak secepat kalian. Tapi setidaknya kami bisa juga menjahit" ucap Tania sambil tersenyum lalu menatap ke samping kirinya. Dimana Vera juga tengah menatapnya sambil tersenyum juga.
"Ibu mau ikut menjahit bersama kami?" tanya seorang pekerja yang lain.
"Ya begitulah. Jadi Bu supervisor tolong bimbingannya" ucap Tania sambil membungkukkan badannya. Seperti seorang yang meminta pertolongan.
Sang supervisor langsung tersenyum mendengar permintaan sang big boss.
"Dengan senang hati Bu" jawab supervisor yang bernama Linda itu.
"Cutting sudah siap" teriak seorang pekerja sambil membawa sebuah troli penuh dengan kain katun yang baru saja dipotong.
"Jadi mari kita mulai lemburnya" teriak Tania penuh semangat.
Yang disambut sorakan tidak kalah bersemangat dari para pekerjanya.
"Dia pandai mengambil hati para pekerjanya" batin Jayden sambil mengulum senyumnya.
"Sebentar ya Bu. Kami siapakan dulu mesin jahitnya" ucap seorang teknisi.
Tania dan Vera mengangguk.
"Janjinya" ucap Tania sambil menengadahkan tangannya pada Jayden.
Yang langsung tersenyum manis pada Tania. Meraih dompetnya. Lalu meraih black card-nya.
"Ini, belikan sesukamu" ucap Jayden.
"Ini kebanyakan" Tania protes.
"Pakai goldmu saja" pinta Tania.
"Belanjakan untuk semua karyawan yang ada hari ini" perintah Jayden.
"Tapi..."
"Pin-nya tanggal lahirmu" bisik Jayden di telinga Tania. Membuat Tania membulatkan matanya.
Dan adegan itu tak luput dari perhatian semua pekerja yang ada di situ. Mereka bahkan menghentikan pekerjaan mereka untuk melihat adegan manis didepan mereka. Bak sebuah drama yang tengah mengambil shooting di pabrik mereka.
Mereka semua auto baper dibuatnya. Melihat tingkah manis Jayden ke Tania, salah satu Bos mereka.
__ADS_1
****