Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Plan A


__ADS_3

Bagaimana mestinya


membuatmu jatuh hati kepadaku


t'lah kutulis sejuta puisi


meyakinkanmu membalas cintaku


Haruskah ku mati karenamu


terkurung dalam kesedihan sepanjang waktu


haruskah kerelakan hidupku


hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku


hentikan denyut nadi jantungku


tanpa kau tahu betapa suci hatiku


untuk memilikmu


Adakah keikhlasan


dalam palung jiwamu mengetukku


ajarkanmu bahasa perasaan


hingga hatimu tak lagi membeku


haruskah kumati karenamu


terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu


haruskah kurelakan hidupku


hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku


hentikan denyut nadi jantungku


tanpa kau tahu betapa suci hatiku


untuk memilikimu


Tiadakah ruang di hatimu


yang masih bisa tuk ku singgahi


hanya sekedar penyejuk di saat ku layu


ku s'lalu menantimu sepanjang masa


sumber musicmatch


Vera menangis sambil memeluk lututnya. Sebuah lagu masih mengalun dari ponselnya. Lagu yang Bryan kirimkan untuknya beserta sebuah pesan,


"Aku berharap lagu ini bisa mewakili semua perasaanku untukmu. Semua yang ingin kukatakan padamu. Seperti lagunya aku bahkan rela mati karenamu. Aku ingin menebus semua kesalahanku padamu. Menyembuhkan luka yang telah kubuat di hatimu. Hingga kamu mau membuka hatimu untukku. Dan seperti lagunya aku akan selalu menantimu sepanjang masa. Maafkan aku dan berikanlah aku kesempatan"


"Love you Altania Vera"


Vera menangis sejadi-jadinya di kamarnya. Dia sudah diizinkan pulang ke rumah. Dengan rentetan pesan dari dokter obgyn yang merawatnya. Untungnya dia sendiri karena Tania pergi kerja dan berjanji akan pulang waktu makan siang.


"Kenapa? Kenapa? Di saat aku ingin melupakanmu, kamu malah mendekat. Membuatku bimbang, aarrggghhhh" teriak Vera frustrasi.


***


Bryan meremas lembaran kertas yang ada ditangannya.


"Jadi semua ini ulah Mama" ucapnya geram.


Sebuah paket datang pagi itu ke kantor BA Management. Paket ditujukan untuk dirinya. Ketika dia membukanya. Isinya berupa laporan penggelapan dana dan bukti-bukti bahwa laporan keuangan kantornya sudah dimanipulasi sedemikian rupa.


Bryan jelas ingin mengumpat. Tapi masak iya dia mengatai ibunya sendiri "brengsek". Meski memang kenyataannya begitu adanya.


Kedua tangannya hanya bisa mengepal kuat menahan amarahnya. Ingin sekali dia melaporkan mamanya ke polisi tapi dia tidak tega. Hingga kemarahannya teralihkan ketika ponselnya berbunyi.


"Nomor tidak dikenal"


Bryan mengerutkan dahinya. Meski pada akhirnya panggilan itu diterimanya juga.


"Ya?"


"Sudah kau terima?"

__ADS_1


"Jayden Lee?"


"Ya, ini aku"


"Kenapa kau mengirimkan hal seperti itu padaku?"


"Karena aku ingin izinmu untuk menjebloskan ibumu ke penjara" ucap Jayden.


"Tapi...


"Kau tidak tega?"


Hening sejenak.


"Lihatlah di berkas paling akhir"


Bryan langsung mencarinya. Matanya membulat sempurna begitu melihat apa yang ada di sana.


"Bagaimana?"


"Lakukan apa yang kau mau" ucap Bryan pada akhirnya.


Matanya masih memerah menahan amarah. Menatap beberapa berkas di amplop berwarna coklat itu.


"Jangan menyesal. Aku tidak akan menarik mundur laporanku. Kalau aku sudah memasukkan berkasnya ke kantor polisi"


"Aku tidak peduli lagi dengannya" jawab Bryan dengan gigi bergeletuk.


"Bagus kalau begitu. Satu lagi. Ayahmu akan hadir sebagai saksi"


"Apa?"


***


Hari menjelang petang. Vera mencoba turun ke taman. Tania hanya menemaninya makan siang. Lantas kembali ke kantor. Dan berjanji akan membawakan asinan Bogor kalau dia pulang nanti. Meski Tania sendiri tidak tahu harus mencari di mana.


Vera sejenak berjalan-jalan menyusuri taman hijau nan asri itu. Hari ini dia merasa lebih baik. Morning sick-nya tidak terlalu hebat tadi pagi. Hijaunya tanaman menyejukan mata dan hatinya. Sedikit menenangkan hatinya yang galau.



Kredit google.com


"Vera..."


Vera menarik nafasnya pelan.


Bukannya marah. Bryan malah tersenyum. Mendengar Vera memanggilny "Bry".


"Aku rindu padamu" ucap Bryan.


"Pergi Bry. Aku tidak mau melihatmu"


"Ra,..."


"Dengarkan aku Bry. Aku benar-benar tidak ingin melihatmu"


"Tapi Ra....


"Biarkan aku menjalani kehamilanku dengan tenang. Biarkan aku sendiri" Vera berkata tanpa melihat Bryan.


Karena air mata sudah memenuhi dua bola matanya.


"Kenapa kau tidak mau memberiku kesempatan? Aku akan melakukan apapun agar kamu memaafkanmu. Vera aku mohon"


Kali ini Vera tidak lagi bisa membendung air matanya mendengar ucapan Bryan. Dia sakit hati tapi juga mencintai pria ini. Tapi saat ini sungguh ia tidak ingin melihat Bryan. Melihat Bryan hanya akan mengingatkannya pada kejadian malam kelam itu.


"Kau menyakitiku Bry. Kau menghancurkanku! Apa kau tahu itu?" teriak Vera.


Bryan terdiam, melihat Vera menangis.


"Aku tahu. Karena itu izinkan aku menebusnya. Izinkan aku menyembuhkan lukamu. Izinkan aku mengembalikan hatimu. Vera..." ucap Bryan meraih tangan Vera.


Bahkan perlahan pria itu berlutut di hadapan Vera. Membuat tangis Vera semakin keras.


"Ampuni aku Ra, maafkan aku. Beri aku kesempatan. Lakukan apapun yang kamu mau padamu. Bahkan kau bisa melukaiku atau kau bisa membunuhku jika itu bisa membuatmu memaafkanku" ucap Bryan sama-sama berlinang air mata.


Vera hanya menatap Bryan yang berlutut di hadapannya. Menggenggam erat tangannya.


"Ra, aku tahu aku brengsek. Aku tidak pantas untukmu. Kamu terlalu baik untukku. Tapi aku ingin memperbaiki diriku. Menjadi lebih baik, untukmu dan untuk anak kita" ucap Bryan.


Mendengar kata "anak", Vera langsung menepis tangan Bryan.


"Anakku tidak punya ayah brengsek seperti dirimu!" ucap Vera pedas.

__ADS_1


Lantas pergi meninggalkan Bryan yang masih berlutut. Tanpa ingin merubah posisinya. Air mata masih mengalir di pipi Bryan.


"Sebenci itukah dirimu padaku?" guman Bryan.


Menatap Vera yang sudah masuk ke lobi apartemen.


"Berikan dia waktu" ucap seseorang menepuk bahunya pelan.


"Aku rasa, aku sudah tidak punya kesempatan" ucap Bryan.


"Siapa bilang? Kesempatan akan selalu ada. Tinggal kau sabar menunggunya atau tidak"


"Salah. Dalam bisnis kesempatan atau peluang itu diciptakan bukan ditunggu. Nungguin kesempatan datang. Ehhmm keburu di ambil orang"


Bryan menatap Jayden dan Sean yang berdiri di depannya.


"Iissh berdiri napa. Gue nggak mau elu sembah" celetuk Jayden.


"Kampret lu. Siapa juga yang mau nyembah elu. Ini kesemutan tahu. Bantuin napa?" oceh Bryan.


"Salah elu sendiri. Pake acara nyembah segala" ketus Sean. Menarik tangan Bryan.


"Didramatisir dikit masak nggak boleh. Biar lebih menyentuh gitu. Masa nggak tahu sih" cibir Bryan.


"Jadi ini semua cuma akting. Elu nggak tulus minta maaf ke Vera" salak Jayden.


"Gue tulus mau balikan ke Vera. Gue nggak bohong. Kalau gue bohong. Mending elu bunuh gue aja deh" ucap Bryan serius.


Jayden dan Sean saling pandang.


"Kayakny si cassanova yang satu ini sudah tobat deh. Sudah ketemu batunya" bisik Sean.


Jayden mengangguk.


"Kapok nggak elu sekarang?" tanya Jayden.


"Kapok deh gue. Nggak lagi-lagi deh celup sana celup sini. Udah mau jadi bokap juga. Masak masih di jalan sesat" ucap Bryan.


"Aliran kali sesat" celetuk Sean.


"Bantuin gue dong. Bujukin Vera buat maafin gue" pinta Bryan memelas.


"Idiih jangan buat muka melas gitu deh. Jijik gue ngeliatnya. Mana Bryan si penakhluk wanita. Yang tiap malam ganti perempuan" ledek Jayden.


"Kayak dia enggak aja" ledek Bryan balik.


"Itu dulu" kilah Jayden.


"Sama itu dulu. Sekarang gue tobat. Tolongin gue napa. Habis ini terserah deh elu mau apain mak gue" ucap Bryan.


"Jiaahhh sudah jadi anak durhaka dia. Terserah kita mau ngapain mak dia" ucap Sean.


"Gue sudah kecewa bingit sama emak gue. Bisa-bisanya dia main sama brondong. Mana banyak lagi mantannya"


"Lah kan jadi ketahuan dari mana datangnya bakat elu" ledek Sean lagi.


"Sudah deh ngeledekin guenya. Gue tahu, gue brengsek. Baj****. Kurang ajar. Tapi bantuin gue dong. Gue pengen perbaiki diri gue. Demi Vera sama anak gue. Lagian gue nggak terima. Anak gue punya bapak model kayak elu" ucap Bryan tanpa sadar


"Eehh minta bantuin kok pake acara nyolot. Maksud elu bapak model kayak kita tu apa" ucap Sean tidak terima.


"Eehh sorry-sorry gue salah ngomong. Tolong dong. Please" mohon Bryan.


Membuat Jayden dan Sean menarik nafasnya bersamaan.


"Oke kita bantu. Tapi ada syaratnya"


"Pada nggak tulus nih bantuinnya" gerutu Bryan.


"Mau nggak nih dibantuin" ucap Jayden dingin.


"Iya deh. Mau-mau" ucap Bryan terpaksa.


"Oke, kalau begitu kita langsung ke saja ke plan A" ucap Sean yang mendapat anggukan dari Jayden.


Dua pria itu tampak tersenyum penuh arti menatap Bryan.


****


Bonus pict Jayden Lee



Kredit Instagram@wuli_eunwoo

__ADS_1


Beningnya tu muka. Manisnya tu senyum😍😍😍😍


Bikin meleleh,


__ADS_2