Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Vitamin Hati


__ADS_3

Tania keluar dari Joglo itu ketika hari hampir sore. Saking asyiknya didalam. Dia sampai melewatkan makan siangnya. Dia melihat Yuli yang tengah beristirahat. Sedang Qila tampak asyik bermain bersama Andi.


"Sudah?" tanya Yuli.


Melihat Tania meneguk air mineral yang dibawanya sampai tandas. Tania hanya mengangguk menjawab pertanyaan Yuli. Tadi tidak terasa capeknya. Tapi sekarang kakinya terasa pegal semua.


"Aah capeknya" akhirnya Tania mengeluh juga.


Yuli tertawa mendengar keluhan Tania. Mereka duduk dulu sebentar. Sambil menunggu Qila yang terus saja berlari ke sana kemari.


"Nggak capek apa ya Qila itu" tanya Tania heran.


"Capek ya dia minta pijit" jawab Yuli.


"Dia tahu minta pijit?" tanya Tania tidak percaya


"Tahulah. Kadang ayahnya yang mijitin. Kadang ya aku ngundang tukang pijit anak ke rumah" jelas Yuli.


"Ada memang?"


Yuli mengangguk. Berikutnya mereka mengobrol kesana kemari. Hingga hari mulai agak sore. Mereka memutuskan pulang.


"Makan dulu guys, eike kelaparan" ucap Tania.


"Mau makan apa?" tanya Yuli.


"Cari restoran yang menunya komplit Mbak. Aku pengen makan gudeg. Tapi kalian pasti sudah biasa makan gudeg to. Siapa tahu pengen makan yang lain" usul Tania.


"Andi mau makan apa?" tanya Yuli pada adik iparnya.


"Ikut kalian sajalah" jawab Andi.


Ternyata pria itu sudah setengah memejamkan matanya. Bersandar nyaman di kursi belakang. Lelah jelas terlihat diwajah Andi. Siapa juga yang tidak lelah, nguber Qila yang hobinya lari ngalor,ngidul, ngulon, ngetan.


"Capek An" tanya Tania.


"Nggak usah nanya" jawab Andi ketus.


Tania dan Yuli tersenyum mendengar jawaban Andi.


"Itu baru njagain Qila, An. Belum kerja" ledek Yuli.


"Sudah deh Mbak. Jangan mulai ceramahnya" jawab Andi mulai kesal.


Tania hanya diam. Tidak ingin ikut campur urusan kakak dan iparnya itu. Meski Tania cukup tahu banyak soal Andi dari Yuli. Dimana Andilah yang paling banyak membuat darah tinggi Andri setelah kepergian sang ibu setahun yang lalu. Menyusul sang ayah yang sudah lebih dulu meninggalkan Andri sejak masih SMA"


Qila sendiri sejak tadi tumben hanya duduk diam dalam pangkuan Yuli.


"Qila capek?" tanya Tania.


Qila menggeleng.


"Terus..Qila lapar?" tebak Tania.


Dan Qila mengangguk cepet.


"Huss kamu tu malu-maluin. Habis makan juga masih bilang lapar" ucap Yuli cepat.


"Qila mau maem, Buk" rengek Qila.


"Iya kita makan. Tapi cari warung dulu ya" ucap Tania.


"Kayaknya depan situ ada restoran yang komplit menunya" ucap Yuli.

__ADS_1


Dan benar saja. Tak berapa lama mobil Tania sudah parkir disana. Mengambil tempat duduk lesehan. Membuat kaki mereka nyaman seketika. Andi langsung merebahkan diri di lantai kayu setelah dia kembali dari toilet untuk mencuci mukanya.


"Pesen An" ucap Yuli.


"Beri aku pecel lele sama es teh saja" guman Andi namun masih jelas di dengar Yuli.


"Beuuhh Mbak anakmu bener-bener ngapokin orang yang momong. Jangan ditinggal kerjalah. Kasihan yang momong" ucap Andi.


"Besok main lagi ya Om" ucap Qila polos.


"Ogah. Main sana tante Ra-mu. Kalian kan cocok" tolak Andi.


"Ehem, cocok kayak kucing sama anjing. Pada saling gigit kalau ketemu" jawab Yuli.


"Masak sih. Kemarin akur-akur saja" tanya Tania.


"Itu karena si kribo ini ada maunya. Kalau nggak ya dicubit, digigit, ditendang. Pokoknya ampun deh" keluh Yuli.


Tania melongo. Dan keseruan mereka berlanjut ke acara makan apa entah. Makan siang sudah jauh terlewat. Makan malam belum sampai.


Tania nampak menikmati gudeg komplitnya. Qila dengan lelenya. Begitupun Andi nampak nikmat menyantap pecel lelenya.




All kredit Google.com


"Ayahmu sama Tantemu sudah pulang ya Qila" ucap Tania.


"Sudah. Aku tadi sudah kirim WA ke ayahnya Qila"


"Dia nggak marahkan?"


Tania bersyukur. Andri benar-benar memberikan tempat yang nyaman bagi dirinya selama di Yogja.


"Ini bonnya, sama take awaynya" seorang pelayan datang setelah Tania melambaikan tangannya.


"Terima kartu kan Mbak?" tanya Tania.


"Terima Mbak" jawab pelayan. Tak lama datang dengan mesin debetnya.


Kartu gold, Tania gunakan. Tak sampai lima menit urusan bayar membayar selesai.


"Lain kali kita ajak Tante Ra juga ya" ucap Tania sambil menggandeng tangan gemuk Qila. Anak kecil itu mengangguk antusias.


"Kita pulang ya?" ajak Tania. Dan Qila kembali mengangguk.


Sejenak mengecek ponselnya.


"Kak, aku baru mau balik dari Giriloyo. Nanti aku telepon Kakak kalau aku sudah sampai rumah"


Tania mengirim pesan untuk Jayden. Karena dilihatnya pria itu menghubunginya beberapa kali.


Tidak ada balasan. Sedang sibuk mungkin, pikir Tania.


Gadis itu mulai melajukan mobilnya menuju rumah mereka. Lima belas menit kemudian mereka masuk ke halaman rumah Andri.


Tania baru saja akan turun. Ketika ponselnya berbunyi. Nama Jayden Lee tertera di sana. Semua sudah turun. Tinggal Tania sendiri.


"Ya, Kak" jawab Tania.


"Baru pulangkah?"

__ADS_1


"He e, baru sampai rumah Andri"


"Senang?"


"Banget"


"Aku rindu padamu" ucap Jayden tiba-tiba.


Sesaat Tania tercenung. Dia sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Tapi entahlah. Dia masih enggan untuk mengakuinya atau bagaimana, dia sendiri masih bingung.


"Baby...kamu dengar kan. Pulanglah. Aku rindu padamu" ucap Jayden terdengar sendu.


"Kak..."


"Pulanglah dulu. Soal pernikahan kita bicarakan nanti" pinta Jayden.


"Akan aku pikirkan. Berikan aku waktu sebentar lagi. Oke?"


Tuuuutttt, panggilan terputus. Tania nampak bingung. Salahkah dia? Keterlaluankah dia?


Ketika batin dan hatinya sibuk berperang. Satu pesan masuk. Dari sang kakak. Natasya.


..."Kapan pulang? Persiapan pernikahanmu sudah 90%"...


Pesan singkat dari sang Kakak. Semakin membuat kepalanya pusing. Tunggu dulu 90%? Dia bahkan belum memesan gaun pengantinnya? Bagaimana mereka bilang persiapan pernikahannya sudah siap.


Tanina mendesah bimbang.


***


Hari berganti. Karena kemarin Tania seharian ke Giriloyo. Hari ini dia harus work from Yogja full. Karena berkas yang harus dia kerjakan dan teliti sudah menumpuk. Sebenarnya semua berkas itu sudah dikerjakan oleh Nita, Hardi dan Dewi.


Tapi mereka semua meminta untuk didouble cek oleh Tania. Padahal Tania sudah percaya dengan mereka. Tapi mereka bersikeras untuk seperti itu. Ya, setengah terpaksa Tania melakukannya.


Sejak semalam, Jayden tidak menghubunginya. Tidak juga mengirim pesan padanya. Marah betulankah Jayden dengan dirinya. Tania menggigit bibirnya. Resah dengan keadaannya.


Dia meminum smoothie alpukatnya sambil melamun. Apa iya dia harus pulang? Dia benar-benar bimbang sekarang.


Di tengah kebimbangannya itu. Satu pesan masuk ke ponselnya.


..."Mbak Tania, mbak Vera datang ke kantor untuk mengambil barang-barangnya. Juga menyerahkan surat pengunduran dirinya"...


Tania menghela nafasnya. Akhirnya kamu benar-benar memilih suamimu. Okelah kalau itu kemauanmu. Aku akan mengikuti perkataan Jayden. Menghempaskanmu ke dasar laut. Anggap saja kamu tidak pernah ada dalam kehidupanku. Lagi sakit itu terasa kembali di hatinya. Tapi kali ini dia bertekad tidak akan lagi terpuruk seperti waktu itu.


..."Biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau"...


Tania membalas pesan dari Nita. Yang langsung dibalas "oke" oleh Nita disertai emoticon semangat dan juga senyum.


"Aduh galau begini. Masak tidak ada vitamin hati untuk memperbaiki moodku" guman Tania.


Hingga kembali, satu pesan masuk ke ponsel Tania. Membuat Tania langsung melebarkan senyumnya.


"Nah, ini baru vitamin hati" ucap Tania tersenyum bahagia.


***


Penasaran sama vitamin hatinya neng Tania, pengen tahu...pengen tahu...ini dia vitamin hatinya neng Tania 😍😍😍



Kredit Instagram@ mizukiroha


Imut nggak? Imut nggak? Imut dong ya, babang Jay mati-matian buat gaya imut gitu kok...btw mau dong gantiin jadi boneka yang dipeluk babang jay....ngarep.com 🤣🤣🤣

__ADS_1


****


__ADS_2